Sepanjang Zaman Bersama Tinutuan

Tinutuan
Awalnya Tinutuan hanya dinikmati para petani di ladang. Makanan ini kemudian berkembang di zaman sulit kala sebagian besar orang Minahasa mengungsi di bukit-bukit atau kawasan hutan karena pergolakan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta). Kini makanan ini menjadi favorit, berkembang, bahkan menjadi ikon kota.

BERKAT Tinutuan, kawasan Wakeke di Kecamatan Wenang, Manado, menjadi situs budaya Manado. Di kawasan itu sejumlah rumah makan menyajikan menu yang disebut juga Bubur Manado.

Rumah Makan (RM) Syully, termasuk rumah makan tua yang menyediakan menu tradisional itu. Dimulai pada era 1980-an rumah makan ini tetap eksis dan ramai dikunjungi pelanggan. Kepada Tribun Manado, Yenny Ngantung, pemilik dan pengelola RM Syully, menuturkan, setiap hari bisa 150 orang yang masuk keluar untuk menyantap Bubur Manado di tempatnya. Kebanyakan pelanggan merupakan masyarakat umum.
Tinutuan atau Bubur Manado

"Ada juga beberapa pejabat Sulut yang selalu mampir kemari. Rumah makan kami sudah buka sejak pukul 5.30 sampai 15.00 Wita," kata istri Renno Pattiasina, Kamis (3/5/2012). Rumah makan itu lumayan besar. Banyak yang berpendapat Tinutuan di RM Syully rasanya sedikit berbeda dengan Tinutuan pada umumnya. "Resep kami dari orangtua," katanya tersenyum.

Rezeki dari Tinutuan juga dirasakan Desire Maitimo, pemilik RM Dego-dego. Sebagai menu utama, Tinutuan paling banyak dipesan. "Kalau lagi sepi, Tinutuan yang dipesan sekitar 60 porsi per hari. Tetapi saat weekend yaitu Jumat sampai Minggu, bisa sampai 180 porsi per hari," ujarnya.

Di rumah makan itu Desire juga menjual Midal dan Mie Cakalang, dua menu yang muncul setelah Tinutuan. Midal merupakan turunan Tinutuan atau Tinutuan bercampur mie. Midal dan Tinutuan berharga sama, Rp 10.500. "Mie Cakalang Rp 13 ribu, per hari bisa dipesan 40 sampai 130 porsi," terangnya.

Selain Tinutuan, Desire juga menyediakan makanan lainnya, seperti aneka seafood dan berbagai jenis minuman, sebagai pelengkap atau alternatif bagi pelanggan yang datang. "Tetapi yang paling banyak dikonsumsi adalah Tinutuan. Apalagi kawasan Wakeke ini sudah dikenal sebagai kawasan wisata kuliner terutama Tinutuan, sehingga masyarakat yang datang ke kawasan ini, memang karena ingin makan Tinutuan," ujarnya.

Kata dia, banyak pelanggannya berasal dari kalangan menengah ke atas yang datang dari berbagai tempat di Kota Manado, bahkan ada juga wisatawan asing maupun domestik yang sering berkunjung untuk menikmati makanan khas Minahasa itu.

"Kalangan pejabat, pengusaha, profesional, dan para pelajar yang sering hang out bersama teman-teman atau bagi mereka yang mengadakan reuni atau kumpul bersama keluarga, yang dipesan adalah tinutuan. Ada juga makan lain tetapi yang paling dominan adalah Tinutuan. Rumah makan kami juga pernah diliput oleh televisi nasional seperti TransTV dalam acara Wisata Kuliner, yang diangkat adalah Tinutuan," jelasnya

Vivi, pemilik RM Wakeke, juga mengungkapkan Tinutuan dan Midal adalah makanan favorit. Per hari biasanya ia menyajikan 50 sampai 100 porsi. "Harga per porsi Tinutuan dan Midal adalah Rp 9 ribu, karena disesuaikan dengan pelanggan kami yang biasanya dari kalangan menengah ke bawah, baik tua maupun muda. Kalau hari sibuk kerja Tinutuan dan Midal hanya 50 porsi per hari. Tapi kalau hari libur seperti Jumat, Sabtu, dan Minggu, bisa mencapai 100 porsi per hari," ujarnya.(dru/jhp)

Sehat karena Gedi


BAGI orang Minahasa, Tinutuan tidak lengkap jika tidak ditambahkan daun Gedi sebagai campuran. Daun ini mempunyai fungsi sebagai penambah rasa gurih serta mengentalkan.
Selain lezat, Gedi juga kaya vitamin A, zat besi, dan serat yang baik untuk saluran pencernaan. Kolagen terkandung di dalam daun ini juga bermanfaat antioksidan dan menjaga kesehatan kulit.

Mungkin karena banyak mengandung serat sehingga menyerap kolesterol dan lemak sehingga banyak orang berpendapat bahwa sayur ini dapat membuat orang langsing dan membantu menurunkan kadar kolesterol dan hipertensi. Namun belum ada penelitian khusus tentang hal ini.
Karena daunnya banyak mengandung banyak zat kolagen yang bersifat antioksidan, maka berguna untuk merawat kesehatan kulit dan melancarkan peredaran darah. Konon kabarnya, pada suatu masa, mantan presiden Soeharto (almarhum) senang merawat sendiri tanaman ini di rumah kediamannya di Cendana. Presiden kedua RI tersebut suka makan rebusan Gedi untuk pemulihan dan perawatan kesehatannya pada masa tua.(wikipedia)

Ada di Hotel Berbintang

TAK hanya di kantin, warung atau rumah makan, Tinutuan juga mudah didapatkan di hotel berbintang. Hotel Aston Manado, misalnya, setiap hari menyediakan menu yang berbahan dasar sayur-mayur tersebut.

Dengan sedikit tambahan bumbu penyedap, Bubur Manado ala Senior Cook Aston Manado memiliki rasa khas tersendiri. Rasa kaldu dengan campuran yang tidak begitu kental dan tidak pula cair, dipastikan sangat pas dilidah.

Dewa Rai, Senior Cook Aston Manado, mengatakan, Tinutuan tersedia setiap hari. Bahkan menu tersebut merupakan satu di antara banyak menu yang dihidangkan sebagai menu sarapan.
"Kalau siangnya bisa dipesan dan kita akan langsung buat. Lebih enak dipesan langsung karena sayur yang digunakan fresh (segar) semua dan ketika dihidangkan masih panas," jelas Dewa kepada Tribun Manado, Rabu (3/5).

Supervisor CDP Aston Manado Whisnu Issandar menambahkan, peminat Tinutuan cukup banyak. Maka itu, Tinutuan akan terus dihidangkan selama permintaan masih ada. Harganya hanya Rp 31 ribu per nett yang disajikan di soflet dengan porsi lebih banyak.
Tak hanya Bubur Manado, Aston Manado juga menyediakan menu tradisional lainnya seperti Cakalang Pizza, Mie Kuah Cakalang, Mie Goreng Cakalang, Ayam Masak di Bulu, Ayam Goreng Kremes, Buntu Rica Poco-Poco, Whoel Fiest Dabu-Dabu, dan Ikan Kuah Asam (Woku). (nty)

Bahan-bahan:
- Kangkung
- Bayam
- Jagung manis
- Daun bawang
- Kemangi
- Sere
- Bumbu penyedap

Pelengkap:
- Tahu goreng
- Nike goreng
- Abon cakalang
- Sambal terasi


Angel Anatasya Sompie: Suka Tinutuan Sejak Kecil

GADIS bernama lengkap Angel Anatasya Sompie ini sudah sejak kecil suka makan Bubur Manado alias Tinutuan. Selain karena orangtuanya hobi makanan khas Sulawesi Utara itu, Angel merasa cocok dengan bahan-bahan di dalam Tinutuan.

"Ini makanan sehat. Banyak sayurnya. Makanya saya suka sekali. Bahkan hampir setiap hari sarapan Tinutuan di kantin kampus," ungkap mahasiswi semester VIII STMIK Parna Raya Manado ini, Kamis (3/5/2012).

Menurut perempuan kelahiran Manado, 25 Maret 1990, ini, Tinutuan adalah makanan favorit banyak orang Manado. "Bahkan kalau dia orang Minahasa rasanya tidak pantas dibilang orang Minahasa kalau tidak bisa makan tinutuan," ujar Angel lalu tertawa.

Kesukaannya terhadap tinutuan membuat puteri pasangan Herry Sompie dan Ivonne Luntungan ini hafal nama-nama tempat makan tinutuan yang enak. Seperti lokasi wisata kuliner khusus Tinutuan di Wakeke.

"Di kantin-kantin kampus atau kampung-kampung Tinutuan juga dimasak dan enak-enak. Soalnya, campurannya sayuran segar. Tinutuan itu enak dan sehat jadi saya selalu suka. Pokoknya Tinutuan makanan favorit saya dan Tinutuan always be the best food for me karena melancarkan pencernaan dan banyak makan sayur kan bikin kulit halus," tutur Angel lalu melemparkan senyum.(yudithrondonuwu)

Berkembang saat Permesta

Analisis DR PR Renwarin
Antropolog Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng


TINUTUAN berasal dari kata Tu'tu atau Lu'tu yang artinya masak. Tinutu artinya dimasak. Sedangkan Tinutuan artinya hal yang sudah dimasak.

Subetnis Tountemboan mengenal kata lain yang lebih dekat yaitu Peda'al yang berarti makanan kebun yang merupakan jenis pengolahan sayur. Tinutuan memang menu yang dasarnya sayur- sayuran tapi bukan sayuran umum. Sayuran yang dipakai ialah sayuran hijau.
Makanan ini pertama kali dibuat di kebun karena sayur-sayuran banyak terdapat di halaman pondok. Biasanya sayur yang ada di halaman adalah Gedi.

Kreasi untuk Tinutuan kemudian berkembang saat perang Permesta 1959-1960. Saat itu beras menjadi sedikit. Maka beras yang sedikit itu kemudian ditambah pada sayur-sayuran. Begitu pula dengan jagung jika ada. Tinutuan menjadi makanan umum karena tidak perlu waktu lama, memakai api yang kecil, dan bisa dimasak di lubang perlindungan. Saat itu bahkan ada Tinutuan Konga (dedak) memakai jagung muda yang hampir dipanen. Situasi berbahaya membuat orang kreatif dalam membuat makanan.

Pada 1968 terjadi krisis ekonomi. Jika ada istilah makan bulgur pada saat itu, Tinutuan menjadi semacam bulgur sama seperti saat Permesta.

Perkembangan lanjutannya terjadi akhir 70-an dan saat pada 80-an. Saat itu mie instan mulai dikenal di pasaran. Para pegawai kota mulai makan dengan model branch (breakfast and lunch). Artinya, mereka makan sekitar pukul 10.00 karena tidak makan pagi dan sudah tidak makan siang lagi karena pulang pada sore hari. Saat itu mie sudah mulai dicampur dalam Tinutuan. Konsepnya sama dengan Tinutuan dengan nasi. Nasi itu karbohidrat. Mie mengantikan nasi sebagai karbohidrat. Campuran itu kemudian dikenal dengan nama Midal. Ada yang mengatakan itu gabungan dua kata yaitu mie dan pedal (sayur). Ada juga yang memopulerkan gabungan kata mie dan rudal. Saat itu rudal dikenal dalam Perang Irak. Itu menjadi istilah karena Tinutuan itu panas dan dimakan cepat-cepat.

Orang Manado di luar Manado menanam Gedi di halaman rumah bahkan di pot. Mereka membuat Tinutuan untuk bernostalgia. Merekalah yang kemudian menamakan Tinutuan sebagai Bubur Manado. Ini untuk membedakan dengan bubur biasa yang sudah umum.
Sekarang Tinutuan menjadi makanan piknik dan makanan nostalgia bagi orang Manado. Kebiasaan lama pegawai rendahan untuk makan walaupun bukan di warung resmi tetap ada. Orang luar menyantap makanan ini karena memang enak dan karena unsur rekreatif tadi. Sedangkan bagi orang yang menderita banyak penyakit, makanan ini cocok karena menu yang sehat. Makanan ini akan tetap eksis dan berkembang karena faktor-faktor tersebut.(dma)

Liputan Khusus Tribun Manado, Jumat 4 Mei 2012 hal 6
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes