Topeng

ilustrasi
NEGARA ini adalah negara hukum! Semua warga negara, laki-perempuan, kaya-miskin, buta-melek, bodoh-pintar, rohaniwan-awam, ulama-umat biasa, sama di mata hukum!
   
Itulah kata-kata yang digantang dari angin sorga. Kata-kata itu berulang-ulang kita dengar kalau ada di antara kita bermasalah dengan sesama lalu mau mencari penyelesaian lewat jalur hukum. Dan, hakim hukumlah yang akan menetapkan hukum ini pada pasal ini you bersalah, hukum itu pada pasal itu kowe tidak bersalah.

    Nah, bila sudah sampai di depan sang hakim, insan dari kelas atas, tengah atau bawah biar yang di tengah terkadang enak, tapi di kursi pesakitan, semuanya serba tidak enak, semuanya merasa kecil. Maklum, hakim dengan toga pakaian kebesarannya ditambah palu di tangan plus wajah serius rada angker membuat pesakitan tidak bersalah serasa bersalah, membuat pesakitan yang vokal menjadi gagap, gugup serta kecut. Belum lagi ditambah tata adab di muka hakim yang diisyaratkan kepada pesakitan. Tata krama dalam persidangan yang mengajarkan, selama persidangan berlangsung, pesakitan harus menunjukkan sikap seperti hamba sahaya, merendah serendah-rendahnya.

    Terberitalah suatu kisah nyata  di suatu pengadilan negeri di Jakarta di suatu hari, hari Senin, tanggal 21 Juni tahun 1999. Dua puluh delapan dari 32 mahasiswa-mahasiswi diadili. Sidang kali itu lain dari biasanya. Keangkeran sang hakim sepertinya luluh di hadapan para pesakitan yang senyum sepanjang proses pengadilan berlangsung, sejak sidang dibuka hingga ditutup dengan ketukan palu sang hakim, mereka tetap saja senyum. Maklum, mereka semua mengenakan topeng dari kertas karton berbentuk wajah mantan Presiden Soeharto sedang mengumbar senyum, sehingga tidak jelas mana tampang mahasiswa, dan mana tampang mahasiswi. Keangkeran sang hakim hanya diperlihatkan dengan kepeduliannya membacakan naskah dakwaan yang telah ia siapkan.

    Begitulah, tatkala sang hakim selesai membaca satu persatu daftar hadir nama-nama para pesakitan, tiba-tiba ada yang celetuk, "Soeharto kok belum diabsen, Pak". Gerrr... pun memenuhi ruang sidang. Lalu, tatkala sang hakim meminta para pesakitan membuka topeng, dengan alasan sidang ini masuk lembaran negara, seoranga pesakitan menjawab, "Kami mau buka kalau Soeharto juga diadili". Bagaikan koor, jawaban senada pun muncul, "Kami bersedia kalau Soeharto dihadirkan juga dalam sidang ini".

    Sidang pun diteruskan, dan sang hakim menjatuhkan sanksi berupa denda dua ribu rupiah kepada tiap pesakitan. Tapi usai sidang, tidak terlihat seorang pun dari para pesakitan merogoh kantong untuk mengeluarkan lembaran sejumlah Rp 2.000,00.

    Senyum memang mahal dibanding emas atau berlian apalagi uang. Buktinya, banyak contoh dalam kehidupan sehari-hari. Laki-laki mana yang tidak mendesir darahnya melihat lemparan senyum penuh arti dari seorang perempuan? Perempuan mana yang tidak membayang-bayang sepanjang waktu senyum penuh arti dari seorang pria ganteng, pria bergelimang segalanya? Atau senyum di pengadilan para mahasiswa-mahasiswi itu tadi. Memang, kita harus belajar bersenyum. Bagi para calon pesakitan, barangkali ini penting. Mereka harus terlebih dahulu belajar menjadi seorang The Smiling General, kalau tidak ingin menjadi pesakitan benaran.

    Kembali kepada topeng. Topeng, kita kenal ada dua macam. Bergambar manusia dan binatang. Yang paling dikenal adalah topeng monyet dan topeng manusia. Mengenai topeng manusia, ya seperti yang dikenakan para mahasiswa di sidang pengadilan itu.

    Kita juga kenal, topeng dipakai anak-anak untuk menakut-nakuti teman seusianya. Itu kalau topeng binatang atau bisa juga berupa wajah manusia serem, seperti ninja-lah. Anak-anak bermain-main dengan topeng orang, tapi biasanya orang terkenal. Maksudnya untuk mengidentikkan dirinya sebagai orang dewasa dan mirip orang yang diidolakan dalam topeng itu.

    Topeng juga dipakai manusia dewasa. Selain untuk membangkitkan rasa cerita, ketawa-ketawa bagi yang melihatnya, juga untuk aksi kriminalitas. Ya, kita ingat ninja di Banyuwangi, Jawa Timur, atau ninja-ninja yang bergentayangan malam hari di Dili, Timor-Timur, beberapa waktu allu.

    Dalam kehidupan bermasyarakat, topeng alias kedok juga dikenakan oleh hampir semua orang. Tidak peduli apa dia itu pejabat sipil, pejabat militer, pejabat hukum, pejabat agama, termasuk yang tidak berjabat. Untuk apa? Ya, tahu toh?! (marcel weter gobang)

Sumber: SKH Pos Kupang, Senin 19 Juli 1999 hal 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes