Wanita itu Menyapanya Padre


Maxi Ebu Tho
"Dion, kau lagi buat apa?" Begitu sapaan khas Om Damyan Godho dari balik telepon (interkom).

"Lagi edit berita nih Om."

"Kau ke ruang saya sekarang! Ada sesuatu yang mau saya sampaikan," kata Om Damyan Godho, Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Harian Pos Kupang.

Dialog itu terjadi medio 1997 di kantor lama Pos Kupang, Jl. Kenari No.1 Kelurahan Naikoten 1 Kupang.  Cuma sejengkal dari pasar tradisional terbesar di Kota Kupang, Pasar Inpres Naikoten.

Sampai di ruang kerja Om Damy di lantai 1, beliau langsung memberikan kepada saya sepucuk surat undangan.

"Kau tugas ke Dili ya. Kau bisa menulis banyak artikel menarik," kata Si Om.

Isi surat mengundang wartawan Pos Kupang mengikuti workshop tentang HIV/AIDS di sebuah hotel di Dili. Isu HIV/AIDS memang sedang hangat pada waktu itu.

Saya termasuk beruntung karena sebelumnya pernah mengikuti pelatihan intens di tempat novelis terkenal Ashadi Siregar di Kota Yogyakarta.

Om Damyan  menugaskan saya ke Dili agar bisa memperluas wawasan mengenai penyakit yang menyerang kekebalan tubuh manusia tersebut.

Saya mengatakan siap berangkat dua hari kemudian dengan bus Trans Timor. Tapi siap berangkat ke Dili disertai permintaan tambahan.

"Kalau hanya meliput di Kota Dili tidak terlalu menarik Om," kataku.

"Ah kau ini. Memang  mau ke mana?"

"Ya, kalau bisa sampai ke kawasan timur seperti Baucau, Lautem, Los Palos..."

"Baik nanti saya coba hubungi orang yang bisa membantu kau jalan-jalan ke beberapa tempat di sana," jawab Om Damyan Godho.

Saya tahu Om Damy punya selusin relasi di Timor Timur dan mereka tentu  siap membantu.

Pembicaraan senja itu berakhir. Om Damyan dan saya melanjutkan pekerjaan kami masing-masing.

Singkat cerita saya berangkat ke Dili dua hari berikutnya.  Bus Kupang-Atambua habiskan waktu sekira 8 jam.

Ganti bus di Atambua lanjut ke Kota Dili kira-kira 4 jam. Total 12 jam perjalanan.

Workshop berlangsung sehari penuh. Telaah materi dan diskusinya asyik.  Sungguh memperkaya pengetahuan tentang HIV/AIDS.

Sebelum meninggalkan Kupang, Om Damy memberitahu bahwa ada kenalannya bernama Maxi yang akan menghubungi saya di Dili.

Benar adanya. Malam itu seusai workshop  kira-kira pukul 19.00 Wita, resepsionis Hotel Turismo menginformasikan ada seseorang bernama Maxi ingin bertemu.

Saya bergegas menemuinya di lobi hotel. Kami bersalaman dan saling memperkenalkan diri.

Baru saya tahu Om  Maxi  berasal dari Flores. Tepatnya Boawae, Kabupaten Nagekeo,  sekampung halaman dengan Om Damyan Godho. Masih kerabat dekat pula.

Rupanya Om Damy sengaja tidak beritahu saya sebelumnya biar ada kejutan dan saya perlu mencari tahu sendiri.

Orangnya ramah. Tutur katanya lembut. "Besok pagi saya akan ke Baucau. Kaka Damy bilang, Dion mau jalan-jalan, silakan bersama saya nanti," kata Om Maxi.

"Wah terima kasih Om. Memang itu yang saya harapkan biar bisa menulis hal-hal menarik di luar Dili," jawabku. Wajah berbinar ceria.

Keesokan hari sekira pukul 08.30 Wita, Om Maxi menjemput saya di hotel.
Setengah jam kemudian kami sudah meninggalkan Dili. Bergerak dalam kecepatan sedang dengan mobil yang dikemudikan sendiri Om Maxi.

Kami terus meluncur ke timur Pulau Timor dalam siraman matahari pagi dan udara yang cerah.

Inilah pertama kali saya ke wilayah timur pulau itu. Pengalaman yang sangat berkesan.

Medio 1997, ‏kira-kia dua puluh purnama sebelum Timor Timur akhirnya mengucapkan sayonara kepada Indonesia melalui referendum.

Situasi politik dan keamanan kala itu tak  bisa dibilang aman-aman saja. Apalagi di tanah Timor Timur. Tensi panas terasa di banyak tempat. Pun di Indonesia.

Gejolak reformasi mulai berembus kencang yang mencapai puncaknya 21 Mei 1998 saat Soeharto lengser keprabon.

Sepanjang perjalanan dari Dili ke Baucau yang berjarak 122 km, Om Maxi bercerita banyak hal kepada saya. Dia juga menunjukkan sejumlah tempat penting dan bersejarah.

Baucau adalah kota terbesar kedua di Timor Leste, setelah Dili, ibu kota negara itu. Kota mungil eksotik di pesisir utara Pulau Timor.

Masih ada  peninggalan Portugis di kota ini, seperti rumah, gereja dan bangunan umum lainnya.

Setelah puas berkeliling  Baucau dan beristirahat, Om Maxi selanjutnya membawa saya ke wilayah Lautem lalu kami bergerak ke selatan. Menuju Distrik Viqueque.

Bukan perjalanan biasa. Om Maxi sejatinya sambil melakoni pekerjaannya sebagai aktivis LSM. Saya juga bekerja. Merekam banyak hal yang kemudian saya sajikan bagi pembaca Pos Kupang.

Saat itu Om Maxi merupakan pimpinan LSM Yayasan Bina Swadaya di Timor Timur. LSM ini bergerak dalam bidang pemberdayaan masyarakat antara lain melalui sektor pertanian.

Kami selalu mampir di setiap tempat binaan dan dampingan Om Maxi. Bangga dan terharu melihat kedekatan beliau dengan masyarakat setempat. Mereka antusias dan riang menyambutnya.

Di suatu tempat di wilayah Viqueque, seorang wanita berusia 60-an tahun sontak berlari kecil mendekati mobil. Dia pun spontan merangkul Om Maxi sambil berkata,  "Padre...padre."

Padre artinya pastor. Imam Katolik. Sejurus kemudian, wanita itu baru menyadari yang datang  Om Maxi, bukan pastor. Mereka pun terbahak.
Saat perjalanan kami berlanjut, saya bercanda. "Wajah dan tutur kata Om Maxi memang mirip pastor na." Dia terkekeh.

Tur Timor 1997 tak selalu penuh senyum dan tawa. Berkali-kali Om Maxi menghentikan mobil di sisi jalan dekat perkampungan.

Saya penasaran, mengapa mendadak berhenti? Ternyata Om Maxi menanti iring-iringan kendaraan lain.

"Kita tidak boleh jalan sendirian Dion. Rawan. Usahakan selalu ada mobil atau kendaraan lain. Kalau terjadi apa-apa, ada yang bisa bantu," katanya dengan mimik serius.

Jangan bayangkan jalanan ramai seperti sekarang. Keheningan sangat terasa. Jarang nian berpapasan dengan kendaraan lain.

Ya begitulah. Tahun 1997 kontak senjata antara prajurit TNI dengan pejuang kemerdekaan Timor Leste lazim terjadi.  Korban kerap berjatuhan di kedua belah pihak.

Sepanjang jalan  dalam jarak kira-kira 300-500  meter selalu ada pos jaga TNI. Prajurit senantiasa siaga.

Om Maxi paham betul bahwa saya butuh lebih dari sekeranjang bahan berita. Itulah sebabnya kami mampir di banyak tempat termasuk di seminari, biara dan gereja.

Om Maxi memang punya relasi luas, mulai dari orang-orang biasa sampai pejabat, tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Di sebuah gereja paroki kami dijamu makan siang pastor asal Spanyol dan Filipina. Mereka berbagi banyak cerita menarik tentang dinamika kehidupan masyarakat Timor Leste saat itu.

Kami  menelusuri tempat-tempat penting dan bersejarah di Viqueque. Setelah menginap semalam baru kembali ke Dili.

Saya mendapatkan banyak bahan untuk artikel. Lebih dari itu bisa menikmati lekak-lekuk alam Timor yang indah, flora dan fauna serta dinamika masyarakatnya, baik yang kontra maupun pro-kemerdekaan.

Kenangan indah Tur Timor Leste  1997 tak terlupakan berkat jasa Om Maxi. Nama lengkapnya Kasintus Proklamasi Ebu Tho.

Setelah Timor Timur pisah dari Indonesia tahun 1999, Om Maxi dan keluarga meninggalkan daerah yang dicintainya itu.

Kembali ke Timor barat, tepatnya Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Beliau kemudian aktif di politik melalui Partai Gerakan Indonesia Raya atau Partai Gerindra. Partai politik di Indonesia yang didirikan dan dipimpin Prabowo Subianto.

Khusus di Provinsi NTT, Om Maxi merupakan perintis berkembangnya partai yang berdiri pada tanggal 6 Februari 2008 tersebut.

Beliau mendapat mandat untuk pembentukan DPC Partai Gerinda Kabupaten Ende,  Ngada, Nagekeo dan Sikka pada tahun 2008.

Om Maxi pun terpilih sebagai anggota DPRD Provinsi NTT periode 2009-2014. Bahkan menjabat Wakil Pimpinan DPRD Provinsi NTT dari Fraksi Gerindra.

Sabtu malam 11 Juli 2020, saya mendapat kabar duka dari Kupang. Om Maxi berpulang.

Kabar itu pertama kali disampaikan Bung Winston Rondo di grup WA Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) NTT.

Hatiku sontak teriris. Sedih. Pertemuan kami terakhir di rumah Om Damyan Godho (alm).

Selamat jalan Om Maxi. Om Kasintus Proklamasi Ebu Tho.

Saya dan keluarga turut berduka.

Tuhan maharahim memelukmu dalam keabadian dan meneguhkan Mama Yohanna Sarjumiyati Ebu Tho beserta anak dan cucu.

Teriring doaku
Denpasar, 12 Juli 2020


Sumber: Pos Kupang
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes