Io Resto a Casa

ilustrasi
Senin pagi yang cerah di Denpasar 16 Maret 2020, saya mendapat pesan WA dari Romo Leonardus Mali, Pr.

Beliau adalah seorang imam Katolik asal Keuskupan Agung Kupang yang sedang menjalani studi S3 di Kota Roma Italia.

Ah, sontak saya merasa bersalah karena sudah agak lama tidak menjalin kontak dengan beliau.

Apalagi semenjak Virus Corona melanda hingga Italia menutup (knockdown) seluruh negara.

Pasti ada sesuatu yang penting.

Saya pun buru-buru membuka WA.


Ternyata Romo Leo mengirim video.

Isinya sebuah tembang indah meneguhkan perasaan di tengah pandemi Corona yang nyaris melumpuhkan Italia serta mendebarkan jantung manusia sejagat.

Lagu yang ikut menguatkan Indonesia yang sedang murung.

“Terima kasih Romo. Kiranya Romo sehat, tetap semangat selalu. Kita terus saling mendoakan. Keadaan di Indonesia juga tak begitu baik,” begitu balasan saya.

“Iya. Sudah dua minggu jadi seperti tahanan di rumah. Harus ada mekanisme untuk mengatasi stres.” kata Romo Leo.

Lirik lagu yang meneguhkan hati tersebut dibawakan Mega dan Mauro, pasangan suami istri musisi Indonesia-Italia.

Penggemar lagu dangdut di Tanah Air agaknya tidak asing lagi dengan pasangan suami istri yang pernah merilis album Dangdut Elegante ini.

Mega Sihombing dan suaminya Mauro Goia melantunkan tembang dalam bahasa Italia berjudul Io Resta a Casa (Berdiam di Rumah Saja) sebagai pesan solidaritas Italia dan Indonesia.

Syairnya menyentuh hati.

Sungguh relevan dengan kondisi yang sedang dialami kita hari-hari ini.

Saya kutip selengkapnya.

Berdiam di Rumah Saja

Berdiam di rumah saja
Untuk si mungil dalam
kandungan bundanya
Untukmu anak kecil
yang tidak tahu apa-apa

Untukmu yang kuharap
jangan sampai jatuh sakit
Dan untukmu yang tahu
Apa yang hidup berikan
seperti kanak-kanak

Untukmu eyang putri
yang terkadang kembali
Untukmu eyang kakung
yang duduk di kursi roda

Untukmu yang tak tahu lagi
harus berbuat apa
Di dunia yang kelihatannya
sudah tak realistis ini

Untukmu yang wajib bekerja
Untukmu yang berharap bisa
segera buka toko lagi

Untukmu yang bekerja di rumah sakit
Dengan senyummu meredam rasa sakitku
Dan untukmu yang terus-menerus
anggap remeh

Yang buru-buru memutuskan kabur
dari zona merah
Cobalah tolong renungkan sejenak
karena kematian bukanlah
sesuatu permainan

Untukmu yang sementara hanya
bisa memeluk bantal
membayangkan pasanganmu
Dan jangan katakan
mengapa saya harus diatur-atur
Karena pada akhirnya tak
tahu siapa yang bisa sembuh

Jangan merasa lebih tahu dari orang lain
Dan jangan menjadi manusia licik
Sebab saat ini banyak
yang tengah berkorban
Demi hari esok yang kiranya
menjadi hari yang lebih baik

Saya berdiam di rumah
Di rumah denganmu

Jangan katakan kamu tak perlu
berbuat sesuatu apapun
Jangan anggap ini akan berlalu
Tanpa berbuat apa-apa

Sebab setiap kita punya
tugas yang sangat penting
Supaya bisa kembali bersilaturahmi
dengan sobat dan keluarga

Ya, sejak 16 Maret 2020 pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan "berdiam di rumah saja". Menghindari bertemu banyak orang.

Opsi yang dipandang efektif memperkecil angka penularan Virus Corona.

Indonesia tidak memilih lockdown seperti Italia, Denmark dan Filipina mengingat konsekuensi dan implikasinya sangat besar.

Kurang bijaksana Indonesia melakukan itu.

Risikonya tak sedikit.

Banyak yang menyebut opsi berdiam di rumah saja sebagai social distancing.

Masyarakat diminta membatasi diri menjalin kontak fisik secara langsung dengan orang lain yang memungkinkan terjadinya penularan virus.

Social distance setidaknya berlangsung selama 14 hari, sesuai lamanya masa inkubasi virus yang pertama kali terdeteksi di Kota Wuhan China tersebut.

Praksisnya sekolah diliburkan sampai akhir bulan Maret 2020.

Aparatur sipil negara (ASN), BUMN dan karyawan swasta pun boleh bekerja dari rumah.

Untuk sifat pekerjaan tertentu patut diatur pimpinan instansi atau perusahaan lebih lanjut.

Prinsipnya mengurangi aktivitas kerumuman, lahan basah bagi menularnya Virus Corona alias Covid-19.

Sekolah libur tapi pembelajaran dapat bergulir secara online.

Sudah banyak lembaga pendidikan yang menerapkan hal tersebut.

Bekerja dari rumah pun bukan sesuatu yang baru.

Seseorang bisa tetap produktif dengan bekerja dari rumah.

Yang penting tetap jaga komunikasi dengan atasan dan rekan kerja serta ditunjang fasilitas pendukung seperti internet yang stabil, laptop dan lainnya.

Pun ada saran agar tetap berpakaian rapi dan bersih.

Kendati bekerja dari rumah, jangan sampai tuan dan pua melewatkan mandi.

Penelitian membuktikan bekerja setelah mandi membuat otak dan tubuh lebih segar.

Tak ada alasan bagi masyarakat Indonesia untuk menolak kebijakan berdiam di rumah saja selama 14 hari ke depan.

Hendaknya kita jalani dengan sungguh-sungguh.

Anggaplah masa ini sebagai quality time, waktu bermakna yang kita habiskan bersama orang-orang terkasih yaitu keluargamu.

Toh pada akhirnya keluargamu adalah mereka yang akan selalu ada di sampingmu, apapun keadaanmu.

Baik ataupun buruk.

Ayah, ibu dan anak-anak dapat melakukan berbagai hal bersama di rumah, misalnya makan pagi, siang dan santap malam bersama, nonton televisi bersama, baca buku, berdiskusi.

Sesuatu yang selama ini hilang lantaran penghuninya sibuk sendiri-sendiri,

Io Resto a Casa.

Jadikanlah rumahmu kembali mendapat tempat yang semestinya.

Rumah tidak sekadar building tetapi home.

Maka selama masa "isolasi" ini, mari mendupai rumah dengan kasih.

Menyiraminya dengan cinta.

Itulah imunitas hati melawan kejamnya Covid-19. (dion db putra)

Sumber: Tribun Bali
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes