Puting

DALAM hitungan detik 160 rumah penduduk dan fasilitas umum di delapan kelurahan dalam Kota Kupang porak-poranda. Puting menerbangkan atap. Beliung mengobok-obok rumah dan segala isinya. Rumah para jelata berdinding bebak, beratap seng kumal dengan konstruksi bangunan seadanya.

Tak ada korban jiwa, namun terjangan angin puting beliung Jumat 14 Januari 2011 memaksa ratusan jiwa kehilangan tempat bernaung dalam sekejap. Air mata tumpah lagi di Kota KASIH. Beta sedih dan prihatin mengingat nasib para korban.

Seorang ibu nyaris kehilangan bayi berusia enam bulan. Si buah hati sedang lelap dalam kantong tidur dari bahan tenunan Timor saat beliung menerbangkan rumah. Jika ibu muda itu terlambat meraih kantong tidur yang sedang dihela angin, tak tahu lagi seperti apa nasib anak yang mungil. "Tuhan masih sayang beta pung anak," katanya sambil memeluk erat putranya.



Siapa orang pertama yang berada di lokasi bencana? Tak segera tampak batang hidung mereka yang bertanggung jawab di Kota Kupang. Yang saban hari bercakap demi rakyat! Di hari Jumat kelabu itu, beta maklum mereka masih merapatkan barisan guna melanjutkan rapat. Mereka amat disibukkan oleh penjadwalan ulang agenda sidang di gedung kokoh nan megah.

Terima kasih puting. Syukur untuk beliung. Alam selalu punya cara menampar kepongahan manusia. Kalau manusia bisa menciptakan puting beliung lewat pertarungan kepentingan politik antarelite, alam juga bisa menghadirkan puting beliung yang bikin kepala pening. Kalau manusia bangga melancarkan badai kebohongan publik, alam cukup kirim si topan Vince. 

Vince mencurahkan air dari langit berhari-hari. Tak kenal siang dan malam. Manusia pun tunggang-langgang. 

Perlawanan alam terhadap manusia di awal tahun 2011 ini lewat media air dan angin. Air bah melanda hampir seluruh muka bumi. Di Australia, Kota Brisbane nyaris lumpuh. Sejumlah wilayah di ibukota Queensland yang elok kini laksana zona perang. Banjir menenggelamkan rumah, membenamkan mobil, menggerus bangunan pencakar langit. Merusak jaringan listrik dan air bersih. Taman kota buruk rupa. Bunga-bunga berlumuran lumpur dan sampah. Teknologi canggih Australia lunglai menghadapi tumpahan air. Sedikitnya 80 orang tewas, sebagian besar korban hilang entah ke mana.

Di negeri bola Brasilia, 270 orang tewas tertimbun tanah longsor dan banjir saat mereka lelap dalam mimpi. Di malam gelap tak berbintang tanah longsor mengubur hidup-hidup warga kota pegunungan di dekat Kota Rio de Janeiro. 

Saat fajar menyingsing, tim SAR menemukan mayat tergeletak di banyak tempat dalam kondisi mengenaskan. Sebagian tertimbun lumpur. Hujan lebat juga menewaskan 13 orang di negara bagian Sao Paulo, 130 orang di Teresopolis dan 107 orang di Nova Friburgo. Brasil yang baru saja berdansa atas terpilihnya Dilma Rousseff sebagai perempuan pertama negeri itu menjadi presiden kini berduka. 

Brasil tidak sendirian diterjang tanah longsor yang berawal dari curah hujan di atas rata-rata. Tragedi yang sama terjadi di Belu, tapal batas Indonesia-Timor Leste. Longsor di jalan raya Halilulik-Nanaet Duabesi mengisolasi tiga desa, yaitu Desa Nananoe, Fohoeka dan Nanaet sejak Kamis 13 Januari 2011.
Kisah air bah kini sudah menjadi kenyataan sehari-hari. Dunia dikepung air. Dari laut lewat abrasi, tsunami dan terus naiknya permukaan air akibat pemanasan global. Di daratan gundul banjir mengamuk. Dan, langit menumpahkan air lebih dari lazim. Badai sekadar menyempurnakan kesengsaraan bumi.

Ingat air bah, bangsa Rusia rupanya terinspirasi kisah Nabi Nuh. Perusahaan arsitektur Rusia, Remistudio tengah merancang hotel yang berperan sebagai bahtera penyelamat saat permukaan air laut naik secara ekstrim dan menenggelamkan sebagian bumi. Namanya Ark Hotel yang bisa berada di laut atau darat. Hotel mirip kerang ini tahan banjir, gelombang dan gempa. Ark Hotel bisa mengapung dan muncul otomatis di permukaan air. 

Arsitek Rusia mengklaim, desain yang terdiri dari konstruksi busur dan kabel dengan bantalan bisa mendistribusikan berat secara merata. Selain itu struktur bawah tanah berbentuk tempurung, tanpa tepian atau sudut. Hotel raksasa ini diklaim juga sebagai biosfer, surga yang nyaman bagi penghuninya. Desain hotel futuristik itu menggunakan panel matahari dan instalasi pengumpul air hujan guna menjamin ketersediaan energi dan air bagi penghuninya. Lingkungan yang mirip rumah kaca memungkinkan tanaman tumbuh subur, meningkatkan kualitas udara dan menyediakan makanan. Hebat!

Beta ingat inspirasi batin dari Ramakrishna yang diceritakan kembali Anthony de Mello, SJ. Menurut Ramakrishna, Allah tertawa pada dua kesempatan. Pertama, Allah tertawa saat dokter berkata kepada seorang ibu. "Jangan takut, anak itu akan saya sembuhkan." Allah berkata kepada dirinya sendiri. "Saya merencanakan untuk mengambil hidup anak ini, tetapi orang ini berpikir bahwa ia dapat menyelamatkannya!"

Allah juga tertawa kalau Ia melihat dua orang bersaudara membagikan tanah mereka, menandainya dengan garis dan berkata, "Sisi ini adalah milikku dan sisi lain adalah milikmu." Allah berkata kepada dirinya sendiri. "Jagat ini adalah milik saya dan mereka merasa berhak menjadi pemilik atas bagian-bagiannya!" 

Jadi, silakan saja orang Rusia yang pintar itu membuat Ark. Mereka lupa dalam hitungan detik si empunya hidup dapat melumat Ark. Siapa mampu meraba rencana Tuhan? Yang jelas ada yang bisa tuan raba dan lihat di beranda kampung kita. Sebagian pemimpin tiada henti bertarung. Kata-kata mereka tidak saling menyembuhkan. Itulah puting beliung yang menerbangkan harapan dan mencabut rumah persaudaraan. Dampaknya? Oe.. ngeri kawan! (dionbata@yahoo.com)

Pos Kupang, Senin 17 Januari 2010 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes