Namaku Maria



Maria Sharapova (ist)
SETELAH Gabriela Sabatini memutuskan pensiun medio 1990-an, dalam usia terbilang muda, wartawan dan penulis tenis dunia sempat lama kehilangan gairah memakai diksi jelita dalam reportase mereka.

Sampai suatu hari di pertengan tahun 2004, si pirang mungil dari Siberia ini sontak menarik atensi lewat gemulai ayunan raketnya, rambut ekor kuda, sungging senyum dan terutama kiprahnya yang mencengangkan!

Ya, tahun 2004, dalam usia akil balig, baru dua bulan mereguk indahnya momen sweet seventeen, si pirang menjuarai turnamen tenis tertua dan paling bergengsi di dunia.

Dia jawara tunggal putri turnamen Grand Slam Wimbledon edisi ke-118.

Jagat tenis terkesima. Penasaran sungguh lalu mencari tahu siapa gerangan gadis remaja dari negeri berselimut salju abadi itu?

“Namaku Maria. Maria Yuryevna Sharapova,” katanya malu-malu saat memperkenalkan diri.

Datang ke All England Lawn Tennis and Croquet Club di Wimbledon sebagai bukan siapa-siapa, di puncak pesta pada 3 Juli 2004, justru Maria Sharapova bintangnya.


Maria Sharapova menjadi pemenang ketiga termuda dalam sejarah Wimbledon.

Ia mengalahkan sejumlah nama besar yang sedang bersinar kala itu.

Di babak peremptfinal, Maria Sharapova menekuk petenis Jepang Ai Sugiyama dalam drama tiga set yang menegangkan.

Setelah kalah 5-7 pada gim pertama, Sharapova berbalik unggul 7-5, 6-1 untuk melaju ke semifinal.

Di sana telah menanti petenis putri nomor satu dunia saat itu, Lindsay Davenport dari Amerika Serikat (AS).

Prediksi dan analisis menyebut Davenport bakal menang mudah atas lawannya hingga terjadi final sesama putri AS. Davenport vs Serena Williams.

Dunia tak nyana laju si pirang berlanjut. Mirip kejadian melawan Sugiyama.

Sharapova tertinggal jauh 2-6 di gim pertama, menang tie break 7-6 dan menutup set ketiga dengan skor telak 6-1.

Pertanda kuat betapa Davenport kehilangan akal mengatasi ngototnya remaja dari Siberia yang justru belajar tenis sejak usia 7 tahun di Amerika Serikat.

Sihir Sharapova lagi-lagi memesona di babak final.

Bayangkan, dia menang begitu enteng atas jagoan Amerika Serikat, Serena Williams 6-1, 6-4 dalam laga tak genap 120 menit.

Sharapova juara Wimbledon 2004 sekaligus mengabadikan namanya sebagai
petenis Rusia pertama yang memenangi turnamen tersebut.

Dia membawa pulang trofi Venus Rosewater Dish.

Sharapova mengakhiri tahun 2004 dengan kemenangan pada turnamen penutup tahun, WTA Championships.

Di final dia kembali menundukkan Serena Williams (4-6, 6-2, 6-4).

Dari bulan Juni 2004 sampai dengan semifinal turnamen Wimbledon tahun 2005, Sharapova memenangi 22 pertandingan tanpa henti di lapangan rumput, termasuk menjuarai turnamen di Birmingham dan Wimbledon.

Dia pernah lama menduduki peringkat 1 WTA. Dunia pun menyapanya ratu tenis.

Setelah juara Grand Slam pertamanya di Wimbledon 2004, Sharapova menambah koleksi prestasi dengan menjuarai US Open (2006), Australia Open (2008) dan dua kali French Open (2012 dan 2014).

Sharapova, sepanjang kariernya, telah memenangi lima gelar Grand Slam.

Meski lama berdomisili di Amerika Serikat, Sharapova tetap memegang paspor Rusia, negara yang sangat dia cintai.

Sejak Usia 4 Tahun

Maria Yuryevna Sharapova lahir di Nyagan, Khanty-Mansi Siberia, Rusia, tanggal 19 April 1987.

Raket tenis pertama dia dapat dari ayahnya, Yuri Sharapova pada usia 4 tahun. Masih anak PAUD kalau di Indonesia.

Dia berlatih secara otodidak sebelum mengikuti latihan rutin di bawah asuhan Yuri Yutkin.

Pelatih veteran asal Rusia ini merupakan orang pertama yang menemukan bakat natur Sharapova.

Menurut Yutkin, Sharapova memiliki talenta unik berupa koordinasi tangan dan mata yang luar biasa.

Umur 7 tahun, Sharapova dibawa ke AS oleh ayahnya untuk belajar tenis di Akademi Tenis Nick Bollettieri di Bradenton, Florida.

Pelatihan sejak usia dini merupakan kunci suksesnya meraih prestasi terbaik saat usia baru 17 tahun.

Maria Sharapova berlatih secara profesional sejak tahun 1993.

Ketika berumur 11 tahun, Sharapova telah mendapat kontrak dari produsen apparel ternama, Nike.

Bagi penggemar tenis lapangan, Sharapova tak hanya mencuri perhatian lewat penampilannya yang aduhai.

Dia selalu dikenang penonton akan dengkurannya saat memukul bola.

Dengkuran seksi, komentar seorang jurnalis Spanyol.

Saat berlaga di turnamen Wimbledon 2005 tingkat kebisingan dengkuran Maria Sharapova tercatat mencapai 101.2 db. Wow! Lumayan bising namun penonton Wimbledon sangat menyukainya.

Lenguhan seksi itu hanya milik Sharapova.

Jangan tanya soal penampilan. Di antara sederet petenis jelita, Sharapova tergolong modis.

Pada turnamen Grand Slam US Open 2006, misalnya, Sharapova tampil dengan kostum hitam ketat mirip gaun malam untuk pesta.

Terinspirasi dari artis Audrey Hepburn, kostum Sharapova itu berhiaskan kemulai kristal di bagian kerahnya.

Banyak yang suka namun Nike tidak memproduksinya secara massal. Rupanya spesial buat gadis Siberia.

Di luar lapangan tenis, banyak aktivitas publik yang dilakoni Sharapova.

Sejak tahun 2007, Maria Sharapova ditunjuk sebagai duta Program Pengembangan PBB untuk bidang pemulihan Chernobyl.

Masyarakat internasional akan selalu ingat bahwa pada tahun 1986, daerah ini mengalami musibah bocornya reaktor nuklir.

Ribuan orang kehilangan nyawa dan ratusan ribu lainnya mengungsi.

Radiasi radioaktif menyebabkan banyak anak lahir cacat dan sebagian penduduk menderita kanker.

Kedua orangtua Sharapova awalnya tinggal Gomel, cuma selemparan batu dari Chernobyl.

Waswas akan penyebaran radiasi radioaktif, pasangan suami istri asal Belarusia itu memilih hijrah sebelum Sharapova lahir.

Sebagai duta Program Pengembangan PBB untuk bidang pemulihan Chernobyl, Sharapova berhasil menjalankan misinya.

Penggemar permen tentu pernah mendengar Sugarpova bahkan sudah mencicipinya.

Ya, Sharapova bersama koleganya Jeff Rubin, memproduksi permen Sugarpova.

Popularitas Maria Sharapova linear pendapatannya.

Majalah Forbes menyebut Sharapova sebagai atlet wanita berpenghasilan tertinggi selama 11 tahun berturut-turut.

Kekayaan Shaporva sebagian besar berasal dari kontrak dengan sponsor seperti Nike, Head, Porsche dan Evian and Avon.

Sharapova memang dikenal sebagai atlet dengan pesona paling “menjual” di dunia.

Titik Terendah

Namun, hidup tak selamanya manis. Pasang surut mewarnai perjalanan karier Sharapova.

Selain prestasi menakjubkan, petenis semampai yang mengandalkan backhand dua tangan ini juga mengalami titik terendah dalam kariernya.

Pada tahun 2016, Maria Sharapova, tersandung kasus doping menjelang
turnamen Australia Open.

Sharapova divonis positif mengonsumsi melodium, zat yang telah dilarang Badan Anti-Doping Dunia (Wada) pada 1 Januari 2016.

Mantan kekasih vokalis Maroon 5, Adam Levine itu tak berkelit.

Dia mengakui perbuatannya dalam jumpa pers di Los Angeles, Amerika
Serikat, Senin (7/3/2016).

Dia menyesal telah membuat penggemarnya kecewa.

"Saya membuat kesalahan besar. Saya membiarkan fans dan tenis kecewa," katanya saat itu seperti dilansir Upi.com.

Pengakuan Sharapova mengejutkan dunia tenis.

Apalagi kurang lebih 10 tahun dia mengonsumsi melodium secara legal.

Menurut dia, zat terlarang tersebut dikonsumsi untuk menyembuhkan beberapa penyakit seperti flu dan diabetes yang merupakan penyakit keturunan keluarganya.

Akibat doping itu Maria Sharapova terkena hukuman larangan bermain selama 15 bulan.

Setelah menuntaskan masa hukuman, Sharapova sulit kembali ke performa terbaik.

Peringkatnya terus merosot hingga berada di ranking 373 dunia.

Cedera menambah deritanya. Penampilan terakhir Sharapova di turnamen resmi adalah Wimbledon 2019. Namun, dia mundur di babak pertama.

Menghadapi Pauline Parmentier, petenis asal Rusia itu menarik diri saat tertinggal 6-4, 6-7(4), 0-5. Sharapova menyebut cedera pada lengan kiri sebagai penyebabnya.

"Saya punya riwayat cedera tendon di lengan kiri dan itu terasa lagi di set pertama. Ini tidak mudah. Saya menempatkan diri di posisi yang cukup bagus untuk jadi bagian dari turnamen ini dan ini (mundur) bukan yang saya inginkan," kata Sharapova seperti dikutip Reuters.

Apa hendak dikata. Sehebat apapun manusia selalu mengenal batas.

Jangan paksa tubuh ketika dia minta rehat.

Hari Rabu tanggal 26 Februari 2020, Maria Sharapova mengucapkan sayonara untuk tenis
lapangan yang telah melambungkan namanya.

Setelah malang melintang selama tiga dekade, Sharapova menggantungkan raket selamanya.

Ah mengapa terasa begitu lekas?

Merinding baca kata-kata perpisahannya yang menggetarkan hati di laman Vanity Fair.

"Bagaimana Anda meninggalkan satu-satunya kehidupan yang Anda kenal? Bagaimana Anda meninggalkan permainan yang Anda cintai yang membuat tangis bahagia," tulis Sharapova.

"Bagaimana Anda meninggalkan olahraga di mana Anda menemukan keluarga, bersama dengan penggemar yang mendukung Anda selama lebih dari 28 tahun?"

"Saya baru saja melakukan ini, jadi tolong maafkan saya. Saya mengucapkan selamat tinggal untuk dunia tenis," kata Sharapova seperti dikutip Kompas.Com.

Sejumlah fansnya di Rusia dan Amerika menitikkan air mata.

Mereka takkan melihat lagi Maria beraksi di level kompetitif tenis dunia.

Sharapova pensiun dalam usia 32 tahun, sesungguhnya belum uzur buat seorang atlet tenis lapangan.

Bandingkan misalnya dengan raja tenis dari Serbia, Novak Djokovic (35) yang masih menempati peringkat nomor satu dunia di awal 2020.

Ada yang bilang menonton tenis lapangan itu membosankan.

Durasinya kadang berjam-jam. Pukulan bola ya bolak-balik begitu saja.

Beda amat ketimbang renang dan voli yang sensual, basket yang atraktif, gairah badminton apalagi hipnotis sepak bola.

Namun, kehadiran petenis jelita seperti Maria Sharapova memupus kejenuhan itu.

Menikmati tenis pada akhirnya tidak cukup andalkan logika.

Legokan rasa maka dikau akan terpukau olehnya. Jatuh hati. Selamanya.

Pada rambut ekor kudanya, dengkuran, senyum serta lirikan matanya, Maria Sharapova menghadirkan pesona.

Mereka yang jelita dan rupawan akan selalu datang dan pergi di jagat tenis dunia.

Seturut zaman bergulir.

Seiring detak waktu berlalu.

Tapi kenangan akan dikau abadi dan spesial di hati para pemujamu.

Tenis sungguh beruntung pernah memilikimu.

Terima kasih Maria. Maria Yuryevna Sharapova! (dion db putra)

Sumber: Tribun Bali
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes