Dekat Tuhan

Marcel W Gobang
SEORANG teman pernah bercerita: Saya pernah menganggur selama hampir empat tahun, tanpa pekerjaan tetap. Padahal beban hidup makin menindih. Anak nomor satu mau masuk TK. Satu sedang dalam kandungan istri. Saya melamar ke sana ke mari, bahkan sampai puluhan lamaran, tetapi tidak berhasil. Meski begitu, saya tetap rajin berdoa, rajik ke gereja.

Namun suatu hari, saya begitu putus asa, saya marah pada Tuhan. Dalam sikap asal-asalan, saya berkata, "kok, teman-teman saya yang tidak pernah ke gerja, hidupnya gampang. Tuhan memberikan mereka kemudahan-kemudahan, pekerjaan bagus dengan penghasilan yang bagus pula. Padahal kualitas teman-teman itu di bawah saya."

    Teman tadi melanjutkan ceritanya: Ya, begitulah saya berdoa kepada Tuhan. Habis, saya sudah hampir putus asa. Bagaimana saya bisa membiayai hidup dan pendidikan anak-anak saya kalau saya tidak mempunyai pekerjaan tetap? Anda kan tahu, kita ini hidup di kota besar (maksudnya, Jakarta). Nah, tiap hari di koran-koran selalu ada iklan lowongan pekerjaan. Sambil memperhatikan salah satu iklan lowongan kerja itu, saya berkata begitu "Tuhan, kalau Engkau tidak ingin keluarga saya menderita, coba tunjukkan bahwa Engkau benar-benar ada. Kalau lamaran ke perusahan dalam iklan ini tetap juga saya tidak berhasil diterima, sudahlah itu berarti Engkau benar-benar tidak ada. Bila itu benar, itu berarti selama ini saya ditipu oleh pastor dan guru agama, juga orang tua saya yang mengatakan bahwa Tuhan itu ada tapi tidak bisa dilihat."

    "Nah, apa yang terjadi?" tanya teman itu. Tanpa menunggu jawaban, teman itu menjawab sendiri, "Tahu, nggak. Saya kirim surat lamaran ke perusahaan tadi. Dua hari kemudian datang surat panggilan minta saya ikut tes. Saya nilai, tes itu hanya formalitas saja. Dua hari kemudian, saya dapat surat panggilan lagi. Isinya, minta saya segera masuk kerja. Nah, sebelum saya berangkat menuju ke kantor perusahaan itu, saya berdoa singkat tapi khusuk. Saya berkata : Tuhan, ternyata Engkau benar-benar ada !

    Di perusahaan itu, karir teman tadi cepat sekali menanjak. Dia juga sangat enjoy dengan pekerjaan itu. Ketika bertemu lagi setelah belasan tahun tidak pernah ada komunikasi, teman tadi ternyata sudah menjadi orang berkecukupan.

    Lalu bagaimana hubungannya dengan Tuhan? "Ya, jujur saja, saya tetap ingat Tuhan meskipun jarang ke gereja. Kalaupun berdoa, tidak sampai dua tiga menit," jawab teman tadi.

***
    CERITA lain, pengalaman seorang wartawan yang dikirim lembagannya untuk meliput jalanannya dan hasil jajak pendapat di Timor Timur bulan Agustus sampai sekitar medio September lalu.

    Ketika hasil jajak pendapat diumumkan 4 September, reaksi ketidakpuasan dan rasa kecewa berat kubu prointegrasi membuat kelompok ini mata gelap. Milisi prointegrasi membuat kelompok ini dibumihanguskan. Penduduk dipaksa dan terpaksa mengungsi. Keselamatan para wartawan pun ikut terancam.

    Meskipun wartawan tadi mengaku bahwa di dalam gedung gereja itu dia dan teman-temannya merasa aman dan ingat kembali Tuhan, lalu bagaimana setelah dia kembali ke tempat asalnya? "Ya, memang kalau lagi terancam bahaya baru kita ingat Tuhan," tutur wartawan itu.

    Tempat pengungsian yang paling dan relatif aman hanyalah markas Korem, Polda dan gereja, tutur teman tadi. "Tapi karena markas Korem dan Polda tepah padat diisi pengungsi, maka saya dan beberapa teman wartaawn lain pun terpaksa mengungsi ke gereja. Berat sebenarnya kami harus mengungsi ke gedung gereja. Soalnya, ternyata tidak cuma saya tidak pernah ke gereja. Teman-teman itu juga ternyata sama dengan saya," tutur wartawan tadi.

    Meskipun wartawan tadi mengaku bahwa  di dalam gedung gereja itu dia dan teman-temannya merasa aman dan ingat kembali Tuhan, lalu bagaimana setelah dia kembali ke tempat asalnya? "Ya, memang kalau lagi terancam bahaya baru kita ingat Tuhan," tutur wartawan itu.

    Hal yang sama dilakukan sebagian warga Muslim Kosovo di Kota Tirana, Albania. Melalui media massa yang merekam sikap hidup mereka, sebagian warga muslim di kota itu baru mencari ketenangan dengan rajin menjalankan shalat lima waktu ketika nyawa mereka terancam peluru. Itu pun ketika menyelamatkan diri dengan mengungsi ke mesjid-mesjid. Namun, ketika ditanya apakah para pengungsi itu beraliran Sunni atau Syiah, salah satu pengungsi mengatakan, "Apa? Kami semuanya Muslim. Semuanya."

    Di Kota Kupang, pada hari Minggu pagi antara jam 06.00 sampai 09.00 jalanan relatif sepi. Bisa dihitung dengan jari angkota dan kendaraan roda dua dan empat lainnya di jalan-jalan. Toko-toko juga baru dibuka di atas jam 11.00 tapi umumnya sore. Asumsi kita, tentu mayoritas warga masyarakat di kota ini ke gereja. Sehingga pantas kalau kota ini disebut kota religius.

    Ya, kita angkat topi atas budaya masyarakat kota yang religius ini. Kita juga angkat topi tanda salut, rajin ke gereja rajin juga memajak angkota, berkelahi antar kelompok lalu merusak rumah-rumah orang yang tidak tahu menahu masalahnya, juga rajin memperdayai gadis-gadis di bawah umur. Siapa? (marcel weter gobang)

Sumber: SKH Pos Kupang edisi Senin 1 November 1999 hal 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes