Safety First

KITA prihatin dan menyampaikan duka mendalam untuk keluarga para korban kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet100 di Gunung Salak, Jawa Barat 9 Mei 2012 yang lalu. Pesawat itu jatuh di Jawa Barat namun kabut duka kental terasa di sini, bumi Nyiur Melambai mengingat warga Sulawesi Utara termasuk di antara korban yang semula riang menikmati joy flight namun kenyataan berkata lain.

Pesawat Rusia yang sedang pamer kecanggihan teknologi justru menabrak tebing gunung hingga hancur berkeping-keping. Banyak orang amat sedih mengenang tragedi ini. Sedih lantaran sebagian besar penumpang dan awak pesawat sempat mengabadikan diri mereka lalu disebarluaskan melalui jejaring sosial sebelum take off dari Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta. Tak dinyana dalam hitungan detik saja keceriaan tersebut berujung duka bagi keluarga, sahabat dan rekan. Hidup dan mati manusia memang tipis nian batasannya.

Apa yang bisa petik dari tragedi Sukhoi? Terlepas dari kemungkinan musababnya adalah faktor cuaca buruk atau kerusakan teknis pesawat, manusia tetaplah pengendali utama di Superjet100. Bukan muskil terjadi human error sehingga pesawat canggih tersebut mencium tebing Gunung Salak hingga luluh lantak.

Sebagai pembanding saja dua hari sebelum tragedi Sukhoi, tim investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) merilis penyebab kecelakaan pesawat Merpati MA 60 di Kaimana, Papua pada 7 Mei 2011. Terbukti pesawat itu jatuh bukan karena masalah teknis melainkan keputusan pilot yang salah. Saat hendak mendarat di Kaimana, pilot menggunakan sistem autopilot sementara jarak pandang hanya 2 kilometer. Jarak pandang sejauh ini tidak memenuhi syarat untuk autopilot. Idealnya harus 5 kilometer dari landasan pacu.

Dalam kasus Sukhoi Superjet100, satu hal yang bikin kita penasaran adalah mengapa petugas Air Traffic Controller (ATC) Bandara Soekarno-Hatta mengizinkan pilot terbang rendah hingga 6.000 kaki dari sebelumnya 10.000 kaki? Boleh jadi pilot Rusia yang baru pertama terbang di Indonesia mau melakukan manuver namun tidak mengenal dengan baik kondisi medan di sekitar Gunung Salak, Halimun dan Pangrango.

Jawaban final memang masih menunggu hasil analisis terhadap kotak hitam dan penelitian tim KNKT serta pihak Rusia. Namun, pesan dari tragedi Suhkoi di Gunung Salak amat tegas dan jelas. Jangan main-main dengan keselamatan manusia. Prinsip safety first (utamakan keselamatan) mutlak dipatuhi oleh setiap pengelola dan operator moda transportasi, baik darat, laut maupun udara. Banyak sudah peneliti yang merilis data mencengangkan yakni sekitar 70 persen penyebab kecelakaan transportasi adalah faktor kelalaian manusia. Jadi, entah Anda mengendarai sepeda motor, bus, angkot, kapal laut maupun pesawat udara, prinsip safety first mesti menjadi standar operasional yang harus ditaati.*

Tribun Manado, 12 Mei 2012 hal 10
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes