Indonesia Merindukan Gus Dur

Pojok Gus Dur (kompas@)
PELATARAN Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (28/9/2012) malam, begitu hening. Di atas panggung, lima tokoh lintas agama dan kepercayaan berdiri khusyuk. Ada KH Abdul Wahid (Islam), Romo Mudji Sutrisno (Katolik), Pendeta Palti Panjaitan (Protestan), Haksu Chandra R Mulyadi (Konghucu), dan Rahmi (Bahai).

Satu per satu mereka memanjatkan doa sesuai keyakinan masing-masing. Ini membuka pertunjukan ”Ziarah Budaya”, salah satu rangkaian Peringatan 1.000 Hari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang wafat pada 30 Desember 2009. ”Ya Tuhan, berikanlah kami semangat Gus Dur. Berikanlah kami kekuatan meneruskan perjuangannya,” kata Mudji lirih.

Pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara itu memberikan kesaksian bagaimana Gus Dur mewariskan semangat kebangsaan kepada kita semua. Bagi almarhum, setiap orang—apa pun latar belakang agama, suku, kelompok, dan golongannya—harus dihormati harkat martabatnya. Keindonesiaan adalah kemajemukan yang dirajut dengan kesetaraan dan keadilan yang tak boleh diganggu, apalagi dengan kekerasan.

Doa serupa dipanjatkan secara berurutan oleh KH Abdul Wahid, Pendeta Palti Panjaitan, Haksu Chandra R Mulyadi, dan Rahmi. Mereka mengajak bangsa Indonesia terus menghidupkan perjuangan Gus Dur. Cita-cita untuk membangun kehidupan bangsa yang damai, adil, dan saling menghormati.

”Gus Dur mengakarkan kita untuk saling menyayangi. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik, orang tak pernah bertanya apa pun agamamu,” kata Rahmi.

Pentas itu diteruskan oleh sejumlah penampil, seperti Paduan Suara dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin dari Bogor, orasi budayawan Mohamad Sobary, dan pembacaan puisi oleh penyair asal Madura, D Zawawi Imron. Ada pertunjukan musik Tribute to Gus Dur bersama putri Gus Dur, Inayah, penyanyi Glen Fredly, dan Kidung Sufi Candra Malik.

Perjuangan

”Ziarah Budaya” menjadi rangkaian Peringatan 1.000 Hari Wafatnya Gus Dur di tengah publik. Sebelumnya, bertempat di Ciganjur, digelar berbagai acara yang dihadiri ribuan umat Islam dan masyarakat. Ada pergelaran wayang, peluncuran buku, khataman Al Quran, shalawatan, dan ceramah. Semua itu menggambarkan kekayaan dimensi kehidupan almarhum.

Lahir tahun 1940, Gus Dur adalah putra KH Wahid Hasyim, tokoh kemerdekaan sekaligus menteri agama pertama RI. Kakeknya, KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Seperti kesaksian tokoh lintas agama tadi, perjalanan hidup almarhum sarat perjuangan membangun bangsa Indonesia.

Ketika terpilih menjadi Ketua Umum PBNU pada 1984, Gus Dur memimpin organisasi besar Islam itu untuk menerima Pancasila sebagai asas tunggal dan menjadikan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bentuk final negara ini. Almarhum juga menjadi salah satu tokoh Reformasi 1998 bersama Amien Rais, Megawati Soekarnoputri, dan Hamengku Buwono IX.

Di tengah masa transisi politik itu, Gus Dur terpilih menjadi presiden keempat RI (1999-2001). Selama kepemimpinannya, dia meneruskan gagasan dan perjuangan untuk kebangsaan, kemanusiaan, keadilan, dan demokrasi. Diskrimasi terhadap keturunan Tionghoa dihapuskan, Tahun Baru China (Imlek) ditetapkan sebagai perayaan nasional, dan Konghucu disahkan sebagai salah satu agama resmi.

Dirindukan

Menurut Mohamad Sobary, Gus Dur sebagai pemimpin negara, umat Islam, dan tokoh masyarakat bekerja optimal untuk melindungi kelompok yang terpinggirkan oleh arogansi kekuasaan. Politik diarahkan untuk memastikan keadilan dalam semua bidang dan tingkatan. Ini diperlukan di tengah kecenderungan politik yang menjadi dangkal, praktis, dan hanya berorientasi kekuasaan.

Setelah Gus Dur tiada, orang makin merindukan sosok yang berani tampil untuk memperjuangkan keadilan dengan membela kelompok minoritas yang terpinggirkan oleh kekuasaan, politik, dan struktur yang arogan. ”Kini, orang-orang tak punya waktu, kebesaran hati, dan keberanian untuk membela kaum tertindas. Kelompok-kelompok lemah menjadi yatim piatu karena tak punya pelindung dan jaminan memperoleh keadilan dalam kehidupan,” katanya.

Kerinduan itu dirasakan semua kalangan dari berbagai kelompok. ”Orang-orang mencintai Gus Dur karena Gus Dur mencintai orang-orang. Gus Dur mencintai kemanusiaan,” kata pengasuh Pesantren Raudhah at-Tholibin di Rembang, Jawa Tengah, KH Musthofa Bisri, di Ciganjur. (Ilham Khoiri)

Sumber: Kompas.Com

TERKAIT

    Warga Tionghoa Turut Meriahkan Haul Gus Dur
    Festival Liong Meriahkan Peringatan Wafatnya Gus Dur
    Hidupi Gagasan Gus Dur
    Ribuan Jamaah Padati Makam Gus Dur di Jombang
    Haul Gus Dur, Bupati Bagikan 1.000 Kitab Akhlaq
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes