Uskup Sensi: Dengar Dulu Apa Kata Umat

Ukup Sensi Potokota
HARI Minggu, 23 April 2006, Romo Vincentius Sensi Potokota, Pr ditahbiskan menjadi Uskup Maumere. Pengumuman untuk gembala umat di Maumere itu dikeluarkan Tahta Suci Vatikan pada tanggal 1 Desember 2005. Tanggal 9 Maret 2006, umat Ende mengantar Romo Sensi yang selama ini bertugas di Keuskupan Agung Ende ke Maumere dan disambut hangat umat di Maumere. Bagaimana Romo Sensi menyikapi penugasan Vatikan ini dan apa yang akan dibuatnya setelah menempati Istana Keuskupan Maumere, ikuti perbincangan Pos Kupang dengan Romo Sensi, Jumat, 24 Maret 2006.

Bagaimana perasaan Romo ketika diumumkan sebagai Uskup Maumere yang pertama?

Terus terang, sebagai seorang imam saya tidak pernah berpikir tentang penugasan (sebagai uskup). Saya juga tidak pernah mengharapkan posisi ini. Saya tahu betul ini tantangan yang amat berat. Tetapi sebagai imam saya harus siap untuk menjalani tugas apa saja.

Apa yang Romo akan lakukan untuk Keuskupan Maumere? 

Saya akan berusaha menjadi uskup yang mendengarkan umat lebih dahulu. Apa kemauan umat, meskipun ada ide atau gagasan yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah tetapi yang terlebih dulu adalah kemauan umat sehingga apa yang dihasilkan itu bukan keinginan dan konsep saya, tetapi keinginan umat. Saya tidak ingin berjalan duluan, tetapi berjalan bersama dengan umat dan berjalan bersama dengan para rekan saya. Saya belum berani bicara banyak mengenai program karena tidak ingin mendahului umat. Sesuai dengan hasil sidang di Bogor beberapa waktu lalu, kita sesuaikan dengan kekhasan masing masing keuskupan. Kelompok Umat Basis adalah program yang akan dipertahankan, dilaksanakan dan difokuskan. Umat akan menjadi subyek pastoral.

Apakah setelah Keuskupan Maumere berdiri, lalu akan memisahkan diri dengan keuskupan induk, yakni Keuskupan Agung Ende?


Kehadiran Keuskupan Maumere bukan berarti terlepas dari Keuskupan Agung Ende, meskipun Keuskupan Maumere memiliki otonomi. Keuskupan Maumere akan tetap berjalan bersama dengan Keuskupan Agung Ende. Dengan kehadiran keuskupan ini bukan berarti berjalan sendiri dan lebih bijaksana kalau pada tahun-tahun awal ini berjalan bersama dengan keuskupan induk. Paling tidak untuk lima tahun ke depan.

Adakah kemungkinan untuk pembentukan paroki baru di Keuskupan Maumere?
 
 Saat ini sementara dipersiapkan pemekaran dari beberapa paroki di Maumere misalnya di Misir, Bolawolon. Tetapi semuanya itu harus digodok dalam forum para pastor karena yang tahu pasti mengenai kebutuhan umat di paroki adalah para pastor karena mereka yang langsung melayani umat. Setelah digodok lebih dulu baru diajukan ke Dewan Keuskupan. Saat ini ada 33 paroki. Meskipun ada inisiatif untuk pemekaran tetapi harus diproses dalam forum para pastor lebih dulu.

Mengenai perangkat dasar untuk pastoral Keuskupan Maumere, apakah akan sama dengan keuskupan induk ataukah akan berbeda?


Kemungkinan perangkatnya sama dengan Keuskupan Agung Ende, tetapi untuk itu membicarakan perangkat dasar itu baru bisa dilakukan setelah pentahbisan. Setelah itu baru kita duduk bersama dan membicarakan dengan melihat kebutuhan yang ada. Sedangkan mengenai orang atau personilnya otomatis yang berada di wilayah keuskupan ini. Perangkat sudah ada tetapi diperluas seperti jaring laba-laba sehingga sampai ke tingkat paroki.
 
 Apakah Kevikepan Maumere masih tetap dipertahankan?

Tentu saja kevikepan masih ada karena itu sesuai dengan struktur hirarki gereja. Besar kemungkinan akan ada dua kevikepan. Seperti dulu, sekurang-kurangnya ada dua kevikepan, yakni Kevikepan Maumere Barat dan Maumere Timur. Hal ini untuk memudahkan koordinasi kerja, tidak sekadar untuk memenuhi syarat organisatoris tetapi lebih pada koordinasi.

Hingga saat ini, apakah sudah ada masukan-masukan dari umat untuk program atau rencana awal Keuskupan Maumere?

Sampai saat ini belum ada masukan secara formal, tetapi ada satu dua pendapat yang disampaikan dan saya setuju dengan pendapat itu untuk mengingatkan saya jangan memulai dengan hal-hal yang terlalu struktural, untuk pembangunan fisik, misalnya bangun istana keuskupan dan katedral. Tetapi mulai lebih dulu dengan pelayan atau penggembalaan umat. Saya sangat setuju dengan usul itu. Bukan berarti pembangunan fisik itu tidak penting, tetapi hal itu bukan prioritas. Pembangunan katedral dan istana keuskupan adalah hal yang dibutuhkan, tetapi tidak harus langsung memulainya dengan pembangunan fisik seperti itu karena pembangunan itu merupakan program jangka panjang. Saya ingin mulai dengan pelayanan dan lebih sering untuk langsung menyapa dan bertemu dengan umat sehingga bisa tanggap terhadap kebutuhan umat, bisa berbagi dengan umat ketika umat membutuhkan, karena itulah perangkat pastoral harus ada pada komunitas basis. Saya ingin umat merasa punya seorang gembala dan bisa merasa dekat dengan gembalanya.

Mengenai kerukuman antar umat beragama di Kabupaten Sikka, sejauh mana Romo melihatnya?


Saya sangat terkesan melihat kerukunan dan kerja sama para pemuka agama di wilayah ini pada saat penjemputan saya. Mereka hadir pada saat itu bukan hanya ingin menunjukkan muka, tetapi memiliki itikad yang sangat luhur, suatu bentuk ungkapan kesediaan untuk bekerja sama dan ini adalah modal untuk menggalang kebersamaan karena masyarakat di sini adalah masyarakat yang plural. Kerja sama dan kerukunan yang sudah dibina ini akan diteruskan dan ditingkatkan lagi. Baru-baru ini ada undangan dari gereja-gereja Kristen untuk adakan kegiatan oikumene dan saya langsung diajak untuk ikut kegiatan tersebut. Dan saya setuju ketika Vikep Maumere mengambil bagian dari kegiatan tersebut dan ini sebagai pernyataan kesediaan untuk bekerja sama. Saya melihat kita berhadapan dengan berbagai masalah kemanusiaan dan sudah ada titik temu yang enak untuk menggalang kerja sama antar umat beragama. Kita harus bersatu, tidak peduli agama apa, untuk menghadapi masalah kemanusiaan. Pemimpin agama harus bekerja sama, entah dalam bentuk seperti apa, karena disesuaikan dengan kebutuhan dan tantangan yang ada. Sekarang ini tantangan bagi umat sangat besar, apalagi tantangan bagi kaum muda.

Bagaimana bentuk pembinaan yang akan diterapkan sehingga kaum muda tetap teguh pada nilai-nilai agama?

Masalah ini juga dibicarakan pada saat Sidang Agung Gereja Katolik di Bogor, beberapa waktu lalu. Masalah kaum muda bukan masalah yang sepele. Sangat penting untuk memikirkan masa depan yang lebih baik bagi mereka dan untuk menangani problem orang muda harus ada yang lebih konkrit. Karena itu perlu komisi khusus kepemudaan dan untuk bentuknya disesuaikan dengan masing masing keuskupan. Kita akan cari kiat-kiat untuk merancang program pastoral untuk kaum muda. Karena sekarang ini semakin rawan dan itu bukan rahasia lagi. Perlu adanya pendampingan terhadap kaum remaja, kaum muda mulai dari pusat keuskupan atau mulai dari kota Maumere karena di sinilah tempat atau kantong generasi muda, anak-anak pelajar, mahasiswa dan para pemuda berkumpul di kota sehingga perlu dicari bentuk pelayanan yang bisa diterima pemuda. Bukan berarti melupakan paroki-paroki, tetapi itu konsekuensi karena mereka lebih banyak di kota. Kaum muda inilah yang membawa pengaruh, jika mereka kembali ke desa atau asal mereka. Karena itu perlu pendampingan yang intensif dan masalah ini adalah masalah yang urgen sehingga harus menjadi prioritas pastoral.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes