NTT di Gerbang Asia Pasifik

SALAH seorang tokoh berpengaruh di negeri ini kembali melontarkan pernyataan yang menyadarkan pemerintah dan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) tentang keberadaannya yang unik sekaligus istimewa. Nusa Tenggara Timur ditegaskannya memiliki prospek yang luar biasa dalam skala regional dan internasional. Posisi NTT di gerbang Asia Pasifik berdampak pada kemajuan ekonomi ke depan.

Pernyataan tersebut diungkapkan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar, Aburizal Bakrie alias Ical dalam pesan Natal Nasional Partai Golkar di GOR Flobamora, Oepoi-Kupang, Selasa (17/1/2012) lalu. Ketika Partai Golkar memilih Kupang untuk merayakan Natal secara nasional, secara politis pun bermakna istimewa dan jauh menukik pesan-pesannya.

NTT berada di gerbang Asia Pasifik. Agaknya sudah lama kata-kata ini hilang dari pendengaran dan ruang diskusi publik Flobamora. Maklumlah. Selama satu dasawarsa terakhir NTT bergelut dengan program Tiga Batu Tungku dan kini dengan aneka program yang diklaim pro rakyat seperti Propinsi Jagung, Propinsi Ternak, Propinsi Cendana dan Program Desa Mandiri Anggur Merah.



Dalam rentang waktu yang sangat lama NTT lebih berorientasi ke dalam. Prinsipnya urus dulu rakyat yang miskin, rakyat yang saban tahun menderita gizi buruk, busung lapar, penyakit kronis dan beragam keterbelakangan. Peduli amat dengan prospek ekonomi internasional. Peduli amat dengan posisi strategis Nusa Tenggara Timur sebagai beranda selatan NKRI yang berhadapan langsung dengan dua negara yaitu Australia dan Timor Leste.

Pilihan sikap pemerintah dan masyarakat NTT tersebut tidak salah tetapi ada konsekwensinya. Dengan fokus orientasi ke dalam, Flobamora melupakan anugerah lain berupa posisi geografi yang strategis. Kita memang belum melihat agenda aksi yang terencana untuk meraih peluang ekonomi global, khususnya dengan Australia dan Timor Leste sebagai tetangga terdekat. 
Bahkan dengan negara baru Timor Leste yang persis berada di sebelah rumah Flobamora, pemerintah dan masyarakat NTT belum menunjukkan gelagat serius guna meraih peluang ekonomi yang sangat besar di negara tersebut.
Timor Leste memilih langsung ke Surabaya, Jawa Timur atau Bali, bukan Kupang atau Atambua. Sekadar contoh hampir 80 persen kebutuhan sembako masyarakat Timor Leste dipasok langsung dari Surabaya. Hanya sekitar 10 persen melalui Kupang atau Atapupu karena relatif lebih mahal ongkosnya ketimbang langsung dari Surabaya ke Dili. 

Transportasi laut Dili-Surabaya sangat ramai setiap pekan. Dengan segala kemajuannya, Surabaya memiliki keunggulan komparatif. Tetapi NTT mestinya secara perlahan namun pasti ikut bertarung memperebutkan peluang ekonomi yang sangat bagus itu. Tahun 2009 pernah digulirkan rencana membuka jalur transportasi laut dan udara Kupang-Dili secara reguler. Entah mengapa, rencana tersebut belum terwujud sampai sekarang. Keseriusan kita menjadi tanda tanya.

Selain Timor Leste, banyak peluang ekonomi dengan Australia pun lepas dari perhatian pemerintah Nusa Tenggara Timur. Dulu di era 1990-an pemerintah NTT begitu getol membangun hubungan kerja sama dengan Australia, khususnya pemerintah negara bagian Australia Utara dan Australia Barat. Kerja sama tersebut menyentuh berbagai bidang. 

Lagi-lagi hubungan baik itu tidak berlanjut yang secara ekonomis dapat menguntungkan kedua belah pihak. Dalam banyak kasus justru kita sendiri yang tidak siap sehingga rencana kerja sama sekadar menjadi hiasan di atas kertas. Padahal begitu banyak MoU dengan pemerintah Australia yang jika dibuka serta diperbaharui masih sangat relevan dengan kebutuhan saat ini. 

Di bidang ketenagakerjaan misalnya, pemerintah Australia memberi ruang terbuka bagi perawat dari NTT. Sayang hanya sedikit orang yang memanfaatkan kesempatan emas tersebut. Banyak tenaga perawat kita tidak memenuhi standar kompetensi di Australia, salah satunya penguasaan bahasa Inggris. Masalah bahasa sesungguhnya sangat sederhana. Jika ada kemauan baik dari pemerintah urusan itu mudah diatasi. No action, talk only. Itulah masalah NTT. Jadi berbangga sajalah sebagai pintu gerbang Asia Pasifik. *

Pos Kupang, 20 Januari 2012 hal 4
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes