Menunggangi Ombak


ilustrasi
MANTAN pimpinanku yang sudah belasan tahun pensiun, wartawan senior dari media terkemuka mengungkapkan kegundahannya ihwal kerja jurnalis masa kini.

Dia biasanya jarang berceloteh di akun medsos.

Namun, ketika perbarui statusnya beberapa hari lalu, sentilannya memancing perhatian mata.

Saya dididik selalu berpikir positif. Namun sehari-hari melihat dan mendengar para pembawa acara TV selalu bekerja dengan pendekatan negatif. Padahal pikiran kita itu seperti tanah, jika ditanami jagung tumbuh jagung, tanam kedele tumbuh kedele. Jika pikiran kita "ditanami" hal-hal negatif, bukankah yang akan muncul perbuatan negatif, hal-hal yang tidak baik? Jurnalis kita lebih pentingkan judul daripada inti masalah bahkan sering tidak mau mendengarkan jawaban narasumber demi menggiring opininya sendiri. Apa itu yang juga diberikan kepada mahasiswa jurnalistik sekarang? Wah ambyar tenan!”

Lain lagi gerutuan pengamat media. Masih kerabatku juga.

“Seolah kecepatan adalah segalanya. Mayoritas portal berita online semata mengandalkan sumber dari medsos. Apa saja informasi yang berkeliaran di medsos langsung diolah sebagai bahan berita. Mereka mengabaikan prinsip cover both side apalagi cover all sides”.

Seniorku yang doyan mengikuti perkembangan bahasa Indonesia gemas.

Wartawan dan editor ‘zaman now’ rupanya gagal paham mengenai penggunaan kata “usai dan “seusai”. Salah kaprah ”usai tak kunjung usai” sudah berlangsung terstruktur, sistematis dan masif. Hahaha..

Komentar berikut tak kalah menohok.

“Mohon maaf, mulai hari ini saya berhenti berlangganan media Anda. Saya juga tidak akan akses lagi versi digital mediamu ketika saya tahu berita kalian 80 persen click bait. Isinya sampah. Maaf!”

Beberapa kutipan di atas sekadar contoh kegelisahan orang tentang konten media dewasa ini.

Para jurnalis, wartawan, editor tidak lagi menulis elok pada garis-garis bengkok demi benefit bagi publik.

Mereka justru menulis bengkok hingga melahirkan antipati bahkan benci.

Kenyataan ini tentu mengiris hati di tengah gemerlapnya perkembangan media era digital.

Memang tak sedikit wartawan profesional di ini negeri. Mereka bekerja dengan kesungguhan hati.

Karyanya jadi referensi. Mereka jurnalis yang bisa dipercaya karena berintegritas tinggi.

Akan tetapi masih banyak pula yang abai terhadap prinsip dasar kerja kewartawanan sehingga menghasilkan produk jurnalistik tak bermutu.

Pihak yang rugi adalah publik lantaran tidak mendapatkan pencerahan untuk memahami permasalahan sesungguhnya.

Pendiri Harian Kompas, Jakob Oetama kerap berpesan bahwa wartawan atau jurnalis hendaknya tidak pasif saat menangani berita.

Dia mesti proaktif sehingga piawai mengemas isi berita yang dapat memberi benefit sebesar besarnya bagi banyak orang.

Dalam bahasa Pak Jakob, wartawan itu harus menunggangi ombak (riding the wave) bukan diombang-ambingkan ombak atau malah ditenggelamkan ombak yang ganas.

Wartawan senior Kompas, Ninok Leksono menjabarkan sangat indah spirit riding the wave atau in full command of the news tersebut.

Menurut Ninok dalam bukunya, Yuk Simak Pak Jakob Berujar (Penerbit Kompas 2016), menunggangi ombak meniscayakan wartawan memiliki sejumlah persyaratan yang dibutuhkan.

Ia harus tekun, terus belajar agar memiliki pengetahuan dan punya semangat juang untuk menggeluti permasalahan.

Riding the wave menganjurkan jurnalis membekali diri dengan pemahaman atas duduk perkara suatu masalah, punya tekad kuat mengikuti perkembangan permasalahan dan punya insting untuk melihat biang masalah tersebut akan berujung.

Dengan mengusung spirit riding the wave, wartawan akan punya konteks atas permasalahan yang diliputnya, membawa hasil liputannya di posisi terdepan selain komprehensif dan mendalam.

Dengan spirit ini juga media tempat jurnalis bekerja akan dipercaya dan dikagumi.

Di era ketika persaingan antarmedia semakin ketat, terutama setelah menanjaknya media digital, kualitas konten merupakan kunci sukses.

Kelengkapan berita yang kaya serta luasnya perspektif wartawan menjadi faktor kompetitif.

Akan tetapi problem besar sebagian jurnalis hari ini antara lain sikap kerja seadanya di tengah banjir bandang informasi.

Mereka enggan berusaha memverifikasi data dan fakta sehingga informasi yang masih sumir pun terpublikasikan.

Akibatnya bukan kabar baik yang tersaji tapi malah fake news atau kabar bohong yang meresahkan khalayak.

Kecepatan seolah hantu.

Jurnalis cenderung menyajikan informasi sekadarnya di era digital yang mensyaratkan kegesitan.

Kedalaman dan kelengkapan terpinggirkan.

Yang penting jadi portal berita pertama yang mewartakan agar bisa menjaring kunjungan sebanyak-banyaknya.

Celakanya lagi ada yang senang click bait atau umpan klik.

Umpan klik merupakan suatu istilah peyoratif merujuk kepada konten web yang ditujukan untuk mendapatkan penghasilan iklan daring sambil mengorbankan kualitas atau akurasi informasi.

Caranya bikin judul bombastis, sensasional.

Jauh panggang dari api. Judul lain isinya lain. Tujuannya semata demi klik. Judul dibikin sedemikian rupa untuk menarik perhatian orang.

Jualan paling laris biasanya masalah seks, kasus kriminal dan kadang menyerempet isu SARA (Suku, Agama, Ras dan Golongan).

Sejak dulu para guru jurnalistik acap mengingatkan bahwa peristiwa itu hanyalah kapstok alias gantungan baju. Ya sebagai gantungan saja.

Itu berarti jurnalis tidak hanya puas dengan apa yang dia liput, dia dengar, lihat dari sebuah kejadian atau peristiwa.

Jadikan peristiwa sebagai kapstok berarti seorang wartawan hendaknya membuat liputan lengkap dan komprehensif. Menjaga kedalamannya.

Bagaimana mungkin dapat menghasilkan liputan komprehensif bila cara kerja sebagian jurnalis masih seperti gambaran dalam contoh berikut ini.

Senangnya berkumpul di ruangan humas saja, press room atau apalah namanya.

Rajin menunggu keterangan polisi, pejabat humas atau juru bicara suatu instansi atau menanti penuh harap untaian kata press release.

Sumber-sumber itu dipandang cukup. Atas nama setia kawan, siapa paling lekas merajut berita mesti berbagi lekas pula kepada kawan-kawan.

Jadilah angle dan isi berita nyaris sama dan sebangun.

Hanya beda tipis di judul, kata pembuka atau paragraf pertama.

Kemudahan teknologi hari ini ikut menyuburkan praktik copy paste berita.

Reporter cloning. Dia tidak perlu repot menyusun kata dan kalimat sendiri.

Maka sebagian wartawan belakangan ini tak ubahnya juru bicara polisi, jaksa, pengacara atau pejabat pemerintah.

Wartawan rilis. Titik.

Tak tergerak otak dan hatinya untuk menjadikan rilis itu sekadar informasi awal.

Dia mestinya lebih rajin turun ke lapangan, bertemu semua pihak terkait dengan peristiwa, pelaku, korban, keluarga, kolega dan jaringannya. Mencari juga referensi terkait.

Dengan menggali dan mengumpulkan sebanyak mungkin informasi niscaya karya jurnalistiknya akan kaya perspektif.

Laksana pelaut, jurnalis yang baik itu harus menunggangi ombak, bukan mengkhayal mengayuh perahu dari daratan.

Dia mesti berada di tengah badai untuk mengecapi betapa indahnya pelangi permasalahan sosial.

Tatkala menggali dan mengumpulkan bahan berita atau tulisan, tak ada gunung yang terlalu tinggi untuk didaki dan tak ada jurang yang terlalu dalam untuk dituruni seorang jurnalis.

Idealnya begitu. Berat? Ya pastilah.

Tapi bukan tidak mungkin dikerjakan kalau tuan dan puan mau menjadi jurnalis atau penulis yang baik. Profesional!

Dalam simakrama (silaturahmi) dengan para jurnalis belum lama berselang, seorang CEO grup media di Jakarta memberi wejangan meneguhkan.

“Ketika kamu menulis dengan baik, maka pertama-tama itu adalah modal pribadimu bukan lembaga tempatmu mencari nafkah. Kamu bisa pindah tempat kerja atau medan pengabdian kapan saja. Tapi kecakapan menulis merupakan modal hidupmu sehingga akan lebih mudah diterima di manapun. Ada kiasan, jadilah koin karena serendah apapun nilainya tetap dilirik atau dipungut orang. Jangan puntung rokok yang akan diremas lalu dimasukkan ke kotak sampah.”

Begitulah. Profesi jurnalis mensyaratkan sikap ikhtiar, terus mengasah kemampuan menulis hari demi hari.

Dari purnama ke purnama. Tak boleh berhenti selama hayat masih dikandung badan.

Rumitnya itu antara lain ada di sini.

Efa reformasi yang diwarnai deregulasi total di bidang penerbitan pers dan media massa tak otomatis menghadirkan pers berwajah baik.

Reformasi memudahkan siapapun mendirikan media. Apalagi media baru (digital) jauh lebih gampang caranya.

Cukup bermodalkan sekian juta rupiah sudah bisa bikin domain website news lalu unggah berita, foto dan video dan sebagainya.

Data Dewan Pers (2019) menyebutkan, jumlah media online di Indonesia kurang lebih 47.000.

Dari jumlah tersebut yang sudah terverifikasi Dewan Pers kurang dari 3.000.

Terbayangkan berapa banyak media digital yang hadir begitu saja memberikan informasi bagi masyarakat luas.

Si A yang kemarin bekerja sebagai kontraktor bangunan, misalnya, sontak alih profesi sebagai jurnalis karena sudah mendirikan media sendiri.

Kemudahan menjadi jurnalis meminggirkan pentingnya pendidikan dan pelatihan.

Proses rekruitmen seperlunya saja. Calon jurnalis tidak sungguh-sungguh dilatih sebelum terjun ke lapangan menggali bahan berita dan melaporkannya.

Asal paham sedikit unsur 5 W + 1 H dan bisa merangkai kata sudah boleh membuat berita.

Tidak penting amat apakah dia membuat kalimat sesuai kaidah bahasa Indonesia agar pesan tersampaikan secara jelas dan benar.

Bermodalkan kartu identintas dari medianya, si jurnalis bangga berkeliling ke mana-mana, menemui narasumber, memperkenalkan diri sebagai wartawan.

Giliran menulis, kata dan kalimat berlepotan, melepoti logika dan rasa.

Dan, dia berlagak tanpa beban. Tak merasa khilaf apalagi salah.

Jangan tanya lagi apakah dia mengerti secuil pesan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel tentang sembilan elemen jurnalisme dan implementasinya.

Pada akhirnya memilih profesi jurnalis itu memang berat, seberat bisnis media di era generasi tik-tok ini yang membuat banyak orang tunggang-langgang.

Senjakala media cetak bukan isapan jempol belaka.

Jalan terjal menganga di depan sana akibat perangai disrupsi yang beringas dan tak terprediksikan.

Karena berat maka diperlukan usaha luar biasa lewat seperangkat daya kreasi dan inovasi.

Tak mungkin cuma setengah hati mengingat model bisnis media baru berubah lekas amat.

Life without problems is not a real life.

Hidup tanpa masalah bukanlah kehidupan yang nyata, kata kaum bijak bestari.

Memilih profesi jurnalis bukan tanpa masalah. Bisnis media bukan tanpa soal. Problem malah datang silih berganti, tumpang tindih selama kita masih bertemu matahari.

Demikianlah. Menjadi jurnalis kiranya tak semata merajut formula klasik 5 W tambah 1 H.

Jurnalis akan bergumul selalu dengan news value, bertengkar dan mencumbui realitas.

Dalam tugasnya bertengkar dan berdiskusi tentang realitas itu, wartawan sampai kapan pun mesti menjaga kredibilitas dan integritasnya.

Tentu butuh ikhtiar tanpa akhir serta pengorbanan.

Hanya dengan itu, seorang jurnalis tetap cerdas dan bijak menjahit fakta sosial dalam nada dan langgam yang indah, dalam cara rupawan elegan.

Mencubit tanpa meninggalkan sakit hati. Keras menghela tanpa melukai, mencandai dinamika hidup masyarakat tanpa hujat mempermalukan.

Menulis untuk dipahami secara benar oleh semua orang dari anak milenial hingga opa dan oma.

Pembaca, pemirsa atau pendengar tidak hanya boleh melibatkan pikiran tetapi juga melegokan perasaan.

Silakan masuk ke lokus logika, mengendap ke dasar palung rasa, dari testa turun ke hati.

Dengan begitulah seorang jurnalis akan dikenang dalam karir panjang dan terhormat.

Inilah sekeping otokritik dan refleksiku menjelang peringatan hari pers 9 Februari 2020.

Pasti tidak sepenuhnya benar, malah banyak keliru dan kurang. Mohon maaf.

Saya hanya ingin mengajak rekan seprofesi untuk sejenak menghampiri jendela, menatap gerimis, mengusap senja, mereken seberapa tangguh kita akan bertahan.

Biarkan diri terpana memandang cakrawala. Di kaki langit dan daratan yang jengang itu selalu ada asa.

Selamat Hari Pers Nasional. Dirgahayu. (dion db putra)

Sumber: Tribun Bali
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes