Melebihi Panggilan Tugas

Yusran Pare 
PERASAAN harubiru itu muncul di penghujung tahun. Tahun 2019 yang baru berlalu kurang dari 48 jam.  Dua seniorku pamit lalu meninggalkan Grup WA, ruang kami berbagi informasi, bertukar pandangan atau sekadar curhat dan bercanda ria.

Yusran Pare menulis dalam nada liris.

Teman-teman terkasih, izinkan saya pamit.
Terhitung 31 Desember 2019, saya sudah sepenuhnya pensiun. Terima kasih atas segala kebaikan, ilmu dan pengetahuan  yang telah teman-teman berikan kepada saya. Saya mohon ampun maaf jika selama berinteraksi ada hal-hal yang tidak berkenan di hati teman-teman.

Mas Kris, Om Dion, Mas HDP, titip Ombudsman, ya. Mohon maaf jika selama memimpin Ombudsman, saya belum mampu mewujudkan kerja ideal yang kita rancang.

Yusran Pare left…

Tak lama berselang Ahmad Suroso juga  keluar grup setelah meninggalkan kata-kata demikian.

Teman-teman Ombudsman Tribun, kang Yusran, mas HDP, mas Dion, Krisna...saya juga mohon izin left dari WAG Ombudsman Tribun, mengingat saya sudah resmi pensiun dari Tribun per 1 Desember 2019.

Terima kasih teman atas kerja samanya selama ini. Mohon maaf jika ada yg kurang berkenan. Sukses untuk kita semua,  semakin jaya di mana pun, amin

Tak hanya dari Grup WA Ombudsman. Mereka juga pamit dari  WA Grup lainnya yaitu Grup Tribun dan Editor in Chief Tribun.

Kendati pensiun sebagai karyawan merupakan sesuatu yang lazim, namun tetap saja mengiris perasaan.  Puluhan tahun kami  bersama-sama bekerja dalam jaringan unit usaha koran daerah Kompas Gramedia (Tribun Network).

Waktu terasa berlalu amat lekas. Tiba-tiba saja Kaka Yusran dan Mbah Roso – sapaan akrab Ahmad Suroso -  sudah berada di titik akhir pengabdian.  Purna tugas.

Ahmad Suroso (kiri)
Tentu selalu ada kesempatan untuk berjumpa, tetapi pasti telah berbeda bobot dan suasananya, takkan sesering seperti biasa ketika kami masih sama-sama karyawan Tribun.  Kebayang bahwa rapat kerja berikutnya tidak bersua mereka lagi.

Kiranya benar ungkapan dalam bahasa Prancis, “Partir c’est un mourir un peu” atau “kepergian adalah satu kematian kecil”. Mulai 1 Januari 2020 tak ada lagi kebersamaan seperti puluhan tahun dengan Kaka Yusran dan Mbah Roso.

Selalu ada yang hilang, setidaknya begitu yang saya rasakan setiap kali berpisah dengan senior yang pensiun. Maklumlah bekerja toh tidak sekadar mencari nafkah. Tempat kerja adalah juga rumah untuk  menjalin kasih persaudaraan.

Bukan pertama kali  saya berpisah dengan pendahulu yang memasuki purna tugas. Lima belas tahun silam saya rasakan getaran batin yang sama ketika Om Marcel W Gobang (alm)  pensiun dari Kompas Gramedia. Om Marcel, seingat saya,  merupakan karyawan pertama  PT Indopersda Primamedia atau Persda (kini Tribun) yang pensiun.

Ketika beliau pamit dalam pertemuan sederhana di kantor lama Harian Pagi Pos Kupang di Jl. Kenari No 1 Naikoten Kupang, ada rekan wartawan yang menitikkan air mata.

Sepuluh tahun menahkodai redaksi Pos Kupang bukan waktu yang singkat. Om Marcel Gobang, meninggal dunia tahun 2015,  mewariskan banyak hal baik bagi jurnalis dan karyawan Pos Kupang.

Akhir tahun 2018 di kantor baru Harian Pagi Pos Kupang di Jalan RW Monginsidi Fatululi,  saya  ikut melepas tiga karyawan yang  pensiun yaitu Hyeronimus Modo (Persda), Setya Mudjo R (Persda) dan Mariana Dohu (Pos Kupang).

Makin ke sini akan semakin banyak karyawan Tribun yang pensiun. Di Jakarta bulan September 2019 dalam raker Ombudsman, Mas Febby  Mahendra Putra (Direktur) sepintas memberikan informasi tersebut.

Dalam tahun 2020 ini dan tahun-tahun selanjutnya akan ada lagi karyawan yang pensiun. Tentu sebuah keniscayaan mengingat keberadaan Persda  yang telah mencapai lebih dari tiga dekade.

Marcel Gobang, Uki M Kurdi,  Yusran Pare, Gunawan Wibisono, Hyeronimus Modo, Setya Mudjo dan Mbah Roso serta para senior yang dalam dua tiga tahun ke depan akan purna tugas merupakan generasi perintis dan peletak dasar Tribun yang kini hadir di 23 kota di tanah air. Dari Aceh hingga Kupang,  Manado, Pontianak hingga Solo.

Dari Kota ke Kota

Generasi perintis - peletak dasar merupakan orang yang berkeliling dari kota ke kota lain. Sangat sedikit yang hanya bekerja di suatu tempat dalam waktu lama.

Kaka Yusran  Pare, misalnya, sejak bergabung dengan Persda tahun 1989,  bertugas di lebih dari lima kota termasuk Kupang. Awalnya di Harian Mandala (Bandung)  sebagai redaktur. Setahun kemudian  ke Harian Bernas (Yogyakarta).

Pose bersama seusai raker Ombudsman Tribun Sept 2019
Pengabdian berlanjut ke Palembang, di Harian Sriwijaya Pos (1993-1995) sebagai wakil redaktur pelaksana kemudian ke Pos Kupang (1995-1996).  Di sinilah saya menimba banyak ilmu dari beliau.

Selama di Pos Kupang, Kaka Yusran merekrut dan mendidik reporter baru, memperbaiki kualitas konten, perwajahan dan sebagainya. Setahun di Pulau Timor, dia kembali ditugaskan manajemen ke Bernas (1996-1998) sebagai redaktur pelaksana.

Dari Yogya, Kaka Yusran berkelana ke Kalimantan Selatan  sebagai wakil pemimpin Redaksi Banjarmasin Post  (1998-2000).

Menyongsong tahun 2000 manajemen di Jakarta membuka media baru di Kota Bandung. Kaka Yusran pulang kampung halaman, turut mengelola Metro Bandung (2000-2005) yang kemudian bermetamorfosis menjadi Tribun Jabar dan mengawali proses digitalisasi konten, sebagai pemimpin redaksi sampai 2009.

Tak cukup sampai di situ. Kaka Yusran sempat pula dijeda selama  6 bulan pada 2006, sebagai Pemred Tribun Batam.

Seolah sudah menjadi takdirnya, Kaka Yusran berkelana dari kota ke kota. Dari Sumatera ke bumi Borneo  Kalimantan lagi. April 2009 sampai 2016,  ayah tiga orang anak dan dua cucu ini dipercayakan sebagai Pemimpin Redaksi Harian Banjarmasin Post. 

Dari Banjarmasin pindah ke Semarang menahkodai Harian  Tribun Jateng (sampai 2017) lalu pulang kampung halaman lagi, Tribun Jabar, sampai purna masa kekaryawanan pada bulan Juli 2018.

Seperti ditulis Kaka Yusran dalam akun Facebooknya 31 Desember 2019, waktu seolah melintas demikian cepat.  Serasa baru kemarin dia berkemas pindah dari Bandung ke Yogya, Palembang, Kupang, Batam, Banjarmasin, Semarang dan seterusnya.

Karyawan  perintis –peletak dasar seperti Kaka Yusran sudah terbiasa hidup terpisah dengan keluarga. Tinggal di kos atau mess.  Paling  kumpul dua tiga hari dalam sebulan dengan istri, anak dan cucu. Namun seperti dikatakan Kaka Yusran, cinta kasihlah yang menyatukan.

Mbah Roso juga  berpindah dari kota ke kota, antara lain Yogya, Batam, Balikpapan  dan terakhir di Pontianak. Sampai purna tugas Desember 2019,  pria asal Yogyakarta ini menjabat Pemimpin Redaksi Tribun Pontianak.

“Nasib” berpindah dari kota ke kota pun dialami Mas Febby Mahendra Putra, Dahlan Dahi, Dodi Sardjana, Ribut Raharjo, Setya Krisna Sumargo, Hadi Prajogo, Cecep Burdansyah, Sunarko, Musafik, Abdul Haerah dan lainnya yang kini masih aktif mengabdi.

Pimpinan kami Mas Febby Mahendra Putra bertahun-tahun tinggal di kos, sekitar 100 meter dari kantor pusat kami di Palmerah. Karena tugas dan tanggung jawabnya sebagai direktur, Mas Febby bahkan selalu keliling ke berbagai kota tempat koran Tribun beroperasi untuk melakukan supervisi, monitoring, pembinaan, pelatihan dan sebagainya.

“Modalnya” tas ransel berisi beberapa potong pakaian.  Sesimpel itu kehidupan sebagai punggawa Tribun.

Dari  Kaka Yusran, Mbah Roso, Mas Febby, Dahlan kita petik pelajaran mengenai sense of duty. Rasa tanggung jawab pada tugas dan pekerjaan. Juga beyond the call of duty yaitu kesadaraan untuk bekerja melebihi panggilan tugas. Bahwa bekerja itu harus all out, mengerahkan segenap kemampuan yang ada, pikiran dan tenaga.

Di tengah distrupsi gempa digital yang maha dahsyat dewasa ini, para senior seperti Kaka Yusran dan Mbah Roso mewariskan keutamaan akan kesetiaan pada profesi, terus menghidupkan komitmen bahwa tanggung jawab media adalah pada masyarakat dan konsumen dan bahwa kerja itu merupakan ibadah.

Nilai keutamaan ini semoga tetap hidup dalam sanubari generasi baru Tribun,  setiap karyawan Kompas Gramedia.

Akhirnya,  buat Kaka Yusran, Mbah Roso terima kasih untuk tahun-tahun kebersamaan kita yang mengagumkan.

Terima kasih telah menjadi guru, mentor, kakak, rekan kerja yang banyak memberi inspirasi, ilmu, pengetahuan dan keterampilan. Mohon maaf atas khilaf dan salah.

Kita berpisah sebagai karyawan, tidak untuk persaudaraan. Keep in touch.

Dion DB Putra
Pada hari pertama 2020

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes