Cucu Schwarz Ziarah ke Langowan

Makam Johann Göttlieb Schwarz di Langowan (2013)
Pemandangan serba ungu sebagai warna khas GMIM tampak di makam Schwarz. yang terlihat megah di Langowan.

SUDAH menjadi pengetahuan umum warga Minahasa bahwa  pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen di di tanah Toar Lumimuut berkat jasa dari dua sosok yang diutus Tuhan untuk daerah ini, yakni Johann Friedrich Riedel dan Johann Göttlieb Schwarz. Pada 12 Juni 1831 kedua warga Jerman itu tiba di Minahasa.

Riedel tiba dan menetap di Tondano pada tanggal 14 Oktober 1831. Sedangkan  Schwarz ke Langowan. Awalnya Schwarz menghadapi para Walian yang pengaruhnya kuat dalam masyarakat. Namun, kehadiran sekolah yang menjadi sarana pembelajaran kekristenan membantu orang Langowan dan sekitarnya menerima pekabaran Injil. Hal ini nyata sesudah tiga tahun pelayanan Schwarz ada empat orang dibaptis, sesudah sembilan tahun bertambah menjadi 300 orang dan lebih dari 1.800 orang sesudah 12 tahun.

Langowan menjadi tempat dimana tubuh Schwarz disatukan dengan tanah. Schwarz yang lahir di Jerman 21 April tahun 1800, meninggal di Langowan pada 1 Februari 1959. Makamnya kini terletak di Desa Wolaang, tepat bersebelahan dengan lapangan Schwarz Langowan.

Hari Kamis (31/10/2013),  Tribun Manado menyambangi makam Schwarz. Pemandangan kontras dengan makam Riedel di Tondano. Jika makam Riedel sulit ditemui, makam Schwarz berada di pusat kota dan tidak gabung dengan makam lainnya. Pemandangan serba ungu sebagai warna khas GMIM tampak di makam Schwarz yang megah dengan tiang raja besar penyangganya. Makam ini lebih besar dan terawat ketimbang makam Riedel.

Saat itu pintu makam terkunci gembok rantai, tidak ada jalan masuk lainnya, bahkan pemandangan makam hanya bisa dilihat dari satu sisi. Schwarz dimakamkan bersama ketiga nisan lainnya. Diketahui yang satu adalah istrinya serta seorang kerabatnya. Sementara yang satunya lagi adala pusara tanpa nama. Bukan tak ada jasad di dalamnya, namun tidak diketahui lagi siapa yang dikubur.

Masuk wilayah pelayanan jemaat GMIM wilayah Langowan I, kubur ini dirawat dan dipelihara jemaat setempat. Bahkan mereka membentuk panitia khusus untuk renovasi makam. Sebuah program yang matang, berbeda jauh dengan keberadaan makam Riedel di Tondano.  "Karena itu makam yang sangat bersejarah, sehingga kami membuat panitia rehab makam. Itu dibentuk oleh wilayah yang terdiri dari 12 jemaat. Sebelumnya itu ditangani oleh pemuda, namun dilihat sudah tak tentatif sehingga kami berinisiatif membentuk panitia," ujar kata Sekretaris Wilayah Langowan I Veky Rombot. 

Jadwal pemeliharaannya, kata Veky disesuaikan dengan kebutuan. Untuk saat ini panitia sedang merenovasi atap dan penampang depan makam. "Dulu atapnya hanya sebagian," ujarnya.

Dana pemeliharaan makam berasal dari jemaat, berupa spontanitas, kolekte dan proposal. "Dari sinode kami hanya minta rekomendasi lalu dijalankan di wilayah. Waktu peletakkan batu pertama, ketua sinode datang," kata Vecky.

Dalam rapat wilayah, pengurus membahas keadaan makam ke depan. Rencananya segera dibangun fasilitas umum agar para peziarah bisa beribadah.  "Memang untuk saat ini makam sering dikunci. Makanya saya usulkan gantungkan saja nomor handphone agar ketika ada pengunjung mereka bisa menghubungi pemegang kunci. Rencana kalau sudah terkelola dengan baik, akan ditaruh kotak partisipasi untuk dana pemeliharaan," ungkapnya.

Menurut Veky,  makam Schwarz ini banyak dikunjungi peziarah. Beberapa waktu lalu, persatuan gereja sedunai hendak mengunjungi makam tersebut, namun karena sesuatu dan lain hal sehingga batal. "Banyak orang sering berkunjung ke makam. Apalagi pada momen tertentu seperti HUT Pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen di Minahasa. Beberapa waktu lalu, cucunya Schwarz dari Jerman datang berkunjung ke makam," ujarnya.

Pemeliharaan makam Scwarz merupakan bentuk apresiasi jemaat atas jasanya di Langowan. "Harapan kami agar kubur ini terawat dengan baik agar generasi nanti bisa tahu sejarah Injil masuk Minahasa. Bisa menjadi motivasi dan semangat melayani untuk melayani seperti Schwarz dan Riedel yang rela mengorbankan segalanya untuk datang ke sini," ujar Veky. (finneke wolajan)

Sumber: Tribun Manado 1 November 2013 hal 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes