Singkong Jadi Primadona Baru di Sulut

Singkong yang dalam lirik penyanyi era 1990-an Arie Wibowo berjudul Aku Anak Singkong  identik dengan keterbatasan hidup kaum tani agaknya tidak berlaku bagi pasangan Uli-Ati dan Wentriks Wurangin. Warga  warga Sulawesi Utara ini meraup untung puluhan juta dari bisnis singkong.

Pasangan Uli-Ati, warga Desa Matungkas Jaga V,  Kecamatan Dimembe Kabupaten Minahasa Utara  meraup untung hingga Rp 30 juta per bulan dari bisnis singkong yang merajai pasaran Kota Manado dan sekitarnya.

Bagi pasangan Uli-Ati singkong telah menjadi sumber ekonomi keluarga selama bertahun- tahun.  Sejak dirintis sepuluh tahun lalu, usaha ini  berkembang pesat. Geliatnya terasa di Pasar Bersehati Manado. Ati mengaku telah menguasai 70 persen pasaran singkong di pasar terbesar di Kota Manado tersebut."Sebut saja ibu Ati, mereka pasti tahu," tutur Ati kepada Tribun Manado, Selasa (3/7/2012).

Selain Manado, usaha itu pun berkembang hingga ke luar Manado. Empat kali dalam sebulan, singkong  dia jual ke Sangihe. "Biasanya hari ada kapal yaitu Senin, Selasa, Jumat dan Minggu," tuturnya.

Sekali jalan ke Sangihe, ia dapat membawa sekitar 15 karung. Per karung, ia jual sama dengan harga di Manado. Ia menyebut usaha ini dilakukan dengan menyewa lahan seluas tiga hektare dari seseorang bernama Wani. Lahan itu telah ditanami pemiliknya. "Uang sewanya empat puluh juta per bulan," katanya.

Singkong yang dihasilkan kemudian dijualnya ke pasar di Manado. Jumlahnya dua puluh hingga dua puluh lima karung sekali bawa. "Paling sedikit 10 karung," ujarnya. Sekarung berisi sekitar 60 kg singkong. Dijelaskannya, singkong dicabut dari pagi hingga siang, kemudian malam hari dibawa ke pasar.  "Untuk mencabut saya menyewa tiga orang pekerja," ungkapnya.

Ati yang nama lengkapnya Suriati Paranin ini mengakui, harga singkong di Manado cenderung meningkat. Ia ingat harga singkong sepuluh tahun yang lalu hanya 20 ribu per karung. "Waktu itu memang sulit," ucapnya.

Harganya terus meningkat setiap tahun. Sejak tahun lalu, harga singkong telah menyentuh level 100 ribu per karung. Hingga kini, harganya terus bermain di situ. "saat ini harganya berkisar 120 ribu per karung," jelasnya. Dari situ, ia dapat meraup untung yang lumayan yaitu berkisar Rp 30 juta per bulan. Jika banyak borongan, keuntungan yang didapat bisa dua kali lipat. "Contohnya, jika saya bawa 25 karung, maka untung dari situ berkisar Rp 2 juta lebih," urainya.

Selain dibawa ke pasar, singkong miliknya juga sering dipesan  penjual keripik. Para penjual keripik idatang dari berbagai wilayah di Manado hingga Tomohon. Mereka biasanya telah berlangganan. Sekali datang, para penjual ini biasa memborong dua hingga tiga karung. "Mereka tidak datang setiap hari, paling - paling dua hingga tiga kali sehari," jelasnya.

Rp 50 Juta Sekali Panen
Wentriks Wurangin,  Ketua kelompok Tani Mekar Kelurahan Lapangan Lingkungan 4 Kecamatan Mapanget Manado telah menanam singkong kurang lebih 15 tahun. Suka dan duka menyertainya. Awal mula ia bekerja sebagai jurnalis, namun profesi itu hanya bertahan 8 bulan. Dia  kemudian ia beralih profesi sebagai petani. "Saya menanam berbagai jenis tanaman, satu di antaranya adalah singkong," ujarnya saat diwawancarai Tribun Manado, Selasa (3/7/2012).

Dijelaskannya, setiap satu hektare lahan dapat menghasilkan sekitar 500-600 karung singkong  dengan berat sekitar 60-70 kg per karung. Setiap karung singkong saat ini dijual Wurangin seharga Rp 100-115 ribu. Satu karung singkong  diperoleh dari 11 sampai 15 pohon singkong.  Saat ini ketela pohon yang ditanamnya pada lahan seluas 6 hektare. Sekali panen pendapatan kotor kurang lebih  Rp 60 juta. "Jadi, keuntungan bersih yang saya peroleh sekali panen sekitar  Rp 50-an juta," ujarnya.

Dua tahun lalu, menurut pria yang juga menjabat Ketua Asosiasi Pasar Tani (Aspartan) Manado ini,  harga singkong per karung Rp 30- 40 ribu. Namun karena tingginya permintaan, harga terus merangkak naik. Ia pernah melakukan survey di Pasar Bersehati, kebutuhan singkong saat ini mencapai 50 karung  per hari. Hal tersebut sampai saat ini belum bisa terpenuhi.  (art/erv)


Musuh Singkong Cuma Tikus

MENURUT Wentriks Wurangin, menanam singkong alias ubi kayu adalah bisnis yang menguntungkan. Cara menanam dan merawatnya pun relatif mudah dibandingkan dengan  jenis palawija lain. Jika  tanahnya subur, tanaman umbi-umbian tersebut tidak perlu menggunakan pupuk. Cukup gemburkan tanahnya sebelum menanam stek singkong.

Jika telah ditanam, kata Wurangin,   hal yang rutin dilakukan petani  adalah membersihkan  rumput liar serta tanaman pengganggu lainnya. Sebab musuh utama singkong adalah tikus. Hewan pengerat itu merupakan hama bagi singkong.  "Jika rumput tak dibersihkan,  biasanya akan ada tikus. Hama paling hanya tikus, itupun jika tidak terawat," ujarnya kepada Tribun Manado, Selasa (3/7).

Dijelaskannya, ubi kayu alias singkong sudah bisa dipanen pada umur delapan bulan. Tanaman ini pun bisa  dibiarkan hidup sampai 2,5 tahun. Setiap satu hektare lahan bisa   menghasilkan sekitar 500-600 karung dengan berat sekitar 60-70 kg per karung.

Menurut Wurangin, peluang bagi petani singkong masih terbuka lebar karena permintaan sangat tinggi. Ia pernah melakukan survey di Pasar Bersehati Manado. Hasilnya menunjukkan, kebutuhan singkong di pasar itu mencapai 50 karung  per hari. Kebutuhan itupun  belum bisa dipenuhi petani.

Wurangin mengatakan, hal itu terjadi karena  sentra ubi kayu di Kota Manado bahkan di Sulut relatif terbatas yakni  hanya berada di lima daerah, yaitu Manungkas, Maumbi, Paniki, Pandu dan Lapangan. Sedangkan di daerah lain hanya ditanam petani untuk konsumsi sendiri.

Diakuinya, masih banyak petani yang belum mengetahui keuntungan dari menanam singkong. Selama ini ia mengaku tidak mengalami kesulitan dalam menjual hasil panenannya karena langsung diserap pasar. Bahkan penjualannya hingga sampai ke Sangihe. Wurangin mengaku akan terus menanam singkong karena keuntungan yang diraihnya cukup besar karena tingginya permintaan pasar.

Singkong (manihot utilissima) merupakan umbi atau akar pohon yang panjang dengan fisik rata-rata bergaris tengah 2-3 cm dan panjang 50-80 cm, tergantung dari jenis singkong yang ditanam. Daging umbinya berwarna putih atau kekuning-kuningan. Umbi singkong tidak tahan simpan meskipun ditempatkan di lemari pendingin. Gejala kerusakan ditandai dengan keluarnya warna biru gelap akibat terbentuknya asam sianida yang bersifat racun bagi manusia.

Umbi singkong merupakan sumber energi yang kaya karbohidrat namun sangat miskin protein. Sumber protein yang bagus justru terdapat pada daun singkong karena mengandung asam amino metionin. Jenis singkong manihot esculenta pertama kali dikenal di Amerika Selatan kemudian dikembangkan ke seluruh dunia termasuk di Indonesia (wikipedia).

Produksi singkong dunia diperkirakan mencapai 220 juta ton pada tahun 2008. Sebagian besar produksi singkong dihasilkan  Afrika  disusul Amerika Latin dan Kepulauan Karibia. Di Indonesia singkong ditanam secara komersial  sekitar tahun 1810 setelah diperkenalkan bangsa Portugis. (erv)

Sumber: Tribun Manado 4 Juli 2012 hal 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes