Gerson Poyk Bertemu Guru Sintus di Surga

Gerson Poyk
KABAR kematian sastrawan Indonesia asal NTT, Gerson Poyk, saya dapat dari media sosial. Banyak orang membagikan tautan di Facebook perihal kepergiannya. Ucapan belasungkawa terus mengalir dari berbagai pihak.

Banyak kalangan mengungkapkan rasa kehilangan dan sekaligus kekaguman mereka terhadap Sang Guru. Orang-orang NTT patut berbangga memiliki seorang Gerson Poyk. Ia seorang sastrawan jenius, jurnalis handal, seorang guru yang rendah hati dan seorang budayawan yang humanis.

Sudah banyak sekali buku novel, prosa, cerpen, puisi dan tulisan-tulisan yang ia hasilkan di sepanjang perjalanan hidupnya. Beberapa yang saya bisa ingat: Cumbuan Sabana (1979), Sang Guru (1972), Matias Akankari (1972), Giring-Giring (1982), Petualangan Dino (Novel anak-anak, 1979), Poti Wolo (1988), Jerat (cerpen, 1978) dan masih banyak lagi buku dan kumpulan-kumpulan tulisannya. Novelnya Sang Guru, adalah salah satu dari tiga novel Indonesia yang memenangkan SEA Write Award.


Sastrawan kelahiran Pulau Rote, 16 Juni 1931 ini juga banyak menulis tentang pengalaman masa kecil yang banyak ia habiskan di beberapa tempat di Flores, Sumba dan Timor. Ayahnya, Johanes Laurens Poyk, adalah seorang mantri Belanda saat Gerson dilahirkan.

Sebagai mantri ayahnya beberapa kali pindah tugas; di Pulau Semau, di Langgaliru di Sumba dan di Bajawa, tempat ia memulai pendidikan formalnya di HIS. Gerson menamatkan sekolah dasarnya di Ruteng tahun 1945. Di kota dingin Bajawa dan Ruteng, Gerson memiliki banyak kenangan yang membekas baik. Banyak karyanya juga turut mengambil latar tempat, sosial dan budaya yang ada di Flores.

Dari Ruteng, keluarga Gerson sempat berpindah-pindah kota, ke Maumere, Ende, Soe, Kupang sebelum akhirnya ia pindah ke Surabaya dan menjadi guru di Ternate. Sewaktu di Ende, Gerson sempat masuk sekolah Protestan saat ayahnya bekerja sebagai seorang pengacara amatiran. Oleh karena himpitan ekonomi, Gerson dan ibunya, Yuliana Manu, sempat kembali ke Rote dan tinggalah ayahnya sendiri di Flores bekerja sebagai pengacara amatiran.

Beberapa waktu kemudian setelah tinggal berpindah-pindah di rumah kerabat ibunya, Gerson akhirnya bertemu dengan ayahnya lagi di Rote. Mereka kemudian pindah ke Kupang setelah ayahnya mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan Amerika di sana dan kemudian pindah lagi ke Ruteng dimana ayahnya sempat mendekam di penjara karena dituduh menggelapkan uang perusahaan seratus gulden. Situasi ini membuat ibunya harus membawa anak-anaknya ke rumah-rumah sahabat kenalan yang ada di sana demi bertahan hidup.

Sekali lagi, di Ruteng, Gerson, bisa dikatakan, menghabiskan masa-masa kecilnya yang penuh tragedi dan komik. Dan di kota inilah ia menyadari secara tidak sengaja bakat sastranya yang luar biasa. Adalah seorang guru kelas limanya yang bernama Tuan Sintus de Rodriques, seorang Larantuka yang pertama kali melihat potensi besar Gerson Poyk sebagai seorang sasrawan. Tentang pengalamannya yang tak terlupakan itu, ia mengenang,

"selain senang pada pelajaran berhitung terutama hitung-hitungan yang hanya memakai angka, tanpa kata-kata, untuk pertama kali aku mendapat `hadiah sastra'. Aku membuat sebuah esei di sebuah batu tulis. Ia membacanya. Tiba-tiba ia menyuruh kami diam dan ia membaca eseiku di depan kelas. Rasanya dialah, guru Sintus itulah yang mengantarkan aku menjadi seorang sastrawan Indonesia. Aku selalu mengingatnya sehingga berita kematiannya di Jakarta karena sakit, sangat menyedihkan aku karena aku sangat ingin sekali bertemu dengannya untuk memberitahukan bahwa aku telah menjadi seorang sastrawan di negeri ini."

Gerson benar, ia telah menjadi seorang sastrawan di negeri ini. Lebih dari yang ia sendiri bayangkan, lebih dari yang ia sendiri impikan, tulisan-tulisannya abadi. Ia telah berhasil menulis seperti ia sendiri berbicara. Bahasanya lugas, mudah dicerna dan menghibur. Dalam bukunya Nostalgia Flobamora, ia menyuguhkan secara menarik kisah-kisah masa kecilnya yang penuh canda di tengah kerasnya bertahan hidup sebagai anak Rote diaspora.

Hidup dari keluarga yang sering berpindah-pindah membuat khazanah berpikir Gerson semakin luas dan beragam. Hampir semua tulisannya berakar kuat pada kondisi sosial dan budaya Flobamora sebagaimana yang dialaminya sendiri dan terekam baik dalam ingatan masa tuanya. Ia tidak malu menceritakan kenakalan dan kekonyolan hidup masa kanak-kanaknya.Hidupnya sendiri telah menjadi sebuah cerita yang apik.

Membaca tulisan Gerson sama dengan membaca NTT dengan segala macam konteks sosial dan politiknya saat itu.Ciri khas lokalitas mantan jurnalis Sinar Harapan ini tidak berhenti dalam tulisan-tulisannya. Bahkan pada saat ia menerima Southeast Asian Write Award di Bangkok pada 1989, ia mengenakan pakaian adat Rote lengkap dengan Ti'ilangga. Sebagai seorang pemenang dari Indonesia, ia ingin menunjukkan kepada dunia kalau dia orang Rote, orang NTT. Dalam kesehariannya pun, penulis yang juga pernah mengikuti International Creative Writing Program di Universitas Iowa, USA ini juga selalu bersemangat bila bercerita tentang tanah Flobamora tercinta.

Melihat semua yang telah dibuat sastrawan low profile ini, rasa-rasanya tak mungkin ada yang bisa menggantikan kemasyhurannya. Untuk alasan ini tentu saja penghormatan dan apresiasi setinggi-tingginya patut diberikan. Gerson Poyk hanya satu dan sampai kapanpun akan selalu dikenang.Namun, semangat hidup, kraetivitas, nilai-nilai universal yang ia tularkan melalui tulisan-tulisan dan kecintaannya yang luar biasa akan tanah Flobamora harus tetap tumbuh dan berkembang di dalam hati setiap anak NTT.

Secara pribadi saya mau bertemu Gerson Poyk dan menyampaikan bahwa setelah membaca Cumbuan Sabana, Sang Guru, Matias Akankari dan Nostalgia Flobamora, saya ingin sekali bisa menulis sepertinya; spontan, menghibur, lugas tetapi berisi pesan nilai yang sangat mendalam.

Kepergiannya ke rumah Sang Khalik membawa duka mendalam bagi siapa saja yang kagum terhadapnya.Akan tetapi satu hal yang sudah pasti, Gerson Poyk pasti merasa senang; ia bisa bertemu guru Sintus di Surga dan menyampaikan bahwa anak muridnya itu adalah seorang sastrawan besar Indonesia. (Ricko W, Anggota Kahe, tinggal di Wolomarang, Maumere)

Sumber: Opini Pos Kupang 1 Maret 2017 hal 4
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes