Siamang

ORANG cerdik pandai bilang, monyet, kuda, babi sama dengan manusia: hewan. Tapi, supaya para cerdik pandai itu tidak didamprat habis-habisan oleh manusia lain, mereka memberikan batasan yang membedakan manusia dari monyet atau kuda atau babi. Kata mereka, manusia itu memang hewan tapi hewan berakal budi. Sedangkan monyet, kuda atau babi adalah juga hewan tapi tidak berakal budi. Sebutan lainnya, binatang.

    Para cerdik pandai yang lain, yaitu para cendekia kelompok kedua, juga bilang, pada usia tertentu, manusia itu adalah binatang, belum sepenuhnya disebut sebagai manusia. Manusia pada kategori ini, demikian para cerdik pandai kelompok kedua itu, adalah anak manusia yang masih bayi.

    Mungkin benar apa yang dikatakan para cerdik pandai kelompok kedua itu.  Mereka memberikan ilustrasi sebagai berikut.

    Anda mungkin pernah melihat - dari kejauhan tentunya atau mungkin juga pada acara flora dan fauna atau lingkungan hidup di televisi -, bagaimana seekor induk burung liar menyuapi anak-anaknya yang baru saja menetas di sarangnya. Begitu sang induk datang, anak-anak burung, yang sekujur badannya masih gundul dari bulu-bulu, langsung mencuap-cuap membuka kedua paruhnya meminta makanan kepada sang induk. Sambil menoleh kiri-kanan - maksudnya sang induk mengamati jangan-jangan di sekitar sarang ada musuh (ular atau unggas pemangsa unggas) dan setelah yakin lingkungan aman -, sang induk mulai mengeluarkan bawaannya ke dalam mulut anak-anak bayinya. Setelah semua makanan bawaannya habis disuapin, sang induk dengan ceria terbang mencari makanan lagi, kendati perut sang induk sendiri keroncong. Begitu seterusnya .

    Apa yang dilakukan induk burung dan perilaku anak burung itu, tidak beda dengan kisah ibu-ibu atau nenek-nenek di kampung dengan bayi atau bayi cucu mereka pada zaman dulu, zaman malaise, zaman serba kekurangan di NTT. Pada zaman orang-orang belum tahu apa itu higienis atau tidak higienis. Pokoknya daripada si bayi menangis terus-menerus sementara ASI sang ibu tak kunjung keluar, si bayipun diberi makan seperti orang dewasa. Jagung atau ubi kayu dikunyah sang ibu atau sang nenek. Jagung atau ubi yang sudah lumat di mulut itu kemudian disuap langsung ke mulut sang bayi. Proses dari mulut ke mulut itu persis cerita induk burung tadi. Maklum, sama-sama hewan. Ya, segala macam 'vitamin' di mulut sang ibu atau sang nenek ikut membantu membongsorkan sang bayi.

    Bayi burung disuap, bayi manusia disuap akan terus berlangsung selagi planet bumi ini belum ditelan kekelaman hampa. Dan, cerita suap itu tidak terbatas pada manusia yang masih bayi saja, yang oleh para cendekia kelompok kedua di atas dikategorikan binatang. Pokoknya, berlaku untuk semua usia. Bedanya, tidak berlaku untuk semua manusia yang sudah lolos dari klasifikasi para cerdik cendekia kelompok kedua di atas, hanya berlaku untuk manusia-manusia khusus.

    Di negeri ini, soal suap, untuk hampir semua urusan, hampir semua orang muak. Kendati demikian, daripada tidak diurus, daripada tidak didapatkan apa yang ingin didapat, praktek itu tetap dijalankan meski 'memberi' dengan rasa dongkol dan umpat makian di belakang-belakang, yang penting bereslah.

    Seorang teman yang pernah mengurus surat-surat izin usaha pabrik padat modal memberikan nasihat sekaligus resep: jangan lupa siamang! Sebagai tanda terima kasih, tutur teman tadi, wajar kalau dia membalas 'jasa baik' para abdi dan pelayan masyarakat. Cara menyampaikannya, tidak beda seperti induk burung tadi sebelum menyuapkan makanan kepada bayi-bayinya, lihat sana sini dulu jangan sampai ada orang lain tahu atau sempat melihat.

    Di dalam amplop besar yang berisi beberapa amplop kecil-kecil, pada surat salah satu amplop kecil si kawan tadi menulis "Saya sangat berterima kasih atas jasa baik Bapak. Saya juga sangat bangga, foto-foto bapak ternyata dicari-cari orang, bahkan banyak orang mempertaruhkan segala-galanya demi mendapatkan foto Bapak. Bersama ini saya kembalikan kepada Bapak beberapa foto Bapak yang beradar di mana-mana!"

    Maksudnya? Ya, dia itu kan bayi menurut klasifikasi para cerdik pandai kelompok kedua itu, jawab teman tadi. "Lembaran yang saya kasih pun, ya lembaran yang pas untuk dia, siamang" kata teman tadi. (marcel weter gobang)

Sumber: SKH Pos Kupang, Senin 5 Juli 1999 halaman 1

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes