Persaudaraan El Tari

Damyan Godho
SUATU hari di bulan Maret 1977, Gubernur NTT (kala itu El Tari alm) meminta saya menemuinya. Serangkaian tanda tanya segera saja memenuhi benak saya megingat status saya. Cuma rakyat biasa, bukan birokrat, bukan pengusaha atau politisi, kenapa dipanggil Gubernur. Saya tidak punya hubungan pribadi dengan Pak El. Kalau pun pernah ada, itu sudah lama, lama sekali, kala “ramai-ramai” jadi anggota DPRD GR tahun 1967-1971 yang mau tidak mau harus berhubungan dengan gubernur. Maka pertanyaan seperti mengapa, ada apa, untuk apa, dan macam-macam lagi membebani benak saya kala menuju kantor Gubernur NTT, di Jalan Basuki Rachmat Kupang.

Rupa-rupanya Pak Gubernur membaca kebingunggan saya yang datang dengan dahi agak berkerut. Tetapi saya menjadi lega ketika dengan senyum dan sambil bangkit dari kursi, begitu saya masuk ruangan kerjanya. Pak El langsung menyapa dengan dialek Kupang. “Kermana Damy, bae-bae ko?”. Dan saya, sambil duduk sopan menjawab “ya.. bae-bae sa … Pak”
Pak El pun tidak lama berbasa-basi dan langsung bicara dengan nada bertanya “Orang NTT banyak yang berbakat tulis-menulis. Tidak sedikit jadi wartawan besar. Tapi, kok hebatnya itu di Jawa, di Bali di luar NTT? Kenapa tidak di NTT, khususnya di Kupang, ibukota Propinsi NTT? Beta pung mimpi di akhir jabatan ini (kala itu, El memang tinggal setahun menjabat Gubenur NTT), di Kupang musti ada Koran yang penerbitnya putra NTT”.

Dan tanpa memberi kesempatan kepada saya untuk bicara, Pak El langsung ‘perintah’: “Lu bikin koran ya. Beta kasih doi. Modal awal lima juta rupiah. Bikin dulu, kurang-lebihnya nanti diatur”.

Tentu saja saya makin bingung. Bikin koran? Menjadi penerbit koran? Ah gila. Pekerjaan apa ini? Apalah saya ini, yang belum apa-apa, belum dua tahun ‘tiba’tiba’ jadi wartawan Kompas Jakarta, gara-gara perang saudara di Timtim tahun 1975, disuruh menerbitkan koran?

Pak El pun tetap saja melanjutkan ‘perintahnya’. “Lu.. kumpul beberapa teman dan mulai. Biar jelek. Kritik beta yang keras, jangan takut. Beta bosan orang puji-puji tetapi dibawah sana (maksudnya daerah-daerah kabupaten), rakyat ternyata lapar, miskin, sengsara, susah”, seolah meramal beberapa bulan lagi akan meledak Bencana Paga Kabupaten Sikka 1977 yang makan korban ratusan anak balita tewas karena kurang gizi.
Saya yang masih bingung, diberondong lagi dengan ‘perintah’ terakhir yang sangat menggetar. “Lu… jangan senang naik sepeda motor kesana-kemari siang malam. Lalu pulang rumah, bikin berita. Lalu, tunggu honor. Dan sambil mengepal tinju, Pak El berujar, “Sudalah Damy, lu mulai saja dulu. Ingat orang NTT jangan kalah dengan orang daerah lain”.

Rangkaian perintah Pak EL di atas, kemudian memang melahirkan Surat Kabar Mingguan (SKM) pertama di Kupang bernama “KUPANG POS”. Dengan sangat susah payah, hanya mengandalkan satu mesin tik karena hampir seluruh dana diperuntukkan bagi biaya cetak SKM KUPANG POS terbit awal 5 Desember 1977, empat halaman dan dicetak di percetakan Arnoldus Ende-Flores.

Menyambut kelahiran KUPANG POS 5 Desember 1977 atau hanya empat bulan sebelum dipanggil Sang Pencipta, Pak El seolah menyesali dirinya yang terlambat mendorong kehadiran koran di NTT, khususnya Kupang, Ibu kota Propinsi NTT. “Seharusnya dari dulu, kita sudah mulai”, begitu Pak El menorehkan salam selamat datangnya kepada bayi Redaksi Mingguan KUPANG POS. Tetapi hanya setahun kemudian KUPANG POS pun mati, menyusul Pak El. Berbagai faktor penghambat mengganjal kelangsungan hidup KUPANG POS. Ada faktor internal seperti kurangnya Sumber Daya Manusia, modal,  prasarana dan sarana kerja. Tetapi yang paling berpengaruh adalah faktor eksternal yang berasal dari birokrasi dan politisi. KUPANG POS yang gencar mengeritik dan dikelola oleh yang non-Golkar, dipandang sebagai musuh yang harus dihabisi. Dan memang kisah KUPANG POS berakhir setelah ‘tulang-belulangnya’ diperebutkan oleh sejumlah pentolan birokrat, politisi serta ‘pencuri tulang’.

Proses kelahiran Mingguan KUPANG POS di atas, sesungguhnya memperlihatkan gaya kepemimpinan tipikal Pak El Tari, tentara yang menjadi pamong praja.  Semangat persaudaraan (broederschap) yang selalu didengungkan kepada semua pemimpin di NTT, tercermin dari ‘perintahnya’ untuk mendorong hadirnya koran di Kupang secara bersaudara tanpa mempersoalkan latar belakang seseorang.

Jika sekiranya di Hari Ulang Tahun ke-41 Propinsi NTT hari ini 20 Desember 1999, Pak El masih hidup, rasanya beliau akan menjadi salah seorang yang paling berbahagia. Karena ‘perintahnya’ yang penuh semangat persaudaraan 22 tahun yang lalu, telah menyemangati sejumlah wartawan dan bibit wartawan di NTT untuk memulai pekerjaan di penghujung 1992 menerbitkan Surat Kabar Harian Pertama di NTT, Surat Kabar Harian Pos Kupang. Dan dalam tempo yang relatif singkat, hanya tujuh tahun kemudian, telah lahir sedikitnya empat surat kabar harian di daerah ini, sebagaimana mimpinya Pak El. Pak El, doakan kami dari surga dan Selamat Ulang Tahun ke-41 NTT. (damyan godho)


Sumber: SKH Pos Kupang edisi Senin 20 Desember 1999 hal 1

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes