Makan Are Gau Bersama Jakob Oetama


Sarapan bersama Jakob Oetama 

“Dion, tugasmu menulis kunjungan Pak Jakob Oetama ke Flores. Kau harus sudah berada di Maumere paling lambat sehari sebelum kedatangan beliau bersama sahabatnya Pak Frans Seda.”

Om Damyan Godho, Pemimpin Umum Harian Pagi Pos Kupang, memberitahu saya pagi itu setelah kami menikmati kopi hangat di ruang kerjanya, hari Selasa 25 Oktober 2005.

Rabu siang 26 Oktober 2005 saya menjejakkan kaki di kota nyiur melambai Maumere manise.

Langsung bergegas mengoleksi data tambahan tentang Flores, Kabupaten Sikka, STFK Ledalero, Nilo, Lekebai dan lain-lain.

“Pak Jakob akan menanyakan hal-hal seperti itu. Dion jangan sampai gagap menjawab pertanyaan beliau,” pesan Om Damy.

Hari Kamis pagi 27 Oktober 2005, pendiri Kompas Gramedia dan Pemimpin Umum Harian Kompas, Jakob Oetama, Frans Seda dan rombongan kecil tinggalkan Kota Kupang menuju Maumere.

Saya sudah berada di Bandara Waioti, kini berganti nama jadi Bandara Frans Seda setelah beliau meninggal tahun 2009, kira-kira 45 menit sebelum pesawat Trans Nusa yang ditumpangi Pak Jakob mendarat.

Saya tak sudi telat. Ini momen bersejarah.

Kunjungan dua tokoh nasional Frans Seda dan Jakob Oetama ke Flores setelah sebelumnya beliau berdua ke Pulau Timor. Tepatnya di Kupang ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di Kupang keduanya menyampaikan gagasan besar tentang menemukan kembali Indonesia dalam seminar nasional di Hotel Kristal. Total lima hari mereka ke Provinsi Nusa Tenggara Timur, 26-30 Oktober 2005. Itulah kunjungan pertama dan terakhir kedua tokoh besar tersebut ke NTT.

Kejutan bagiku terjadi di Waioti 27 Oktober 2005. Saat keluar dari ruang kedatangan, Om Damyan Godho dan Rikard Bagun (Wakil Pemimpin Redaksi Kompas kala itu) meminta saya menemani Pak Jakob menuju ke Sao Wisata Resort di kawasan Waira. Kurang lebih 8 kilometer arah timur Kota Maumere.

Gugup? Pastilah. Tapi saya berusaha lekas menenangkan diri dan hendak duduk di samping sopir. Eh malah dilarang August Parengkuan.

“Dion temani Pak Jakob. Saya duduk di depan ya. Saya ini kan pengawal beliau,” kata August Parengkuan yang belakangan jadi Dubes RI di Italia sambil terkekeh.

Jadilah saya semobil dengan tokoh hebat itu. Duduk berdampingan pula. Pengalaman tak terlupakan seumur hidup.

Benar kata Om Damyan Godho. Dalam perjalanan dari Waioti ke Waiara, Pak Jakob menanyakan beberapa hal tentang Maumere, Sikka, Flores dan lain-lain.

Untung saya sudah koleksi data dan informasi akurat sehingga bisa berbincang santai dengan beliau. Suaranya lembut. Santun menyimak setiap kata yang terucap.

Saya merasa begitu nyaman. Laksana berbincang dengan seorang ayah. Bukan pimpinan tertinggi sekaligus pemilik Grup Kompas Gramedia.

Tak terasa kami sampai Sao Wisata, disambut hangat Manajernya Heri Ajo. Setelah istirahat beberapa saat tibalah waktu santap siang kira-kira pukul 12.20 Wita di pinggir Waiara Beach.

Di kejauhan sana, puncak Gunung Egon berselimut kabut tipis putih. Egon sedang ramah. Tak kedengaran batuk apinya.

Kota Maumere tampak membentang luas di tengah terik matahari, di bawah hamparan nyiur melambai.

Persis di depan mata, Pulau Besar, Pemana dan Pulau Babi terlihat anggun berdiri. Laut utara Flores tenang membiru. Udara bersih. Semilir angin Waiara Beach menyapu lembut wajah kami. Tapi tak ada keheningan.

Gelak tawa dan canda membahana sepanjang acara makan siang. Sungguh jauh dari suasana formal. Benar-benar bersahaja, apa adanya, kental nian aroma persahabatan dan persaudaraan.

Yang menyantap menu makan siang di restoran Flores Sao Resort hari itu adalah dua tokoh nasional.

Hadir pula petinggi Kompas Gramedia lainnya, August Parengkuan, St. Sularto, Rikard Bagun, Petrus Waworuntu, Wandi S Brata, Julius Pour, Damyan Godho dan Kepala Biro Kompas di Bali, Frans Sarong.

Benarlah apa yang mereka katakan bahwa perjalanan bersama selama lima hari ke NTT merupakan ziarah pribadi. Ziarah yang diwarnai kisah ringan tapi bernilai tentang kepribadian, pengalaman, tentang perjuangan hidup dan persahabatan.

Kisah Ulat Bulu

Saat makan siang di Waiara saya lihat betapa dekat hubungan Frans Seda dan Jakob Oetama. Selaku tuan rumah, Frans Seda riang bercerita kepada sahabatnya. Beliau antara lain berkisah tentang ulat bulu.

"Ulat bulu itu makanan kesukaan saya sejak kecil. Rasanya enak sekali, Jakob," katanya. Ulat bulu. Nama yang agak asing bagi Jakob Oetama. Tapi belum sempat beliau bertanya, Frans Seda segera menjelaskan tentang si ulat.

"Ulat ini hidup dalam bambu," jelas mantan Menteri Perkebunan, Menteri Keuangan dan Menteri Perhubungan RI tersebut.

Saya sarapan pagi bersama Jakob Oetama di Sao Wisata Resort Waiara, Jumat 28 Oktober 2005.

Ulat bulu adalah makanan tradisional bagi sebagian masyarakat Ende- Lio, Sikka dan daerah lain di Flores.

"Tapi entahlah, apakah anak- anak sekarang masih suka makan atau tidak. Saya tidak tahu," lanjut Frans Seda.

Ulat bulu hidup dalam bambu, umumnya jenis bambu aur. Dalam satu rumpun bambu, lazimnya ada batang muda yang kurang subur. Buku-bukunya rapat. Ruasnya bengkok.

Di situlah hidup ulat (kepompong) warna putih sebesar jari kelingking anak-anak, panjang 3-5 cm. Masak lalu dimakan. Bisa ditemani sambal. Digoreng atau lawar pun enak. Saat masuk mulut lalu dikunyah akan terdengar bunyi kriuk..kriuk.

"Apa sih khasiatnya Pak Frans?" tanya Wakil Pemimpin Umum Kompas, St Sularto saat itu. "Oh...khasiatnya luar biasa. Makanan bergizi tinggi. Makanya saya sehat dan kuat sampai sekarang," kata Frans Seda yang saat itu berusia 79 tahun.

Semasa hidup, Frans Seda memang cinta mati makanan tradisional dari kampung halamannya Flores. Kecintaan Frans Seda terlihat jelas saat makan siang di Waiara maupun dalam acara syukuran ulang tahunnya ke-79 di rumahnya di Maumere pada Kamis (27/10/2005) malam.

Di meja makan tersaji are gau (ketupat), are merah (nasi dari beras merah), koro/horo ipu dan mbarase (sambal dengan bahan utama ikan kecil) yang mudah diperoleh di perairan Paga-Maulo'o Flores, singkong rebus, ae mage (kuah asam-ikan) serta kura mbo (udang dan ikan dari sungai/kali).

Frans Seda selalu meminta Jakob Oetama mencicipi makanan khas Flores.

"Pak Jakob, cobalah ini. Namanya are gau. Rasanya lain, tidak sama dengan ketupat di Jawa," kata Frans Seda menunjuk are gau saat makan siang di Waiara.

Tokoh kelahiran Borobudur, Jawa Tengah, 27 September 1931 pun enggan menolak. "Memang enak ya.." kata Jakob perlahan. Kami yang lain juga tak ketinggalan makan are gau bersama beliau siang itu.

Makan siang yang sungguh nikmat. Waktu satu jam terasa berlalu amat lekas. Pertanyaan Jakob Oetama menyadarkan kami. "Acara kita selanjutnya apa?"

"Oh, kita ke kampung dulu. Nanti terkutuk kalau saya tidak bakar lilin di kubur orangtua," kata Frans Seda.

Dengan tiga mobil Kijang, kami meninggalkan Waiara lima belas menit jelang pukul 14.00 Wita. Kami menuju Lekebai, 40 km arah barat Maumere.

Di sinilah Frans Seda lahir dan menghabiskan masa kanak-kanaknya. Dibesarkan orangtua dengan cinta, dikasihi saudara dan keluarganya.

Turun dari mobil di Lekebai, Frans Seda mengajak rombongan Jakob Oetama masuk ke pelataran rumah di kompleks yang cukup luas.

Di sana terdiri dari beberapa rumah, termasuk bangunan rumah adat asli yang menurut Frans Seda tersimpan pusaka warisan nenek moyang secara turun-temurun.

Frans Seda mengajak Jakob Oetama dan petinggi Kompas Gramedia lainnya menuju makam orangtuanya. Frans Seda menyalakan lilin. Kami berdoa di sana.

Teh, kopi, ubi rebus dan kue sudah menanti ketika Frans Seda mengajak Jakob Oetama, August Parengkuan, St. Sularto, Julius Pour, Petrus Waworuntu, Rikard Bagun, Damyan Godho menuju rumah induk terbuat dari kayu untuk beristirahat.

Mudah ditebak, ubi rebuslah yang paling laris “diserbu" para tamu ketimbang kue. Canda tawa pun tetap mewarnai acara sore itu.

Sebelum kembali ke Waiara pukul 15.40, Frans Seda mengajak Jakob Oetama melihat Nua Bharaka, kampung adat di puncak bukit kecil, persis di sisi kanan jalan Lekebai-Maumere.

Sahabat dalam Suka dan Duka

Keduanya berangkulan. "Selamat ulang tahun, Pak Frans," kata Jakob Oetama dengan suara lirih menahan haru.

Momen indah tersebut tercipta Kamis (27/10/2005) malam, dalam acara syukuran hari ulang tahun ke-79 Frans Seda di Maumere.

Syukuran yang dihadiri ratusan undangan diawali misa konselebran dipimpin Pastor Philipus Tule, SVD.

Para tokoh masyarakat Sikka hadir di sana antara lain, Lorens Say, Daniel Woda Palle, EP da Gomez, Alex Longginus dan Soter Parera.

Jakob Oetama dan Frans Seda bersahabat karib. Persahabatan yang unik. Satu berwatak NTT (Flores) yang keras, bicara lugas, blak-blakkan.

Yang lainnya pria Jawa, Jawa Tengah yang berpembawaan halus, lembut bahkan malu-malu.

"Bagi saya, Frans Seda adalah sahabat dalam suka dan duka. Memberi kekuatan dan meneguhkan hati di saat sulit. Tiada henti mendorong kami untuk maju," kata Jakob Oetama saat memberikan kesannya tentang Frans Seda.

Secara khusus, Jakob Oetama kembali mengisahkan peran Frans Seda pada awal kelahiran Harian Kompas tanggal 28 Juni 1965. Bagaimana pergulatan mereka saat itu menghadapi bermacamragam tantangan yang tidak ringan.

"Saya merasa beruntung mempunyai sahabat seperti Pak Frans," ujarnya.

Mengenai Kompas Gramedia, Jakob Oetama mengatakan sukses diraih grup ini bukan karena kemampuan dirinya semata dalam memimpin.

"Semua ini merupakan Providentia Dei, penyelenggaraan ilahi," katanya.

"Itulah pembawaan Pak Jakob sejak dulu. Tidak pernah mau menonjolkan diri," kata Frans Seda yang langsung bangun dari tempat duduk menyambut sahabatnya itu dan keduanya kembali berpelukan.

Acara syukuran ulang tahun Frans Seda Kamis malam itu berlangsung sederhana namun berkesan. Tidak ketinggalan irama musik dan lagu- lagu daerah Lio-Sikka-Ngada seperti gawi, rokatenda dan ja’i.

Tak terasa jarum waktu hampir menunjuk pukul 24.00 Wita. Jakob dan Frans pamit untuk beristirahat. Kami pun kembali ke Waira, melepas lelah mengingat esok hari ziarah dua sahabat itu masih panjang.

Kegiatan Jakob Oetama dan Frans Seda pada Jumat 28 Oktober 2005 adalah ziarah ke patung Bunda Maria Segala Bangsa setinggi 28 meter di Nilo serta bicara dalam seminar di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero.

Sebelum ke Nilo, saya kembali mendapat kehangatan luar biasa dari Pak Jakob yaitu menemaninya sarapan pagi. Beliau menanyakan beberapa informasi mengenai Nilo dan saya menjelaskannya.

Warga Nilo berjubel, berdesak-desakan di sisi kiri dan kanan jalan. Bunyi gong waning (gendang) membahana di lereng bukit itu. Prosesi adat Huler Wair menyambut kehadiran Frans Seda dan Jakob Oetama di sana.

Diawali sapaan dalam bahasa adat setempat—Jakob Oetama dan Frans Seda diperciki air kemudian dikenakan selendang dan destar Sikka. Mereka tampak gagah.

Selepas acara Huler Wair, kedua sahabat itu diantar memasuki rumah adat Nilo baru menuju Patung Bunda Maria Segala Bangsa yang berdiri anggun di bukit Keling.

Di sana sudah banyak peziarah yang berdoa. Setelah berdoa dan mendapat berkat seorang pastor dari Kongregasi Pasionis, rombongan Jakob Oetama-Frans Seda meninggalkan Nilo menuju Seminari Tinggi Ledalero.

Waktu hampir pukul 10.00 Wita. Philip Gobang tampak melirik buku panduan acara Festival Ledalero. Tertulis di sana, Jakob Oetama bicara tentang pers mulai pukul 09.00 Wita.

Nah? Mengertilah saya mengapa Philip beberapa kali terlihat bicara dengan Pastor Paul Budi Kleden, SVD (kini superior general SVD di Roma) lewat telepon selulernya.

Mohon maaf! Itulah kata pertama Jakob Oetama saat diberi kesempatan menyampaikan pikiran dan pandangannya sebagai pembicara tunggal dalam seminar di aula STFK Ledalero pagi itu.

"Ke Flores ini, bagi saya adalah suatu penziarahan pribadi. Mohon maaf terlambat tiba di sini (Ledalero). Tadi saya dibawa lebih dulu ke Bunda Maria di Nilo. Tentu sebagai wartawan saya sudah bepergian ke mana-mana. Tapi di sini saya melihat panorama, lingkungan alam yang kaya, yang memikat, mencerminkan kebesaran Tuhan. Jarang ada panorama, suatu lingkungan, suatu langit biru bersih seperti tanjakan tujuh kilometer ke Bunda Maria di Nilo itu. Luar biasa. Luar biasa..." kata Jakob mengungkapkan kekagumannya.

Jakob Oetama yang berbicara dalam seminar bertema: Peran Pers Indonesia dalam Membentuk Budaya Politik Demokratis antara lain, menggarisbawahi perubahan revolusi teknologi informasi yang membuat segala peristiwa di seluruh dunia penyebarannya berlangsung serentak-seketika dan interaktif.

"Perubahan yang dibawa oleh revolusi teknologi informasi luar biasa. Orang macam saya ketinggalan zaman. HP (handphone) saja hanya pakai untuk telepon, SMS saya belum menggunakannya, sangat ketinggalan,” kata Jakob Oetama.

“Komputer saya sudah pakai, tapi sekadarnya. Kalau rusak, wah...cari cucu. Kalau cucu di sekolah, telepon kantor. Orang macam saya seharusnya malu karena bergerak di bidang komunikasi, tapi dalam menghandel teknologinya ketinggalan. Tentu saja lembaga (Kompas Gramedia) tidak boleh ketinggalan," katanya sambil tersenyum disambut aplaus peserta seminar yang memenuhi aula STFK Ledalero saat itu.

Demikian sekilas kenangan yang saya rekam saat Jakob Oetama berkunjung ke NTT hampir lima belas tahun lalu. Yang mengiris hati adalah empat tokoh yang bersama dalam ziarah kala itu sudah berpulang.

Frans Seda meninggal dunia 31 Desember 2009 dalam usia 83 tahun.

Om Damyan Godho 29 Januari 2019, August Parengkuan kembali ke haribaanNya 17 Oktober 2019 dan Jakob Oetama di hari Rabu kelabu 9 September 2020.

Mengenang mereka, tak terasa air mata ini berlinang. Beristirahatlah dalam damai dan kasih Tuhan. (dion db putra)


Sumber: Tribun Bali

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes