Uskup Donatus: Persembahan Termahal dari Keluarga

Enam Uskup yang Melepas Mgr. Donatus 2 Des 2011
ENDE, PK – Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota, Pr melukiskan Uskup Emeritus Mgr. Donatus Djagom, SVD sebagai persembahan termahal dari keluarga untuk tugas perutusan gereja. Uskup Sensi juga mengucapkan terima kasih kepada keluarga almarhum di Ranggu yang mengisi penggalan akhir masa pensiun Uskup Donatus dengan penuh kasih.

“Kepada keluarga dari Manggarai yang sempat hadir, atas nama umat Keuskupan Agung Ende saya ingin mengucapkan apresiasi dan terima kasih karena telah membersembahkan seorang Donatus, tokoh teladan dalam hal pemberian diri sampai mati. Terima kasih atas persembahan yang sangat mahal ini,” kata Uskup Sensi ketika memberi sambutan di akhir misa pemakaman Uskup Donatus di Gereja Katedral Kristus Raja-Ende, Jumat (2/12/2011).

Menurut Uskup Sensi, ketika merenung spritualitas memberi dalam diri Mgr. Donatus Djagom, maka spritualitas yang dihayati dengan setia itu adalah hasil dari proses belajar. “Uskup Donatus berasal dari keluarga di Ranggu. Benih semangat memberi diri itu sudah tertanam di sana, saya sangat yakin itu. Itu berarti peran keluarga sangat menentukan,” katanya.

Setelah pensiun sebagai uskup tahun 1996, Uskup Donatus memutuskan kembali ke tengah keluarganya di Ranggu untuk menikmati masa tua dalam suasana kekelurgaaan. “Saya sendiri menyaksikan betapa keluarga mencintainya, merangkulnya sebagai anak, saudara, sebagai bapak, sebagai tokoh teladan. Terima kasih untuk semua bentuk cinta yang Anda berikan terutama pada penggalan akhir ketika beliau menikmati usia pensiun di Ranggu,” kata Uskup Sensi.

Uskup Sensi meminta maaf seandainya ada hal-hal yang mengganjal karena ketidakmampuan memberi yang pantas selama masa pensiun Uskup Donatus di sana. “Atas nama umat Keuskupan Agung Ende saya mohon maaf pada keluarga dan terutama kepada Bapak Uskup Emeritus Donatus,” ujarnya.

Uskup Sensi pun mengucapkan terima kasih kepada Serikat Sabda Allah (SVD) yang mempersiapkan Donatus Djagom menjadi imam misionaris yang sungguh-sungguh setia pada perutusan. “Satu hal yang pantas dihargai oleh umat Keuskupan Agung Ende adalah bahwa ketika SVD mempersembahkan seorang anggotanya kepada gereja lokal lewat diri Mgr. Donatus, hadir sebuah pengabdian yang luar biasa, yang pantas diteladani. Pemberian diri yang total bagi perkembangan gereja lokal. “Sekali lagi terima kasih kepada SVD untuk persembahan yang luar biasa ini,” kata Uskup Sensi.

Menurut Uskup Sensi, Uskup Donatus dikagumi karena dia dekat dengan umat Keuskupan Agung Ende yang selama 27 tahun masa kegembalaannya terbentang luas dari Boganatar (di Kabupaten Flores Timur) sampai Aimere (Ngada). Dia mengenal umatnya dengan baik. Dia bertumbuh menjadi seorang gembala yang baik bersama dengan umat. “Beliau amat dekat, amat akrab, amat mencintai umat. Beliau sangat rajin turun bertemu umatnya di setiap stasi dan paroki,” jelasnya.

Provinsial SVD Ende, P Dr. Leo Kleden, SVD dalam sambutannya mengutip kesan Superior General SVD di Roma Pastor Antonio Pernia, SVD yang menggambarkan sosok Mgr. Donatus Djagom sebagai misionaris SVD yang cerdas, tangguh serta memiliki karakter kepemimpinan yang kuat.

Uskup Donatus, kata Pater Leo Kleden, juga berperan besar dalam dalam meletakkan dasar yang kokoh bagi gereja lokal, khususnya Keuskupan Agung Ende. Sementara Bupati Ende, Drs. Don Bosco M Wangge, M.Si saat menyampaikan sambutan mengungkapkan kenangan manis dengan Uskup Donatus saat dia menjabat Camat Detusoko.

“Kau camat lihat orang miskin di Utara Ende itu. Tolong bantu mereka agar bisa keluar dari kemiskinan dan isolasi fisik,” kata Don Wangge mengutip pesan Uskup Donatus kepadanya. Uskup Donatus, kata Don Wangge, juga merindukan hadirnya sebuah rumah sakit di Kabupaten Ende.
“Meskipun waktu itu saya katakan sudah ada rumah sakit Jopu dan rumah sakit umum Ende, beliau bilang itu belum cukup. Menurut beliau kita harus memiliki rumah sakit lebih banyak lagi untuk membantu masyarakat,” kata Bupati Don Wangge.

Enam Uskup
Misa Requiem atau Misa Pemakaman jenazah Uskup Emeritus Keuskupan Agung Ende, Mgr. Donatus Djagom, SVD di Gereja Katedral Kristus Raja-Ende, Jumat (2/12/2011), merupakan misa akbar. Enam orang uskup dan 200-an imam hadir dalam misa konselebrasi yang diikuti ribuan umat Katolik tersebut.

Uskup yang hadir dalam misa tersebut adalah Uskup Emeritus Keuskupan Atambua, Mgr. Anton Pain Ratu, SVD, Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr, Uskup Larantuka, Mgr. Frans Kopong Kung, Pr, Uskup Maumere, Mgr. Gerulfus Kherubim Parera, SVD, Uskup Ruteng, Mgr. Hubert Leteng, Pr dan Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota, Pr.

Misa di Gereja Katedral Kristus Raja Ende dipimpin Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota, Pr. Sementara upacara pemakaman di pekuburan para klerus diosesan di Ndona dipimpin oleh Uskup Ruteng, Mgr. Hubert Leteng, Pr. Dari unsur pemerintah hadir Bupati Ende, Drs. Don Bosco M Wangge, M.Si, Wakil Bupati Ende, Drs. Achmad Mochdar, Wakil Bupati Sikka, dr. Wera Damianus dan pejabat lainnya dari kabupaten di Flores. Dari Kupang hadir Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi NTT, Frans Sega.

Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Drs. Frans Lebu Raya tidak mengikuti misa pemakaman karena agas tugas lain di Kupang. Namun, Gubernur Lebu Raya sempatkan diri berdoa dan memberikan penghormatan terakhir di depan jenazah almarhum sebelum berangkat ke Kupang, Jumat (2/12/2011).

Misa yang dimulai tepat pukul 08.00 Wita baru berakhir sekitar pukul 10.30 dilanjutkan dengan acara pemberkatan oleh enam uskup dan penutupan peti jenazah. Dari depan altar Gereja Katedral, peti jenazah Uskup Donatus diusung para imam muda menuju mobil pick up di halaman gereja.
Dari situ dimulai perarakan menuju Ndona melewati Jalan Katedral, Irian Jaya, Kelimutu, Gatot Subroto, Wolowona dan Ndona. Sepanjang jalan yang dilewati umat berdiri di sisi kiri dan kanan jalan. Meskipun hujan mengguyur deras Kota Ende, mereka tak bergeming. (osi)

Meriam Bambu Bertalu-Talu


BUNYI meriam bambu bertalu-talu saat jenazah Uskup Emeritus Keuskupan Agung Ende, Mgr. Donatus Djagom, SVD dimasukkan ke dalam liang lahat di pekuburan para klerus diosesan di Ndona, Jumat (2/12/2011) siang. Suasana hening dan khusuk merebak. Hanya terdengar dentuman meriam nyaring membelah langit yang saat itu sedang menumpahkan hujan.

Sebelumnya, dentuman meriam bambu pun bertalu-talu ketika peti jenazah Uskup Donatus diusung meninggalkan altar Gereja Katedral Kristus Raja Ende. Ditingkahi denting lonceng gereja, ribuan umat Katolik mengantar Uskup Donatus Djagom menuju tempat peristirahatan terakhir di Ndona, tempat dia menggembalakan umat Keuskupan Agung Ende selama 27 tahun.
Kubur Uskup Donatus Djagom berada persis di samping kubur Uskup Mgr. Longinus da Cunha, Pr yang meninggal dunia tahun 2006 di Jakarta. Longinus adalah Uskup Agung Ende yang menggantikan posisi Uskup Donatus Djagom yang pada tahun 1996 memasuki masa pensiun.

Kini selain menjadi tempat peristirahatan terakhir dua orang uskup, pekuburan para klerus diosesan di Ndona juga telah diisi makam sejumlah imam yang telah berpulang. Kompleks pemakaman tepat berada di halaman depan Kapela Istana Keuskupan Agung Ende yang mungil. Halaman itu dipenuhi aneka bunga dan pepohonan rindang. Dari tempat itu Gunung Meja dan Iya terlihat indah di mata. (osi)

Sekolah dan Kantor di Ende Fakultatif

Pemakaman Uskup Emeritus Keuskupan Agung Ende, Mgr. Donatus Djagom, SVD, Jumat (2/11/2011), diikuti ribuan umat Katolik dan umat dari agama lainnya. Untuk menghormati Yang Mulia sekolah dan kantor dalam Kota Ende diliburkan alias fakultatif.

Tepi jalan utama dalam Kota Ende, Jumat pagi mendadak ramai. Ribuan siswa sekolah dasar hingga SLTA melakukan pagar betis sepanjang jalan yang akan dilalui rombongan pembawa jenazah Mgr Donatus dari Gereja Katedral Ende, menuju tempat pemakaman di Istana Keuskupan Ende di Ndona.

Berseragam lengkap, para siswa berdiri di sepanjang jalan sebagai bentuk penghormatan terakhir mereka kepada pemimpin umat Katolik di Keuskupan Agung Ende selama 27 tahun tersebut.

Pada pukul 07.00 Wita, kantor pemerintah dan swasta serta sekolah memang masih melaksanakan aktivitas seperti biasa. Namun mulai pukul 08.00 Wita, aktivitas tersebut dihentikan. Ada yang langsung mengikuti misa pemakaman di Gereja Katedral, namun ada juga yang hanya menunggu di tepi jalan.

"Ini aksi spontan dari kami sebagai penghormatan kepada Yang Mulia Bapak Uskup Donatus Djagom. Untuk hari ini kami disuruh oleh guru agar berdiri di tepi jalan menunggu hingga rombongan pembawa jenazah lewat," kata seorang siswa SMKN 2 yang ditemui di kompleks Mall Barata, Wolowona.
Ribuan siswa yang memadati ruas jalan nampak setia menunggu meski panas sangat menyenyat. Mereka baru lari berhamburan mencari tempat berlindung ketika hujan tiba-tiba turun di saat yang bersamaan rombongan pembawa jenazah lewat.

Fakultatifnya perkantoran membuat semua aktivitas di kantor-kantor pemerintah di Ende tidak ada. Semua kantor sudah sepi mulai pukul 09.00 Wita. (eko)

Pos Kupang, 3 Desember 2011 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes