Andmesh, Kebangkitan Mutiara (Hitam) NTT

Andmesh Kamaleng
Oleh: Refael Molina
Anggota Forum Penulis NT
T

Rising Star Indonesia (RSI) season 2 menjadi ajang bergengsi putra kebanggaan Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukan talenta dan bakatnya. Bangga, bahagia dan terharu biru ketika menyaksikan Jandmesh Antonio Kamaleng tampil memukau menggetarkan Indonesia pada Grand Final RSI 2017 di Studio RCTI, Senin (27/3/2017). Andmesh pun keluar sebagai juara RSI season 2.

Awalnya, penulis tidak percaya ketika alumni SMA N 3 Kupang itu ikut RSI. Pasalnya, siapa yang mengantarnya ke studio RCTI atau menyediakan kostum dan lain-lain saat ia tampil. Namun, baru-baru ini saya mendengar kabar bahwa ada beberapa orang dekat Andmesh yang sudah membantunya selama di Jakarta. Luar biasa!

Dari Gereja
Menggeluti dunia tarik suara, bagi Andmesh bukan hal baru. Sebelum kisah sukes nan bergengsi itu diraih, putra Almarhum Yes Kamaleng dan  Erna Kamaleng-Laure ini konon selalu belajar bermusik dan bernyanyi dari ayahnya sendiri.

Talenta bernyanyinya  tumbuh ketika ia tampil mengisi pujian di gereja, mengikuti dan menjuarai beberapa lomba tarik suara gerejawi serta berbagai ajang tarik suara lainnya di NTT. Ia kemudian mengikuti jejak ayahnya menjadi penyanyi kafe di Kota Kupang dan biasanya diundang mengisi acara resepsi nikah dari kota hingga ke desa-desa.

Sebelumnya, tandem Andmesh, Mario Klau  terlebih dahulu mengikuti The Voice Indonesia dan keluar sebagai juara. Menariknya Andmesh pun dikabarkan ditolak oleh panitia lomba tarik suara di NTT dengan alasan, lomba di NTT bukan kelasnya lagi bagi Andmesh. Rupanya ini juga yang mendorongnya ikut lomba tingkat nasional. Dan, RSI menjadi tujuannya.

Realitas tersebut kian menjawab tulisan saya dengan judul "Mario Klau: Simbol Kebangkitan Generasi NTT" di Pos Kupang, Senin (27/6/2016). Salah satunya, Andmesh kini membuktikan NTT punya banyak talenta tarik suara yang harus bangkit.

Hemat saya, ini kebangkitan mutiara-mutiara hitam NTT yang selama ini tertidur. Masih banyak mutiara hitam NTT harus menunjukan kemampuan di ajang nasional bahkan internasional baik di bidang tarik suara maupun bidang lainnya.
Masuk RSI bukan semudah membalikan telapak tangan. Selain bersaing dengan kontestan lainnya, ia pun harus bersaing dengan mengumpulkan persentase vote.

Perjalanan Jebolan Juara 1 solo putra Lomba Kidung Pujian GMIT Ebenhaezer 2012 ini ketika masuk audisi RSI, diawali dari Room Audition Stage  pada 13 Desember 2016 dengan membawakan lagu "I'm not the only one" milik Sam Smith. Saat itu semua expert (Anang, Aril, Judika dan Rosa) memilih "Yes" dan ia pun lolos.  Masuk di live audition 4, penampilannya mendapatkan 94 persen ketika membawakan lagu "Say You Won't Let Go" milik James Arthur.

Pada live duel 1 pun Andmesh tetap mendapatkan 94 persen ketika membawakan lagu "Dia" milik Anji. Pada Final Duel I, ia membawakan lagu "Show Me The Way Back To Your Heart" dan berhasil mendapat 84 persen.

Putra semata wayang Ibu Erna Kamaleng-Laure itu pun masuk 12 besar lalu membawakan lagu "Surat Cinta untuk Starla" milik Virgoun dan mendapat  84 persen. Pada babak 10 besar ia membawakan lagu, "Lean On" milik Major Lazer berhasil memperoleh vote 85 persen, lalu pada Babak 9 besar, ia membawakan lagu "Salahkah Aku Terlalu Mencintaimu" milik Fatin Shidqiah, dengan vote 88 persen.

Ia melaju ke babak 8 besar dan berhasil mendapat 87 persen ketika menyanyikan lagi "Hymn For The Weekend". Pada babak 7 besar, ia mendapat vote 82 persen.

Kemudian pada Super 6, tandem Neny Lumbakaana dan Io Yopudara itu menyanyikan lagu "Jera" milik Agnes Monika dan mendapat vote 81 persen.  Pada babak semifinal, saudara  kandung Wati, Ecy dan Indah Kamaleng itu membawakan lagu milik Armada Band "Asal Kau Bahagia" mendapat 87 persen. Ia pun melaju ke babak final pada 27 Maret 2017. Pada grand final idola James Foster ini membawakan lagu milik Myta "Aku Cuma Punya Hati" dan mendapatkan vote 78 persen. Ia pun kemudian masuk pada acara puncak Final RSI berhadapan dengan Fauziah Khalida.

Putra kelahiran Kupang 19 tahun silam itu menggetarkan panggung RSI dengan lagu pamungkas "Making Love Out of Nothing at All" milik Air Supply. Andmesh resmi mendapat gelar juara setelah mendapat total 80 persen.

Inspirasi Anak Muda NTT

Ada pesan inspiratif yang harus dipetik dan diteladani anak-anak muda NTT dari apa yang telah dilakukan Andmesh. Pertama, yang mesti dipetik dari apa yang dilakukan Andmesh. Pertama, bersyukur dengan hal-hal sederhana.

Mengapa? Andmesh telah membuktikannya ketika ia mampu bersyukur dengan apa yang diterimanya ketika bernyanyi di kafe-kafe Kota Kupang, walaupun nilainya kecil. Bahkan kita semua pasti setuju, apa yang kebanyakan orang bilang, mensyukuri hal-hal sederhana, pasti ada hal-hal luar biasa yang Tuhan siapkan untuk kita. Inilah yang dilalui Andmesh.

Kedua, semangat mengeksplore talenta dibidang tarik suara. Pada titik ini, Andmesh menunjukkan talentanya. Bukan dengan nada tendensius saya menjudge generasi muda di NTT. Namun, hampir pada umumnya generasi muda kita justru `mengurung' potensi diri mereka.

Mereka justru tidak merasa percaya diri dan percaya dengan talenta dan potensi yang dimiliki. Namun, apa yang dilakukan Andmesh, memutuskan untuk mengikuti ajang-ajang lomba di tingkat lokal adalah bentuk dia mengeksplore talenta dan bakatnya hingga menjadi juara dalam ajang RSI 2017.

Ketiga, ia tidak merasa sombong.  Ketika mendapatkan pujian dari para penggemar atau  reward (penghargaan) dari panitia RSI yang sangat fantastis besar. Hal itu tak membuatnya besar kepala. Pada malam final RSI 2, kita menyaksikan kesederhanaan Andmesh bahwa apa yang diperolah adalah pemberian Tuhan dan dukungan masyarakat NTT.

Hemat saya, ia sudah terbiasa dengan hal-hal sederhana, sehingga ia tak perlu merasa sombong. Kini yang dilakukan Andmesh adalah bersyukur atas apa yang diterimanya. Ini bukti, perjuangan, kerja keras, ketabahan, kesetiaan dan ketekunan dalam mengasah dan mengeksplore kemampuan yang sebelumnya dianggap biasa, namun berubah menjadi luar biasa.

Keempat, terbuka dan siap menerima saran dan kritikan orang lain. Di tengah kompetisi dalam ajang tersebut, putra Alor tersebut telah menunjukkan sikap terbuka dan menerima setiap krikan dari para expert, baik yang destruktif maupun konstruktif. Percaya atau tidak, hari-hari ini generasi di NTT, masih saja alergi dengan kritikan. Padahal, saran dan kritikan tersebut akan berujung pada perbaikan diri untuk menjadi lebih baik.

Kelima, tahu menempatkan diri bahwa di balik kesuksesan, pasti ada dukungan orang lain. Dukungan masyarakat Indonesia, khususnya NTT tak membuat Andmesh lupa daratan, ucapan terima kasih terus `mengalir' di bibirnya, lantaran apa artinya sebuah keberhasilan tanpa dukungan doa dan kerja keras orang-orang lain. Pada tataran ini, keberhasilannya harus menjadi batu loncatan baginya, bahkan bagi semua generasi muda NTT untuk mengeksplore potensi diri.

Hapus Stigma Negatif NTT
Semangat anak-anak muda seperti Andmesh, Mario Klau dan Azizah setidaknya perlahan hendak  menghapus "stigma-stigma negatif" terhadap NTT. Pasalnya mereka telah menunjukkan bahwa NTT itu tak selamanya memiliki wajah buram. Pada titik ini, hemat saya, mereka telah mengangkat wajah NTT di kancah nasional. Andmesh misalnya, dalam setiap kali penampilannya pun selalu menggunakan busana dengan motif tenunan NTT. Ini juga menunjukan kecintaan terhadap daerah NTT serta jiwa nasionalisme yang dimiliki seorang Andmesh.

Fenomena ini sejatinya membuka mata dan hati kita bahwa sebenarnya ada Andmesh-andmesh lain di NTT yang belum muncul di permukaan. Dukungan masyarakat dan pemerintah mutlak dibutuhkan, karena ini bukan saja soal individu (Andmesh), namun soal nama daerah asal pun menjadi taruhan.

Ketika mendengar Andmesh, orang juga pasti mengatakan dari NTT. Nama NTT pun menjadi semakin tersohor dengan talenta dan prestasi anak daerah. Karena itu, terima kasih atas dukungan semua pihak yang telah mendukung Andmesh, baik lewat doa maupun vote.

Dengan juara tersebut, harapan saya, Andmesh bisa menjadi sumber inspiratif, motivasi, semangat dan kebangkitan bagi generasi NTT yang lain untuk mengeksplore bakat, minat dan talenta yang dimiliki. Dengan demikian semakin menghapus stigma negatif terhadap NTT. Bangkitlah mutiara hitam NTT. Semoga.*

Sumber: Pos Kupang 5 April 2017 hal 4
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes