Kisah Tentang Rompi Oranye


BERAGAM ekspresi tersaji di halaman  Gedung Sasando, Kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT)  di Jalan El Tari Kupang, Senin 7 Januari 2019. Itu hari pertama pegawai negeri sipil (PNS) di lingkup Pemerintah Provinsi NTT mengikuti upacara bendera setelah libur Natal dan Tahun Baru.

Apel dipimpin Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat. Turut hadir Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi, Sekretaris Daerah (Sekda) NTT, Ir. Ben Polo Maing dan pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Ekspresi beragam tercipta saat pimpinan OPD memakaikan rompi warna oranye pada PNS yang merupakan stafnya. Mereka memakai rompi  dengan tulisan 'Saya Tidak Disiplin' lantaran terlambat masuk kantor, pulang lebih awal dan tidak masuk kantor tanpa berita selama periode  Oktober-Desember 2018.

Jumlahnya lumayan banyak. Total sebanyak 143 PNS yang memakai rompi oranye hari itu. Cukup banyak wajah yang murung, tegang dan tanpa senyum. Namun ada pula PNS berompi oranye melakukan wefie sembari mengumbar senyum dan tawa. Kesannya seolah tanpa beban mendapat hukuman semacam ini.


Disiplin! Begitulah gebrakan Gubernur Viktor Laiskodat dan Wakil Gubernur Josef Nae Soi. Kedua pemimpin NTT ini meyakini bahwa disiplin merupakan modal penting bagi NTT agar bisa mengejar berbagai ketertinggalannya dari daerah lain.

 Jika sikap kerja asal-asalan maka  NTT tetap tertinggal. Dan, Pegawai Negeri Sipil atau Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai motor penggerak pembangunan mesti menjadi contoh. 

Dsiplin PNS di daerah ini memang patut mendapat perhatian serius. Sudah menjadi rahasia umum bahwa masih banyak oknum PNS yang masuk kerja sesuka hatinya. Terlambat berjam-jam atau pulang ke rumah lebih awal dianggap bukan masalah. Menunda pekerjaan bahkan meninggalkan tempat tugas tanpa izin kepada pimpinan.

Secara umum  kinerja PNS di daerah ini pun masih jauh dari memuaskan. Indikatornya sederhana. Masih kerap kita mendengar riuh keluhan masyarakat yang mendapatkan pelayanan seadanya dari aparatur negara. Masih ada yang berprinsip kalau bisa dipersulit mengapa dipermudah? Spirit melayani masih sebatas pemanis bibir. Belum terwujud dalam pelayanan sehari-hari.

Pemakaian rompi oranye itu mestinya sebuah cambuk agar PNS sungguh disiplin dalam bekerja melayani masyarakat. Sejauh ini efek jera pemakaian rompi belum tampak. Malah ada  yang merespons dengan cara yang kurang elok.  Tersenyum ria seolah tidak ada masalah sama sekali. Memakai rompi oranye  tak lebih dari lima menit dianggap sebagai sesuatu yang biasa saja. 

Gerakan disiplin memang tidak semudah membalik telapak tangan karena mengubah kebiasaan seseorang. Itulah sebabnya  kita dukung penuh gebrakan Gubernur Viktor Laiskodat dan Wakil Gubernur Josef Nae Soi. Segala upaya demi penegakan disiplin  tidak boleh kendor. *

Pos Kupang 9 Januari 2019 halaman 4
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes