22 Tahun Tsunami Maumere

ilustrasi
GEMPA dan Tsunami yang memorak-porandakan Maumere genap berusia 22 tahun pada tanggal 12 Desember 2014. Bertepatan dengan peringatan tersebut, wartawan Pos Kupang, Feliks Janggu, mengisahkan kembali peristiwa yang memilukan itu berdasarkan penuturan sejumlah saksi hidup di Maumere.

KARTINI Ace (60) mengernyitkan dahi ketika mengisahkan kembali kejadian Gempa dan Tsunami 12 Desember 1992, di kediamannya di Kampung Wuring, Maumere, Selasa (9/12/2014). Ekspresi alis dan dahinya menggambarkan trauma yang mendalam atas bencana alam yang menewaskan 2.000-an warga Kabupaten Sikka.

Tentu berbeda dengan reaksi sebagian generasi muda Kampung Wuring yang tidak pernah mengalami dan menyaksikan atau mendengar kisah bencana alam 22 tahun lalu itu. Meski pemerintah mengingatkan Kampung Wuring masuk dalam zona merah gempa dan tsunami di Kota Maumere, pembangunan pemukiman penduduk semakin banyak.

"Saya kadang menceritakan kepada cucu-cucu saya. Ada yang takut sekali. Tetapi saya bilang kepada mereka, cukup kami saja yang menderita karena bencana gempa dan tsunami. Jangan terjadi lagi pada cucu-cucu kami," cerita Kartini kepada Pos Kupang.

Pada saat gempa dan Tsunami, Kartini menyelamatkan diri di atas perahu. Berjam-jam perahu yang mereka tumpangi terombang-ambing di tengah hempasan gelombang Tsunami. Jumlah mereka  yang menyelamatkan diri di atas perahu sebanyak 32 orang.

Rumah-rumah di Wuring hancur berantakan. Mereka pun bergegas menghidupkan mesin perahu menuju Ngolo, Pemana Kecil, salah satu pemukiman di salah satu pulau di utara Pulau Flores.
"Pas kami tiba di Ngolo, semua rumah tidak ada yang sisa. Hanya buih putih yang menutup bangunan rumah. Semua orang lari ke gunung. Kami juga lari ke gunung," kata Kartini.

"Bulu badan saya berdiri memang. Gelombang pertama, kemudian surut lagi. Lalu datang gelombang kedua. Setelah itu gelombang ketiga langsung rata semua. Rumah-rumah hancur semua, hanya masjid ini (Masjid Al-Rahmat Wuring-red) yang tersisa. Kami 32 orang lari di atas perahu," kisah keturunan Bajo yang sejak nenek moyangnya telah menetap di Maumere itu.

Menurut data yang dilansir http://id.wikipedia.org/wiki/  gempa dan tsunami dahsyat itu terjadi sekitar pukul 13.29 wita. Gempa itu berkekuatan 7,8 pada skala Richter di lepas pantai Flores menyebabkan Tsunami setinggi 36 meter, menewaskan sedikitnya  2.100 jiwa, 500 orang hilang, 447 orang luka-luka, dan 5.000 orang mengungsi.

Gempa ini menghancurkan sedikitnya 18.000 rumah, 113 sekolah, 90 tempat ibadah, dan lebih dari 65 tempat lainnya. Kabupaten yang terkena gempa ini ialah Kabupaten Sikka, Kabupaten Ngada, Kabupaten Ende, dan Kabupaten Flores Timur.

Diceritakan Kartini, banyak warga Wuring tewas terjepit bangunan.  Mereka yang selamat melarikan diri ke perbukitan, lalu bermukim di Hewuli, Alok Barat. Tetapi mereka tidak betah, dan kembali lagi ke Kampung Wuring. 

"Kami lihat dari atas perahu, semua rumah rata, kapal-kapal rusak. Kami terus bergerak meski gelombang cukup deras. Syukur mesin motor tidak mati," kata Kartini lagi.
Setelah 22 tahun, pertumbuhan penduduk di Kampung Wuring cukup pesat. Rumah-rumah makin padat. Kehidupan ekonomi pun semakin maju. Pelabuhan Wuring telah menjadi salah satu pusat perekonomian masyarakat di Kota Maumere.

"Kami ini orang Bajo, cari makan di laut. Kami tidak nyaman di Nangahure, jadi saya orang pertama yang kembali ke Wuring. Kami tidak mungkin tangkap ikan, kemudian bawa ke Nangahure. Waktu itu Nangahure tidak ada tambatan perahu," kata Kartini.

Kampung Wuring kini memiliki pelabuhan rakyat (Pelra) dengan aktivitas bongkar muat barang yang cukup padat dari Sulawesi, Kupang, dan Surabaya. Terdapat pasar ikan, ramai dikunjungi warga kota tiap petang hari hingga malam.

Reruntuhan bangunan yang mengingatkan warga akan kejadian 22 tahun lalu lenyap bersama munculnya bangunan-bangunan rumah yang cukup megah, rumah panggung yang kokoh. Menjadi  gambaran pesatnya pertumbuhan ekonomi masyarakat Wuring.

Puluhan kapal nelayan berlabuh di tepi pantai, di samping rumah-rumah penduduk yang dibangun di sekitar Pelra Wuring. Banyak rumah dibangun menjulur ke tengah laut. "Sekarang semua orang bangun rumah bagus di sini. Kalau ingat dulu, rumah di sini masih sederhana semua. Tapi bencana itu merusak semuanya," kata Kartini.

Diceritakannya, ada empat bencana besar yang menimpa masyarakat Kota Maumere kala itu, di antaranya angin kencang, gelombang tinggi, bumi bergetar (gempa-red) dan kebakaran.Apakah tidak khawatir tinggal di zona merah gempa dan Tsunami? Kartini mengatakan, Allah akan menjaga masyarakat Wuring, menjaga anak-anak cucunya lepas dari bencana serupa.Keyakinan akan penyelenggaraan dan perlindungan Allah inilah yang menguatkan warga Wuring untuk tetap bertahan tinggal di pesisir pantai meski masuk zona merah gempa dan Tsunami.

"Banyak yang selamat di dalam masjid ini. Ada kesaksian waktu itu, bahwa air di dalam masjid hanya setinggi lutut. Orang yang berlindung di Masjid ini semuanya selamat," tutur Kartini.

Hari Berkabung Daerah


TRAUMA para korban Gempa dan Tsunami 12 Desember 1992  belum hilang sampai saat ini. "Bicara gempa dan Tsunami, masyarakat di sini sangat trauma dan trauma sekali. Orang-orang tua semua masih trauma di sini," kata Hasan Basry, ketua RW.08 Kampung Wuring,  Kelurahan Wolomarang, Maumere, Sikka.
Masyarakat Kampung Wuring, kata Hasan, selalu mendapat informasi dari pemerintah bahwa wilayah Kampung Wuring termasuk dalam zona merah dan berbahaya untuk pemukiman penduduk.

Namun, tambahnya, sejauh ini belum ada informasi meyakinkan dari pemerintah tentang dasar penetapan wilayah itu zona merah. "Menarik kalau omong zona merah. Saya mau omong itu, kita bisa diskusi. Pertanyaan saya dan  juga masyarakat di sini, apa dasarnya Wuring disebut zona merah?" tanya Hasan.

Beberapa titik yang menurut Hasan sama dengan wilayah Wuring adalah pesisir Kota Uneng, wilayah pertokoan Kota Maumere, pemukiman penduduk di Kampung Beru, wilayah sekitar Hotel Pelita dan pemukiman Waioti.

"Mengapa Wuring zona merah dan kompleks pertokoan tidak? TPI (tempat pendaratan ikan) tidak? Hotel Pelita tidak? Waioti tidak?" tanya Hasan.

Terlepas dari penetapan zona merah, Hasan mengharapkan secara lokal kedaerahan masyarakat diwajibkan mengenang peristiwa 1992 itu dan diatur di dalam peraturan daerah (Perda). Pasalnya, kata Hasan, gempa dan Tsunami Maumere 1992, termasuk bencana nasional terbesar kedua setelah Aceh. 

"Bagi saya mungkin perlu suatu perda atau semacamnya yang menetapkan 12 Desember tiap tahunnya sebagai hari duka daerah atau hari berkabung daerah Kabupaten Sikka," kata Hasan.
Kehidupan masyarakat Wuring dan Maumere saat ini beda dengan 22 tahun silam. Mereka sudah bisa bangkit dari keterpurukan akibat hantaman Tsunami yang dahsyat. Rumah-rumah semakin padat, kapal-kapal semakin banyak, aktivitas pasar di Wuring makin ramai tiap hari.

Bayang-bayang ketakutan akan terulangnya Tsunami 1992 masih terasa ketika berjumpa para korban yang mengalami langsung peristiwa itu. Namun ketakutan itu tidak mengalahkan keyakinan mereka akan penyelenggaraan Allah yang akan melindungi anak-anak dan cucu mereka di masa mendatang.

"Cukup kami saja yang menderita terkena bencana dan jangan terjadi lagi pada cucu-cucu kami. Allah akan melindungi kami. Masjid ini telah menyelamatkan banyak orang waktu itu," ujar Kartini Ace (60), sambil mengelus lengan. "Bulu badan saya berdiri memang," tambahnya.

Seperti korban bencana gempa dan Tsunami 1992, ribuan warga Palue korban letusan Gunung Rokatenda harus mengungsi dari kampung halaman mereka. Tetapi masih ada di antara mereka yang menolak direlokasi dan memilih bertahan hidup di zona merah gempa.

Hal ini menjadi pekerjaan berat pemerintah daerah ke depan untuk memberikan sosialisasi intensif agar masyarakat secara sukarela meninggalkan lokasi-lokasi yang dianggap berbahaya bagi keselamatan mereka manakala terjadi bencana serupa di masa mendatang.

Semoga moment peringatan gempa dan Tsunami 1992, pada Jumat, 12 Desember 2014, menyadarkan kita kemungkinan bencana serupa pada waktu mendatang. Semoga jiwa ribuan korban mendapat istirahat yang kekal di Surga.

Dia Akan Datang Lagi...

BENCANA alam gempa, tsunami, letusan gunung berapi dan bentuk bencana alam lainnya memaksa manusia untuk mengambil sikap dan memutuskan langkah  mengatasi persoalannya.

Persoalan serius yang dihadapi adalah semua pesisir utara Kabupaten Sikka, terutama Kota Maumere, termasuk dalam wilayah rawan bencana. Hampir semua titik berada dalam zona merah bencana.

Namun di sisi lain, tempat-tempat ini menjadi tempat yang paling padat dihuni masyarakat. Misalnya, wilayah pesisir Kota Maumere, Kampung Wuring, Kota Uneng, Kampung Beru, Waioti, Geliting dan wilayah pesisir utara lainnya.

Oscar Parera Mandalangi, budayawan dan tokoh adat di Kota Maumere, mengingatkan bahwa bencana tetap akan menjadi momok menakutkan masyarakat Kota Maumere di masa mendatang. "Bencana seperti tahun 1992 tetap akan datang (terjadi) lagi. Lempengan daratan menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana sangat tipis dan mudah retak," kata Oscar kepada Pos Kupang, Sabtu (13/12/2014).

Oscar mengatakan, hanya ada dua solusi menghindari masyarakat pesisir dari bencana alam tsunami di masa depan. Pertama, masyarakat harus direlokasi, pindah ke tempat lebih aman. Kedua, membangun rumah dengan konstruksi tahan bencana alam.

"Jika mereka tidak mau pindah, itu artinya mereka mengambil risiko serius di masa depan. Pemerintah juga bisa mengambil inisiatif buat kajian, konstruksi rumah model apa yang cocok dengan wilayah zona merah kita," kata Oscar.

Pemerintah, demikian Oscar, bisa membuat peraturan rumah bentuk apa yang boleh dibangun di  zona rawan gempa. "Rumah-rumah tembok itu tidak perlu ada di sana. Cari design rumah yang cocok untuk wilayah itu, pemerintah harus buat kajian serius. Hanya itu solusinya," kata Oscar.

Tidak kalah penting, lanjut Oscar, masyarakat perlu terus dilatih (simulasi) menghadapi bencana. "Daerah-daerah itu perlu terus melakukan simulasi bencana," ujarnya.

Menurut dia, sosialisasi harus terus menerus dilakukan. Khususnya oleh pemerintah desa, agar warga masyarakat dengan sadar mencari tempat pemukiman yang lebih layak.
                               
Hutan Bakau Tipis

Anggota DPRD Sikka, Alex Agato mengingatkan pemerintah serius menangani masalah bencana di Kabupaten Sikka. Masalah serius yang dihadapi, demikian Agato, adalah semakin menipisnya hutan bakau (mangrove) pesisir utara Maumere. 
"Badan Lingkungan hidup kita minta serius dengan program menanam bakau sebanyak-banyaknya di pantai utara, khusus kota Maumere dulu. Turap pantai itu tidak bisa bertahan lama di masa depan," kata Alex.

Ia menyatakan, pemerintah tidak bisa menghabiskan anggaran begitu besar dengan membangun turap pantai di semua pesisir utara Kota Maumere. Mesti didukung dengan program penanaman mangrove yang berkesenambungan.

"Ini langkah yang lebih penting dan harus digarap serius oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH). Selain bisa menahan abrasi, menanam bakau juga memberikan dalam bagi kesehatan lingkungan hidup di Kota Maumere," kata Alex.

Memindahkan masyarakat pesisir seperti warga Kampung Wuring bukan persoalan yang mudah. Tetapi jika pemerintah berhasil meyakinkan masyarakat secara terus menerus, bukan tidak mungkin masyarakat akan secara sukarela meninggalkan lokasi yang ada.

Pemerintah juga bisa membantu masyarakat  untuk menunjukkan lokasi pemukiman yang baru bagi masyarakat. "Ini memang risiko pemerintah, jika mau relokasikan mereka, maka harus menyiapkan pemukiman baru bagi mereka. Perlu pendekatan terus menerus," tegas Alex.

Kampung Wuring, salah satu wilayah pesisir yang termasuk dalam zona merah, sudah menjadi salah satu permukiman padat di Kota Maumere saat ini.  Warga di sana mengaku tahu bahwa wilayah masuk zona merah, namun enggan merespons hal itu secara serius.

Kartini Ace (60) berpegang pada keyakinan bahwa Allah tidak mungkin akan menimpakan malapetaka bagi umatNya. Allah pasti akan melindungi para penghuni Kampung Wuring.

Sementara  Hasan Basry, warga lainnya mempertanyakan kebenaran tentang Kampung Wuring termasuk di dalam zona merah. Masyarakat belum diyakinkan dengan dasar penelitian atau regulasi yang menetapkan wilayah itu sebagai wilayah zona merah bencana.

Antara keingingan pemerintah dan keinginan masyarakat pasti selalu akan bertentangan satu sama lain. Tetapi jika pemerintah bisa meyakinkan masyarakat, maka masalah itu akan  diselesaikan secara bersama-sama, dan masyarakat terhindar dari risiko bencana. (feliks janggu)


Sumber: Pos Kupang 13, 14 dan 15 Desember 2014 hal 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes