Ignas Kleden: Mendidik agar Taat pada Akal Sehat

Ignas Kleden (kompas)

Gelombang reformasi 1998 mengubah peta politik dan demokrasi bangsa Indonesia. Namun, satu hal yang hingga kini belum berubah secara signifikan adalah pendidikan. 

”Pendidikan kita tidak mengajarkan orang untuk berpikir, tetapi untuk tunduk pada kekuasaan,” ucap sosiolog Ignas Kleden (68), 18 Juni 2016, di Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten.

Pendidikan yang sangat mengutamakan kontrol dan memasung kreativitas adalah warisan tradisi Orde Baru yang mengajarkan siapa pun untuk taat pada kekuasaan, bukan pada pikiran. Dalam ujian, misalnya, anak-anak disodori dengan pilihan ganda. Mereka dituntut memberikan jawaban kepada pemberi jawaban, bukan berpikir kreatif mengelaborasi sebuah pertanyaan.

Dari sisi kepraktisan, soal-soal yang menyediakan pilihan ganda lebih memudahkan guru atau dosen untuk memeriksa jawaban dan memberikan nilai. Namun, praktik seperti ini memasung kreativitas anak didik.

Praktik pendidikan yang tunduk pada kekuasaan hingga sekarang belum berubah dan belum disadari banyak kalangan sebagai sebuah masalah. Padahal, hal ini adalah ”pekerjaan rumah” besar yang harus segera diselesaikan negara.

”Di Jerman, anak tidak dilatih untuk belajar tentang sesuatu, tetapi bagaimana mempraktikkan sesuatu,” ujar lelaki yang meraih gelar master dan doktor di Jerman tersebut.

Ignas mencontohkan, ketika seorang anak belajar bahasa Inggris di Jerman, sekolah langsung mencarikan anak tersebut kawan pena dari Inggris. Beberapa kosakata yang dikuasai langsung digunakan dalam praktik mengirim surat kepada teman barunya di luar negeri.

”Ketika anak belajar renang, mereka langsung diajak ke kolam renang, bukan membaca buku tentang renang di perpustakaan. Kita belum sampai pada inti filosofi pendidikan seperti ini,” ujar Ignas.

Teori sebagai doktrin

Pendidikan yang mengajarkan agar tunduk pada kekuasaan cenderung mengarahkan seseorang untuk menerima teori sebagai doktrin, bukan sebagai instrumen. Padahal, metode dan teori mestinya dihayati sebagai alat, bukan sebagai doktrin.

”Orang yang punya martil sebagai alat cenderung mengubah segala sesuatu menjadi paku. Hal ini keliru karena alat yang kita pegang mestinya disesuaikan dengan masalah yang sedang kita hadapi,” kata Ignas.

Pendidikan kita tidak mengajarkan orang untuk berpikir, tetapi untuk tunduk pada kekuasaan.

Hal serupa terjadi dalam kehidupan beragama. Dalil-dalil agama sering dipahami sebagai doktrin semata-mata bukan sebagai sarana untuk mencapai kesempurnaan diri. Karena itu, tidak mengherankan, ada jurang yang lebar antara tingkat pendidikan dan perilaku masyarakat. Terjadi pula konflik antarpemeluk agama karena setiap pihak menganggap ajaran agama sebagai doktrin.

”Pendidikan kita masih mendidik seseorang untuk taat pada kekuasaan, bukan untuk taat pada akal sehatnya. Ini proyek besar yang harus segera diselesaikan bersama. Pendidikan hanya bisa berubah kalau kita membenahi infrastrukturnya. Pertama, gaji pengajar harus mencukupi karena peran mereka sangat penting untuk membangun kebudayaan dan politik yang benar. Kedua, pendidikan harus menjadi isu politik yang sentral, bukan sekadar persoalan teknis semata,” tuturnya.

Dari filsafat ke sosiologi

Refleksi Ignas tentang pendidikan merupakan buah dari studi panjangnya di Jerman. 

Lima tahun setelah keluar dari pendidikan calon imam Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero, Maumere, Nusa Tenggara Timur, Ignas mengambil master filsafat di Hochschule für Philosophie München pada 1979-1982. 

Kemudian, antara tahun 1989 dan 1995, Ignas melanjutkan studi doktoral bidang sosiologi di Universitas Bielefeld, Jerman.

Ignas merasa sangat beruntung pada 1979 mendapat kesempatan belajar di Jerman melalui beasiswa Katholischer Akademischer Ausländer-Dienst (KAAD). Sejak awal, ia memang ingin belajar pendidikan ilmu sosial di negara tersebut.

”Untuk menyiapkan tesis, saya menulis selama enam bulan. Berbeda dengan ujian di Indonesia, pengajar di Jerman menguji apa yang mahasiswa ketahui. Jadi, kami betul-betul mendalami apa yang kami pelajari. (Pengalaman) ini benar-benar pencerahan buat saya,” kata Ignas.

Pada tahun 1981, Ignas menyelesaikan pendidikan S-2 filsafat. Awal 1982, ia pulang ke Indonesia dan bekerja di redaksi majalah Prisma yang dipimpin Daniel Dhakidae sembari menunggu istrinya menyelesaikan studi doktoral. Bertepatan dengan peristiwa runtuhnya Tembok Berlin, November 1989, Ignas kembali ke Jerman memulai studi doktoralnya di Universitas Bielefeld.

Pergolakan sosial

Sebelum belajar di Jerman, Ignas mengalami pergolakan peralihan Orde Lama ke Orde Baru. Pada waktu yang hampir bersamaan, Gereja Katolik mengalami perubahan radikal seiring digelarnya Konsili Vatikan II (1962-1965).

”Kelas kami mengalami peristiwa-peristiwa pergolakan itu. Saya kemudian ragu dan keluar dari pendidikan calon imam,” ungkapnya.

Begitu keluar dari seminari tahun 1974, Ignas langsung merantau ke Jakarta. Berbekal pengalaman menulis di beberapa majalah, seperti Horison, Budaya Jaya, dan Basis, Ignas mantap hijrah ke Ibu Kota.

Sesampai di Jakarta, Ignas bekerja di kantor Konferensi Waligereja Indonesia pada bagian dokumentasi. Ia kemudian pindah bekerja ke Yayasan Obor Indonesia yang dipimpin Mochtar Lubis. Di sana, Ignas dipercaya sebagai editor penerjemahan buku.

Di Yayasan Obor Indonesia, Ignas ditawari Selo Sumardjan untuk bekerja di Yayasan Ilmu-ilmu Sosial. Dari sini pula ia mulai tertarik untuk menekuni ilmu sosial.

Yayasan Ilmu-ilmu Sosial fokus pada tiga program utama. Pertama, latihan penelitian lapangan di empat daerah, yaitu Aceh, Jakarta, Surabaya, dan Makassar. Kedua, mengirimkan para peserta latihan terbaik untuk studi program master dan S-3 ke luar negeri. Ketiga, menerjemahkan dan menerbitkan buku-buku klasik ilmu sosial.

Tawaran kerja dari Selo Sumardjan akhirnya diterima Ignas. Ia mendapat tugas menjalankan program ketiga pada penerjemahan dan penerbitan buku-buku klasik ilmu sosial.

Pada kurun 1976-1979, Yayasan Ilmu-ilmu Sosial sangat aktif menjalankan program-programnya. Waktu itu, yayasan ini mendapatkan anggaran besar dari Asia Foundation. ”Setiap hari Rabu, di Yayasan Ilmu-ilmu Sosial saya selalu menyimak diskusi dari para tokoh besar sosiologi, seperti Selo Sumardjan, Soedjatmoko, dan Harsja Bachtiar,” ujarnya.

Dalam berbagai diskusi, para sosiolog itu memberikan penilaian terhadap para peserta pelatihan penelitian lapangan. Mereka juga memberikan rekomendasi kepada para lulusan pelatihan yang memenuhi syarat untuk melanjutkan studi ke luar negeri serta membahas buku-buku sosiologi yang akan diterjemahkan dan dibukukan.

Pada waktu itu, peminat pelatihan penelitian lapangan sangat tinggi. Penelitian ini memang menarik karena Clifford Geertz saat itu didatangkan ke Indonesia guna membantu memperkuat pengamatan empiris di lapangan yang dirasa masih kurang.

Ignas selalu mendengarkan diskusi-diskusi hebat para sosiolog. Hanya saja, dia gelisah karena pembicaraannya tidak pernah membahas nilai-nilai di dalam ilmu sosial. Karena itu, dalam disertasi, ia kemudian mengevaluasi seluruh penelitian Clifford Geertz tentang Indonesia, mulai dari pertanian, perdagangan, perkotaan, aliran politik, hingga agama.

(Artikel di atas pernah terbit di harian Kompas, 27 Juni 2016, sehari sebelum Ignas Kleden menerima Penghargaan Cendekiawan Berdedikasi 2016 dari harian Kompas)

Pada hari ini, Senin (22/1/2024), pukul 03.46 WIB, Ignas mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Suyoto, Jakarta Selatan, setelah sekian lama menderita sakit. Saat ini, jenazah Ignas disemayamkan di Rumah Duka St Carolus, Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat. Mewakili keluarga, Bona Beding menyampaikan bahwa misa requiem dan pemakaman Ignas Kleden akan diinformasikan kemudian.

RIP... Ignas Kleden... meski jasadmu pergi, pemikiranmu akan tetap abadi....

Sumber: Kompas.id

Ignas Kleden: dari ”Ars Inveniendi” ke ”Ars Tradendi”

Ignas Kleden

Oleh Charles Beraf

Sosiolog; Direktur Detukeli Research Centre, Ende, Flores

Di kalangan ilmuwan sosial Indonesia, Ignas Kleden yang lahir di Waibalun, Flores Timur pada 19 Mei 1948, tercatat sebagai cendekiawan yang amat disegani. 

Hal itu terutama karena daya upaya kritisnya untuk melihat persoalan kebangsaan dengan sisi tilik yang tak umum dan tak disangka kebanyakan orang.

Ditempa dengan tradisi filsafat yang kuat sejak di Seminari Agung Ledalero, Flores, hingga ketika menerabas masuk ke dalam dunia ilmu sosial ketika mengenyam pendidikan di Jerman, Ignas akhirnya membuktikan ketangguhannya sebagai ilmuwan sosial.

Ia menjadi salah satu dari sedikit ilmuwan sosial yang selalu bisa merambah ke bidang apa pun—sastra, politik, hukum, budaya, dan teologi—dengan tetap kokoh pada kritiknya yang kaya dengan perspektif-perspektif baru.

Namun, pengetahuan yang luas dan dalam itu sama sekali tidak membuat Ignas dengan gampangnya digoda untuk sekadar mencari popularitas karbitan, seperti banyak terjadi di ruang media sosial atau pada kesempatan talk show di TV.

Ignas, seperti sahabatnya Daniel Dhakidae atau Mochtar Pabottingi, adalah intelektual yang memilih meruangkan intelektualitasnya dalam wadah yang selalu lebih berdaya menarik orang lain untuk turut berpikir secara mendalam, bukan instan dan remeh-temeh.

Buah pemikirannya dalam rupa esai-esai bernas yang hampir tak terhitung jumlahnya tersebar di berbagai media, seperti jurnal ilmiah, buku, dan majalah.

Ketika berbicara sebagai narasumber dalam seminar, kongres, atau konferensi, entah pada tingkat lokal, nasional, ataupun internasional, Ignas amat didengarkan. 

Bukan hanya karena perlakuan yang layaknya diterima seorang narasumber, tetapi terutama karena tentu selalu ada hal yang baru, rasional, dan mendalam dalam penyampaiannya.

Ketika berbicara sebagai narasumber dalam seminar, kongres, atau konferensi, entah pada tingkat lokal, nasional, ataupun internasional, Ignas amat didengarkan.

Dari ”ars inveniendi” ke ”ars tradendi”

Dari mana atau dengan cara manakah Ignas menemukan perspektif-perspektif baru, rasional, dan mendalam? Jika kita mengendus perjalanan intelektualnya sejak dari rumah filsafat Ledalero, maka kita bisa mendapatkan gambaran bahwa kedalaman pengetahuan itu bukan perkara ”sekali jadi”.

Kedalaman pengetahuan itu dibuahkan melalui proses penenggelaman diri yang sungguh sejak dini dalam jagat ilmu pengetahuan. 

Kedisiplinan dalam hal ini sungguh terbentuk sejak dari keluarga kecil di Waibalun, kampung halamannya, lalu tumbuh dan hidup dalam debut intelektualnya kemudian.

Namun, patut dicatat bahwa Ignas bukan seorang intelektual yang mudah terkungkung dalam perspektif yang umumnya dipandang sudah baku dan selesai. 

Dengan selalu memiliki sikap kritis dan dialektis, Ignas berani menunjukkan bahwa perkara pengetahuan adalah perkara makna dan pemaknaan yang bisa dilahirkan dari konteks mana pun.

Dengan menaruh perhatian pada soal makna dan pada kemungkinan pluralitas makna, dalam keyakinan Ignas, otonomi sebuah konteks dapat terjaga dari kesewenangan menunggalkan makna di satu sisi, dan di sisi lain, ruang kebebasan dalam menemukan makna bisa terbuka lebar.

Untuk lebih jelas tentang hal ini, pandangan yang dilontarkan misalnya oleh filsuf Inggris, Peter Winch, tentang hubungan bahasa dan realitas bisa dipakai. 

Menurut Winch, ada banyak bentuk kehidupan yang bisa diakses dan ada banyak pula bahasa yang digunakan untuk melekatkan makna pada bentuk kehidupan tertentu.

Tidak ada bahasa super yang memiliki akses khusus terhadap realitas yang riil karena semua realitas adalah riil dalam konteks bahasa yang mendefinisikannya.

Asal-muasal pandangan Winch ini ditemukan dalam kritiknya terhadap antropolog Evans Pritchard yang, setelah membuat penelitian cukup lama atas masyarakat suku Azande di Afrika, menilai bahwa praktik perdukunan pada masyarakat suku Azande lebih rendah dibandingkan dengan ilmu pengetahuan pada masyarakat Barat.

Pritchard, dalam perspektif Winch, jatuh dalam cathaconic error, yakni menjadikan ilmu Barat sebagai standar untuk menilai praktik-praktik tradisional suku Azande—suatu standar asing yang menjauhkannya dari upaya menilai apa yang sesungguhnya dihayati atau dihidupi oleh masyarakat suku dimaksud.

Dapat pula dikatakan bahwa tanpa perlu terperangkap dalam penilaian ”hitam putih” atau ”benar salah”, suatu obyek atau fakta tertentu sangat boleh jadi merepresentasikan makna tertentu menurut sudut pandang seseorang, tetapi tidak dengan itu tertutup untuk dimaknai dengan cara tertentu pula dengan sudut pandang orang lain.

Atau secara berbeda, hal itu bisa diungkapkan dengan aforisme Latin berikut ini: “cognitum est in cognoscente secundum modum cognoscentis” (apa yang diketahui eksis pada orang yang mengetahui menurut caranya sendiri).

Dengan selalu memiliki sikap kritis dan dialektis, Ignas berani menunjukkan bahwa perkara pengetahuan adalah perkara makna dan pemaknaan yang bisa dilahirkan dari konteks mana pun.

Namun, lebih jauh dari sekadar perkara subyek dengan aktus memaknai, persoalan yang paling penting untuk dicari jawabannya, bagi Ignas, adalah apakah realitas tertentu hadir sebagai obyek yang sungguh bermakna tanpa harus bergantung pada subyek tertentu?

Dengan patokan manakah suatu realitas bisa terukur sebagai yang bermakna? Apakah makna itu ada seturut patokan sosial dan normatif yang ada pada masyarakat?

Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah pertanyaan-pertanyaan filosofis yang selalu mendorong Ignas untuk berusaha menemukan (inveniendi) hal (makna) baru dari konteks tertentu dan bahkan mengajarkannya (tradendi) dalam rupa esai-esainya yang bernas.

Ignas memang amat mencintai filsafat, tetapi dia tak hanya tinggal dalam ruang spekulatif-filosofis untuk melihat persoalan sosial.

Malah dia berhasil mengawinkan filsafat dan sosiologi, suatu pendekatan baru dalam jagat ilmu sosial yang cenderung positivistik-empiristik.

Itu sebabnya Ignas dikenal sebagai ilmuwan sosial yang amat kontekstual dalam pemikirannya tentang apa saja yang hidup dalam masyarakat (budaya, sastra, politik, hukum, teologi, dan lain-lain), tetapi tetap kritis dan dialektis melihat persoalan sosial.

Dia dapat dikenang sebagai satu dari sedikit ilmuwan sosial Indonesia yang percaya bahwa indigenisasi ilmu sosial, juga filsafat, adalah cara terbaik untuk mendekatkan ilmu dengan masyarakat sekaligus memungkinkan tumbuhnya rationalized life world dalam masyarakat.

Kita mengucapkan selamat jalan untuk Ignas, yang berpulang di Jakarta pada 22 Januari 2024, sembari meneruskan jejak pengetahuannya yang amat kaya dan dalam bagi Indonesia. 

Sumber: Kompas.id

Ignas Kleden, Postcript Sebuah Kesungguhan Intelektual

 Oleh Hamid Basyaib

Ignas Kleden

SANGAT sedikit intelektual Indonesia seperti Ignas Kleden. Ia tak pernah mau berkompromi dalam soal kualitas ide dan kesungguhan dalam menghadapi masalah. Mungkin ini sebabnya ia tak pernah tampil di acara talk show televisi — sebuah medium komunikasi yang tekun memerosotkan mutu percakapan intelektual, selain mengumbar kedangkalan kultural tanpa putus melalui acara-acara hiburan yang keburukannya sulit dipercaya. 

Ia meminati percakapan intelektual sejak masih belia, sejak ia, dari kampungnya di Waibalun, Nusa Tenggara Timur, memandangi orang-orang pintar Jakarta menyajikan ide-ide mereka atau berpolemik di media massa. 

Ia menikmati semua itu dari perpustakaan yang baik di seminari Larantuka, yang selalu menerima kiriman edisi terbaru majalah apapun. Ia menawarkan diri untuk bekerja di sana, supaya bisa menikmati bahan bacaan yang melimpah.

Ia menerjemahkan teks-teks berbahasa Inggris (atau Jerman) untuk Nusa Indah, sebuah penerbit yang komited menerbitkan buku-buku bermutu, menerapkan standar intelektual para pastur pembinanya.

“Saya membicarakan mereka (para intelektual Jakarta) seolah-olah saya mengenal mereka secara pribadi,” katanya, tersenyum geli, mengenang sikap “sok tahu”nya. 

Dan ia pun berani menyodorkan ide-idenya sendiri di forum media ibukota, bersanding dengan nama-nama besar seperti Asrul Sani atau Wiratmo Sukito. Waktu itu ia baru awal 20an, dan menulis kolom-kolom yang bagus di mingguan Tempo atau bulanan Budaya Jaya. 

Ia tampak berupaya menawarkan pendekatan akademis terhadap isu-isu sastra, bahasa dan budaya. Ia, misalnya, mengutip Sigmund Freud untuk kolomnya tentang bahasa. 

Perujukan kepada para sarjana ilmu sosial ini, untuk isu-isu budaya, jarang dikerjakan oleh para penulis yang menekuni bidang itu. Mereka enggan membaca buku, dan lebih mengandalkan “pengolahan batin yang otentik” — agar tak dikotori oleh ide-ide intelektual para sarjana. 

*

Tawaran akademis semacan ini terus diupayakannya sampai puluhan tahun kemudian. 

Dalam kritik sastra, misalnya, ia akhirnya terang-terangan mengungkap motifnya ketika ia mengritik tulisan penyair Afrizal Malna untuk sebuah kumpulan cerita pendek Kompas (karena tanpa keterusterangan itu rupanya ia merasa maksud tawaran yang sudah sering diajukannya tak dimengerti). 

Ia, katanya, ingin menyarankan supaya kritik sastra kita punya referensi teoretis, misalnya pada Paul Ricour, yang sudah banyak mengulas soal ini dengan baik. Mengapa teori orang-orang seperti itu tidak dimanfaatkan? 

Tanpa rujukan teoretis, kritik sastra kita hanya akan berputar-putar dengan mengandalkan “kreatifitas” dadakan sang kritikus, sambil mengumbar aneka peristilahan mentereng atau serampangan yang tak tentu maknanya. 

Itulah yang dia lihat pada pengantar berjudul “Upaya Membuat Telinga” tersebut — tentu ini ia maksudkan sebagai sekadar contoh terdekat. 

Dengan kekocakan yang cerdas, ia mengibaratkan tulisan itu dengan pemain yang sibuk membawa bola, asyik menggoreng bola dengan berputar-putar di dekat gawang lawan, tapi tak pernah menendang untuk mencetak gol. Pembaca dibiarkan dalam ketidakmengertian atas maksud si kritikus.

Tulisan itu, katanya, seperti menjanjikan hal-hal yang istimewa, seakan mau mengajak pembacanya menikmati steak yang enak, tapi ternyata hanya menyajikan makanan sehari-hari yang biasa saja. 

*

Ketajamannya dalam mengidentifikasi pemikiran orang, dengan bahasa Indonesia yang sangat baik, tak tertara. Ia menulis pengantar panjang yang sangat bagus untuk antologi Soedjatmoko (“Etika Pembebasan”, LP3ES, 1984). Baginya, seluruh kerja intelektual Soedjatmoko bertumpu pada martabat manusia, dan dapat dirangkum dalam dua kata: otonomi dan kebebasan. 

 Ia dengan gemilang mempertanggungjawabkan klaim itu, dengan secara konsisten menunjukkan dua pokok ide tersebut dalam begitu banyak tulisan Soedjatmoko yang tersebar di jurnal maupun sumbangan artikel di buku-buku yang kebanyakan disunting sarjana lain dan diterbitkan di luar negeri, selain tulisan-tulisan editorial di mingguan “Siasat” milik Partai Sosialis Indonesia yang dipimpin Soedjatmoko di tahun 1950an. 

Temuannya seperti menjawab kebingungan Arief Budiman dalam menghadapi lanskap luas pemikiran Soedjatmoko, setidaknya yang terhimpun dalam antologi “Dimensi Manusia dalam Pembangunan” (LP3ES, 1981). 

Dalam resensi atas buku itu di majalah Tempo, Arief mengeluh bahwa ia gamang menghadapi Soedjatmoko. “Ia seperti melukis di kanvas besar, dengan sapuan-sapuan kuas yang juga besar-besar,” tulis Arief. 

Maksud Arief: sebagai pemikir Soedjatmoko tidak menganut suatu mazhab atau pendekatan tertentu seperti lazimnya para sarjana di kancah ilmu-ilmu sosial, sehingga orang kesulitan untuk melacak dan menggeledah pikirannya. 

Ignas Kleden menyanggahnya dan mengajukan dua kata kunci itu (otonomi dan kebebasan), sambil menunjukkan bahwa Soedjatmoko tampaknya banyak terpengaruh oleh Karl Jaspers, seorang psikiater-filosof Swiss-Jerman. 

*

Ia juga menulis pengantar panjang yang kuat untuk kumpulan “Catatan Pinggir 2” karya Goenawan Mohamad (1989) — sebuah tinjauan brilian yang sangat mungkin tidak disukai penulis bukunya karena ulasannya yang tajam dan sulit dibantah. 

Baginya, meskipun Goenawan menebar begitu banyak tema dalam esai pendek yang terbit setiap minggu di majalah Tempo itu, untuk memahaminya (tapi terutama memahami sikap dan gaya, bukan substansinya), pertama-tama Goenawan harus dilihat sebagai wartawan, dan kedua sebagai penyair. 

Konsekuensi dari kedua predikat itu terlihat jelas pada pendekatan jurnalistisnya — yang serba sekilas dan terpotong-potong — dalam menangani isu apapun, dan pada semangat artistiknya dalam membahas isu apapun. Sikap Goenawan, katanya, tidak pernah jelas dalam hampir semua masalah, kecuali dalam soal kebebasan. 

Sebab kedua profesi itu, wartawan dan penyair, sangat mementingkan kebebasan sebagai prasyarat — tapi tentang ini pun tidak ada elaborasi yang memadai yang ditawarkan Goenawan, berbeda dari semua isu lain yang disentuhnya, yang selalu ditandai dengan tendensi philosophizing; seakan-akan kebebasan tak memerlukan bahasan filosofis lagi karena sudah sangat jelas manfaatnya bagi manusia/warganegara. 

Terhadap obsesi Goenawan pada keindahan bentuk, pada ketekunannya mendekorasi kalimat atau merumuskan proposisi ide dengan elan artistik khas penyair, Ignas berkomentar: Goenawan menebar begitu banyak kembang dalam esai-esainya, tapi susah ditebak apa jenis tanamannya. 

Dengan kata lain: keluhan Ignas terhadap Goenawan Mohamad mirip keluhan Arief Budiman tentang Soedjatmoko, yaitu ketiadaan disiplin metodologis pada keduanya. 

Esai-esai pendek Goenawan itu, setidaknya bagian-bagiannya, menurut Ignas, tidak dimaksudkan oleh penulisnya sebagai pernyataan diskursif yang bisa didiskusikan, melainkan sekadar cetusan keluar dari suatu perenungan batin yang intim. 

Inilah yang disebut Karl Raimund Popper dengan “expressionism epistemology” — ia memang terpengaruh Popper sejak sebelum kuliah di Jerman. Konsekuensi dari karakter tulisan seperti itu, menurutnya, ialah: kita hanya bisa menerima atau menolaknya — tidak ada peluang untuk diskusi. 

*

Kecemelangan Ignas Kleden semakin terlihat saat ia merangkum percakapan di seminar HIPIIS di Palembang, 1996. Ia menulis postcript itu di jurnal Prisma. 

Ia menjahit dengan sangat rapi begitu banyak gagasan — dari soal strategi besar pembangunan negara hingga perhitungan konsumsi kalori rakyat Indonesia dan rasio gini nasional — dan menjadikannya masuk akal bahwa semua itu memang saling terkait, dan terutama membuat kita mendapat kebulatan pemahaman yang memadai terhadap perhelatan keilmuan yang meriah itu.

Siapapun tahu bahwa membuat catatan akhir semacam itu — yang berhasil mengaitkan paparan semua pemrasaran, dengan menangkap ide-ide besar mereka sambil melayani detail-detail dan ilustrasinya — merupakan pekerjaan yang saya duga bahkan panitia penyelenggara seminar  pun tidak sanggup mengerjakannya.

Dan yang lebih mengagumkan: ia memotret seluruh ide yang dipertukarkan di sana semata-mata dari meneliti makalah-makalah para peserta. Ia tidak hadir di Palembang.

Ia pernah mencoba membentuk lembaga riset yang lebih berorientasi aksi, bertumpu pada upaya menumbuhkan spirit demokrasi, terutama untuk Indonesia Timur. Sangat sedikit kiprahnya yang kita dengar. 

*

Seperti kebanyakan pemikir serius, ia tampak kurang peduli pada harta, dan tidak pandai mencari uang. Ia berangkat diam-diam tadi subuh. 

Ia tak akan pernah hadir lagi di kota manapun — ia memulai perjalanan dari stasiun Waibalun pada Mei 1948, dan berakhir di Jakarta, Januari 2024. 

Ia tak menitipkan apa-apa kepada kita. Tapi kita tahu: sejak lama generasi-generasi intelektual Indonesia terinspirasi oleh titipan karya-karya cemerlang Ignas Kleden — suatu inspirasi penting yang dulu tak mudah kita dapatkan dari intelektual lain, dan makin sulit kita raih hari-hari ini. *

Ignas Kleden, Catatan Seorang Pembaca

Ignas Kleden (kanan)

Oleh Cecep Burdansyah

Penulis, tinggal di Bandung

POS-KUPANG.COM - “Menurut pengalaman, seorang belajar menulis hanya dengan mulai menulis, dan kemudian menjadi penulis karena membiasakan diri menulis secara teratur. Proses seseorang akhirnya menjadi penulis atau diterima sebagai penulis oleh khalayak pembacanya, adalah suatu proses yang – karena watak dari proses itu sendiri – relatif terjamin otentisitasnya, karena sifat dan fungsi kepenulisan hampir tidak dapat didukung oleh berbagai praktek KKN.”

Ignas Kleden, Pengalaman Menulis: Menuliskan Pengalaman, dalam bukunya “Menulis Politik: Indonesia Sebagai Utopia”, Penerbit Buku Kompas, 2001.

Setahun lebih saya kehilangan tulisan Ignas Kleden. Biasanya ia rutin menulis opini di Harian Kompas atau Majalah Tempo, setiap bulan selalu ada.

Sepanjang 30 tahun saya mengikuti jejak tulisannya, termasuk mengoleksi dua bukunya “Kritik Kebudayaan” dan “Indonesia sebagai Utopia”, sedangkan bukunya tentang “Kesusastraan Indonesia Dalam Enam Pertanyaan” hingga sekarang masih sulit saya dapatkan karena sudah langka.

Teman saya, Kang Abdullah Mustappa yang juga selalu mengikuti tulisan Ignas Kleden sempat mengirim pesan aplikasi dua bulan lalu, mengeluhkan ia sudah lama tidak membaca tulisan Ignas Kleden. Saya menjawab, “Sama Kang, saya juga kehilangan. Mungkin Ignas sakit.”

Tadi pagi saya membaca berita di Pos Kupang berjudul “Ignas Kleden Berpulang dalam Usia 76 Tahun.” Innalillahi wa inna illaihi rojiun. Lalu saya mengirim pesan aplikasi ke sahabat saya, Dion BB Putra yang juga Pemimpin Redaksi Pos Kupang di NTT. Menurut Om Dion – begitu saya menyapa - Ignas berpulang karena sakit.

Dugaan saya benar, Ignas selama ini sakit. Mengapa saya menduga sakit? Karena yang bisa menghentikan seorang penulis seperti Ignas yang hidupnya total dari menulis, hanya satu, yaitu sakit.

Rasanya, sampai kapan pun sepanjang ia sehat, sebagai intelektual sejati, Ignas tak akan berhenti menulis. Menulis tidak pernah mengenal pensiun.

***

Perkenalan saya dengan Ignas dilandasi kesukaan saya ikut diskusi sastra dan kebudayaan. Suatu saat, sekitar akhir tahun 1980-an Kang Abdullah memperkenalkan buku berjudul “Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan” terbitan LP3ES.

Seperti biasa, kalau sudah membahas buku, saya selalu mencari bukunya ingin tahu sejauh mana bagusnya buku tersebut. Ternyata, buku Ignas itu seperti magnet. Saya membacanya sampai rampung dan sejak itulah, saya ketaginan membaca tulisan Ignas Kleden.

Saking terpesona oleh cara berpikir Ignas dan caranya menulis, sempat berkeinginan untuk mengenal secara pribadi. Tapi karena jarak cukup jauh dan saya merasa belum masanya untuk bergaul lebih luas, saya mengurungkan niat.

Pernah di tahun 1990-an ada acara seminar kebudayaan yang diselenggarakan oleh para alumni ITB yang sudah sukses di masyarakat. Pembicara di acara seminar yang digelar di Sabuga ITB itu antara lain Ignas Kleden.

Karena sudah jadi wartawan, saya berusaha datang, meliput tapi sesungguhnya saya ingin mengikuti diskusi Ignas. Hingga selesai, saya menyimak dan bisa menikmati gaya bicara Ignas.

Apa yang ia katakan, gayanya dan materinya, tidak jauh berbeda dengan tulisannya, berbobot tapi mengandung seni. Tapi orangnya terkesan angker dan kurang humor, sehingga mengurungkan niat saya untuk berkenalan.

Saya semakin ketagihan membaca tulisan Ignas Kleden. Semua buku yang diberi pengantar Ignas Kleden, saya beli dan saya baca, di antaranya adalah Kumpulan Cerpen Kompas tahun 1997 “Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan”.

Dalam buku itu Ignas menulis catatan berjudul “Simbolisme Cerita Pendek”. Lalu Buku Catatan Pinggir (2) karya Goenawan Mohamad juga diberi pengantar Ignas berjudul “Eskperimen Seorang Penyair”.

Entah mengapa, buku yang diberi catatan penganatar Ignas rata-rata memang berkualitas dan seksi untuk dibaca sampai tuntas.

Tulisan Ignas itu tidak saja menambah wawasan, tapi kita merasakannya. Tulisannya seperti tarian yang meliuk-liuk.

Ignas menulis tidak dalam kapasitas sebagai akademisi, menulis perihal dengan cara kaku disertai seabreg terminologi yang bikin berkerut dahi.

Ignas menulis dalam kapasitasnya seorang penulis, seorang inetelektual pengembara, yang bisa hinggap dari satu persoalan ke persoalan lain dengan loncat-loncat, tapi loncatannya seindah atlet loncat indah.

Tulisannya yang sampai sekarang saya simpan baik-baik adalah tulisan Ignas berjudul “Esei” di Majalah Prisma terbitan tahun 1988. Esai, dalam kacamata Ignas, adalah tulisan tentang suatu hal yang berbobot tapi membawa pembacanya tamasya dan bergembira.

Di dalam tulisan bentuk esai ada hal yang ingin disampaikan penulisnya, tapi tidak dengan cara menggurui apalagi mendikte, tapi pembacanya diajak jalan-jalan, joging, bahkan diajak berdansa sehingga tulisan itu bisa teraba dan terasa, bukan saja terpikirkan.

Tulisan Ignas Kleden selalu mengenai hal yang berbobot - mulai dari politik, kebudayaan, sastra, pendidikan - tapi ditulis untuk mengajak pembaca ikut merasakannya, bukan sekadar memikirkan.

Tulisan bentuk esai bukan tulisan yang sifatnya akademis. Esai lebih bersifat sastra. Tidak heran, penulis esai seperti Bertrand Russel dan Henri Bergson mendapat hadiah nobel sastra karena esai-esainya yang cemerlang.

***

Saya pernah menduga Ignas Kleden seorang akademisi yang mengajar di berbagai universitas. Ternyata, sepanjang saya membaca tulisannya, ia tak pernah sekalipun menjelaskan bahwa ia pernah mengajar.

Ia hanya menjelaskan bahwa ia bekerja sebagai redaktur di penerbit Yayasan Obor dan di Majalah Prisma, majalah yang fokus di lapangan pemikiran. Ia juga mendirikan semacam lembaga yang mendorong tegaknya demokrasi di Indonesia.

Saya tidak tahu mengapa ia seperti tak tertarik dengan dunia akademik, padahal pengetahuannya melampaui para guru besar yang bertebaran di berbagai universitas.

Ignas Kleden kelahiran Waibalun, Larantuka, Flores Timur, NTT pada 19 Mei 1948. Ia termasuk tertib dalam berbusana, setertib menulis dan berbicara. Ia tampak lebih sering mengenakan batik untuk menunjukkan ke-Indonesiaannya.

Ignas lebih pas disebut sebagai sastrawan dan intelektual, sebagaimana dilekatkan oleh Pos Kupang. Ia menulis sejak tahun 1970-an. Awalnya ia menulis kritik terhadap karya-karya sastra Indonesia.

Ignas seorang yang jujur dalam menulis. Ia pernah terlibat polemik dengan Afrizal Malna, penyair yang sering dicap sebagai penyair gelap karena sajak-sajaknya yang sulit dipahami dan dirasakan.

Ignas tak pernah pura-pura memahami dan menikmati sajak-sajak Afrizal, karena itulah sang penyair mendebatnya. Sebagai intelektual, Ignas Kleden membuka diri untuk berdebat.

Tradisi berpikirnya terbentuk karena latar belakang pendidikannya memang filsafat dan ia terbiasa di lingkungan Katolik yang juga kuat disiplin berpikirnya.

Ignas mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Ledalero, Maumere Flores pada tahun 1972, kemudian menggondol gelar Master of Arts di bidang filsafat dari Hochschule fuer Philosophie, Muenchen, Jerman pada 1982, dan doktor bidang sosiologi dari Universitas Bielefeld, Jerman pada 1995.

Mungkin karena tradisi filsafat itulah, Ignas kukuh dalam sikapnya sebagai intelektual dengan kekuatan iman Katolik yang tak mudah terjerumus pada godaan duniawi.

Selamat beristirahat, Pak Ignas. Tulisan indahmu akan tetap mengalir bak sungai bermata air jernih dan pemandangan yang hijau. *

Sumber: Pos Kupang 

Profil Ignas Kleden, Sosiolog Kenamaan Kelahiran Flores Timur

Ignas Kleden
 Indonesia memiliki seorang intelektual terkenal kelahiran Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur atau NTT.

Dia adalah Dr. Ignas Kleden, MA.  Mengutip wikipedia, Ignas Kleden lahir pada tanggal 19 Mei 1948 di Waibalun, Larantuka, Kabupaten Flores Timur.

Suami dari  Ninuk Probonegoro ini aktif sebagai sastrawan, sosiolog, cendekiawan, dan kritikus sastra sejak awal tahun 1970-an.

Setelah tamat pendidikan dasar dan menengah, ia menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi  Ledalero, Maumere, Flores  (1972).

Ignas  meraih gelar Master of Art bidang filsafat dari Hochschule fuer Philosophie, Muenchen, Jerman pada tahun 1982.

Pada tahun 1995, Ignas Kleden  meraih gelar Doktor bidang Sosiologi dari Universitas Bielefeld, Jerman.

Ignas juga pernah bekerja sebagai penerjemah buku-buku teologi di Penerbit Nusa Indah, Ende, Flores. 

Ia sempat pula bekerja sebagai editor pada yayasan Obor Jakarta (1976-1977), Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial, Jakarta (1977-1978), dan Society For Political and Economic Studies, Jakarta.Tahun 2000 ia turut mendirikan Go East yang kini menjadi Pusat Pengkajian Indonesia Timur.

Saat masih di tinggal Flores, ia sudah mengenal majalah Basis Yogyakarta dan rutin mengirimkan tulisannya ke majalah itu. Dia juga menulis artikel di majalah Budaya Jaya Jakarta, dan menulis artikel semipolemik untuk majalah Tempo. 

Setelah hijrah ke Ibu Kota Jakarta tahun 1974, Ignas makin aktif menulis, baik di majalah maupun jurnal, dan menjadi kolumnis tetap majalah Tempo. 

Esainya mengenai sastra dimuat di majalah Basis, Horison, Budaya Jaya, Kalam, harian Kompas, dan lain-lain.

Buku Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan (Cerpen Pilihan Kompas 1997) juga memuat esainya, "Simbolis Cerita Pendek". 

Kumpulan esai tentang perbukuan, Buku dalam Indonesia Baru (1999), memuat salah satu tulisannya, "Buku di Indonesia: Perspektif Ekonomi Politik tentang Kebudayaan".[2] Buku kumpulan esainya adalah Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan (1988) dan Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan (2004).

Ia menulis kata pengantar untuk Mempertimbangkan Tradisi karya Rendra (1993), Catatan Pinggir 2 karya Goenawan Mohamad (1989), dan Yel karya Putu Wijaya (1995).

Tahun 2003, bersama sastrawan Sapardi Djoko Damono, menerima Penghargaan Achmad Bakrie. 

Ia dinilai telah mendorong dunia ilmu pengetahuan dan pemikiran sosial di Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi dan lebih tajam lewat esai dan kritik kebudayaannya. (*)

Sumber: Pos Kupang

Mengenang Abang Kami, Dr. Ignas Kleden, M.A

Ignas Kleden

Oleh Tony Kleden

Saya menulis kisah kenangan ini dengan perasaan mengharubiru.  Perasaan itu muncul terutama karena sudah hampir tiga bulan saya lebih banyak berada di Waibalun, Flores Timur.

Bagi saya, dan hampir pasti bagi semua  orang dari desa mana pun,  desa/kelurahan  tempat lahir itu seperti punya ‘kekuatan  supranatural’  yang selalu  menyertai di setiap jejak langkah.

Kekuatan itulah yang memompa spirit, menghembuskan  ausdauer dan lalu membangkitkan  ‘ike kewaat’  (semacam ‘korsa’)  hingga  menjadi ‘atadiken’ (orang dengan kekuatan) di mana pun berada.

Meski dirundung duka dan diselimuti rasa kehilangan,   saya dengan bangga menulis kisah kenangan serba ringkas ini. Bangga sebagai orang (ata) Waibalun.  Kebanggaan itu terutama juga karena nama abangku, Dr. Ignas Kleden,  lahir, hidup dan berkarya menerabas batas Waibalun, menembus sekat  suku, melampaui ike kewaat ata Waibalun.

Maka tulisan ini  ini menjadi ungkapan kebanggaan, kekaguman dan  apresiasi terhadap Ignas, yang sudah menutup mata untuk selamanya, kembali ke Tuhannya yang tidak saja disembahnya, tetapi juga Tuhan yang diimani menurut akal sehatnya.

Terus terang, secara  personal saya tidak terlalu dekat dengan Ignas. Selain karena terpaut  usia yang jauh sekitar 19 tahun, juga karena kami sangat jarang bertemu.

Di rumah dan di kalangan keluarga dekat, Ignas dipanggil dengan nama Ite, sapaan halus dari  Piter. Nama baptisnya Ignatius Nasu Kleden. Nama Piter diambil dari nama kakeknya (dari garis keturunan mama), Petrus Gege Hadjon.

Seringat saya,  pertama kali menemukan nama Ignas saat saya masih anak ingusan di kampung. Masih duduk di bangku sekolah dasar. Nama  Ignas muncul sebagai penulis esai di Majalah Tempo. Saya tidak mengerti  mengapa majalah terbitan Jakarta itu bisa muncul di Waibalun pada masa sekitar  tahun  1976.

Sebagaimana biasa, foto penulis opini di Tempo selalu disertakan di halaman opini. Dan, foto Ignas yang kala itu belum berusia 30 tahun tampil dengan gaya pada zamannya.  Difoto dengan wajah menyamping,  rambut agak panjang terurai dengan rokok yang mengepul  dari  bibirnya. Matanya bulat terang agak melotot. Konon, itu mata orang-orang pintar.

Sungguh mati, saya  sangat penasaran mengapa Ignas bisa muncul dan menulis di majalah itu?

Belakangan, saat menempuh pendidikan di Seminari San Dominggo Hokeng (1983-1987), saya jadi tahu seperti  apa sosoknya, seberapa  hebatnya nama Ignas. Tulisannya sangat sering muncul di Harian  Kompas, majalah Tempo, juga di majalah  kebudayaan Basis.  Saya juga membaca dan mengikuti polemik kebudayaan yang menghiasi halaman harian Kompas  yang juga sering menampilkan tulisan Ignas.Tulisannya selalu jadi buruan utama.

Sebagai sastrawan, sosiolog, cendekiawan, dan kritikus sastra hebat, tulisan-tulisan Ignas menyebar di beragam media cetak. Beragam tulisannya itu, harus diakui, menjadikan Ignas salah satu sosiolog terkemuka Indonesia saat ini, kritikus sastra paling tajam dan telanjang membedah karya sastra berbagai penulis.

Dari beragam tulisannya itu kuat tertangkap kalau Ignas  menempatkan diri sebagai satu dari segelintir intelektual  Tanah Air yang total berbakti pada ilmu.   Totalitas baktinya pada ilmu itu bisa dilihat dari gaya dan pola hidupnya yang sederhana dan apa adanya.  Tidak punya rumah  mewah, tidak punya mobil mahal, tidak pernah menjadi konsultan  politik partai, tidak menerima  jabatan seperti dirjen, wakil menteri, komisaris perusahaan ini dan itu.

Konon saat Soeharto berkuasa, Ignas  beberapa kali mendapat undangan kehormatan untuk hadir pada upacara-upacara kenegaraan.   Undangan itu ditolaknya dengan halus. Dia ingin berdiri di sudut netral dan kemudian mengemukakan pikirannya.

Pikirannya yang jernih tertuang dalam teks-teks berupa esai, kolom, makalah dan juga buku-buku. Namanya jadi populer bukan  karena tampangnya   yang sering terlihat di berbagai acara talk show  di  televisi. Juga bukan karena sering muncul di media sosial karena komentar nyinyir tentang suatu  fenomena di republik ini.

Secara intelektual, Ignas memang cerdas.  Pria yang lahir 19 Mei 1948 ini bintang kelas sejak sekolah dasar.  Saat ayahnya,  Yohanes Djuan  Kleden, seorang guru sekolah rakyat (SR/SD) pindah tugas dari Pamakayo, Solor ke Lewotala  (di Kecamatan Lewolema  sekarang), Ignas loncat kelas.  Ketika keluarga guru ini pindah ke Hewa, Kecamatan Wulanggitang, Ignas masuk Seminari San Dominggo Hokeng.

Guru Djuan dan istri, Katharina Sabu Hadjon, dianugerahi sepuluh orang anak.  Enam laki-laki dan empat perempuan.  Ignas anak laki-laki besar.  Didikan dan tempaan guru Djuan dan Mama Katharina menjadikan sepuluh anaknya benar-benar jadi manusia, jadi atadiken.

Beberapa nama keluarga ini patut disebut. Suster Stephania Kleden CIJ (alm),  Pater Dr. Leo Kleden, SVD  (dosen IFTK Ledalero),  Stephie Kleden Beetz (alm, penulis, penerjemah),  Ansis Kleden (penulis, editor dan penerjemah di Jakarta),   Kons Kleden (alm, wartawan dan penulis), Drs. Marianus Kleden, M.Si (dosen Unwira Kupang), Hermien Y Kleden (mantan wartawan Tempo)  dan Emil Kleden (aktivis LSM di Jakarta).

Saya melihat didikan keras penuh disiplin sang ayah dan sentuhan lembut sang mama, menjadikan semua anggota keluarga ini bisa mengenyam pendidikan  tinggi.  Mereka bisa menikmati pendidikan tinggi juga karena kecemerlangan otak.  Semua mereka selalu jadi bintang di sekolah. Semua mereka sukses merenda hidup di berbagai medan bakti.

Saya ingat, ketika masih di bangku SD saya sering tidur malam  dengan si bungsu  Emil Kleden, ketika keluarga ini kembali ke Waibalun  saat sang ayah memasuki masa purnabakti.  Di rumah hanya tertinggal  Emil. Semua kakaknya menyebar di mana-mana, untuk sekolah dan juga untuk kerja.

Keteraturan  hidup keluarga sangat terasa di rumah. Makan mesti bareng di meja makan. Doa makan wajib hukumnya. Setelah makan Guru Djuan membagi kisah. Macam-macam kisah.  Dari tugas sebagai guru di begitu banyak tempat sampai  pengalaman-pengalaman unik dan heroik ketika  mengejar anak-anak kampung yang lari ke hutan dan dan kebun untuk dibawa ke sekolah.

Cerita paling seru dan paling suka saya dengar adalah kisah sekolah anak-anaknya.  Guru Djuan bangga mengisahkan prestasi  anak-anaknya  di sekolah.

Ignas, menurut Guru Djuan, memiliki kemampuan bahasa yang  baik sekali.  Tak heran, saat masih di bangku SMA Seminari San Dominggo Hokeng, Ignas sudah lancar berpidato dalam bahasa Jerman.  Bahasa Inggris, tentu saja,  juga dikuasainya sejak masa itu. Dari tulisan-tulisannya, buku-buku yang jadi referensinya kebanyakan dalam bahasa Inggris dan Jerman.

Ada cerita menarik. Usai berhenti dari Seminari Tinggi  St.  Paulus Ledalero,  tahun 1973, Ignas mengadu nasib di Jakarta.  Ketika meletus peristiwa Malari (Malapetaka Limabelas Januari) 1974, Ignas yang baru beberapa bulan di Jakarta  tampil  dan menyita perhatian luas.  Sejumlah wartawan luar negeri ingin mewawancarai para mahasiswa yang tumpah berdemo di jalan.

Tidak banyak  mahasiswa  yang  bisa berbahasa Inggris, apalagi Jerman.   Maka Ignas yang diwawancarai. Dia bicara bahasa Inggris dan Jerman meladeni para wartawan luar negeri.

Konon, sejak itulah  nama Ignas jadi sangat terkenal di kalangan para aktivis mahasiswa Indonesia. Apalagi sejak itu Ignas mulai  menulis di majalah dan koran-koran Jakarta. Namanya  kian kesohor.

Ada cerita lain lagi. Ketika hendak melanjutkan pendidikan S2 di Jerman, Ignas tidak punya ijazah S1. Universitas Munchen Jerman,  tempatnya melamar,  bingung.  Pengelola universitas mencari tahu sosok yang melamar S2 tanpa  ijazah S1 ini.  Mereka bingung karena Ignas  menulis lamaran S2 dalam bahasa Jerman yang sempurna.

Seorang pastor SVD dari Polandia dikontak Kedubes Jerman di Jakarta. Pastor yang profesor  itu meyakini mahasiswa itu tak lain Ignas. “Terima saja orang itu. Dia cerdas dan tidak perlu diragukan,” kata Pastor itu meyakini.  Dan terjadilah, Ignas melanjutkan  pendidikan S2 tanpa  ijazah S1.

Dia meraih gelar M.A dengan predikat summa cum laude (dengan pujian setinggi-tingginya).  Tesis S2 tentang filsuf  ilmu pengetahuan Karl R Popper ditulisnya  dalam bahasa Jerman.

Sedangkan untuk disertasi  S3  di Univesitas  Bielefeld, Jerman, Ignas menggugat studi Clifford Geertz   tentang Indonesia secara keseluruhan. Disertasi ini ditulisnya dalam bahasa Inggris.

Cendekiwan Indonesia itu sudah kembali ke Sang Pengasal, Senin (22/1/2024) pagi.  Orang, atadiken  Lamaholot  itu sudah tutup mata. Tetapi Ignas pergi meninggalkan  nama besarnya.  Ignas mewarisi pikiran-pikiran bernasnya untuk bangsa ini.  Ignas sudah mengharumkan nama suku, nama Waibalun, nama   Flores Timur, NTT dan bahkan Indonesia.

Kepergiannya tentu saja meninggalkan duka lara bagi keluarga. Tetapi keharuman nama dan buah pikirannya yang bernas dan berguna  bagi banyak orang menjadi alasan bagi keluarga untuk menyatakan terima kasih kepada Dia yang  memberi hidup. Memberi seorang anak suku bernama Ignatius Nasu Kleden.

Untuk menghormatinya sebagai seorang kritikus sastra, saya mengutip sajak karya Sapardi Djoko Damono berjudul ‘Pada Suatu Hari Nanti’ berikut ini:

Pada suatu hari nanti

Jasadku tak akan ada lagi

Tapi dalam bait-bait sajak ini

Kau takkan kurelakan sendiri


Pada suatu hari nanti

Suaraku tak terdengar lagi

Tapi di antara larik-larik sajak ini

Kau akan tetap kusiasati

Pada suatu hari nanti

Impianku pun tak dikenal lagi

Namun di sela-sela huruf sajak ini

Kau takkan letih-letihnya kucari

Selamat jalan  kakak, saudara kami Ignatius Nasu Kleden. Requiem aeternam, dona ei, Domine!*

Sumber: Kabar NTT

Srikandi di Sarang Pria

 


Hasanah (kiri) dan Ahmad Suroso

Dalam rentang waktu terbilang panjang, lebih dari dua dasawarsa, dia sungguh srikandi di sarang pria. Nyaris sendirian. 

Namun, kehadirannya memberi warna kepemimpinan yang kuat dan khas di ruang redaksi Tribun Network - Kompas Gramedia.

Dia pekerja keras yang cerdas dan tangguh. Tegas, berintegritas, berani, juga disiplin.

Sebagai jurnalis dan pemimpin dia mempraktikkan pepatah Latin, suaviter in modo, fortiter in re. Teguh dalam prinsip tapi lembut dalam cara.

Mereka yang pernah jadi rekan kerja, kolega atau dipimpinnya mengenal gayanya mendidik dan membimbing dengan hati yang hangat. 

 Karier kewartawanannya merangkak dari dasar hingga puncak tertinggi. Dia merasakan pengalaman sebagai reporter, asisten editor, editor, redaktur pelaksana hingga tugas dan tanggung jawab sebagai pemimpim redaksi.

Setelah mengabdi bertahun-tahun di Harian Tribun Jabar, dia mendapat kepercayaan menjadi Pemimpin Redaksi Harian Tribun Jambi. 


Dari Jambi dia pindah ke Provinsi Riau melakoni tanggung jawab sebagai Pemimpin Redaksi Tribun Pekanbaru. Beberapa bulan sebelum memasuki masa pensiun tahun 2022 lalu dia ke kantor pusat Tribun Network di Jakarta.

"Om Dion ada-ada aja," begitu komentar Mbak Hasanah Samhudi ketika saya menjulukinya sebagai srikandi di sarang pria.

 Nyatanya memang demikian. Di jaringan media Tribun Network Kompas Gramedia yang kini ada di 35 dari 38 provinsi di Indonesia, baru dua orang perempuan yang menjadi pemimpin redaksi. 

Hasanah Samhudi dan Wenny Ramdiastuti. Nama terakhir baru  pensiun medio 2023. Jabatan terakhirnya Pemimpin Redaksi Harian Sriwijaya Post dan Tribun Sumsel di Palembang, Sumatera Selatan.

 Mbak Hasanah dan Mbak Wenny hanya berselang setahun purnabakti sebagai karyawan-wartawan Tribun Network. 


Hari Rabu 20 September 2023, kami keluarga besar Tribun Network bak disambar petir di siang bolong.

Mbak Hasanah Samhudi berpulang.  Kami tahu mbak sakit tapi tak pernah ingin mendengar Mbak Hasanah pergi selekas ini.

Selamat Jalan Mbak Hasanah. Bahagia kekal di sisiNya. (*)


Fb 23092023

Josef Blasius Bapa: Ayah yang Humanis

 


Blasius Bapa (kanan)
Suara Melchias Marcus Mekeng bergetar saat menyapa sekaligus mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada ayahnya malam itu. 

Sang ayah, Josef Blasius Bapa, mendampingi anggota DPR ini saat menerima Pos Kupang Award 2023 di Hotel Aston Kupang, Senin 11 Desember 2023.

Josef Blasius Bapa tampak bugar.  Pria berusia 85 tahun itu berbincang santai dan akrab dengan para tamu undangan lainnya.  Dia duduk semeja dengan Melchias Markus Mekeng dan sejumlah tokoh antara lain senator asal NTT, Abraham Paul Liyanto.

Beliau mengikuti seluruh rangkaian acara Pos Kupang Award mulai pukul 17.00 hingga tuntas pada pukul 21.00 Wita.

Putranya, Melchias Marcus Mekeng atau karib disapa Melky Mekeng  merupakan seorang di antara 40 tokoh masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dapat penghargaan dari Pos Kupang, harian pertama di NTT yang terbit sejak 1 Desember 1992.

Keesokan hari, Selasa 12 Desember 2023, Josef Blasius Bapa  kembali menemani Melky Mekeng ke studio Pos Kupang di Jl. RW Monginsidi Fatululi Kupang. 

Selasa siang itu Melky Mekeng secara khusus diwawancarai editor Pos Kupang, Novemy Leo mengenai lika liku pengabdiannya selama 30 tahun untuk rakyat Flobamora melalui jalur legislatif.

Sama seperti momen di Hotel Aston Kupang, Blasius Bapa menyimak secara baik wawancara khusus dengan anaknya sampai selesai.

Senja menjelang Malam Natal 24 Desember 2023, kabar duka dari Jakarta menghampiri kami. Josef Blasius Bapa berpulang. 

Warta yang mengejutkan keluarga, kolega dan kerabat termasuk kami keluarga besar Harian Pos Kupang.

Ayah yang Humanis

Dalam berbagai kesempatan Melky Mekeng selalu menyebut peran sang ayah yang luar biasa dalam seluruh kiprah dan kariernya sebagai politisi, dan wakil rakyat NTT di Senayan hingga kini.

Josef Blasius Bapa merupakan sumber inspirasi yang mengalir tiada henti bagi Melchias Markus Mekeng.

Blasius Bapa adalah mentor politik Melky Mekeng sejak muda usia. Melky sering diajak ayahnya mengikuti rapat-rapat organisasi sosial dan politik. 

Dari sana tumbuh kecintaannya pada jagat politik yang melambungkan namanya hingga kini.

Sebagai ayah, Melky Mekeng melukiskan Josef Blasius Bapa sebagai sosok yang sangat humanis.

"Ayah saya ini orang yang sangat humanis, selalu jatuh hati pada orang kecil yang susah," kata Melky Mekeng kepada Pos Kupang, Selasa (27/12/2023).

Blasius Bapa juga mengajarkan anak-anaknya agar tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya. Tak boleh mudah patah semangat.

"(Beliau) mengajarkan hidup yang tidak boleh mengambil yang bukan haknya, pantang mwnyerah dalam keadaan sulit apapun," kata Melky Mekeng.

Satu lagi pesan hidup yang sangat mendalam. Dalam hidup bermasyarakat, Josef Blasius Bapa berulangkali mengingatkan Melky Mekeng agar usahakan hadir kalau ada undangan dari orang baik untuk kesukaan maupun kedukaan.

"Dia selalu membina komunikasi dengan siapapun yang dia kenal baik di dalam negeri maupun luar negri, jadi kemanapun dia pergi selalu ada temannya," kata Melky Mekeng.

Melky Mekeng mengatakan, sang ayah berpulang setelah "menunggu" dia merayakan usia 60 tahun pada 8 Desember lalu serta menerima penghargaan dari Pos Kupang.

"Almarhum menunggu usia saya 60 (tahun) pada tanggal 8 Desember dan menyaksikan penerimaan Pos Kupang Award," kata Melky Mekeng.

Josef Blasius Bapa adalah tokoh bangsa yang sarat pengalaman di bidang politik dan kemasyarakatan. 

Ayah Melky Mekeng itu merupakan aktivis Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di paruh akhir 1970-an. 

Sebelumnya Blasius Bapa aktif di Partai Katolik  yang fusi ke PDI setelah pemerintahan Orde Baru melahirkan kebijakan menyederhanakan partai politik.

Blasius Bapa pernah merasakan dan terlibat aktif dalam dinamika politik era Orde Lama, Orde Baru dan teranyar di Era Reformasi. 

Mantan anggota MPR ini merupakan anak bangsa yang menjadi saksi sejarah kepemimpinan Indonesia sejak masa Presiden Soekarno hingga Presiden Joko Widodo saat ini.

Josef Blasius Bapa merupakan  pendiri organisasi paguyuban  Keluarga Besar Maumere Jakarta Raya (KBM Jaya).

Menjelang Paskah  2023, Blasius Bapa secara khusus berpesan kepada warga KBM Jaya agar tidak berafiliasi ke partai politik manapun tapi anggotanya boleh berpolitik. 

Dia mengingatkan bahwa KBM Jaya bukan partai politik tapi organisasi sosial wadah orang Maumere di Jakarta dan sekitarnya berhimpun membagi suka dan duka dalam bingkai kekeluargaan. 

"Saya berharap agar Keluarga Besar  Maumere Jakarta Raya (KBM)  sebagai sebuah paguyuban kekeluargaan, harus tetap solid, tetap kuat, tetap harmonis, tetap solider serta saling mengasihi dan menyanyangi satu sama lain," pesan Blasius Bapa dalam rilis yang disiarkan Pos-Kupang.com 9 April 2023.

"Kita yang berada di dalam paguyuban KBM Jaya sebagai keluarga harus saling menyapa, menginformasikan kemana kita berparpol, agar kita tetap dalam satu koordinasi, di dalam satu kekuatan untuk membangun KBM Jaya agar tetap jaya," kata ayah Melky Mekeng ini.

Kepulangan Blasius Bapa membuat KBM Jaya dan seluruh masyarakat Flobamora kehilangan tokoh panutan dan sesepuh. 

Jenazah Josef Blasius Bapa menurut rencana diterbangkan ke Maumere, Kabupaten Sikka dan dimakamkan di Kewapante pada Kamis, 28 Desember 2023. 

Selamat jalan Bapak Josef Blasius Bapa. Bahagia kekal di sisiNya. Jasa dan budi baikmu kami kenang selalu. (*)

Pos Kupang.com, 26 Desember 20203

Purnabakti

 


Saya dan Mas Surnarko di Mataram, 4 Sept 2023
Pada suatu titik waktu saya pernah selevel dengan mereka. Selevel dalam hal tugas dan tanggung jawab sebagai pemimpin redaksi unit media naungan Tribun Network-Kompas Gramedia.

Medio 2023 satu per satu mereka mengucapkan sayonara kepada Tribun Network karena sudah tiba saatnya untuk purnabakti.

Meski pensiun sebagai karyawan adalah hukum natur tetap saja saya merasa agak terkejut. Kaget bahwa saya pun tidak akan lama lagi menyandang NIK alias nomor induk karyawan Tribun Network- Kompas Gramedia.

Sampai bulan September 2023, empat saudaraku pensiun.  Paling awal pamit dari Grup WA Pemimpin Redaksi adalah Mbak Wenny Ramdiastuti. 

Mbak Wenny terakhir menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Tribun Sumsel-Sriwijaya Post di Palembang, Sumatera Selatan.

Dengan pensiunnya Mbak Wennya, maka sekarang tidak ada lagi perempuan yang menjabat pemimpin redaksi di lingkungan Tribun.

Mbak Wenny menyusul Mbak Hasanah Samhudi yang pensiun lebih dahulu setahun.

Setelah Mbak, Wenny tidak lama berselang Mas Bechi, tepatnya Achmad Subechi mengucapkan selamat tinggal karena telah memasuki masa pensiun. 

Mas Bechi pernah menjadi pemimpin redaksi Tribun Kaltim, Kompas.com dan Warta Kota. Mas Bechi meniti karier di harian Surya, Surabaya lalu ke Jakarta mengelola Tabloid dan lain-lain.

Nah bulan September 2023,  dua orang lagi saudaraku satu leting yang pensiun yaitu Mas Sunarko dan Kang Cecep Burdansyah.

Mas Surnako terakhir menjabat Pemimpin Redaksi Tribun Bali selama 10 tahun. Sejak awal terbit Tribun Bali, Mas Narko adalah pemimpin redaksi. 

Estafet kepemimpinan sekarang diserahkan kepada Bli Komang Agus Ruspawan.

Mas Narko sebelum ke Bali menjadi pemimpin redaksi Harian Surya di Surabaya dan Harian Tribun Jogja di Yogyakarta.

Mas Narko resmi pensiun per 1 September 2023. Selanjutnta pada 23 September 2023, Kang Cecep Burdansyah pensiun.

Kang Cecep lama menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Tribun Jabar di Bandung. Dari Bandung, Kang Cecep ke Semarang menjadi Pemimpin Redaksi Tribun Jateng.

Dari empat orang tersebut, Mbak Wenny, Mas Bechi dan Kang Cecep purnabakti pada usia 60 tahun. Sedangkan Mas Narko mengambil pensiun dini pada usia 54 tahun. 

Dari sisi aturan perusahaan, Mas Narko sebenarnya baru pensiun tahun 2029. Tapi beliau memilih opsi pensiun lebih awal.

Sebelum ini seniorku yang lebih dulu pensiun adalah Yusran Pare (Tribun Jabar, Banjarmasin Post, Tribun Jateng), kemudian Richard Nainggolan (Tribun Manado, Tribun Batam), dan  Andi Asmadi (Tribun Lampung)

Saat ini para pemimpin redaksi umumnya mereka yang jauh lebih muda. Memang sudah semestinya demikian. (*)

Mataram, 4 September 2023

Achmad Subechi Sang Pionir

 


Achmad Subechi (kanan)

"Saya memiliki seorang teman di Tribun Network, Mas Bechi. Achmad Subechi namanya. Saya kenal waktu tugas di Kalimantan." 

 Demikian dikatakan Brigadir Jenderal (Brigjen) TNI Agus Bhakti saat berbincang santai dengan saya seusai podcast di Studio TribunLombok.com di Mataram, 7 September 2023. Brigjen TNI Agus Bhakti adalah Komandan Korem (Danrem) 162 Wira Bhakti. Jenderal kelahiran Bandung itu memimpin Korem yang wilayahnya mencakup seluruh Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sejak 27 Juni 2023. 

 Kantor kami di Kota Mataram hanya berjarak selemparan batu, berseberangan jalan. Kami tetangga dekat. Ketika beliau bercerita tentang sosok Achmad Subechi, pembicaraan kami makin asyik karena Mas Bechi merupakan senior sekaligus kolega saya juga selama puluhan tahun. Pak Agus Bhakti pernah mengemban tugas sebagai Komandan Kodim Dandim 0910/Malinau, Kalimantan Utara. 

Di sana mereka bertemu. Kala itu Mas Bechi menjadi pemimpin redaksi Harian Tribun Kaltim yang wilayah kerjanya sampai Kalimantan Utara. "Mas Bechi merupakan sosok yang hangat, teman diskusi yang baik," kata Agus Bhakti. 

 Segera setelah Danrem pamit kembali ke kantornya, saya kirimi Mas Bechi foto bersama Pak Agus Bhakti.

 "Mas Bechi dapat salam dari Danrem 162 Wira Bhakti. Masih ingat?" Spontan dijawabnya via WA: "Ingat Dion. Udah jenderal ya? Alhamdulilah. Semoga Pak Agus makin sukses di NTB." 

 Tak lupa Mas Bechi yang terakhir menjadi pemimpin Redaksi Warta Kota (Jakarta) mendoakan kesuksesan menyertai kami di TribunLombok.com, portal berita yang belum genap 2 tahun usianya. 

 Achmad Subechi purna bakti sebagai jurnalis Tribun Network medio tahun ini. Hampir bersamaan dengan Kang Cecep Burdansyah, mantan Pemimpin Redaksi Tribun Jabar dan Tribun Jateng. 

 Dia merupakan seorang di antara jurnalis pionir di lingkungan Tribun Network Kompas Gramedia atau yang dulu lebih dikenal sebagai Persda. Mas Bechi bergabung dengan Harian Surya (Surabaya) tahun 1989 seangkatan dengan Mas Febby Mahendera Putra, kini Direktur Pemberitaan Tribun Network. 

 Pertama kali saya mengenalnya tahun 1992 saat Mas Bechi meliput bencana gempa dan tsunami di Pulau Flores. Bencana dahsyat yang menelan korban jiwa lebih dari 2.000 orang itu terjadi 12 Desember 1992 atau baru dua pekan Pos Kupang lahir sebagai koran pertama di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

 Sebagai wartawan baru, kami belajar banyak dari Mas Bechi. Jurnalis gesit, cerdas dan cepat bergaul dengan siapa saja. Ngotot menembus narasumber tersulit sekalipun. Liputan lapangannya detail dan komperehensif. Komplet.

 Garapan sisi human interestnya menggugah hati. Berminggu-minggu Harian Surya laris manis berkat laporan Mas Bechi dari Maumere Flores. Dia termasuk jurnalis pertama yang melihat Pulau Babi porak-poranda dilanda tsunami, dan ratusan jasad masih tergeletak sana. Sejak 1992 itu pertemanan dengan Mas Bechi terus berlanjut. 

Banyak nian momen kebersamaan kami sebagai sesama awak Persda - Tribun Network. Kami pernah sama-sama pening kepala ketika "disekolahkan" di Prasetiya Mulya Business School Jakarta, dan masih banyak lagi kesempatan bersama. Suatu saat saya ke rumahnya di Jakarta. Dia jamu makan yang enak. 

"Dion, terima kasih sudah berkunjung ke rumah saya," katanya. Kreatif Persis dikatakan Danrem 162/Wira Bhakti Brigjen Agus Bhakti, Mas Bechi merupakan teman diskusi yang baik. Dia sangat antusias kalau mendiskusikan suatu topik. 

Idenya mengalir dan kerap out of the box. Kreatif. Unik. Tahun 1996 Mas Bechi bertugas sebagai wartawan Harian Surya biro Jakarta bersama rekan-rekannya. 

 Merekalah pionir yang menghadirkan konten berita dan foto yang didistribusikan untuk kebutuhan seluruh koran daerah Kompas Gramedia termasuk Harian Pos Kupang, tempat saya mengabdi sejak 1992. Karya jurnalistik Mas Bechi dkk dari Jakarta menjadi pembeda. 

Nilai lebih bagi koran daerah seperti Serambi Indonesia, Swirajaya Post, Pos Kupang, Harian Surya dan lainnya. Tahun 2003 PT Indopersda mulai menerbitkan koran (dan selanjutnya media online) dengan brand Tribun. 

 Tribun Kaltim menjadi anak sulung. Koran itu berbasis di Balikpapan, kota industri paling dinamis di Kalimantan Timur. Arek Suroboyo ini kembali menjadi pionir ketika Tribun Kaltim sedang bertumbuh. 

 Dia meneruskan kepemimpinan pada masa awal media tersebut setelah Mas Uki M Kurdi mendapat tugas baru dari pemimpin Persda, Om Herman Darmo. Sejak itu Tribun terus berbiak dan bertumbuh. 

Hadir di berbagai daerah. Hingga 2023 Tribun Network telah hadir di 35 dari 38 provinsi Indonesia, berkekuatan 21 koran dan 69 portal berita online. Mas Bechi tak hanya berkiprah di lingkungan Persda (Tribun). 

 Berkat pengalaman dan kemampuan manajerialnya Mas Bechi bahkan sempat mendapat kepercayaan sebagai pemimpin redaksi Kompas.com. Hari ini Minggu 3 Desember 2023, kami keluarga besar Tribun Network terguncang. Air mata mengalir. Sang pionir itu berpulang. Innalillahi wa innailahirojiun 

 "Sesungguhnya kita ini adalah milik Allah, dan kepadaNya kita akan kembali." Mas Bechi, selamat jalan. Beristirahatlah dalam damai dan kasih Tuhan. *
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes