Pelajaran Kepemimpinan

Paus Benediktus XVI (AFP)
DARI berbagai sumber referensi kita mengetahui bahwa mundurnya Paus Benediktus XVI (85)  terhitung mulai hari ini  28 Februari 2013 mengingatkan dunia pada mundurnya Paus Gregorius XII pada tanggal 4 Juli 1415. Sekitar enam abad yang lalu,  Paus Gregorius mundur untuk menyelamatkan Gereja Katolik dari skisma atau perpecahan intern menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama mendukung Takhta Kepausan di Avignon, Prancis, yang terdiri dari negara Prancis, Aragon, Kastil dan León (Wilayah Otonomi di Spanyol), Siprus, Burgundia, Savoy, Napoli, dan Skotlandia. Kelompok kedua pendukung Takhta Kepausan di Roma yang terdiri dari Denmark, Inggris, Flandria (Belgia), Kekaisaran Romawi Suci (Takhta Kepausan Roma), Hongaria, Italia Utara, Irlandia, Norwegia, Polandia, dan Swedia. Mundurnya Paus Gregorius XII dan penyerahan kekuasaan ke Konsili Konstanz berhasil menyelamatkan Gereja Katolik dari perpecahan. Sejarah gereja pun kembali ke jalan yang baik sampai sekarang.

Hari ini dunia menyaksikan pemimpin umat Katolik sejagat Paus Benediktus XVI meninggalkan takta apostoliknya. Dia mundur karena alasan kesehatan sekaligus memberi kesempatan para kardinal dari seluruh dunia memilih Paus yang baru. Tentu seorang Paus yang lebih muda usianya sehingga dapat mengemban tugas-tugas kegembalaan bagi umat Katolik sejagat.

Saat memberikan berkat mingguan terakhir di depan puluhan ribu umat Katolik yang memadati Lapangan Santo Petrus, Vatikan, Minggu (24/2/2013) lalu, Paus Benediktus menegaskan  tak akan meninggalkan gereja setelah mengundurkan diri serta akan menjalani hidup dengan meditasi dan berdoa. "Tuhan meminta saya untuk mendedikasikan diri lebih banyak lewat meditasi dan doa. Ini bukan berarti saya meninggalkan gereja. Jika Tuhan meminta saya melakukan ini, saya akan melayani dengan dedikasi dan kasih yang sama, tetapi dengan cara yang lebih sesuai dengan usia dan kondisi saya," ujar Benediktus XVI. Setelah mundur Benediktus XVI akan disapa sebagai "Paus Emeritus".

Apa yang boleh kita petik dari mundurnya Paus Benediktus XVI? Sama seperti pendahulunya Paus Gregorius XII,  Paus Benediktus XVI  kelahiran Bavaria Jerman itu memberi pelajaran bahwa kekuasaan keagamaan pun tak harus dipegang seumur hidup. Gregorius XII mundur sebagai paus pada 1415. Setelah 60 paus dalam rentang waktu 598 tahun, Benediktus XVI mengingatkan kembali tentang kekuasaan keagamaan yang tak harus dipegang sampai mati.

Pelajaran kepemimpinan yang luar biasa telah diwariskan oleh kedua tokoh dunia tersebut. Pemimpin sejati tahu kapan harus mundur dari gelanggang demi  kepentingan yang lebih luas. Gregorius mundur agar Gereja Katolik terselamatkan. Benediktus mundur karena dia menyadari kerapuhan fisiknya sebagai manusia.

Pelajaran kepemimpinan tersebut menembus batas dan tetap relevan sampai kapan pun. Dalam konteks kepemimpinan masyarakat dan negara (pemerintahan), mestinya setiap orang tahu diri kapan saatnya berhenti. Tapi kekuasaan duniawi kerap menghanyutkan orang untuk selama mungkin berkuasa atau mencari cara agar kekuasaan itu berlanjut ke tangan keluarganya. Politik dinasti dalam konteks Pemilukada di Indonesia selain tidak elok juga meracuni demokrasi.*

Sumber: Tribun Manado 28 Februari 2013 hal 10

Hasta Siempre Chavez

Hugo Chavez dan putrinya Rosa Virginia (AFP)
Salah satu tokoh paling kontroversial masa kini, demikian Cristina Marcano dan Alberto Barrera Tyszka menyebut Hugo Chavez dalam buku mereka, Hugo Chavez : The Definitive Biography of Venezuela's Controversial President. Tak ketinggalan, mereka juga memasukkan Chavez dalam daftar pemimpin negara terpenting.

Semasa berkuasa, Presiden Venezuela itu lantang berbicara. Chavez adalah pemimpin dengan pengaruh dan kharisma yang amat kuat. Ia pun memiliki keberanian luar biasa. Sifatnya itu diyakini karena ketertarikannya terhadap militer. Ketertarikan yang bisa dikatakan radikal.

Chavez menjadi populer karena melakukan kudeta pada tahun 1992. Meski gagal, nama Chavez tetap harum karena melawan p residen Venezuela saat itu, Carlos Andres Perez yang membuat mayoritas masyarakat jatuh dalam jurang kemiskinan. Chavez dipenjara dua tahun, keputusan yang menjadi bumerang bagi Perez.

Chavez menjelma menjadi pahlawan. Ia memenangkan pemilihan presiden pada tahun 1998. Hingga kanker mengakhiri hayatnya pada usia 58 tahun, Chavez tetap menjadi pemimpin Venezuela. Saat bertatap muka dengan khalayak, Chavez menyihir mereka. Ia tak hanya berpidato tetapi juga bernyanyi, bahkan menari.

Chavez dikagumi rakyatnya terutama kalangan miskin karena berhasil menasionalisasi aset perusahaan-perusahaan minyak internasional di Venezuela. Sejak kecil, Chavez memang akrab dengan kepapaan. Chavez lahir di Barinas, sebelah barat daya Venezuela pada tahun 1954.

Ayah Chavez adalah guru namun ia dibesarkan neneknya. Chavez kecil berjualan permen untuk membantu keluarganya. Ketertarikan Chavez terhadap dunia keprajuritan ia wujudkan dengan belajar di Akademi Militer Venezuela, Caracas dan menjadi serdadu penerjun payung.

Ia mengobarkan revolusi demi distribusi kesejahteraan penjualan minyak yang lebih merata di Venezuela. Chavez dengan nyaring memprovokasi musuh-musuhnya di dalam maupun luar negeri. Kedekatan dengan Iran, Libya, dan Suriah membuat hubungan Venezuela dengan Amerika Serikat menjadi panas.

Puncaknya, saat ia berbicara dalam Majelis Umum PBB pada tahun 2006. Chavez menyebut Presiden Amerika Serikat George W Bush sebagai iblis . Lantaran wataknya, tak heran jika Chavez disapa comandante atau sang komandan. Kedekatan kepada Tuhan semakin terl ihat selama masa-masa sakitnya.

"Tuhan, jangan cabut nyawaku dulu," ujar Chavez pada tahun 2012. Namun, Presiden aliran sayap kiri itu menghembuskan nafas terakhir pada 5 Maret 2013. Penyanyi folk Kuba ternama Silvio Rodriguez menyampaikan kata perpisahan dalam bahasa Spanyol, "Hasta siempre (selamat tinggal) , comandante," ujarnya.

9 Fakta Unik
Mendiang Presiden Venezuela Hugo Chavez, semasa hidupnya kerap membuat pernyataan atau tindakan yang kontroversial. Tak jarang pernyataannya membuat panas telinga lawan-lawan politiknya. Nah, inilah sembilan fakta unik mendiang pemimpin yang kerap dijuluki El Commandante itu:

1. Pada Juni 2009, Presiden Chavez melarang peredaran minuman ringan Coke Zero. Dia mengklaim minuman rendah kalori itu tidak sehat, tetapi dia tidak mengelaborasi pernyataannya. "Produk itu harus ditarik dari peredaran untuk menjaga kesehatan warga Venezuela," kata Chavez kala itu.

2. Dalam acara televisi dan radio mingguannya, Alo Presidente, pada Oktober 2005, Chavez juga melarang perayaan Halloween di Venezuela. Dia menilai Halloween adalah "teror kaum imperialis" dan bagian dari tradisi Amerika "menyebar ketakutan ke negara lain, menyebar ketakutan kepada rakyat".

3. Chavez ternyata penggemar berat baseball. Saat mengunjungi AS pada Juni 1999, beberapa bulan setelah dilantik, dia berkesempatan melakukan lemparan pertama di Stadion Shea, New York, dalam laga klub baseball New York Mets. Pemimpin berhaluan sosialis ini juga membunyikan bel penutupan perdagangan di lantai bursa New York.

4. Chavez sangat tidak suka olahraga golf, yang menurutnya adalah olahraga para borjuis. Dia juga menyebut mobil golf adalah perlambang betapa malasnya para pemain golf. Para pengikut setia Chavez kemudian membatalkan dua turnamen golf di negeri itu karena menganggap pemeliharaan lapangan golf sangat besar sementara banyak warga negeri itu hidup dalam kemiskinan.

5.Pada 2005, Chavez mengunjungi South Bronx, New York. Dalam pidatonya di sebuah gereja setempat, Chavez menjanjikan minyak dengan harga murah untuk warga miskin di sana. Lewat Citgo Petroleum, anak perusahaan minyak Venezuela di Amerika, dia menyediakan minyak pemanas dengan potongan harga hingga 40 persen. Citgo juga menjanjikan bantuan 3,6 juta dollar AS selama tiga tahun untuk menciptakan lapangan kerja dan merehabilitasi kawasan itu.

6. Saat berpidato dalam Hari Air Sedunia 2011, Chavez menyatakan kehidupan Planet Mars berakhir karena salah kapitalisme.

7. Meski Chavez bukan fans kapitalisme, tetapi dia adalah pengguna Twitter yang sangat aktif. Hingga wafatnya, Chavez memiliki empat juta followers. Dia bahkan menghadiahi sebuah apartemen baru untuk follower-nya yang ke-tiga juta.

8. Chavez adalah pengagum pemimpin Kuba, Fidel Castro. Dia bahkan bergabung dalam sebuah kuartet untuk menyanyikan lagu "Happy Birthday" merayakan ulang tahun ke-75 Castro pada 2001.

9. Meski garang di dunia politik, Chavez ternyata memiliki sisi artistik juga. Pada Desember 2011, dia memberi Presiden Argentina Cristina Fernandez de Krichner sebuah lukisan dirinya bersama Nestor Kirchner, almarhum suami sang presiden. Ternyata lukisan itu adalah hasil karya Chavez. "Banyak orang tak percaya bahwa saya yang membuat lukisan itu," kata Chavez. (*)

Sumber: Kompas.Com

 
 

Chavez Pernah Menyebut George Bush Bau Belerang

Hugo Chavez  (AFP)
Selama hidupnya Hugo  Chavez sangat dicintai tapi juga sangat dibenci karena kepemimpinannya.

MUNCUL reaksi beragam terhadap meninggalnya Presiden Venezuela Hugo Chavez dari para pemimpin dunia. Sebagian menyatakan berita duka ini sebagai musibah, sementara lainnya menganggapnya sebagai pintu masuk agar negara itu meninggalkan bayang-bayang pemerintahan sosialis Chavez.

Sosok Chavez dipandang oleh sebagian pengagumnya sebagai pemimpin heroik dan tegas memilih berseteru dengan AS serta menasionalisasikan perusahaan minyak, sementara sebagian lain menganggapnya sebagai diktator.

Dari Bolivia, negara yang juga berhaluan kiri, Presiden Evo Morales, yang menjadi salah satu sekutu terdekat Chavez, menyatakan bahwa ''Chavez justru lebih hidup dari sebelumnya''.
Morales yang berurai air mata juga mengatakan, ''Chavez akan terus menjadi inspirasi bagi siapa pun yang berjuang menuju kebebasan.''

Di Nikaragua dan Argentina, keduanya sekutu Chavez di Benua Amerika, para pemimpin kedua negara juga menyatakan dukacita dan rasa kehilangan mereka.

Sementara di Kuba, negara yang selama ini menjadi tempat merawat sakit kanker Chavez dan juga menerima bantuan bernilai jutaan dollar dari penghasilan minyak Venezuela, kepergian Chavez menimbulkan kekhawatiran akan terjadi dampak negatif di negeri pulau itu.

'Pukulan yang sangat berat... Sekarang saya bertanya-tanya, bagaimana nasib kami selanjutnya?'' kata Maite Sierra, seorang warga Havana berumur 72 tahun, seperti ditulis kantor berita Associated Press.

Dari Amerika Serikat, pernyataan dukacita Presiden Barack Obama dari gedung ditulis dalam dalam dua kalimat yang tak secara jelas menyebut perseteruan antar-dua pihak selama bertahun-tahun Chavez memerintah Venezuela.

"Amerika Serikat memperkuat dukungannya kepada rakyat Vezeluela," demikian bunyi pernyataan itu. Presiden Obama juga menyebut kematian Chavez menjadi saat yang sulit bagi Venezuela, tetapi juga menjadi momentum untuk sebuah "bab baru dalam sejarahnya untuk menegakkan prinsip demokrasi, hak asasi, dan aturan hukum".

Di jalanan di komunitas Venezuela di negara bagian Florida, AS, berita kepergian Chavez disambut dengan lambaian bendera dan sorak-sorai. "Dia pergi!" kata sekumpulan orang yang mengaku gembira dengan meninggalnya pemimpin Venezuela itu setelah hampir satu setengah dekade Chavez menggenggam kekuasaan yang dipandang nyaris mutlak di negerinya.

"Kami bukannya gembira karena dia meninggal," kata Ana San Jorge, 37, warga setempat. Di tengah kerumunan warga yang berkumpul di pinggir kota Miami di Doral, Jorge menyebut, "Kami gembira merayakan terbukanya pintu baru harapan untuk perubahan."

Bintang film Hollywood yang juga dikenal karena aksi kemanusiaannya, Sean Penn, menyatakan berdoa untuk Chavez setelah mendengar berita kematiannya. Menurut Penn banyak kebaikan pria yang sempat mengidap kanker itu yang tak tersiar di AS.

Anak Seorang Guru
Hugo Chavez lahir di Barinas, wilayah datar di Venezuela barat daya, pada tanggal 28 Juli 1954. Ia merupakan anak ketiga dari tujuh anak pasangan guru.

Di masa kanak-kanak, Chavez menjadi putra altar yang sangat menyukai bisbol. Kesukaan pada olahraga itu bahkan dipakai untuk meyakinkan rakyat bahwa Chavez baik-baik saja saat kondisi kesehatan pimpinan mereka menurun drastis. Televisi pemerintah berulang kali menayangkan permainan Chavez menangkap bola dengan menteri luar negerinya.

Menginjak dewasa, Chavez masuk Akademi Militer Venezuela, dan mencapai pangkat letnan pada tahun 1975. Ia bergabung dengan kesatuan lintas udara dan pangkatnya naik hingga menjadi letnan kolonel.

Langkah pertama politiknya terbuka saat Chavez mendirikan Gerakan Revolusioner Bolivarian, atau MBR-200, pada tahun 1982. Satu dekade kemudian, pada tanggal 4 Februari 1992, ia memimpin pemberontakan militer yang gagal terhadap Presiden Carlos Andres Perez. Tahun itu pula ia tampil pertama di depan publik lewat kamera televisi.

"Saudara-saudara sebangsa, sayang untuk saat ini tujuan kita tidak tercapai di ibu kota," katanya. "Kita di Caracas tidak berhasil merebut kekuasaan. Sekarang saatnya untuk menghindari pertumpahan darah lebih lanjut. Sekarang adalah waktu untuk merenungkan situasi baru yang akan datang," ujarnya waktu itu.

Chavez mendekam dua tahun di penjara sebelum Presiden Rafael Caldera memberinya amnesti.

Keluar dari penjara, Chavez membentuk sebuah partai politik baru, Gerakan Republik Kelima, yang membawanya pada kemenangan pemilihan presiden pada tahun 1998. Dalam kampanyenya yang berapi-api, ia menyalahkan partai-partai tradisional yang terlibat korupsi dan memunculkan kemiskinan.

Chavez menikah dan bercerai dua kali. Dia memiliki tiga anak dari istri pertamanya, Nancy Colmenarez, yakni Rosa Virginia, Maria Gabriela, dan Hugo Rafael.

Bertahun-tahun setelah bercerai dari istri pertama, ia menikahi Marisabel Rodriguez, dan memiliki seorang putri, Rosa Ines. Dia bercerai pada tahun 2003, dan Venezuela tidak memiliki ibu negara sejak saat itu.

Setelah memangku jabatan, Chavez memerintahkan menulis ulang konstitusi. Sebuah referendum pada Juli 2000 menegaskan berlakunya konstitusi baru, yang dicetak sebagai buku biru kecil oleh pemerintah dan digunakan Chavez sebagai dasar selama pidato-pidatonya.

Pada tahun-tahun berikutnya, Chavez yang karismatik kerap membanggakan lewat serangkaian kemenangan elektoral yang membuatnya nyaris tak terkalahkan.

Ia memenangkan pemilihan ulang pada tahun 2000, lolos pada pemilihan recall tahun 2004, dan memenangkan lagi masa jabatan enam tahun pada tahun 2006.

Chavez menjamin kemenangannya kembali pada bulan Oktober lalu, dan menggambarkan kemenangannya sebagai "pertempuran yang sempurna, dan benar-benar demokratis." Dia bahkan bersumpah untuk "menjadi presiden yang lebih baik setiap hari."

Tidak selamanya karier politik Chavez berjalan mulus. Pada bulan April 2002, terjadi kudeta singkat melawan Chavez. Namun, pemerintah sementara tidak bisa mengonsolidasikan kekuasaan, dan dalam waktu 48 jam, dengan bantuan militer, Chavez kembali berkuasa.

Walau berumur pendek, kudeta itu memiliki efek mendalam pada Chavez, yang memilih menjadi lebih otoriter sesudahnya.

Human Rights Watch menulis pada 2010 bahwa kudeta itu dijadikan dalih oleh Chavez untuk kebijakan yang melemahkan hak asasi manusia. "Diskriminasi atas dasar politik telah menjadi ciri dari Presiden Chavez," tulis laporan itu.

"Kadang-kadang, Presiden sendiri secara terbuka mendukung tindakan diskriminasi. Ia juga mendorong bawahannya untuk terlibat dalam diskriminasi dengan mengecam para kritikus sebagai anti-demokrasi dan konspirator kudeta, terlepas apakah mereka terkait kudeta tahun 2002 atau tidak," kata laporan itu.

Hambatan lain dihadapi Chavez setelah kudeta itu. Dari Desember 2002 sampai Februari 2003, terjadi pemogokan umum untuk menekan Presiden. Ekonomi terpukul, tapi Chavez membubarkan aksi tersebut.

Berikutnya, pada tahun 2004, oposisi mengumpulkan cukup tanda tangan untuk mengadakan referendum untuk me-recall Chavez. Namun sekali lagi, Presiden selamat.

Kebencian Chavez terhadap Amerika Serikat juga meningkat pada periode setelah kudeta singkat itu karena ia yakin Washington berada di balik semua itu.

Dalam salah satu penghinaan yang paling berkesan, Chavez menyebut Presiden AS George Bush sebagai iblis di hadapan Majelis Umum PBB pada tahun 2006. "Iblis datang ke sini kemarin. Bau belerangnya masih tercium hari ini," katanya.

Pada tahun 2007, Chavez kalah untuk kali pertama, dalam sebuah referendum mencari persetujuan reformasi konstitusional yang menyoroti kebijakan sosialisnya. Meskipun demikian, berkat Majelis Nasional yang berpihak kepadanya, Chavez mendapatkan beberapa tujuannya, termasuk bisa ikut pemilihan ulang secara tidak terbatas.

Pada tahun yang sama, Chavez membuat partai politik baru, Partai Sosialis Bersatu Venezuela, yang merupakan gabungan partainya dengan partai-partai kiri lainnya.

Lawan politiknya menuduh Chavez sebagai otoriter, populis, dan bahkan diktator karena telah mendorong reformasi konstitusi memungkinkan pemilihan ulang-tak terbatas.

Bersamaan dengan itu, Chavez makin sering menggunakan undang-undang untuk menekan lembaga penyiaran dan media yang anti kepadanya.

Di dunia internasional, Chavez juga dikenal lewat pernyataannya yang berani meski kadang-kadang aneh, bahkan lucu. Tahun lalu, misalnya, setelah beberapa pemimpin Amerika Latin didiagnosis menderita kanker, termasuk dirinya, ia menuduh Amerika Serikat berada di balik penyakitnya itu.

"Apakah aneh jika (Amerika Serikat) mengembangkan teknologi untuk menginduksi kanker, dan tak seorang pun mengetahuinya?" ujarnya.

Saat krisis kekurangan air melanda Venezuela tahun 2009, ia mendorong rakyat Venezuela agar mandi selama tiga menit saja.

Di samping kebenciannya terhadap AS, Chavez adalah orang yang meyakini bahwa "Konsensus Washington," model reformasi ekonomi dari Amerika Serikat untuk negara-negara berkembang, sudah berakhir.

Bersama dengan Kuba, Ekuador, Bolivia, Nikaragua, dan beberapa negara Karibia, Chavez membentuk Aliansi Bolivarian untuk Rakyat Amerika Kita (ALBA). Kelompok itu dimaksudkan untuk menandingi pengaruh AS di wilayah tersebut.

Sebagai presiden, Chavez memiliki ambisi yang jelas menjadi pemimpin regional dan internasional. Kini setelah ia meninggal, orang bertanya-tanya akan seperti apa Amerika Latin kelak. Tanpa Chavez dan segala sepak terjangnya, dunia pasti menjadi tempat yang berbeda.

Mewariskan Jati Diri Banga
Selama 13 tahun Chavez berkuasa, pers dunia cenderung melihat sisi ekstremnya, yakni sisi revolusionernya. Chavez menasionalisasi korporasi swasta, meredam oposisi, membungkam lawan dan musuh-musuhnya.

Akan tetapi, Chavez bukan seorang Presiden seperti almarhum mantan Presiden Filipina Ferdinand Marcos. Chavez tidak terdengar memperkaya diri melebihi batasan yang wajar. Dia juga bukan Husni Mubarak versi Mesir.

Ada sisi positif Chavez, yang menginspirasi banyak pemimpin lain di kawasan Amerika Latin, seperti Presiden Bolivia Ivo Morales dan Presiden Argentina Cristina Hernandez. Ada banyak lagi para pemimpin lain di kawasan yang mengagumi Chavez.

Adalah Fidel Castro, pemimpin Kuba, yang sejak lama telah menginspirasi Chavez. Ini terkait soal kemandirian dan jati diri bangsa,soal keinginan untuk terbebas dari penekanan para kapitalis yang berbasis di Washington dan New York, serta Eropa.

Adalah Chavez yang mengkristalkan inspirasi itu. Selama Perang Dingin dan selama kekuasaan AS yang begitu dahsyat, para pemimpin Amerika Latin ini selalu mendapat cap sebagai sosialis ekstremis. Kini Amerika Latin berkembang pesat secara ekonomi. Para pemimpin kawasan ini sibuk menyita aset-aset minyak dan gas yang selama ini dikuasai AS dan Eropa.

Chavez adalah pihak yang memulai itu secara nyata. Menurut data Bank Dunia, kemiskinan di Venezuela berkurang drastis. Keinginan untuk menghidupi warganya agar terhindari dari kemiskinan dia nyatakan walau belum tercapai secara sempurna.

Dia akhirnya meninggal setelah dua tahun berjuang melawan kanker. Namun, dia telah meninggalkan warisan berupa jati diri bangsa dan sikap seorang pemimpin yang peduli pada warga yang dia pimpin.

"Inilah sisi positif yang diwariskan Chavez," kata Michael Shifter, Presiden Inter-American Dialogue, sebuah lembaga yang bermarkas di Washington, seperti dikutip CNN, Selasa (5/3/2013).

Hal serupa dikatakan pengamat lain. "Chavez telah memberi identitas jelas dan rasa harga diri kepada orang-orang yang selama ini terabaikan," kata Jennifer McCoy, Direktur Americas Program at the Carter Center, di Atlanta, AS.

Tonggak Penting

Berikut ini adalah sejumlah peristiwa penting dalam kehidupan Hugo Chavez, yang memerintah Venezuela dari tahun 1999-2013. Chavez (58 tahun) meninggal Selasa (5/3/2013) pada pukul 16.25 waktu setempat(atau Rabu 6 Maret 2013 sekitar pukur 04.00 Wita di sebuah rumah sakit militer di Caracas.

28 Juli 1954: Lahir di Sabaneta di negara Barinas, Venezuela, sebagai salah satu dari enam anak pasangan Hugo de los Reyes Chavez dan Elena Friaz.

1975: Lulus dari Akademi Militer Venezuela sebagai letnan dua dan dengan gelar di bidang seni dan ilmu militer, dengan spesialisasi di bidang komunikasi.

1982: Membentuk kelompok subversif Bolivarian Army 200 (EB-200) bersama sejumlah perwira militer lainnya selagi bertugas di tentara nasional.

1989: Langkah penghematan Presiden Carlos Andres Perez memicu kerusuhan. Dalam kerusuhan itu, tentara membunuh ratusan demonstran. Kerusuhan itu dikenal sebagai "Caracazo," titik awal bagi gerakan politik Chavez.

1989: EB-200 menjadi MBR-200, sebuah kelompok militer-sipil yang kemudian memimpin sebuah kudeta yang gagal pada Februari 1992.

1990: Meraih pangkat letnan kolonel. Meraih gelar master dalam ilmu politik dari Universitas Simon Bolivar.

Februari 1992: Memimpin kudeta militer terhadap Presiden Carlos Andres Perez. Kudeta itu gagal dan dia dipenjara selama dua tahun.

November 1992: Sebuah upaya kudeta militer yang lain dan kembali gagal. Chavez memainkan peran walau dia berada di penjara.

1994: Setelah dua tahun penjara, Presiden Rafael Caldera memerintahkan pembebasan Chavez.

6 Desember 1998: Memenangkan pemilihan presiden lawan mantan Miss Universe dengan perolehan suara 56 persen.

15 Desember 1999: Venezuela menyetujui konstitusi baru yang diusulkan gerakan Chavez.

30 Juli 2000: Memenangkan pemilihan presiden kedua dengan suara 60 persen.

11-13 April, 2002: Digulingkan dari kekuasaan oleh kudeta militer selama dua hari. Dia kembali ke kekuasaan setelah ada kecaman internasional dan pendukungnya menuntut dia kembali. Ia meminta maaf atas kesalahan dan menawarkan untuk membuka dialog dengan oposisi. Ia menyalahkan AS karena mendukung kudeta.

Desember 2002: Oposisi memulai pemogokan umum selama dua bulan untuk menuntut Chavez turun. Aksi mogok itu melumpuhkan produksi minyak negara itu. Lebih dari 18.000 pekerja sektor perminyakan negara itu diberhentikan.

2003: Meng-install kontrol mata uang dan kontrol harga barang kebutuhan pokok.

Agustus 2004: Memenangkan referendum yang dikehendaki oposisi.

2004: Memulai Alba, sebuah aliansi politik negara-negara Amerika Latin, dengan Venezuela dan Kuba sebagai anggota pertama.

2006: Berbicara di Majelis Umum PBB. Ia menyebut Presiden AS George W Bush "setan".

3 Desember 2006: Memenangkan pemilihan presiden untuk periode enam tahun kedua dengan suara 63 persen.

2007: Nasionalisasi CA Nacional Telefonos de Venezuela, perusahaan telepon terbesar negara itu, dan CA Electridad de Caracas, perusahaan listrik terbesar di Venezuela.

10 Januari 2007: Disumpah lagi sebagai presiden. Saat itu, ia menyatakan di parlemen bahwa ia akan memimpin Venezuela menuju sosialisme abad ke-21 dan mengucapkan kalimat, "Sosialisme atau mati".

Mei 2007: Mencabut izin penyiaran jaringan televisi oposisi RCTV. Tindakannya itu memprovokasi protes jalanan oposisi.

2 Desember 2007: Kalah dalam referendum amandemen konstitusi yang akan menghilangkan batasan masa jabatan.

17 Februari 2009: Memenangi referendum untuk mengamandemen konstitusi, yaitu menghilangkan batasan masa jabatan untuk semua pejabat publik.

Mei 2011: cedera lutut di sela-sela tur regional.

Juni 2011: Terungkap dari Kuba bahwa ia sedang dirawat karena kanker setelah para dokter menemukan tumor ganas di daerah pinggulnya pada awal bulan itu.

Juli 2011: Memulai putaran pertama kemoterapi untuk mengobati kanker.

Februari 2012: Menjalani operasi ketiga untuk kanker setelah tumor kedua ditemukan.

Maret 2012: Mengumumkan bahwa dokter mengeluarkan tumor kanker lain dari daerah pinggulnya. Dikatakan bahwa penyakit itu belum menyebar.

Maret 2012: Menerima sesi pertama terapi radiasi.

Juli 2012: Mengatakan dia "benar-benar bebas" dari kanker saat kampanye presiden dimulai.

7 Oktober 2012: Memenangi periode enam tahun ketiga dengan perolehan suara 55 persen melawan mantan Gubernur Henrique Capriles Radonski.

11 Oktober 2012: Menunjuk Menteri Luar Negeri Nicolas Maduro sebagai wakil presiden.

8 Desember 2012: Kembali dari Kuba dan mengatakan kanker kembali muncul.

10 Desember 2012: Chavez terbang kembali ke Kuba untuk perawatan lebih lanjut. Ini terakhir kali ia terlihat di depan umum.

11 Desember 2012: Chavez menjalani operasi enam jam. Maduro mengatakan, operasi itu "kompleks", dilaksanakan seperti yang direncanakan dan sukses.

29 Desember 2012: Maduro terbang ke Kuba untuk mengunjungi Chavez. Hari berikutnya ia mengatakan Presiden menderita "komplikasi baru" sebagai hasil infeksi pernapasan, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

10 Januari 2013: Chavez tidak dapat kembali ke Caracas untuk mengikuti upacara pelantikan guna memulai periode enam tahun ketiganya sebagai presiden. Sehari sebelumnya, Mahkamah Agung mengatakan upacara itu hanya formalitas dan bahwa Chavez tetap kepala negara.

15 Februari 2013: Pemerintah Venezuela menerbitkan foto-foto Chavez bersandar di ranjang rumah sakit Havana bersama putri-putrinya, membaca koran Kuba, Granma. Presiden bernapas melalui tabung trakea. Demikian kata pemerintah.

18 Februari 2013: Chavez kembali ke Caracas setelah lebih dari dua bulan di Kuba. Ia langsung dibawa ke rumah sakit militer. Kedatangannya tidak disiarkan.

5 Maret 2013: Chavez meninggal pada pukul 16.25 waktu setempat.

Sumber: Kompas.Com
 

Impian Soekarno dan Jawaharlal Nehru

Bung Karno dan Nehru
TAHUN 2006, bandar udara di New Delhi tidak lebih indah dari Bandara Soekarno-Hatta. Namun, kini bandara itu berubah modern dan melayani 32,1 juta penumpang per tahun. Ini adalah salah satu simbol pesat kemajuan ekonomi India serta menjadi tempat transit para penumpang untuk urusan turisme, bisnis, konsultasi, dan semacamnya.

Goldman Sachs menyimpulkan India akan menjadi kekuatan ekonomi besar berkat reformasi ekonomi sejak 1991. Liberalisasi ekonomi, walau berjalan lambat karena terpengaruh paham sosial mazhab Fabian Inggris, berhasil mendongkrak kemajuan perekonomian.

Sebanyak 1,2 miliar jiwa penduduk India akan menjadi sumber tambang emas. Duta Besar India untuk RI Gurjit Singh yakin soal itu. Miliaran jiwa penduduk membutuhkan minyak sawit dan batubara, yang kini menjadi andalan utama ekspor Indonesia ke India.

Bung Karno dan Nehru
Banyak kebutuhan lain yang bisa menjadi kesempatan bisnis bagi Indonesia di India. ”Jangan hanya lihat saat ini. Di masa depan, potensi India itu sangat besar,” kata Dubes RI untuk India Rizali Wilmar Indrakesuma.

Pertanyaanya, bagaimana agar kedua negara semakin dekat soal bisnis. Masih kecil potensi yang termanfaatkan. Nilai perdagangan bilateral RI-India baru 20 miliar dollar AS dengan India mengalami defisit 10 miliar dollar AS. ”Nilai perdagangan ini segera ditingkatkan menjadi 25 miliar dollar AS untuk tahun 2014,” kata Singh seraya menambahkan, India berharap hubungan yang berimbang.

Untuk meningkatkan interaksi bisnis dan investasi, India akan melanjutkan program rutin mendatangkan pebisnis India ke Indonesia dan sebaliknya.

”Saya siap menjadi fasilitator pengusaha kedua negara yang ingin memperdalam hubungan ekonomi,” kata Rizali.

Dari sisi pemerintahan, kedua negara tergolong dekat. Hubungan saling mendikte dan menekan hampir tidak terjadi di antara kedua negara. Di India, figur Soekarno dan kedekatannya dengan almarhum Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru masih dikenang kuat.

”Kini impian hubungan selatan-selatan, menggantikan dominasi utara atas selatan yang sempat terabaikan, semakin terbuka,” kata Singh.

Bung Karno, Nehru dan M Hatta
Soekarno-Nehru termasuk penggagas ide kekompakan Asia-Afrika, kekuatan selatan-selatan. Hubungan itu agak terganggu karena Perang Dingin dan kiblat India ke sosialis, sementara Indonesia kelak mengacu ke Barat.

Namun, India sudah 20 tahun mencanangkan ”look east policy”. Pemerintah India secara rutin menjalankan program Dialog Delhi setiap tahun, ajang untuk mendekatkan India-ASEAN, sebagaimana dinyatakan Menteri Luar Negeri India Salman Khurshid.

Semoga langkah ini memudahkan pembinaan hubungan dan membuat regulator Indonesia semakin mudah menerima pebisnis India serta sebaliknya. Korporasi farmasi India gagal meraih kesempatan bisnis di Indonesia karena regulasi ketat walau perusahaan farmasi India menawarkan obat yang jauh lebih murah.

Apa arti dan kesempatan peningkatan hubungan itu bagi rakyat kedua negara di luar kepentingan bisnis? Semakin banyak warga India berkunjung ke Indonesia, sekitar 150.000 orang per tahun, terutama ke Bali.

Banyak universitas di India yang berkualitas dan menjadi alternatif sekolah bagi pelajar Indonesia, yang selama ini cenderung memilih Eropa, Amerika Serikat, dan Australia. ”Kita mulai memberi beasiswa bagi pemuda dan akan meningkatkannya,” kata Singh.
Bung Karno

Para dosen dan universitas di India sangat antusias membuka jaringan di Indonesia meski belum mulus.

Keseriusan pemerintah kedua negara dan kontak intensif warga tampaknya diperlukan untuk mewujukan potensi yang nyata.

”Negara dan rakyat Anda terkait hubungan darah dan budaya di awal sejarah. Kata ’India’ pastilah bagian dari kehidupan kami karena tiga huruf awalnya juga menjadi nama yang kami pilih untuk bumi pertiwi dan ras kami,” demikian tulisan Soekarno kepada Nehru, 17 Agustus 1946, yang dikutip kembali di situs The Hindu Times edisi 25 Januari 2011 oleh mantan Dubes India untuk Indonesia Navrekha Sharma.

Tampaknya impian Soekarno-Nehru seperti kembali hidup. (Simon Saragih)

Sumber: Kompas.Com

Apa Warisan Paus Benediktus XVI?

Ratusan ribu peziarah membanjiri Lapangan Basilika St Petrus 27 Februari 2013  (AFP)
Pengunduran diri Paus Benediktus XVI, yang segera dijuluki Paus Emeritus, memunculkan pertanyaan. Apa yang telah dia tanamkan dan tinggalkan setelah bertakhta sejak 2005? Salah satu yang menjadi warna utama Benediktus XVI adalah kehebatannya dalam ilmu teologi dan sikapnya yang sangat konservatif.

Hal lain yang menjadi warna utama Paus ini adalah keberadaan Gereja sebagai pagar moral walau ada ekses-ekses negatif oleh sebagian pengikutnya. Benediktus sangat keras mempertahankan lembaga perkawinan oleh pria dan wanita serta menolak tuntutan ”perkawinan eksentrik”.

Dia menekankan Gereja agar tetap di akar utama sebagai acuan moral. Namun, Benediktus bukan tidak suka dengan hal-hal baru dan temuan-temuan baru. Dalam pidatonya pada Rabu di Lapangan Basilika Santo Petrus, dia menekankan kecintaan pada hal-hal yang membumi sekaligus pada pemikiran-pemikiran baru. Dia menekankan bahwa dia juga mendengar dan memahami masalah yang terjadi.

Dalam kekuasaan sejak 2005, Benediktus dikenal hati-hati dan konservatif. Pernah sempat ada kehebohan yang memercikkan kontroversi antar-umat beragama, tetapi Benediktus menegaskan bahwa dia sebenarnya hanya bertujuan untuk menabuh pemikiran.

Teologi pembebasan


Dari sekian banyak pandangan para pakar tentang Paus Benediktus, ada satu warisan yang menjadi warna khas pribadinya. Hal ini terkait dengan kawasan Amerika Latin, penghuni 46 persen umat Katolik sedunia.

Di kawasan ini, teologi konservatif berhasil bertahan dalam arus deras teologi pembebasan yang sempat marak. Teologi pembebasan ini awalnya berkembang sebagai akibat dari Konsili Vatikan II tahun 1965. Konsili ini melahirkan relaksasi peraturan Gereja, salah satunya soal aturan liturgi yang selama ratusan tahun memaksakan penggunaan bahasa Latin.

Seusai konsili ini, beberapa pastor dan teolog di Amerika Latin menginterpretasikan konsili itu serta menerjemahkannya ke dalam teologi pembebasan. Salah satu misi teologi pembebasan ini adalah penekanan keadilan dan tindakan langsung terkait pembelaan terhadap kaum papa.

Leonardo Boff dan Helder Camara dari Brasil, Oscar Romero dari El Salvador, dan Ernesto Cardenal dari Nikaragua adalah beberapa nama yang terkenal sebagai pendukung teologi pembebasan. Tokoh lain adalah Camilo Torres Restrepo, yang melepas jubah sebagai pastor demi berjuang bersama gerilyawan Kolombia.

Selama 24 tahun (sejak 1978) hingga termasuk selama delapan tahun menjabat Paus, Benediktus berhasil menegakkan kembali keunggulan asas konservatisme atas teologi pembebasan. ”Paus adalah ahli teori di balik semua ini,” kata Luis Pasara, pakar soal Katolik dari Universidad de Salamanca, Spanyol.

Benediktus telah mengunjungi kawasan ini dua kali, ke Brasil (2007) serta Meksiko dan Kuba (2012).

Benediktus menekankan bahwa teologi pembebasan sarat bermuatan asas Marxisme. Gereja bertindak keras terhadap para pastor yang mendukung teologi ini, antara lain dengan sanksi ekskomunikasi.

Di Amerika Latin, warisan Benediktus diukur dari tindakannya lewat pengangkatan para uskup. Jeffrey Klaiber, profesor agama dari Universidad Catolica, Lima, Peru, mengatakan, para uskup yang dia angkat berkarakter amat konservatif hingga ultrakonservatif. Benediktus tergambar dari pilihannya soal para uskup.

Apakah Katolik ditinggalkan karena sikap konservatif itu? ”Tidak, doktrin tidak menyebabkan orang meninggalkan Gereja,” kata Klaiber. (AFP/MON)

Sumber: Kompas.Com

Benediktus XVI Janjikan Kesetiaan Tanpa Syarat

Paus Benediktus XVI
Paus Benediktus XVI, Kamis (28/2/2013), menjanjikan "kesetiaan tanpa syarat" kepada penerusnya kelak. Itulah sebagian kalimat perpisahannya di hadapan para kardinal di jam-jam terakhir masa pemerintahannya.

"Di antara Anda semua ada calon paus. Saya berjanji akan memberikan kesetiaan tanpa syarat kepadanya," kata Paus Benediktus XVI. Paus tampaknya berusaha meredam kekhawatiran munculnya konflik akibat situasi yang aneh karena terdapat dua paus, yaitu paus yang berkuasa dan paus yang pensiun.

Dalam pidato tanpa teksnya, Paus Benediktus XVI meminta kepada para kardinal untuk menepikan semua perbedaan saat mereka memilih penggantinya dalam sidang konklaf. Paus meminta agar para kardinal bersatu sehingga mereka bisa bekerja layaknya sebuah orkestra untuk menumbuhkan harmoni dan menepikan perbedaan.

Paus menambahkan, dia akan mendoakan semua kardinal yang akan berunding untuk memutuskan penggantinya. Keputusan Paus Benediktus XVI untuk menghabiskan sisa hidupnya di Vatikan, pemberian gelar "Paus Emeritus", dan keputusan tetap mengizinkan Benediktus XVI mengenakan jubah putih tanda kepala kepausan menimbulkan kekhawatiran dia akan menjadi bayang-bayang paus baru.

Namun, Benediktus XVI mencoba meredam kekhawatiran itu dengan mengatakan, dia akan "mundur dari dunia". Dalam sambutannya di Lapangan Basilika St Petrus, Paus Benediktus XVI memilih bentuk pelayanan lain untuk gereja, yaitu lewat doa.

Sebelum pukul 17.00 waktu Roma hari Kamis 28 Februari 2013 atau tepat tengah malam WITA, Paus Benediktus akan meninggalkan istana kepausan. Selanjutnya dia akan menuju helipad di bukit Vatikan dan terbang ke istana peristirahatan paus di Castel Gandolfo, sebelah selatan kota Roma.

Tepat pukul 20.00, Benediktus XVI secara resmi akan melepaskan jabatannya sebagai paus dan menjadi paus pertama dalam 600 tahun yang mengundurkan diri. Lalu, pintu istana akan ditutup, pasukan Garda Swiss akan diliburkan dan tugas mereka untuk menjaga pemimpin gereja Katolik dunia untuk sementara berakhir. (*)

Sumber: Kompas.Com

Kami Akan Merindukanmu

Paus Benediktus XVI (afp photo)
"Terima Kasih Bapa Suci. Kami akan merindukanmu." Kata-kata tersebut tertulis dalam salah satu spanduk yang dikibar-kibarkan umat Katolik asal Jerman yang bergabung dengan ribuan orang di Lapangan Basilika St Petrus Vatikan, Rabu (27/2/2013).

Sekitar 150 ribu peziarah dari seluruh dunia  membanjiri Lapangan St. Petrus Vatikan untuk melihat Paus Benediktus XVI dalam audiensi umumnya yang terakhir. Paus kelahiran Jerman itu pun menyampaikan pidato perpisahannya yang mengharukan sebelum dirinya resmi mundur dari Takhta St Petrus pada hari Kamis  28 Februari 2013 pukul 19.00 waktu Roma.

Puluhan ribu orang dari berbagai negara menghadiri audiensi terakhir dengan Paus tersebut dan mereka sudah berdatangan beberapa jam sebelum acara dimulai. Mereka membawa berbagai spanduk dan gambar Paus Benediktus serta meneriakkan kata  "terima kasih" ketika paus berkeliling dengan mobil saat menuju altar.  Sebagian dari mereka mengikuti misa melalui TV layar lebar yang dipasang di berbagai tempat di sekitar Basilika St Petrus.

Seorang umat perempuan yang berusia 53 tahun, Jan Marie, mengatakan suasananya amat emosional. ''Kami datang untuk mendukung keputusan Paus," tuturnya kepada kantor berita Associated Press.

"Terima kasih atas kehadiran kalian. Aku melihat Gereja yang hidup! Kita bersyukur kepada Tuhan atas hari yang cerah di musim dingin ini. Bahtera Gereja bukanlah milikku, tetapi milik Allah. Kita yakin Tuhan tidak akan meninggalkan Gereja tenggelam," kata Paus Benediktus XVI dalam kotbahnya.

Para peziarah tampak mengibarkan bendera dari berbagai bangsa termasuk Indonesia, banyak  pula poster dari berbagai Komunitas awam Katolik Gerejawi, seperti Comunione e Liberazione, Movimento Focolare, Rinnovamento dello Spirito Santo, Azione Cattolica. 

Paus Benediktus selama 10 menit mengelilingi berbagai ruas jalan di lapangan Santo Petrus dengan mobil, disambut oleh umat yang dengan berbagai rasa haru, sedih, gembira, bahagia, bersorak-sorai melambaikan tangan untuk terakhir kalinya bagi Paus Benediktus tercinta. Di dalam perjalanan,  Paus Benediktus menyalami dan memberkati umat, termasuk beberapa anak kecil dan bayi yang diangkat oleh Mgr. Georg, Sekretaris pribadi Paus ke dalam mobil Paus.

Di depan para ratusan ribu  orang yang datang dari berbagai belahan dunia, Paus Benediktus XVI  mengatakan dirinya mengundurkan diri demi kebaikan Gereja Katolik, bukan dirinya sendiri. Paus juga mengatakan dirinya akan terus berdoa untuk gereja. "Saya akan terus menyertai Gereja dengan doa-doa saya," kata pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma itu. "Tuhan membimbing gereja-Nya, bahkan di masa-masa sulit," imbuhnya seperti dilansir CBS News, Rabu (27/2).

Paus pun mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang telah membantunya selama dirinya memimpin Takhta Apostolik sejak tahun 2005. Paus mengatakan dia merasakan Tuhan selalu bersamanya setiap hari dalam kepemimpinannya dan menghadapi kegembiraan maupun masa-masa yang sulit.

"Aku mengharapkan agar setiap umat merasakan diri sebagai orang Kristiani. Setiap hari saat bangun pagi, bersyukur kepada Tuhan telah menjadikan diri kita orang Kristen. Selama menjalankan tugasku, saya tidak pernah merasa sendirian. Saya selalu merasa Tuhan selalu mendampingi, bersama dengan para kardinal dan semua orang yang banyak membantu," katanya.

Paus  menyadari keseriusan dari pengunduran dirinya namun tetap memutuskannya karena keyakinannya atas Tuhan dan Gereja. "Saya mengambil keputusan ini dengan sepenuhnya sadar akan keseriusannya namun dengan kedamaian hati. Mencintai gereja berarti cukup berani untuk mengambil keputusan yang sulit," tuturnya.

Biasanya audiensi dengan Paus dilakukan di dalam ruangan Vatikan. Namun karena peristiwa kemarin menyedot perhatian banyak orang, maka acara  berlangsung di lapangan terbuka Basilika St Petrus. Tiket yang dipesan mencapai 50.000, namun otoritas  Vatikan memperkirakan lebih dari 150 ribu orang menghadiri acara perpisahan dengan Paus Benediktus XVI ini.

Dalam keterangannya Selasa (26/2), Vatikan menyebutkan bahwa Paus Benediktus akan diberi gelar sebagai "Paus Emeritus"  dan akan menghabiskan masa pensiunnya dengan berdoa dan meditasi di Vatikan. Sebelumnya tak pernah ada Paus yang memutuskan mengundurkan diri sejak Paus Gregory XII pada tahun 1415.  Dengan mundurnya Paus Benediktus, maka para kardinal dari seluruh dunia akan mengikuti konklaf untuk memilih Paus baru. Paus baru diharapkan  terpilih satu pekan sebelum pekan  Suci dan akan memimpin misa Paskah. (bbc/ap/kps)

Sumber: Tribun Manado 28 Februari 2013 hal 1

Grazie Santo Padre

Audiensi terakhir Paus Benediktus XVI, Rabu 27 Februari 2013 (afp photo)
CUACA di kota Roma, Rabu 27 Februari 2013 waktu setempat, tak seperti biasanya. Meski dirundung musim dingin, matahari, hari ini, begitu indah. Ia bersinar cerah sejak pagi, membawa suasana hangat dan nyaman.

Ada apakah gerangan, kata Romo Markus Solo, Staf Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama (Pontifical Council for Interreligious Dialogue) di Vatikan. Rupanya, Sang Surya turut menyambut hari penting di dalam sejarah Gereja Katolik, di mana Sri Paus Benediktur XVI akan tampil dalam upacara audiensi umum untuk terakhir kalinya, setelah pengumuman pengunduran dirinya dua pekan silam.

Sejak pukul 07.00 pagi waktu Roma, ribuan peziarah sudah membanjiri Via della Conciliazione, tepatnya di ruas jalan panjang membujur dari Lapangan Santo Petrus hingga sungai Tiber. Di ruas jalan itu pula sudah dipasang beberapa layar lebar. Di situ, terdapat beberapa titik kontrol, selain dari arah Porta Santa Anna, tepi barat, dan Porta Sant'Angelo dari tepi arah timur Vatikan. Ribuan polisi dan aparat keamanan pun siaga sekeliling Vatikan.

Para peziarah berjuang masuk ke Lapangan Santo Petrus dan mengambil tempat paling depan, supaya bisa melihat Sri Paus dari dekat, dan mengucapkan kata-kata pisah yang bisa didengar oleh Bapa Suci sendiri.

Dari saat ke saat Lapangan Santo Petrus seperti digenangi lautan manusia. Mereka melambai-lambaikan berbagai bentuk dan ragam spanduk dengan tulisan bermacam-macam. Seperti 'Grazie Santo Padre' (Terima kasih Bapa Suci), atau 'Arrivederci' (Sampai jumpa lagi), atau 'Perga per noi' (doakan kami), dan berbagai tulisan dalam berbagai bahasa. Mereka pun tak berhenti meneriakkan yel-yel 'Benedetto', nama Sri Paus dalam bahasa Italia. Kadang pula terdengar teriakan 'Viva il Papa' dan diikuti oleh paduan suara campur yang menggetarkan suasana pagi ini.

Tepat pkl. 10.35 pagi waktu Roma, Papa Mobile meluncur pelan, masuk ke Lapangan Santo Petrus dari samping kanan Basilika. Di belakangnya duduk Sekretaris pribadi, Mons. Georg Gaenswein, yang sudah ditahbiskan Sri Paus menjadi Uskup Agung pada 6 Januari lalu, dan merangkap Kepala Rumah Tangga (Prefettura) Sri Paus.

Ketika melihat Papa Mobile, massa semakin kuat dan ramai meneriakkan yel-yel, seraya bertepuk tangan meriah. Setelah melewati beberapa blok untuk menyalami massa dan disaluti oleh Musik Militer dari wilayah kelahirannya, Bavaria, Jerman, beliau naik ke Singgahsana. Di tempat itu, sudah menyambut sebuah Kursi putih yang sudah akrab dengannya sejak 8 tahun ini. Seperti biasa, sebelum duduk, beliau merentangkan kedua tangan ke arah para hadirin, seolah-olah ingin merangkul mereka satu persatu. Di saat itu keharuan mulai terasa.

Setelah rangkaian salam dan pembacaan dari Kitab Suci, Sri Paus mulai membacakan wejangannya yang terakhir. Hadirin hening dan mendengar dengan penuh perhatian. Sering juga hadirin menyela Sri Paus dengan tepukan tangan panjang dan yel 'Benedetto', terutama ketika beliau mengungkapkan kata-kata peneguhan dan pujian yang masuk hingga ke lubuk hati pendengar.

Dalam sambutannya, pertama-tama, Sri Paus mengucapkan terima kasih kepada Tuhan yang telah memilih dan mempercayakan tugas ini kepadanya. "Delapan tahun lalu, ketika sudah jelas bahwa diri saya terpilih menjadi Paus, pertanyaan yang dominan di dalam hati saya adalah: Tuhan, apa yang Kau inginkan dariku? Mengapa Engkau memilih saya? Saya tahu bahwa sejak itu saya memikul beban berat di bahuku."

"Delapan tahun yang lalu adalah tahun-tahun yang indah dan penuh arti. Tetapi juga masa-masa penuh tantangan, sehingga Gereja ibarat bahtera para rasul yang terombang-ambing di Danau Genesaret. Badai dan gelombang menerjang menimbulkan rasa takut dan panik, dan Tuhan tidur di buritan. Tetapi syukur, Tuhan tidak meninggalkan bahtera ini, karena bahtera ini bukan milik kita manusia atau milik saya pribadi, tetapi milik Tuhan sendiri," kata Sri Paus, yang disambut gemuruh tepuk tangan para peziarah.

Sri Paus juga mengungkapkan terima kasih kepada para pekerjanya di Tahta Suci Vatikan dan seluruh umat yang tersebar di seluruh dunia. Selama masa jabatannya, beliau betul merasakan dukungan dan kedekatan umat Katolik se-jagad, sekalipun banyak dari mereka yang belum pernah berjumpa dengannya secara langsung.

Menjelang sambutannya yang berdurasi kurang lebih 20 menit itu, beliau meneguhkan hati dan iman umat Katolik se-dunia. Katanya dalam nada getar, "Saya pergi. Itu keputusan yang saya ambil dengan sukarela. Tetapi kamu harus tetap riang gembira di dalam iman. Saya pergi bukan untuk urusan pribadi. Saya pergi untuk membaktikan diri kepada doa untuk Gereja kita yang kita cintai ini. Tuhan yang memanggil kita ke dalam satu komunitas iman, akan tetap bersama kita, memenuhi hati kita dengan harapan dan menyinari kita dengan kasihNya tanpa batas."

Usai sambutan terakhir itu, hadirin yang kian membludak hingga ujung Via della Conciliazione pun berdiri. Mereka kembali memberikan aplaus panjang. Lambaian bendera-bendera dan spanduk-spanduk kelihatan semakin tenang pertanda sedih. Sri Paus pun berdiri, melambaikan tangan kepada hadirin. Sebuah momentum kuat yang sempat menuai deraian air mata.

Upacara dilanjutkan dengan penyampaian ucapan Salam pisah dan terima kasih dari para hadirin yang diwakili melalui kelompok bahasa Inggris, Italia, Jerman, Spanyol, Portugis, Polandia dan Arab.

Di akhir audiensi, Sri Paus dan hadirin bersama-sama menyanyikan lagu Bapa Kami di dalam bahasa Latin. Lalu beliau menutup dengan berkat terakhirnya sebagai Paus.

Beliau turun tahta. Berjalan menuju Papa Mobil, mengambil tempat duduk. Papa Mobil turun perlahan dari pelataran Basilika menuju hadirin. Tahtanya, Kursi putih, tinggal kosong.

Sri Paus bergerak keluar, diiringi aplaus panjang, memanggil-manggil namanya dan seraya air mata tetap berderai. Di atas Papa Mobil beliau terus merentangkan kedua tangannya, seakan-akan ingin membawa pergi sekitar 200.000-an hadirin bersamanya.

Rangkulan lengannya tentu terlalu pendek untuk jumlah sebesar ini, apalagi untuk umat Katolik sedunia. Tetapi di dalam doa dari atas bukti Mons Vaticanus, beliau dan seluruh umat Katolik di lima benua akan tetap bersatu. Terima kasih Bapa Suci Bekediktus XVI. (*)

Penulis: P Markus Solo, SVD

Sumber: www.beritasatu.com

Hari Terakhir Paus Benediktus di Vatikan

Paus Benediktus XVI
Paus Benediktus XVI  muncul untuk terakhir kalinya dihadapan 150 ribu orang peziarah yang datang ke Lapangan St Petrus  pada Rabu (27/2/2013), sebelum mengundurkan diri.

Pada musim dingin audiensi dengan Paus biasanya dilakukan di dalam ruangan Vatikan. Tetapi karena peristiwa itu menyedot perhatian yang sangat besar, maka digelar di lapangan terbuka dan sekitar 50.000 tiket telah dipesan. Tetapi diperkirakan orang yang akan hadir mencapai 200.000 orang.

Penyelenggara mengatakan tidak akan ada ritual mencium tangan pemimpin umat Katolik itu, karena orang yang hadir dalam acara tersebut sangat banyak.

"Dia tidak ingin bersikap tidak adil terhadap satu umat  dengan yang lainnya," kata juru bicara Vatikan, Federico Lombardi kepada kantor berita AFP.

Paus yang berusia 85 tahun  tampil untuk dihadapan publik untuk terakhir kalinya Rabu (27/2/2013)   dengan menggunakan ciri khasnya "mobil paus" yang berwarna putih untuk menyapa umat yang berada di Lapangan St Petrus.

Wartawan BBC di Roma, Alan Johnston melaporkan Kamis (28/2/2013) Paus menuju kediaman musim panasnya di Kastil Gandolfo, yang berjarak 24 km dari Roma, dengan menggunakan helikopter.

Dalam keterangannya pada Selasa (26/2/2013) lalu, Vatikan menyebutkan Benedictus XVI  dikenal sebagai paus emeritus dan akan menghabiskan masa pensiunnya dengan berdoa dan meditasi.

Sebelumnya tak pernah ada Paus yang memutuskan pengunduran diri sejak Paus Gregory XII pada tahun 1415. Dengan mundurnnya Paus Benedictus, maka pemilihan untuk mencari penggantinya yang harus terpilih satu pekan sebelum minggu Suci, dan akan memimpin misa Paskah tahun 2013.

Dia juga akan dikenal dengan gelar Benedict XVI, dibandingkan dengan nama aslinya Joseph Ratzinger. Dia akan tetap menggunakan jubah putih paus tanpa hiasan mantel. Dia  menyerahkan cincin emasnya, yang dikenal sebagai cincin nelayan, dan segelnya dihancurkan dengan cara yang sama seperti seorang paus meninggal.

Proses pemilihan penggantinya akan dimulai pad 4 Maret 2013 oleh para kardinal dari berbagai negara yang akan menggelar konklaf. Pengganti paus akan dipilih oleh 115 kardinal yang berusia di bawah 80 tahun di Kapel Sistine Vatikan. Paus yang baru harus dipilih oleh dua pertiga suara mayoritas. (*)

Wartawan yang juga Blogger!

Bersama teman-teman dari berbagai negara di Nusa Dua 8 Nov 2012

Surel (surat elektronik)  Christiana Chelsia Chan dari Dewan Pers tanggal 25 Oktober 2012 sungguh mengejutkan saya.  Saya kutip kembali isi surel atau email tersebut.

Yth Pak Dion,

Apa kabar di Manado? Sehat selalu ya.

Apakah memungkinkan atas nama Dewan Pers dan partner kami mengundang Pak Dion dalam kapasitas sebagai blogger yang juga jurnalis untuk hadir dalam acara Bali Media Forum di Bali yang akan dilaksanakan tgl 7-9 November 2012. Topik kali ini terkait dengan tantangan yang dihadapi Dewan Pers atas perkembang sosial media.

Terlampir undangan dan background paper. Detail program menyusul.

Sekiranya berkenan kami menanggung biaya tiket pesawat pulang pergi Denpasar Manado kelas ekonomi dan penginapan selama acara berlangsung.

Mohon konfirmasinya segera. Terima kasih.

Salam,
Chelsia



Untuk menepis rasa penasaran, saya buru-buru membuka lampiran undangan dan background paper yang dikirim Chelsia. Di sana antara lain tertulis demikian.


Citizen Media: Giving People a Voice in Support of Democracy
Bali, November 7-9, 2012

Dear Mr Dion DB Putra
Blogger: www.dionbata.com
Manado

The Indonesian Press Council and the Thomson Foundation are pleased to invite you to the 4th Bali Media Forum: Ethical Journalism and Citizen Media: Giving People a Voice in Support of Democracy to be held in Bali, Indonesia on November 7-9, 2012.


The meeting will build on the conclusions of the three previous Bali Media Forums and will reaffirm the principles adopted by these meetings as well as agreeing a strategy on how pres councils, editors and journalists can meet the challenge of journalists' ethics in a global multi-platform media environment. You can find information about the previous events at: http://gfmd.info/index.php/regions/bali_media_forum_2011/.

The conference will also prepare an intervention for the Bali Democracy Forum on the importance of self-regulatory bodies as instruments for helping media and journalists to contribute to increased democratic participation.

Several high-level speakers including the Mr Espen Barth Eide, Foreign Minister of Norway as well as editors-in chief and presidents of press councils from Indonesia, Pakistan, India and Thailand, will address the event.

We will send you the draft programme for the conference in the coming days. As we have little time to organise the event, please do confirm receipt of this invitation, and let us know if you can attend as soon as possible.

Thank you for taking the time to reply to us and we look forward to seeing you in Bali.

Best regards
Bettina Peters
Director of Development Thomson Foundation

Bambang Harymurti
Vice Chairman Indonesian Press Council


Surel yang sungguh  spesial buat saya. Saya diundang mengikuti seminar internasional Bali Media Forum 2012 dalam kapasitasku sebagai jurnalis yang juga blogger! Batinku sontak bergumam.. "Wah, ternyata ada institusi yang selama ini diam-diam mengamati aktivitasku berblog ria. Dan, blog kini mengantarku ke Bali untuk berdiskusi tentang citizen media." Event bergengsi. Bali Media Forum selalu digelar bersamaan dengan Bali Democracy Forum, suatu forum dialog antara para pemimpin Asia Pasifik tentang demokrasi. Rekomendasi Bali Media Forum selalu menjaid bagian dari rekomendasi Bali Democracy Forum (BDF).

Setelah mendapat izin dari pimpinanku di Harian Tribun Manado, berangkatlah saya ke Bali sebagai jurnalis yang blogger.

Sewaktu berada di Nusa Dua,  saya bertemu teman-teman wartawan dari berbagai media yang meliput BDF 2012.  Kepada rekan wartawan yang meliput Bali Democracy Forum,   termasuk dari Harian Kompas,  saya sempat bercanda, "Hai kawan, kalian datang ke sini karena penugasan dari bosmu untuk meliput. Saya hadir di sini sebagai undangan. Jadi saya naik pangkat sebagai subyek liputan kalian. Jadi sesuatu banget. Hahahahaha..."

Prolog cerita ini sengaja saya angkat untuk menjawab pertanyaanku sendiri mengapa saya terus bertahan mengisi Blog pada saat banyak orang beralih ke Facebook dan Twitter?

Ikhwal blog, saya pertama kali diperkenalkan Arif ER  Rachman, rekan wartawan Harian Tribun Kaltim di Balikpapan tahun 2005. Kala itu Arif mengolok-olok saya sebagai manusia gaptek (gagap teknologi) dari Flores  karena tidak bergaul dengan jejaring sosial. Dia pun mengajak saja bergabung di Friendster.

Lama kelamaan ternyata asyik juga, saya jadi keranjingan. Tahun 2007 saya beralih ke Blogspot. Saya pun sempat buka akun di Wordpress tetapi saya tinggalkan karena saya anggap Blogspot lebih cocok.

Agar tidak ketinggalan zaman dan dipandang kurang gaul, saya juga buka akun Facebook dan Twitter. Hemat saya, untuk kebutuhan pertemanan kita butuh FB dan Twitter. Tapi saya tidak pernah meninggalkan blog. Saya tetap mengurus blog, meski  isinya rumpu-rampe alias gado gado.

Bagi saya blog merupakan kliping online yang sewaktu-waktu sangat membantu pekerjaanku sebagai jurnalis. Di blog ini saya isi segala macam informasi yang saya anggap penting dan perlu. Jadi blog tidak melulu tulisan karya saya sendiri. Blog ini malah berisi macam-macam artikel dari berbagai sumber. Dari lalulintas mesin pencari saya tahu tidak sedikit pula yang menikmati isi blog saya ketika mereka mencari suatu topik tulisan.

Bukan rahasia lagi bila seseorang menulis di Twitter atau FB, hati kecilnya mengharapkan agar orang lain  menyukai atau minimal menanggapi status atau tulisannya. Di blog agak susah mendapatkan interaksi langsung seperti itu. Saya menduga banyak teman jurnalis yang tidak lagi up date informasi di blognya karena sudah telanjur kecanduan FB atau Twitter. Mereka lebih suka memperbarui status di FB dan berkicau ria di Twitter ketimbang menulis di akun blognya.

Bagi saya, orang akan mengomentari atau tidak, bukanlah sesuatu yang penting amat. Saya tetap berusaha mengisi blog saya dengan berbagai informasi. Saya kliping dan kliping itu pasti ada manfaatnya bukan? Dari kebiasaan mengumpulkan tulisan di blog saya sudah menghasilkan beberapa buku yang bisa Anda nikmati juga di blog ini.

Setiap kali bertemu orang-orang muda, baik pelajar maupun mahasiswa saya selalu mengkampanyekan blog. Saya mendorong mereka agar mau membuka akun blog karena blog dapat menjadi salah satu wahana bagi mereka belajar menulis tentang sesuatu. Kalau dulu di zaman saya SMA dan kuliah masih mengandalkan mading (majalah dinding), sekarang mading itu bisa dialihkan ke blog. Zaman  digital sudah tidak bisa dibendung lagi.

Lebih-lebih lagi kepada wartawan, saya selalu berkicau tentang pentingnya blog. Menurut saya wartawan tanpa blog adalah wartawan yang bloon. Hehehe... Mengapa? Banyak wartawan berbangga diri sebagai jurnalis yang memproduksi karya jurnalistik saban hari. Tapi ketika ditanya mana contoh karyamu? Biasanya dia bingung menjawab. Cuma bisa menggaruk-garuk kepala.

Mencari dokumentasi edisi cetak (print) majalah atau koran tidak mudah, meskipun sebuah institusi media memiliki lembaga litbang yang bagus. Coba kalau wartawan terbiasa kliping tulisannya di blog, niscaya dia akan mudah menunjukkan hasil karyanya. Kapan dan di mana saja (asal ada jaringan internet) dia bisa membuka alamat blog dan memperlihatkan karyanya.

Saya sadar betul ajakan itu tidak selalu berhasil. Banyak wartawan yang berprinsip panas-panas tahi ayam. Buka akun blog lalu secepat kilat melupakannya. Tak apalah. Mau jadi jurnalis yang juga blogger, monggo! Mau jadi jurnalis semata pun tak apalah.

Salam blogger!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes