Robby Ros jadi Buah Bibir

kemangi
Petani kemangi Robby Rorong dan istrinya Rosmiati menjadi buah bibir para tetangganya di Kelurahan Paniki II  Kecamatan Mapanget, Manado.  Para tetangga merasa bangga atas sukses Robby  dan Ros menanam kemangi hingga mendapat penghasilan bersih rata-rata  Rp 1 juta perhari.

"Para tetangga memperbincangkan saya dan mereka mengatakan bersyukur ada tetangganya yang sukses," kata Robby kepada Tribun Manado, Senin (2/4/2012). Robby  mengucapkan terima kasih terhadap pemberitaan Tribun yang mengangkat usahanya dari nol hingga sukses seperti saat ini. "Saya senang dan tidak menyangka karena tanggapannya," ungkapnya.

Robby Rorong mengatakan ingin mencoba meminjam uang ke bank, jika ada bank mempunyai program yang bisa membantu petani seperti dirinya. "Namun saya berharap dalam meminjam modal tidak ada persyaratan yang berbelit-belit," ujarnya.

Petani yang lebih dikenal dengan nama Robby Ros tersebut mengatakan, birokrasi yang berbelit menjadi alasan selama ini ia enggan meminjam ke bank. Padahal dia memang membutuhkan tambahan modal untuk pengembangan kemangi. "Usaha yang saya jalani tidak rumit, untuk itu persyaratan yang dilakukan oleh bank seharusnya tidak rumit pula," katanya.

Selama ini Robby juga belum pernah mendapat bantuan dari dinas pertanian Kota Manado, sehingga usahanya murni dari modal sendiri. Selain di Kota Manado, kemangi hasil usaha Robby Ros juga dipasarkan ke Bitung. Bahkan oleh pedagang di Pasar  Bersehati  kemangi Robby Ros dikirim hingga ke Sanger. "Kemangi saya sampai ke Sanger, dibeli oleh pedagang antar pulau di Bersehati," ungkapnya.

Keengganan meminjam uang ke bank juga diungkapkan petani lain, Wentriks Wurangin yang ditemui Tribun Manado, Senin (2/4). Wentriks memiliki lahan pertanian seluas 10 hektare yang ditanami 5.000 pohon pisang, ubi kayu dan kemangi. Dia sudah 16 tahun   bertani, namun belum sekalipun meminjam uang ke bank untuk memperluas usaha pertaniannya. Kesan berbelit-belit membuat dia belum mengajukan kredit perbankan. "Dengan modal yang ada saja saya kembangkan pertanian," tuturnya.

Menurut  Wentriks, permintaan untuk pisang, ubi kayu dan kemangi tidak pernah berkurang. Bahkan, khusus pisang ia kewalahan memenuhi permintaan pasar. "Pisang saat ini yang telah saya panen sekitar 1.500 tandan,  dengan harga jual per tandan Rp 20 ribu-25 ribu," katanya. Begitu pula ubi kayu,  permintaan dari Sanger cukup tinggi, namun dia tidak sanggup memenuhi permintaan. Untuk ubi kayu dijual per karung ukuran 50-60 kilogram dengan harga Rp 100 ribu- 115 ribu.


Penjual Untung
Bisnis kemangi terbukti sangat menguntungkan. Bukan hanya di tingkat petani, para penjual di pasar Bersehati Manado juga meraup keuntungan yang lumayan.  Dari pantauan Tribun di Pasar Bersehati, Senin (2/4), tanaman yang di Sulut dikenal  dengan nama  balakama ini banyak diburu pembeli.

Khadija, penjual sayur di Pasar Bersehati membenarkan hal itu.  Menurut Khadija yang telah tiga tahun berjualan di pasar ini, dalam sehari ia membeli kemangi satu kantong seberat 7 kg dengan harga Rp 60 Ribu. "Stoknya berasal dari daerah Paniki," katanya.

Kemangi itu kemudian dijual Khadija Rp 5.000 per ikat. Seringkali kemangi digabung dengan daun lemon, pondang (pandan) dan bramakusu (sereh).  Dalam sehari, ia mengaku menjual sekitar 15 - 20 ikat kemangi. Omzetnya berkisar Rp 75 - 100 ribu per hari. "Memang balakama punya harga. Untungnya juga lumayan,"   ungkapnya sambil tersenyum.

Hal senada dikatakan Kiv. Pedagang aneka sayur ini mengatakan menjual kemangi menguntungkan. "Dibanding sayur lain balakama memang menjanjikan," katanya. Kiv yang juga mendapat pasokan kemangi dari Paniki, mengaku stok yang dipesannya selalu habis setiap hari. Sama dengan Khadija, ia selalu memesan tujuh kilogram kemangi per hari.

Deli, penjual lainnya mengatakan kemangi yang dijualnya selalu diburu pembeli pada hari Sabtu dan Minggu. Dalam dua hari itu, ia mengaku menyiapkan stok lebih banyak  dibandingkan hari lainnya. "Saya biasa beli dua hingga tiga kantong per hari dari pemasok," katanya. Pada hari-hari itu, ia dapat meraup untung hingga Rp 300 ribu per hari. Ia memprediksi jelang hari raya Paskah pekan ini permintaan kemangi akan meningkat.

Sementara itu, Melly,  pengelola Restoran Green Garden menyatakan kebutuhan restorannya akan kemangi sangat besar. "Dalam sehari kami menggunakan satu kilogram kemangi," katanya.  Menu utama berupa ikan bobara, goropa dan ayam rica- rica membuat restoran di jalan Samrat Manado ini sangat membutuhkan kemangi.  Untuk kemangi sebanyak itu, ia biasa belanja di Pasar Bersehati.

Ibu Ros, pemilik Resroran El Shaddai yang khusus menjual tinutuan (bubur) menyatakan kemangi memang merupakan bumbu khas masakan Manado tersebut. "Apalagi tinutuan, tidak lengkap tanpa balakama," katanya. Buka dari pagi hingga sore hari, restoran di kawasan Wakeke Manado itu membutuhkan tiga sampai empat ikat kemangi per hari. (erv/art)

Sumber: Tribun Manado 3 April 2012 hal 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes