Pria Berjin Biru Itu


Saya dan Herman Darmo (kanan) 2019
Oleh Dion DB Putra

Jin. Warnanya biru. Berpadu kemeja lengan pendek yang ujungnya dibiarkan berjuntai. Jarang amat dia memasukkannya ke dalam celana panjang.

Kakinya pasti berbalut sepatu, jenis sporty lazimnya. Bukan sepatu formal resmi. Satu lagi asesoris harian yang tak pernah ketinggalan yaitu tas model ransel.

Fashionable sekali sih tidak, tapi penampilannya selalu good looking. Fresh. Memberi spirit bahwa usia boleh tua tetapi semangat tidak mesti menua apalagi redup berderai.

Ini secuil kenangan tentang seorang pria berjin biru. Sejak dulu saya menyapanya Om.

Om Herman Darmo, Kuat dugaan biru adalah warna idolanya.

Teori warna menyebutkan, biru merupakan satu dari tiga warna primer aditif selain merah dan hijau. Biru adalah jenis warna antara sian dan nila. Biru itu warna langit. Seindah langit biru. Pun warna laut. Seluas samudera raya.

Kaum bijak berstari bilang, biru bermakna stabil, kecerdasan dan rasa percaya diri.

Keutamaan ini pula yang melekat pada kepribadian si pria berjin biru tersebut.

Om Herman Darmo atau kerap kami sapa inisialnya saja, Om HD, Pak HD atau Mas HD. Tribun ya biru. Biru ya Tribunnews. Biru ya Om Herman Darmo.

Hanya dua hari setelah Harian Kompas merayakan ulang tahun ke-55, tepatnya Selasa tanggal 30 Juni 2020, beliau pensiun dari Kompas Gramedia.

Purna bakti untuk Tribun Grup (Persda) yang dia layani sepenuh hati selama lebih dari dua dekade.

Setiap orang mengenal batas. Om Herman Darmo telah sampai di titik batas pengabdian sebagai insan Kompas Gramedia. Untuk grup ini pengabdian beliau tuntas dan total. Terima kasih Om HD.

Surya dan Persda

Saya pertama kali mengenal nama Om Herman Darmo ketika masih mahasiswa di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) penghujung 1980-an. Tepatnya sejak Harian Surya terbit di Kota Surabaya 10 November 1989.

Beliau merintis pendirian Surya bersama sahabatnya sesama Wartawan Kompas, Valens Goa Doy. Om HD memimpin koran yang kala itu mengusung tagline Suara Jawa Timur dan Indonesia Timur.

Koran di bawah payung Kompas Gramedia ini merupakan media favorit mahasiswa di Kota Kupang masa itu.

Selain kemasan isinya ringan dan perwajahannya atraktif, dari sisi harga Harian Surya relatif terjangkau kantong mahasiswa ketimbang Harian Kompas atau Majalah Tempo.

Saya dan beberapa teman urunan berlangganan Harian Surya.

Koran ini merupakan tempat saya belajar menulis selain media lokal NTT seperti Mingguan Dian.

Mula-mula saya menulis surat pembaca di Surya. Setelah itu naik level menulis di Kolom Komentar, rubrik khusus Surya bagi mahasiswa menuangkan gagasan dan pandangannya terhadap suatu masalah yang sedang aktual.

Menulis di Surya menjadi modal bagi saya tatkala bergabung dengan Harian Pos Kupang pada 1 Desember 1992.

Tiga sekawan yaitu Damyan Godho, Valens Goa Doy dan Rudolf Nggai adalah tokoh perintis dan pendiri koran perdana di NTT tersebut.

Tahun 1995 Pos Kupang masuk PT Indopersda Prima Media (Persda), unit usaha yang khusus mengelola koran-koran daerah Kompas Gramedia (KG). Dari Aceh hingga Papua, Manado di utara sampai Kupang di tenggara Indonesia.

Bergabungnya Pos Kupang sebagai unit usaha KG mempertemukan saya di kemudian hari dengan Om HD.

Relasi intens mulai terjalin sejak beliau menjabat Direktur Kelompok Persda menggantikan pendahulunya Pak Mamak Sutamat.

Singkat cerita, Persda dalam jamahan tangan Om Herman Darmo mencapai perkembangan luar biasa seperti saat ini melalui branding Tribun.

Si biru itu. Om HD sebagai pucuk pimpinan Persda menjadi kunci penentu keberhasilan Tribun dalam kerja bareng duetnya Pak Sentrijanto. Berawal dari proyek Metro Bandung yang kemudian berubah nama jadi Tribun Jabar bermarkas di Bandung.

Tribun Kaltim lahir 8 Mei 2003 di Balikpapan, Kalimantan Timur, sebagai pionir brand koran Tribun, lalu menyusul koran Tribun lainnya.

Tribun Timur di Makassar, Tribun Batam, Tribun Pontianak, Tribun Manado, Tribun Jambi, Tribun Lampung, Tribun Jogja, Tribun Jateng, Tribun Medan. Tribun Sumsel, Tribun Bali.

Persda pun mengelola koran yang mempertahankan nama yang sudah branded di daerahnya semisal Serambi Indonesia, Sriwijaya Post, Bangka Pos, Banjarmasin Post, Surya dan Pos Kupang.

Om HD adalah sosok yang mumpuni di industri media. Pria kelahiran Padang Sumatera Barat 11 Juni 1954 ini bertangan dingin.

Tak seorang pun di jaringan Tribun memungkiri jamahan tangan dingin beliau selama 20 tahun terakhir.

Tribun kini menjadi satu di antara unit bisnis kuat di lingkungan Kompas Gramedia berkat kiat mujarab Om HD.

Brand Tribun menjulang dan bertumbuh sehat di tengah kompetisi bisnis media yang supet ketat.

Om Herman mampu membawa Tribun sukses melakukan transformasi ke dunia digital lewat portal Tribunnews.com.

Tribunnews kini portal nomor satu di Indonesia. Selain kemampuan komplet di bidang redaksi, Om Herman Darmo punya intuisi bisnis tajam dan jitu.

Beliau sukses membangun jaringan Tribun yang solid dan bertahan hidup (survive) di tengah kejamnya gempuran disrupsi.

Tribun termasuk sanggup meniti buih perubahan. Ketika memasuki era digital, Tribun tidak gagap atau kelabakan karena sejak jauh hari sudah mempersiapkan diri secara baik. Sudah kerja by design.

Apa Jualanmu?

Keutamaan Om Herman adalah komitmennya yang luar biasa soal produk.

Jualanmu besok apa?

Begitu pertanyaan Om HD kepada kru redaksi mengenai berita andalan setiap edisi, baik versi print (cetak) maupun online.

Dalam berbagai forum konsolidasi dan koordinasi, beliau selalu menekankan yang utama dalam manajemen pemasaran adalah produk.

Produk tetaplah menjadi gerbong untuk strategi 4P itu.

Product (Produk), Price (Harga), Place (Lokasi) dan Promotion (Promosi). Tanpa produk yang baik, kata Om HD, betapapun 3P lainnya ideal, hasilnya tidak akan membawa keuntungan.

Content is the king, begitu pakemnya. Orang mau membeli koran atau klik link portal Tribun karena mereka percaya produknya bermutu.

Produk jurnalistik yang membawa benefit atau manfaat bagi publik.

Berulang kali Om HD mengingatkan kami di newsroom mengenai pentingnya berita public service. Urusan KTP, Pasport, SIM, sampah, air, listrik, telepon dan sebagainya.

Jangan pernah mengabaikan kebutuhan utama khalayak.

Ingat selalu bahwa loyalitas utama jurnalisme adalah warga. Kesetiaannya pada kepentingan publik. Om HD pun mengingatkan pada detail persoalan, konsisten menerapkan konsep mikro people dan nonproblematik.

Sajian Tribun harus memanjakan pembaca melalui resep easy reading dan multi angle.

“Jangan kau bikin orang pening kepala baca Tribun,” begitu kata si Om.

Lebih dari itu berita Tribun Network hendaknya memberikan benefit (manfaat) bagi masyrakat, baik manfaat praktis, manfaat secara intelektual serta spiritual.

Laksana manajer sepak bola, Om Herman piawai membangun tim.

Om HD mengenal kekuatan dan kelemahan setiap anggota timnya. Beliau apik mengptimalkan kekuatan dan minimalisir sisi lemah setiap anak buahnya.

Om Herman bukan pemuja pemain bintang tetapi mengandalkan kekuatan tim (team work).

Om HD kiranya yakin sehebat-hebatnya pemain bintang, tak akan menciptakan gol kalau bertarung sendirian.

Dia perlu tim yang kompak. Soliditas adalah kunci keunggulan. Om HD pun pencipta fit kader terbaik.

Si Om memang pensiun, tapi Tribun hari ini berada di tangan orang-orang terbaik. Tribun tak kekurangan sosok andal yang akan meneruskan visi, misi dan resep Om HD menjaga unit usaha ini tetap survive.

Beberapa nama patut disebut. Mas Febby Mahendra Putra, Dahlan Dahi, Domuara Ambarita, Vovo Susatio, Yuli Sulistyawan.

Yudhi Thirzano, C Budiarto. H Cyptiantoro, Moris Rumanto, M Fabiola Ririen, Heru Budi Kuncara.

Mereka tahu bagaimana mesti bergerak dan menggerakkan tim Tribun Network agar warisan Om HD tetap berkibar dan terutama memberikanmanfaat bagi banyak orang.

Mengemong

Sebagai pemimpin Om HD sungguh emong.  Mengasuh,melayani, mendidik dan mengurus sepenuh hati. Juga total.

Om HD akrab dengan semua anak buahnya. Tidak menjaga jarak hubungan meski beliau adalah pimpinan tertinggi Persda (Tribun).

Suka bercanda. Jarang amat saya melihat Om HD marah atau bersuara keras apalagi kasar. Padahal saya ini berkali-kali melakukan kesalahan. Bikin blunder dalam pekerjaan.

Menegur dan mengeritik pasti. Tapi cara beliau menyampaikan teguran berteknik tinggi, halus lembut tapi mengena di otak dan hati. Saya kerap merasa malu sendiri.

Om Herman pemimpin yang perhatian. Penggemar kopi tanpa gula ini dermawan dan murah hati. Selalu sempatkan waktu menanyakan kabar keluarga, berkirim pesan dan ucapan selamat saat ulang tahun, hari raya dan sebagainya.

Om Herman terima kasih atas semua bimbingan, didikan, perhatian dan kesempatan yang Om berikan kepada saya selama ini. Saya sangat beruntung menjadi anak didik Om HD.

Saya juga meminta maaf atas tutur kata dan tindakan yang mengecewakan.

Akhirul kata, semoga Om Herman Darmo dan keluarga senantiasa dilimpahi kegembiraan, kesehatan dan kebahagiaan. Kasih Tuhan menyertai Om selalu. Selamat mengisi hari-hari yang indah di masa purna bakti.

Sebelum menutup catatan ala kadarnya ini, saya mengutip syair sajak untuk Om Herman Darmo yang dibacakan Mas Febby Mahendra Putra.

Larik-larik sajak yang tepat menggambarkan sosok Om Herman Darmo bagi kami semua, keluarga besar Tribun yang harus rela melepasnya memasuki masa pensiun.

Etape Tanpa Koma

Ombak tetaplah ombak
Yang membuahkan gelombang
Dan ketika para penumpang gemetar dilanda ketakutan
Ketika badai tak berbelas kasih
Ketika yang lain tak sanggup membaca arah
Kau seperti memetik bintang
Dari keangkuhan gulita malam
Daerah yang kita tuju bukan pulau emas
Apalagi surga para bidadari
Suaramu lirih tapi menggema

Suaramu perih tapi jernih
Matamu mengajarkan kami
Paham sebutir peluh
Lidahmu mengajarkan kami
Paham sebilah belati
Gerak tubuhmu mengajarkan kami
Untuk berdansa di tengah badai
Pulau harapan bukan kepastian
Tapi langkahmu
Matamu
Lidahmu
Irama tubuhmu
Napasmu
Jejakmu
Barangkali semua hanya kerlip
Barangkali semua ragu
Itulah isyarat yang harus ditempuh
Laut beringsut surut
Kestas perlahan buram dan menguning
Tubuh pun menyusut
Apa yang diajarkan alam

Biru laut tak pernah lenyap
Apa yang ditorehkan bahasa
Kalimat yang tak pernah tua
Apa yang disediakan pulau
Harapan yang tak berlumut
Apa yang kau ajarkan
Melipat lindam menjadi terang

Juni 2020

Sumber: Tribun Bali
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes