Dua Kisah tentang Kenshi NTT

KEMPO merupakan cabang olahraga super prioritas bagi Nusa Tenggara Timur (NTT). Komunitas olahraga Flobamora sudah tahu itu. Dan, kempo dalam pekan ini menjadi berita utama karena dua kondisi berbeda. Ada senyum dan tawa. Kisah  ceria pun derita.

Hari Selasa (18/7/2017) di lantai IV Kantor Gubernur NTT, Gubernur Frans Lebu Raya dengan bangga melepas keberangkatan 16 atlet kempo (kenshi) NTT yang akan berangkat ke California Amerika Serikat. Mereka mengikuti kejuaraan dunia mewakili Indonesia. Kita garisbawahi lagi bahwa 16 kenshi NTT tersebut bertarung di kejuaraan dunia tanggal 29 Juli hingga 2 Agustus 2017  membela kehormatan bangsa Indonesia.  "Kalian adalah  duta bangsa," kata Lebu Raya kala itu.

Pengurus Besar  Persaudaraan Bela Diri Kempo (Perkemi) mempercayakan kenshi NTT membela Merah Putih  lantaran prestasi atlet Flobamora memang yang terbaik di negeri ini dalam beberapa tahun terakhir. Paling anyar pada PON XIX 2016 di Bandung, atlet kempo NTT raih juara umum dengan mendulang 7 emas, 1 perak, 5 perunggu.

Prestasi sebelumnya tak kalah hebat. Dua kali (2000-2001) juara umum II  Kejurnas Antarkota, delapan kali (2002-2010) juara umum I pada Kejurnas Antarkota dengan rata-rata peserta 45-54 kota di Indonesia. Dua kali juara umum Pra PON XVIII (2012) dan XIX (2014). Penyumbang dua medali emas, satu perak, dua perunggu pada SEA Games Jakarta, tiga  medali emas, satu perak dan dua perunggu SEA Games Myanmar. Dua medali emas kejuaraan internasional mahasiswa di Jepang dan satu medali perak  kejuaraan dunia.

Litani di atas itu kabar baik yang bikin kita ceria. Justru pada saat hampir bersamaan, di tengah gegap gempita Tour de Flores 2017  yang menelan dana miliaran rupiah, tujuh  kenshi asal Manggarai Barat (Mabar) sempat telantar selama empat hari di  Tangerang, Banten. Untuk beli tiket  pulang ke Labuan Bajo mereka dibantu kenshi senior yang ambil kredit di Bank NTT. Di Tangerang mereka raih satu medali emas dan satu perunggu dari Kejuaraan Nasional Antarkota.

Selama di Tangerang, rombongan atlet utusan daerah wisata itu pindah-pindah hotel bahkan  menginap di hostel yang harganya Rp 60 ribu per malam.  "Kami seharusnya pulang 15 Juli 2007," kata Nani Suwardi, pelatih kenshi Mabar.

Mereka baru bisa pulang pada Rabu (19/7/2017) pagi. Itupun tidak langsung ke Labuan Bajo. Rombongan menumpang pesawat Lion Air Jakarta-Denpasar lalu melanjutkan perjalanan dengan bus  ke Labuan Bajo.

Tidak bermaksud menyudutkan pihak manapun, tapi fakta telantarnya atlet dan ofisial kempo Mabar itu mencerminkan betapa kita belum rapi dan serius mengelola olahraga super prioritas ini.

Cukup sering alokasi anggaran pembinaan olahraga tidak mengusung skala prioritas. Mana yang diutamakan dan mana yang tidak. Itulah yang kerapkali menghancurkan semangat anak-anak muda kita menekuni cabang olahraga tertentu. Semoga kejadian serupa tidak terulang.*

Sumber: Pos Kupang21 Juli 2017 hal 4
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes