Kami Titi Sampai Tangan Melepuh

ilustrasi
MENGENAKAN baju kaos lengan pendek, Ina Benga (40), warga Desa Muda, Kecamatan Kelubagolit, setiap hari bergelut mengolah jagung titi. Pekerjaan yang membutuhkan tenaga itu dilakoninya saban hari demi membiayai pendidikan anak- anaknya. Ina Benga memiliki dua putra bersama pasangannya, Samuel Loho (42).

Suaminya sebagai tukang kebun  tidak setiap hari mendapat uang, padahal untuk makan minum dan membiayai pendidikan anak-anak harus butuh uang setiap hari. Karena itu, Ina Benga bisa diandalkan sebagai salah satu tulang punggung meniti dan menjual jagung titi untuk makan dan biaya pendidikan anak-anak mereka.

"Setiap hari kami butuh uang. Kalau titi jagung, uang masuk setiap hari. Tapi kalau berkebun belum tentu. Karena itu, sehari-hari saya titi jagung dan ini  sudah menjadi pekerjaan saya. Saya jual satu kantong kresek biru jagung titi harganya Rp 100 ribu. Sehari bisa satu kantong, tapi kalau tidak setengahnya," tutur Ina Benga.

Hal senada diakui Mina Perada, warga Boleng, Kecamatan Ile Boleng. Ia juga  menyekolahkan anak-anaknya dengan menjual jagung titi. "Sudah belasan tahun saya menyekolahkan tiga orang anak dari hasil menjual jagung titi," ujarnya.

Setiap hari, ia bergelut dengan batu yang digunakan untuk mengolah biji jagung menjadi jagung titi. Meskipun pekerjaan titi jagung menjadi rutinitas ibu rumah tangga di hampir seantero masyarakat pegunungan di Pulau Adonara, namun harga jagung titi masih dinilai murah oleh warga setempat.

"Pekerjaan ini cukup berat, tapi harganya masih murah. Satu kantong kresek biru Rp 100 ribu. Ini kami titi sampai tangan melepuh. Tapi kami  tetap lakukan ini untuk sekolahkan anak,” kata Mina.

Ia mengatakan, selain menekuni pekerjaan rutinnya mengolah jagung menjadi jagung titi, setiap musim tanam ia juga bercocok tanam. Dari hasil menanam diolahnya menjadi jagung titi. "Jagung yang saya titi ini adalah hasil dari kebun. Kebiasaan kami simpan untuk menunggu permintaan masyarakat yang mau pesan jagung. Biasanya mereka pesan untuk keluarga di luar desa atau daerah," jelasnya.

Sementara itu, Somi Lipat, warga Waiwerang, Kecamatan Adonara Timur mengaku pekerjaan meniti jagung sangatlah mudah. Ia sudah melakoninya sejak puluhan tahun untuk membiayai sekolah anaknya.  "Walau anak saya hanya tamat SMA, tapi saya bangga. Karena mereka semua sekolah dari hasil jerih payah titi jagung,” kata Somi. (iva)

Sumber: Pos Kupang 5 Juli 2015 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes