Memilih Wartawan Sebagai Jalan Hidup

Pieter Amalo (kiri)
* Mengenang Adhie Malehere dan Pieter Erasmus Amalo

Oleh Dion DB Putra


SEOLAH sudah janjian, mereka pergi dalam waktu berdekatan. Mereka menderita sakit dan akhirnya menikmati rahmat kesembuhan ilahi, sang empunya kehidupan. Hari Sabtu 24 September 2011 sekitar pukul 22.00 Wita, saya baru saja menyelesaikan editing berita terakhir untuk Harian FloresStar di Biro Maumere, Flores.

Saya sedang mengaso sejenak di bawah rimbunan pohon mangga di depan kantor kami di Jl. Gelora No. 2 Maumere. Dalam waktu hampir bersamaan telepon genggam saya berbunyi. Rupanya ada pesan singkat dari beberapa rekan wartawan di Kupang. Mereka menyampaikan kabar duka. Telah berpulang wartawan senior Harian Suara Pembaruan, Adhie Malehere di RSU Prof. Dr. WZ Johannes Kupang. “Duh, Om Adhie sakit apa?”

Seingatku Om Adhie sehat-sehat saja saat kami bertemu terakhir di Kantor Gubernur NTT di Jalan El Tari Kupang akhir Juni 2011 – sebelum saya berangkat menunaikan tugas baru di Maumere. Selama ini saya tidak mendapat kabar tentang dia sakit. Om Adhie yang saya kenal, masih penuh semangat bekerja sebagai wartawan harian terkemuka yang berbasis di Jakarta tersebut.

Dia contoh wartawan senior yang memiliki komitmen lapangan sangat kuat. Dia tidak merasa senior dalam hal bekerja, sehingga cenderung duduk di belakang meja lalu memberikan perintah kepada yang yunior. Hampir semua peristiwa dia tekel langsung di lapangan. Om Adhie tangguh, seolah tidak ada persoalan baginya dalam mengumpulkan dan meramu bahan berita menjadi suatu karya jurnalistik.

Dia pun bukan tipe wartawan yang pelit membagikan informasi yang bisa digali lebih dalam untuk bahan berita. Saya hampir selalu mendapat informasi dari Om Adhie jika ada kejadian yang penting di NTT. Dia dengan senang hati berbagi kepada wartawan media lain. Sebaliknya, bila dia mendapatkan data simpang-siur, dia tidak malu bertanya. Om Adhie setia menjunjung tinggi prinsip verifikasi yang merupakan salah satu elemen dasar jurnalisme.
 

“Ada kejadian di Alor begini, beta mesti tanya ade karena ade punya anak buah di sana. Pasti dia lebih tahu kondisi lapangan daripada beta yang dapat data lewat telepon saja dari Kupang,” kata Om Adhie suatu ketika ada peristiwa tawuran di Kalabahi-Alor.

Saya pertama kali mengenal dan bertemu Om Adhie medio tahun 1990-an di rumah wartawan Kompas, Frans Sarong di Perumnas Ende. Bersama senior saya Frans Sarong, Om Adhie dengan senang hati memberikan motivasi, pengetahuan dan keterampilan kepada saya yang kala itu masih minim pengalaman di dunia jurnalistik. Suaranya yang berat menggelegar serta tawa cerianya masih terngiang sampai sekarang.

Hanya empat hari setelah kepergian Adhie Malehere, komunitas pers Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali berduka dengan kepulangan mantan Kepala Stasiun RRI Kupang, Drs. Pieter Erasmus Amalo. Om Pieter Amalo meninggal dunia sekitar pukul 04.00 Wita hari Rabu, 28 September 2011 di Kupang. Orang pertama yang menyampaikan kabar duka tersebut adalah rekan saya di PWI Cabang NTT, Aser Rihi Tugu.

Saya memang sudah mendengar kalau Om Pieter sakit, tetapi tidak menyangka dia akan pergi secepat ini. Saat peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di Kupang bulan Februari 2011 lalu, Om Pieter dalam jabatannya sebagai Ketua Dewan Kehormatan Daerah (DKD) PWI Cabang NTT masih aktif terlibat menyukseskan perhelatan nasional yang dihadiri Presiden SBY, lebih dari selusin menteri Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, Wakil PM Timor Leste dan lebih dari 2.500 wartawan dari seluruh Indonesia tersebut.

Siapa tidak kenal Pieter Amalo? Pendengar radio di seluruh pelosok NTT pasti mengenal dia dengan baik. Om Pieter adalah reporter RRI sejati hingga akhir hayatnya.Untuk organisasi PWI Cabang NTT, Om Pieter selama lebih dari 10 tahun mengemban tanggung jawab sebagai sekretaris, baik pada masa kepemimpin Martinus Tse maupun Damyan Godho. Om Pieter termasuk di antara tokoh pers NTT yang merintis lahirnya organisasi PWI yang eksistensinya masih ada sampai detik ini.

Saya yang sejak tahun 2008 dipercayakan teman-teman anggota PWI Cabang NTT sebagai ketua berterima kasih kepada Om Pieter serta wartawan senior lainnya yang telah membangun kebersamaan dan solidaritas di tubuh PWI Cabang NTT. Om Pieter…kami akan terus berusaha mewujudkan harapanmu lewat PWI Cabang NTT serta profesi kami sebagai jurnalis yang masih berkarya di dunia ini.

Secara pribadi saya sedih dengan kepergian dua seniorku dalam waktu hampir bersamaan. Kesedihan itu berlipat lantaran saya tidak sempat mengantar kepergian mereka ke tempat peristirahatan terakhir di Kupang. Sampai kenangan ini saya rangkai, saya masih di Maumere, menjalankan tugas saya sebagai wartawan. Om Adhie dan Om Pieter harap maklum. Maafkan saya yang belum sempat menyalakan sebatang lilin di pusara abang berdua….

Kematian pasti menebarkan duka. Namun, kepergian Om Adhie dan Pieter meninggalkan kebanggaan karena mereka mewariskan keutamaan ini. Memilih wartawan sebagai jalan hidup. Dunia mengenang mereka sebagai pewarta. Sampai akhir hayat… Saya bangga pada abang berdua. Selamat jalan Om Adhie dan Pieter. Beristirahatlah dalam damai Tuhan. *
Reaksi:

1 komentar:

Christo Vorando Amalo mengatakan...

I proud to be your son...

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes