Hidup Dibalut Cincin Api

Gunung Ile Lewotolok atau Ile Apa (istimewa)
YA, sebagian besar penduduk Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mesti menyadari bahwa mereka hidup dibalut cincin api yang panas membara. Api dari perut bumi yang kapan saja bisa mendatangkan bencana. Bencana dengan daya rusak mengerikan. Tidak sekadar meludeskan harta benda tetapi mencabut nyawa anak manusia.

Cincin api merupakan kawasan yang dikelilingi gunung berapi dan lempeng tektonik aktif. Pulau Flores, Adonara, Lembata dan Alor merupakan wilayah Nusa Tenggara Timur yang masuk dalam balutan cincin api tersebut. Di Pulau Flores, misalnya, terdapat 17 gunung berapi aktif yang rata-rata setiap lima menit selalu melahirkan goncangan gempa vulkanis.

Geliat cincin api yang panas membara kini mengguncang Pulau Lembata. Gunung Lewotolok atau Ile Ape menunjukkan peningkatan aktivitas sejak 2 Januari 2012. Petugas Pos Pemantau Gunung Api Lewotolok mencatat hingga Sabtu (7/1/2012) malam masih terjadi gempa tremor yang mengeluarkan asap dan api diam.

Sampai saat ini status gunung tersebut tetap siaga. Ratusan warga dari empat desa di sekitar gunung sudah meninggalkan kampung halaman mereka untuk mengungsi ke Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata. Warga mengungsi karena menderita menikmati siraman debu serta asap belerang yang dimuntahkan perut Gunung Lewotolok.

Lembata adalah salah satu pulau terindah di NTT. Pulau sekecil itu tidak hanya memiliki satu gunung berapi aktif. Selain Ile Lewotolok yang tinggi menjulang dekat Kota Lewoleba, masih terdapat sekurangnya dua gunung api aktif lain yaitu Gunung Batutara dan Hobal. Hobal bahkan termasuk gunung berapi di bawah laut yang pernah menimbulkan bencana dahsyat di masa lalu. Sebagai gunung berapi aktif maka selalu ada kemungkinan Gunung Batutara dan Hobal menunjukkan peningkatan aktivitas yang membahayakan manusia dan lingkungannya. Hanya soal waktu yang tak dapat diprediksi dengan pasti.

Apakah pemerintah dan masyarakat Lembata menyadari hidup dibalut cincin api? Maaf saja jika kita belum melihat geliat dan aksi nyata meskipun mereka tahu kampung halamannya akrab dengan gunung berapi aktif yang jika tiba saatnya bisa meletus atau sekurang-kurangnya menebarkan asap belerang dan debu seperti Ile Lewotolok saat ini.

Sejak Lembata menjadi daerah otonom sepuluh tahun lalu, kita belum melihat kampanye yang serius dan sungguh-sungguh untuk mengutamakan keselamatan manusia manakala gunung berapi di Lembata memuntahkan sesuatu dari perutnya.

Cara berpikir dan cara bertindak kita masih seperti dulu. Kita masih bergaya ala petugas pemadam kebakaran. Ada bencana dulu, ada korban dulu baru bersibuk ria mengurusnya. Manajemen penanganan bencana di daerah ini masih jauh dari harapan untuk tidak mengatakannya sebagai sangat amburadul.

Menurut pandangan kita, peningkatan aktivitas Gunung Ile Lewotolok saat ini mesti menjadi momentum bagi pemerintah dan semua pemangku kepentingan di Lembata untuk menata manajemen bencana alam daerah yang lebih profesional dengan target jangka panjang dan permanen. Langkah jangka pendek yang bisa dilakukan adalah memastikan jalur evakuasi serta tempat perlindungan bagi penduduk bila terjadi peningkatan aktivitas gunung berapi. Yang terjadi dengan warga sekitar Gunung Ile Lewotolok saat ini adalah mereka bingung harus bergerak lewat jalur mana agar aman dari muntahan asap belerang dan debu vulkanis yang mengancam kesehatan.

Tugas paling penting membangun kesadaran masyarakat Lembata bahwa mereka hidup berdampingan dengan gunung api. Mereka harus tahu kapan berlindung manakala gunung menunjukkan tanda akan meletus atau sekadar batuk-batuk menebarkan asap dan debu. Dalam peristiwa terkini yang menimpa Ile Lewotolok kita menyaksikan betapa sebagian warga masyarakat sudah mengungsi meskipun aktivitas Ile Lewotolok belum masuk kategori bahaya. Ketidaktahuan sungguh membelenggu mereka.

Pemerintah Kabupaten Lembata dengan duet pemimpin baru yang dipilih lewat pemilu kada yang demokratis tahun lalu ditantang untuk melakukan terobosan. Indah nian bila suatu saat nanti Lembata menjadi kabupaten contoh di NTT tentang manajemen penanganan bencana alam yang melahirkan decak kagum. Lembata pasti bisa jika mereka mau. *

Pos Kupang, 9 Januari 2012 hal 4
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes