Kelangkaan Tabung Gas Elpiji

ilustrasi
MENJELANG hari raya Natal dan Tahun Baru fenomena kelangkaan tabung gas elpiji khusus ukuran 3 kilogram sulit terbantahkan di berbagai wilayah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Selain langka,  harga tabung gas pun terus bergerak naik secara bervariasi,  jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah daerah.

Fakta kelangkaan paling parah sudah terjadi selama sebulan terakhir di Kabupaten Minahasa dan Kota Tomohon. Sepekan terakhir kejadian serupa melanda Kota Manado. Di Kota Manado, misalnya harga jual tabung gas elpiji 3 kg sudah mencapai Rp 17.500 hingga Rp 20 ribu. Jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 15 ribu. Kenaikan harga pun terjadi di daerah lain seperti Bolaang Mongondow (Bolmong), Minahasa Selatan, Minahasa Tenggara dan Bitung.

Pemilik pangkalan tabung gas elpiji ukuran 3 kg  baik di Minahasa maupun Kota Manado mengakui jatah yang mereka terima dari agen mengalami pengurangan jumlah sampai 50 persen. Sementara permintaan dari masyarakat pada bulan Desember ini grafiknya terus meningkat.

Masih menjadi pertanyaan sampai saat ini mengapa terjadi pengurangan jatah dari agen ke pangkalan? Apalagi pengurangan tersebut justru berlangsung di tengah meningkatkan permintaan masyarakat menjelang hari raya.  Sementara Pertamina dan pemerintah  telah berulangkali menjamin ketersediaan stok tok tabung gas elpiji sesuai kebutuhan masyarakat Sulut. Kalau demikian di mana letak soalnya sehingga masyarakat mengeluh sangat sulit mendapatkan tabung gas elpiji?

Kita berharap Pertamina serta pemerintah daerah di Sulut tidak tinggal diam melihat kenyataan tersebut. Perlu ditelusuri lebih mendalam mengapa stok tabung gas elpiji begitu lekas habis terjual. Fakta semacam ini mengandung dua sisi yang menarik.

Pertama, meningkatnya permintaan masyarakat terhadap tabung gas elpiji menunjukkan bahwa program pemerintah tentang konversi bahan bakar dari minyak tanah ke gas elpiji  telah berhasil. Sosialisasi yang dilakukan pemerintah selama ini memberikan hasil positif. Masyarakat makin paham menggunakan tabung gas yang selain harganya terjangkau juga praktis penggunaannya. Beban pemerintah memberikan subsidi untuk minyak tanah berkurang secara signifikan.

Kedua, fakta kelangkaan tersebut boleh jadi menunjukkan kenyataan bahwa pemerintah belum siap beradaptasi dengan keberhasilan program konversi minyak tanah ke gas elpiji. Permintaan masyarakat makin meningkat tidak diikuti dengan penambahan stok sesuai kebutuhan yang terus berkembang.

Kita menyarankan pemerintah daerah di Sulut serius menangani permasalahan ini. Jangan memandang remeh mengingat semua orang butuh bahan bakar untuk memasak makanan dan minuman sehari-hari. Terobosan kebijakan harus ditempuh segera, misalnya menggelar operasi pasar atau langkah lain yang bisa mengatasi kelangkaan tabung gas elpiji saat ini. Semoga! *

Sumber: Tribun Manado 6 Desember 2012 hal 10

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes