Orang-orang Ternama


ilustrasi
Badan kesehatan dunia, WHO, mengambil keputusan tepat. Status covid-19 adalah pandemi. Pagebluk global.

Di bawah tudung pandemi tak seorang pun hari ini bebas dari ancaman wabah Corona. Virus menyebar liar tanpa mengenal batas negara, agama, ras dan suku bangsa.

Dari orang-orang tak ternama sampai pesohor kelas dunia kena virus yang belum ada obatnya tersebut.

Dua setengah bulan berlalu semakin banyak saja orang ternama terjangkit positif. Mereka harus menjalani isolasi paling lambat 14 hari.

Kabar teranyar datang dari bumi Latin Amerika, tepatnya negeri bola Brasilia.


Presiden Brasil Jair Bolsonaro positif corona berdasarkan hasil tes perdana. Hasil tes kedua mengonfirmasi sebaliknya. Presiden Bolsonaro negatif. Walau demikian bumi Brasilia sempat gempar.

"Rumah Sakit Angkatan Bersenjata dan (laboratorium diagnostik) Sabin telah mengembalikan hasil tes negatif virus corona untuk Presiden Jair Bolsonaro," demikian unggahan di Facebook Bolsonaro dikutip dari AFP.

Sebelumnya, media melaporkan Bolsonaro dites positif. Hasil tes datang setelah perjalanan sang presiden ke Amerika Serikat (AS).

Di sana Bolsonaro dan Fabio Wajngarten bertemu Presiden Donald Trump, Wapres Mike Pence dan sejumlah pejabat tinggi AS.

Fabio Wajngarten yang merupakan Direktur Komunikasi untuk Presiden Jair Bolsonaro positif Corona setelah uji medis. Fabio bertemu Presiden Trump di Florida akhir pekan lalu.

Saat itu Fabio mendampingi Bolsonaro dalam kunjungan kenegaraan. Dia positif virus Corona beberapa hari setelah kembali dari Florida.

Pesohor lain yang positif adalah Sophie Grégoire Trudeau, istri Perdana Menteri (PM) Kanada Justin Trudeau.

Dikutip dari kantor berita Reuters, Trudeau juga mengisolasi diri sendiri selama 14 hari. Meski begitu, kesehatan PM Trudeau baik dan tanpa gejala terinfeksi. Dia tetap bekerja dari rumah.

Direktur Komunikasi untuk kantor PM Kanada, Cameron Ahmad menjelaskan Grégoire diperiksa atas rekomendasi medis.

“Dia (Grégoire) merasa baik-baik saja. Mengikuti semua tindakan pencegahan yang direkomendasikan dan gejalanya ringan,” katanya melalui akun Twitter @CameronAhmad, Jumat (13/3/2020).

Ahli kesehatan merekomendasikan orang-orang yang sempat kontak dengan Grégoire segera tes covid-19.

Geger Corona menyerang orang ternama lebih dulu memanas di Teheren karena bertambah lagi jumlah pejabat tinggi Iran yang terinfeksi.

Pekan ini, Wakil Presiden senior Iran Eshaq Jahangiri dan dua menteri Iran lainnya terbukti positif Virus Corona yang kini menembus angka 10 ribu kasus di seluruh negeri Timur Tengah yang molek itu.

Seperti dilansir Associated Press, Jumat (13/3/2020), kondisi kesehatan Jahangiri dipertanyakan dan memicu spekulasi karena dia tidak terlihat dalam foto-foto rapat yang dihadiri para pejabat tinggi Iran.

Kantor berita Fars News Agency akhirnya memberikan kejelasan soal kondisi Jahangiri.

Dalam laporan Fars News Agency, Rabu (11/3/2020) waktu setempat, nama Jahangiri ada di urutan teratas daftar nama orang-orang yang dikarantina akibat virus Corona.

Tidak ada penjelasan lebih lanjut soal kronologi Jahangiri terinfeksi dan kapan tepatnya dia dinyatakan positif virus Corona.

Selama ini, tidak ada laporan resmi dari media nasional Iran soal para pejabat tinggi Iran yang sakit akibat virus Corona. Media outlet di Iran lainnya juga tidak pernah melaporkan warta semacam ini.

Pada akhir Februari lalu, Wakil Presiden Iran Urusan Wanita dan Keluarga, Mashoumeh Ebtekar dilaporkan positif Corona.

Iran memiliki 11 Wakil Presiden dalam pemerintahan. Ebtekar menyatakan dirinya sudah sembuh dari virus Corona dalam postingan Twitter, Rabu 11 Maret 2020.

Di Inggris, Menteri Kesehatan Nadine Dorries tertular virus corona dan menjalani isolasi mandiri. Dorries menuturkan ia segera mengambil segala langkah pencegahan begitu mendapatkan konfirmasi positif.

'Dilansir Sky News, Selasa (10/3/2020), Dinas Kesehatan Inggris langsung melacak kasus Dorries dan kantornya ditutup.

"Saya berterima kasih kepada Dinas Kesehatan Nasional (NHS) yang sudah memberikan nasihat dan dukungan kepada saya," tuturnya.

Politisi dari Partai Konservatif itu mengkhawatirkan ibunya yang berumur 84 tahun dan saat ini tinggal bersamanya.

Menurut Dorries, ibunya mulai mengalami batuk dan dites untuk memastikan keberadaan virus yang pertama kali mengamuk di Wuhan China tersebut.

Sekretaris Kesehatan Inggris Matt Hancock sedih atas konfirmasi positif yang diterima Dorries. Meski begitu, dia mengapresiasi langkah sang menteri yang langsung mengisolasi diri secara mandiri sebagai bentuk pencegahan.

"Saat ini, kami mendoakan kesembuhannya. Saya paham mengapa publik Inggris khawatir dengan penyakit ini. Kami akan berusaha sebisa kami untuk menyelamatkan mereka," janjinya.

Dorries mulai mengalami gejala corona pada Kamis 5 Maret 2020). Saat itu, dia menghadiri sebuah acara di Downing Street untuk memperingati Hari Perempuan Sedunia yang diprakarsai Perdana Menteri Inggris Boris Johnson

Downing Street Number 10, kediaman PM Johnson, belum merespons apakah
Johnson sudah menjalani tes virus corona atau kapan dia akan melaksanakannya.

Selain menteri kesehatan Inggris, beberapa pesohor dunia terinfeksi virus corona yaitu aktor Hollywood Tom Hanks dan istrinya, Rita Wilson.

Beberapa selebriti asal Korea Selatan yang menghadiri Milan Fashion Week seperti Park Min-Young, Han Ye Seul, Minhyun NU’EST dan Kim Chungha, sempat dikhawatirkan terinfeksi virus corona. Namun, hasil tes negatif.

Kemarin, dalam kondisi positif terinfeksi virus corona di Australia, pasangan artis Tom Hanks dan istrinya Rita Wilson membagikan kondisi mereka melalui media sosial. Tom Hanks mengunggah fotonya bersama Wilson.

Mata mereka terlihat sayu. Namun Rita Wilson tersenyum lebar sedangkan Hanks tersenyum tipis. Pasangan Hanks mengatakan mereka tetap berpikir positif di tengah pandemi ini.

"Kami berterima kasih kepada semua di Australia yang telah merawat kami dengan baik," tulis Hanks di akun Instagram-nya, @tomhanks, seperti dikutip Kompas.Com, Jumat (13/3/2020).

"Kami positif Covid-19 dan dalam isolasi sehingga kami tidak menyebarkan kepada orang lain," ujar Tom Hanks.

Peraih dua Piala Oscar sebagai aktor terbaik itu mengingatkan semua orang untuk mematuhi saran pencegahan penyebaran virus corona yang disampaikan pihak berwenang di wilayahnya masing-masing.

Ya, di tengah pandemi virus corona yang menggila, sangat disarankan agar tidak panik. Usahakan tetap tenang dan berpikir positif.

Bahan Refleksi

Begitulah sejumput kisah tentang orang-orang ternama yang terpapar Corona. Lalu bagaimana dengan mereka yang tak termasyhur, orang-orang biasa, kaum kebanyakan?

Sudah jelas Corona tidak memandang bulu. Dari 128.343 kasus aktif covid-19 dengan 4.720 kematian di lebih dari 100 negara di dunia hingga Jumat (13/3/2020), jumlah terbesar adalah orang kebanyakan.

Sebagai bahan refleksi – bukan perbandingan apple to apple – menarik artikel yang dibagikan Pater Otto Gusti, ketua Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere - Flores di akun Facebook-nya 12 Maret pukul 09.42.

Pater Otto memberi catatan pengantar untuk artikel yang dipublikasikan https://perspektive-online.net sebagai berikut.

Virus apa yang lebih berbahaya - Corona atau kapitalisme? Menurut artikel ini, 405.000 orang meninggal dunia karena malaria pada tahun 2018 dan pada tahun 2017 terdapat 1,5 juta penduduk di seluruh dunia yang menemui ajalnya karena TBC.

Tapi mengapa kedua bencana ini kalah dalam pemberitaan dibanding dengan corona? Juga anggaran riset untuk kedua penyakit ini jauh di bawah anggaran riset corona. Jawabannya: nyawa orang miskin jauh lebih murah di mata kapitalisme.

Mariya Kargar dalam artikel berjudul “Welcher Virus ist tödlicher – Corona oder Kapitalismus?” menyentil sejumlah fakta menarik. Saya kutip beberapa.

Selama berminggu-minggu sampai sekarang, media di Eropa melaporkan infeksi mematikan yang disebabkan virus Corona. Menciptakan kegemparan dan kepanikan.

Memang benar negara wajib menjaga kesehatan masyarakat dan memerangi penyakit dengan segala cara yang mereka bisa.

Tetapi mengapa virus Corona menjadi masalah besar dan negara-negara habiskan dana jutaan untuk penelitian dan perang melawannya.

Mengapa penyakit lain yang bunuh ratusan ribu orang saban tahun, seolah tak masalah dan Anda tidak membaca artikel tentang itu di koran, melihat tayangan TV dan tidak ada pertemuan darurat Organisasi Kesehatan Dunia?

Kargar melukiskannya sebagai kemunafikan dan ketidakadilan dalam sistem kesehatan dunia.

Pada tahun 2018, lebih dari 405.000 orang meninggal karena malaria dan 140.000 orang akibat campak di seluruh dunia.

Tahun 2017, sebanyak 1,5 juta orang terbunuh karena TBC. Negara miskin paling terpengaruh. Semuanya hilang. diagnostik, logistik, pembiayaan dan obat-obatan.

Alasannya adalah karena uang tidak mencukupi digunakan untuk kesehatan semua orang di dunia.

Mengapa jutaan orang harus mati karena penyakit terkenal di abad ini, meskipun ada cukup uang dan teknik canggih untuk menghilangkan selamanya?

Menurut dia, jika negara-negara Uni Eropa, AS, China memberikan perhatian dan investasi bagi penyakit lain kurang lebih sama dengan perhatian terhadap Corona, maka tidak ada yang harus mati karenanya.

Virus lain dengan tingkat dan konsekuensi kesehatan yang jarang dibahas adalah perang. Ribuan orang mati setiap hari karena perang.

Jutaan penduduk juga meninggalkan rumah mereka untuk mencari tempat yang aman.

Mereka adalah orang-orang dari negara yang memiliki tanah kaya tetapi miskin. Orang miskin, yang penguasanya menukar minyak dan gas tanah air mereka dengan senjata dari Jerman, Amerika Serikat dan Rusia. Mereka mati dan sebagian melarikan diri dari negerinya.

Di Suriah, 470.000 orang tewas dalam delapan tahun terakhir, dan lebih dari 10 juta dalam pelarian. Sebesar 35 persen dari populasi penduduk tidak memiliki akses ke air minum dan menggunakan air yang tercemar.

Sejak pertempuran di Yaman dimulai tahun 2015, lebih dari 3,6 juta orang telah melarikan diri dari negara itu, 16.000 warga sipil tewas dalam pertempuran dan setidaknya 10.200 terluka.

Sebanyak 24,1 juta orang - lebih dari 80% populasi - bergantung pada bantuan kemanusiaan.

Kurang lebih 16,4 juta warga Yaman tidak memiliki kesempatan mendapatkan perawatan medis dasar dan hampir 18 juta orang tidak memiliki akses ke air minum yang aman.

Kolera telah berkembang biak selama tiga tahun terakhir. Lebih dari sejuta orang terpapar sejak 2016 dan lebih dari 2.000 meninggal dunia.

Tetapi mengapa tidak semua bencana manusia ini - yang sebagian besar disebabkan oleh negara-negara imperialis yang kaya - menjadi berita utama di media Eropa?

Mengapa tidak ada protes di media tentang jutaan anak-anak yang kekurangan gizi ini? Mengapa tidak ada keadaan darurat yang diumumkan?

Jelas karena kehidupan kelas miskin dan tertindas itu murah dan tidak berharga bagi kelas penguasa. Dan, itu juga berarti pertanyaan kesehatan selalu merupakan pertanyaan kelas.

Kita seharusnya tidak mengharapkan keadilan dan perawatan kesehatan yang layak untuk semua dari sistem seperti itu.

Demikian sentilan Kargar dalam artikelnya. Boleh jadi tak semua sependapat dengannya.

Tapi setidaknya artikel ini memberi sudut pandang berbeda di tengah euforia berita virus Corona.

Saya senang mengutipnya. Semoga bermanfaat juga bagi tuan dan puan. Mohon maaf kalau tak berkenan. (dion db putra)

Sumber: Tribun Bali
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes