Saatnya Telah Tiba

Dua puluh tahun lalu, piala kejuaraan sepak bola Eropa 1988 diboyong oleh Van Basten dan kawan- kawannya ke Belanda. Agar para pencinta bola bisa ikut merasakan kegembiraan itu, KNVB, PSSI-nya Belanda, mengelilingkan piala tersebut ke kota-kota yang mempunyai kesebelasan amatir.

Waktu itu Rafael van der Vaart masih kanak-kanak. Di kotanya ada kesebelasan amatir, De Kennermers. Klub ini juga diberi kesempatan berfoto bersama dengan piala, lambang supremasi sepak bola Eropa 1988, itu.

”Rafael sangat merindukan kedatangan hari itu. Sayang, persis hari itu tiba, ia sakit. Panitia tahu kekecewaan kami. Maka, syukur di ujung hari, piala itu diampirkan ke rumah kami. Akhirnya, kerinduan Rafael kesampaian, ia berfoto dengan piala kebanggaan itu,” tutur Ramon van der Vaart, ayah Rafael van der Vaart.

Cinta yang mendalam terhadap kesebelasan Oranye sudah tertanam di hati Rafael sejak ia kecil. Tahun 1988, semua duel tim Oranye diikutinya. Ia bahkan melek sampai jauh malam ketika Belanda menjungkirkan Jerman di semifinal.

”Dengan cara dan paksaan apa pun, ia tak mau disuruh tidur,” kata ayahnya. Kekaguman itu tinggal padanya, juga setelah turnamen selesai. ”Pertandingan Belanda-Jerman saya rekam dalam video. Setengah tahun lamanya, Rafael memutar terus video itu setiap malam,” tutur Ramon van der Vaart lagi.

Seperti Rafael van der Vaart, Dirk Kuyt juga mempunyai kenangan manis akan saat itu. Sebagai anak, semula ia hampir tidak mengerti mengapa tiba-tiba kota Amsterdam pecah dalam kegembiraan. Begitu ia tahu itu karena Belanda juara, ia pun ikut bergembira.

”Saya melihat semua pertandingan di rumah. Habis pertandingan, saya terus bermain bola di pelataran. Saya tergila-gila akan Gullit dengan rambut rastanya. Maka, saya bahagia ketika akhirnya ia melatih saya di Feyenoord,” kenang Kuyt.

Kenangan manis tak hanya ada pada Van der Vaart atau Kuyt, tetapi juga pada semua pemain Belanda. Kenangan itu terbawa 20 tahun lamanya. Karena itu, Piala Eropa 2008 ini rasanya adalah saat yang tepat untuk mewujudkan impian masa kecil mereka, yakni menjadi seperti Van Basten atau Gullit, yang dua puluh tahun lalu memboyong Piala Eropa ke Belanda.

”Kami mempunyai kualitas untuk melakukan yang spesial. Kami akan melihat apa yang terjadi. Perebutan kejuaraan kali ini memang keras. Tetapi, kami yakin, kami akan meraihnya,” kata Dirk Kuyt. Kuyt yakin akan sampai ke tujuan karena ia merasa kali ini Belanda sungguh kuat dan menyatu sebagai tim.

Een doel, een gevoel, samen zijn we Oranye, satu tujuan, satu hati, bersama-sama kita adalah Oranye, memang itulah semboyan kesatuan kesebelasan Belanda kali ini. Tetapi, ingatlah, tak semua warga bola Belanda seoptimistis itu. Salah satunya adalah Ronald de Boer, mantan pemain Oranye sendiri.

Menurut De Boer, sejak tahun 1988, kesebelasan Belanda seakan kehilangan keinginan untuk menang. Keinginan itu seharusnya memenuhi jiwa maupun raga setiap pemain. De Boer memberi contoh mata para pemain Brasil. Mata mereka seakan selalu siap meneteskan air mata kebanggaan bila mereka boleh membela negaranya.

Lain dengan pemain-pemain Belanda. ”Kami terlalu dingin untuk bisa mempunyai mata seperti mereka,” kata De Boer.

Menurut De Boer, boleh jadi karena pemain-pemain Belanda berasal dari situasi serba kecukupan. ”Pemain yang berasal dari negara berkekurangan, seperti pemain Amerika Latin, tampaknya bisa lebih mempunyai kebanggaan nasional,” sambungnya.

Lebih daripada De Boer, malah ada yang mengatakan, tim Belanda kali ini sangatlah misterius. Tak diketahui apakah sistem sepak bola yang mereka pakai? Ruud van Nistelrooy sendiri bilang, mereka sudah meninggalkan sistem total football. Soalnya, terbukti selama ini mereka tak pernah menang dengan sistem itu. Tapi, kalau tidak total football, lalu sistem apa, ia pun tidak bisa menerangkannya.

Dalam uji coba melawan Austria, Belanda ketinggalan terlebih dahulu dengan skor 0-3, baru kemudian menang dengan 4-3. Pers Belanda menyebut pertandingan itu sebagai ”parodi kesebelasan unggulan”. Jelas hasil itu menambah teka-teki terhadap kesebelasan Belanda.

Sementara Van Basten dikritik tak terlalu otonom sebagai pelatih. Disinyalir, ia banyak bergantung pada legendaris Belanda, Johann Cruijff. Belakangan Cruijff membantah. ”Marco punya akal cukup untuk melihat siapa-siapa yang harus menjadi pemain dalam kesebelasannya,” kata Cruijff. Memang terlalu riskan jika Van Basten sendiri tidak mempunyai kendali langsung terhadap kesebelasannya.

Esok dini hari, Belanda akan mulai menerjuni grup neraka. Juara dunia Italia segera siap menghadang impian mereka. ”Empat puluh tahun lamanya kami ingin merebut kejuaraan di Eropa. Sekarang saatnya kami membawa piala ke rumah,” kata Andrea Pirlo. Kerinduan itu tentu menstimulasi Italia untuk merobohkan lawannya begitu kesempatan pertama tiba. (Oleh Sindhunata Wartawan Pencinta Sepakbola)
 
Sumber: Kompas.Com
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes