Gelap


TUAN dan puan kiranya masih ingat film serial Baywatch yang ditayangkan salah satu stasiun televisi Indonesia beberapa tahun silam. Serial ini pertama kali diluncurkan tahun 1989 dan tayang secara mingguan di stasiun televisi NBC. Di luar dugaan film yang diilhami dari cerita Greg Bonnan itu sangat populer dan bertahan selama sepuluh tahun lebih. Bahkan Baywatch -- termasuk spin-off berjudul Baywatch Night ditayangkan di lebih dari 140 negara termasuk Indonesia.

Pada tahun 2001 tayangan serial Baywatch dihentikan setelah jumlah penonton di Amerika Serikat (AS) menurun hingga 1,9 juta per minggu. Namun, pada tahun 2006 kisahnya kembali diangkat ke layar lebar. Tidak tanggung-tanggung. Untuk membuat kisah yang lebih seru dan menarik produser menunjuk Steven Spielberg sebagai sutradara.

Saat tayang di Indonesia film Baywatch sangat digemari pemirsa karena kisah setiap episode sangat menarik dan sarat dengan pesan kemanusiaan. Ada kisah tentang perjuangan keras menolong sesama, intrik dan dengki, balas dendam hingga kisah asmara dan pertemanan sejati.


Penampilan fisik bintang Baywatch yang cantik dan molek lewat bikini ketat serta tubuh atletis merupakan salah satu daya tarik serial tersebut. Tuan dan puan yang pernah menikmati Baywatch kiranya masih ingat sejumlah nama seperti David Hasselhoff, Carmen Electra, Jeremy Jackson, Michael Bergin, Brooke Burns, David Chokachi, Mitzi Kapture, Pamela Anderson, Kelly Packard dan Jose Solano. Dari sekian banyak bintang, aktris dan aktor yang menjadi ikon Baywatch adalah Pamela Anderson, Carmen Electra dan David Hasselhof.

Busana seksi dan kemolekan tubuh Pamela Anderson atau Carmen Electra hanyalah unsur pemikat Baywatch. Kisah film serial televisi tersebut menjadi sangat populer justru karena idenya sederhana dan menyentuh kebutuhan manusia yaitu jaminan keamanan ketika bersuka ria dengan keluarga, sahabat atau kekasih di pantai wisata.

Para penjaga pantai di Baywatch yang keren dengan seragam merah mereka menunjukkan cara kerja profesional. Mereka siaga setiap saat. Mereka dilengkapi fasilitas penyelamatan seperti radio, jet ski, boat karet, boat fiberglass, mobil ambulance, helikopter dan pos pengamatan pada sejumlah titik strategis.

Mereka mengingatkan pengunjung pantai tentang lokasi berbahaya, tentang cuaca dan tinggi gelombang laut, cara mencegah serangan hiu sampai pertolongan pertama (P3K) terhadap korban manusia saat bersukaria di pantai wisata.

Film tersebut sesungguhnya mencerminkan keseriusan pemerintah sebuah negara serta pemangku kepentingan obyek wisata bahwa keselamatan manusia merupakan hal yang paling pokok. Keselamatan nyawa manusia tidak bisa ditawar-tawar atau dipermainkan dengan cara kerja setengah hati.

Stasiun televisi NBC mencatat, selama 11 tahun masa penayangan yang sukses luar biasa Baywatch telah menginspirasi banyak pemerintahan di dunia dalam hal mengelola obyek wisata pantai secara profesional. Baywacth tidak sekadar sarana hiburan. Tapi film serial itu menjadi sumber referensi. Bahan pembelajaran berharga untuk negara-negara di dunia yang memiliki obyek wisata pantai.

Virus Baywacth juga menjalar ke Indonesia. Adalah Pulau Dewata Bali yang menangkap inspirasi tersebut dengan membentuk Balawista, semacam Baywatch versi Indonesia.

Bali yang salah satu menu utama adalah obyek wisata pantai belajar dari Baywacth dalam memberikan kenyamanan bagi pengunjung pantai. Maka hadirlah anggota Badan Penyelamat Wisata Air (Balawista). Para penyelamat pantai itu selalu siaga di enam pos sepanjang kawasan pantai Kuta dari Tuban hingga Seminyak. Setiap detik mereka berjaga-jaga untuk mencegah dan mengantisipasi kemungkinan terjadinya kecelakaan menimpa wisatawan yang tengah mandi, berjemur atau melakukan aktivitas lain di tengah deburan ombak Pantai Kuta.

Sebagaimana penjaga pantai di Baywatch, anggota Balawista dituntut memiliki rasa kepedulian tinggi terhadap nasib orang lain. Juga ketulusan dan kerelaan berkorban bagi sesama. Jika berkunjung ke Pantai Kuta Bali tuan dan puan melihat kesiagaan mereka. Juga melihat bagaimana pemerintah di Bali sangat serius memperhatikan keselamatan pengunjung pantai sebagai sumber pemasukan utama pariwisata Bali.

Di banyak tempat wisata mudah menemukan papan atau tanda berisi peringatan atau imbauan. Tentang hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Di Pantai Kuta dan pantai wisata lainnya di Bali mudah menemukan bendera merah atau bendera kuning. Itu merupakan simbol yang mengingatkan pengunjung bahwa di tempat wisata yang paling aman sekalipun, bencana bisa saja terjadi sehingga kewaspadaan tidak boleh longgar.

Bagaimana dengan kita di beranda rumah Flobamora? Nusa Tenggara Timur (NTT) bangga sekali dengan karunia Tuhan sebagai propinsi kepulauan. Tiga perempat luas wilayah ini merupakan perairan. Ke mana-mana kita selalu bercuap memiliki ratusan bahkan ribuan pantai wisata yang indah. Pantai berpasir putih serta alamnya masih bersih. Wisata pantai merupakan andalan orang NTT.

Tapi seperti tuan dan puan lihat dan rasakan sendiri, pengelolaan pantai sebagai lokasi wisata di NTT cuma mengutamakan duit. Tidak ada jaminan kenyamaman dan keselamatan bagi pengunjung. Maut mengintai siapa saja setiap saat berlibur di pantai-pantai Flobamora. Jadi kalau tidak butuh sekali sebaiknya tidak perlu berwisata dengan keluarga atau kerabat ke pantai. Carilah lokasi lain yang aman.

Contohnya persis di depan hidung. Di pantai wisata Kota Kupang dan sekitarnya yang menjadi barometer ini propinsi. Pantai wisata di Kupang saban tahun selalu menelan korban jiwa. Dalam dua tahun terakhir saja, terhitung sejak 13 Juni 2008 hingga 24 Juni 2010, Pos Kupang mencatat 20 orang tewas di Pantai Lasiana, Oesapa, Pasir Panjang hingga Pantai Tablolong. Dari 20 korban tewas itu, Tablolong pegang rekor dengan menelan korban sebanyak 17 orang. Mengerikan, kawan! Tapi siapa peduli? Kematian itu dianggap musibah biasa. Pemerintah atau negara merasa bukan tanggung jawabnya memberi rasa aman bagi warga sendiri.

Beta cukup tahu diri saat bercerita tentang film Baywatch. Penjaga pantai ala Baywatch masih merupakan mimpi bagi propinsi miskin papa dan riang dengan petaka salah urus ini.

Putra-putri NTT yang ingin berwisata ke pantai tidak butuh kemewahan Baywatch atau Balawista seperti di Bali. Mereka butuh hal-hal kecil seperti toilet, papan peringatan, tanda larangan atau semacam monumen kecil di lokasi wisata yang telah makan banyak korban jiwa. Celakanya hal-hal kecil seperti itu pun tidak mampu disediakan pemimpin kampung yang digaji dan mendapat kemewahan sebagai pejabat negara atau pamong praja dengan duit rakyat!

Coba tuan dan puan lihat baik-baik. Pada hampir semua pantai wisata NTT, petugas jaga dari dinas teknis cuma rajin menagih retribusi kepada pengunjung. Bahkan di sebagian besar pantai wisata, petugas hanya muncul batang hidungnya di hari libur. Dan kehadiran mereka hanya untuk pungut retribusi. Selesai!

Manfaat langsung bagi pengunjung setelah membayar karcis masuk bukan urusan mereka. Aspek kenyamanan dan keselamatan urusan pengunjung sendiri, termasuk kamar WC alias toilet. Di Tablolong, misalnya, ada sejumlah lopo (tempat bernaung) dan jalan setapak dari semen. Ada toilet namun hanya bangunan saja. Tuan mau pipis, silakan lari ke dalam semak belukar atau sembunyi badan di balik batu karang hitam. Toilet di sana tanpa air. Sampah pun berserakan di mana-mana.

Beta sungguh tak tahu lagi harus berkata apa. Ketika nyawa demi nyawa berguguran di pantai wisata Flobamora, bagaimana nurani pemimpin kita. Tuli, buta atau telah kehilangan rasa malu? Mereka itu piawai omong tiap hari soal kesejahteraan rakyat dan tangung jawab negara. Paham konteks dan aksinya? Aihh...gelap! (dionbata@gmail.com)

Pos Kupang Senin 5 Juli 2010 halaman 1

Ketidakadilan Bola


Oleh Dion DB Putra

SEPAKBOLA dan nasib itu berdekatan satu sama lain. Begitu banyak kebanggaan tergapai, tetapi tak sedikit air mata tercurah di ujung laga. Ada tawa, ada tangis! Demikianlah keadilan bola. Di Accra, ibu kota Ghana, para pendukung tim Bintang Hitam menghujat Luiz Suarez sebagai musuh nomor satu Afrika dan musuh utama sepakbola yang menjunjung tinggi fair play. Di Montevideo, Luiz Suarez dielu- elukan sebagai pahlawan. Berkat tangannya menghadang bola di garis gawang, Uruguay lolos ke semifinal.

"Pertandingan tersebut adalah akhir dari Piala Dunia, jadi saya tidak punya pilihan. Saya memang sengaja melakukan itu meski saya tahu bisa menjadi akhir dari perjalanan kami di Afrika Selatan. Tapi melihat Gyan gagal mengeksekusi penalti, saya sangat gembira. Tuhan telah menolong kami," kata Suarez.

Biasalah dalam jagat sepakbola, nama Tuhan selalu dibawa-bawa saat berjaya atau terkapar. Lihat saja kebanyakan pemain saat masuk atau keluar lapangan tak lupa membuat tanda salib. Dalam Nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Amin.


Di mata tiga juta rakyat Uruguay, Suarez kini dikenang sebagai martir bola!
Seandainya Luiz Suarez tidak menahan bola dengan tangannya pada menit ke-118 itu, Uruguay kalah 1-2 atas Ghana dan tidak lolos ke babak semifinal Piala Dunia 2010. Tetapi Suarez melakukan itu dengan sadar meski ia diusir wasit Olegario Benquerenca asal Portugal dan Uruguay pun dihukum tendangan penalti.

Mestinya penalti di detik terakhir laga 120 menit itu menjadi akhir ziarah Uruguay di World Cup 2010 sekaligus memastikan Ghana sebagai tim pertama Afrika yang menembus babak semifinal dalam 80 tahun sejarah Piala Dunia.

Namun, miliaran penonton televisi sejagat dan sekitar 80.000 penonton, sekitar 65 persen pendukung Ghana di Stadion Soccer City, Johannesburg, Jumat (2/7/2010) malam atau Sabtu (3/7/2010) dinihari Wita, hampir tak percaya ketika tendangan penalti Asamoah Gyan membentur mistar gawang Fernando Muslera. Gyan yang biasanya jitu mengeksekusi penalti gagal pada momentum yang menentukan.

Muslera berjingkrak. Luiz Suarez pun mengepalkan tangan bahagia. Rupanya ada "Malaikat Kecil" yang menjaga di mulut gawang Uruguay, mengutip ucapan terkenal bintang Belanda di Euro 2000, Patrick Kluivert. Aksi Suarez dan kegagalan penalti Gyan kemudian menjadi titik balik bagi sukses Uruguay. Pertandingan berakhir 1-1 hingga 120 menit dan pemenang harus melalui adu penalti. Uruguay akhirnya menang 4-2 setelah tembakan dua esekutor Ghana berhasil diblok kiper Fernando Muslera. Saat adu penalti, Gyan sukses menjalankan tugasnya tapi Uruguay yang berpesta. Mereka melaju ke babak empat besar menghadapi Belanda yang dengan gagah perkasa mengirim pulang Brasil lebih awal ke negaranya.

"Malaikat kecil" di mulut gawang Uruguay Jumat malam itu telah menistakan Gyan sebagai pemain paling berdosa untuk negerinya Ghana dan benua Afrika yang sangat mengharapkan wakilnya tetap bertahan di Piala Dunia 2010. Duka Ghana adalah juga duka sekitar satu miliar rakyat Afrika yang berharap penuh agar the Black Stars memberi hasil membanggakan saat Piala Dunia pertama kali di Afrika.

Kekalahan adu penalti sungguh tidak adil bagi Ghana yang bermain jauh lebih baik ketimbang Uruguay. Ghana dicurangi aksi Suarez yang sengaja menangkis bola dengan tangannya. Nasib baik pun tidak memihak mereka saat Gyan mengambil tendangan 12 meter. Dunia menyaksikan dengan perasaan getir ketika Gyan terkulai di lapangan sambil menangis saat wasit Olegario Benquerenca meniup peluit akhir.

Gyan menanggung beban psikologis sangat berat. Dia menjadi pahlawan timnya sejak penyisihan grup. Justru di laga penting melawan Uruguay, Asamoah Gyan menjadi biang kehancuran. Tangis dan tawa memang sangat tipis dalam sepakbola.
Kesedihan Gyan persis sama dengan perasaan bek Jepang, Yuichi Komano yang gagal mengesekusi penalti ke gawang Paraguay di babak 16 besar. Hati Komano hancur-lebur karena dialah penyebab kegagalan Jepang. "Saya terus menunduk dan menangis. Mengapa bisa sebodoh itu untuk sesuatu yang sudah biasa saya lakukan dengan baik sebelumnya," kata Komano. Jepang bermain luar biasa menghadapi Paraguay. Namun, nasib baik bukan milik negeri Sakura itu.

Setiap kali menghadapi nasib buruk sebagaimana menimpa Jepang dan Ghana di Piala Dunia 2010, penalti kembali "dikutuk" sebagai cara tidak adil meraih sebuah kemenangan. Sejak lama para pengamat dan pakar sepakbola menilai begitu adu penalti, maka sepakbola pun tak ubahnya seperti adu untung. Berjudi. Main lotre.

"Tiadakan saja adu penalti yang kejam dan tidak manusiawi ini. Tuan-tuan di FIFA harus mengubah aturannya. Cari cara lain yang lebih obyektif," kata pemain legendaris Inggris, Boby Robson setelah Inggris disingkirkan Jerman Barat 4-3 (1- 1, 0-0) lewat drama adu penalti di semifinal Piala Dunia 1990 di Stadion Delle Alpi Turin 4 Juli 1990. "Di ruang ganti saya melihat pemain menangis. Saya juga tak dapat menahan air mata. Kita tidak terkalahkan, tapi kita gagal ke final. Di semifinal kita bermain gemilang, toh terjungkal gara-gara penalti sialan itu," kata Robson.

Menurut Robson, pemain yang gagal penalti pada momentum penting akan memikul beban psikologis sepanjang kariernya. Merasa malu dan bersalah. Benarkah Ghana kalah? Bukankah kekalahan itu terletak dalam kegagalan Gyan menembak penalti pada menit ke-119? Begitulah gumam kesedihan jutaan penggemar Ghana. Perasaan tidak adil serupa pun menghiasi langit Jepang. Kasihan Komano!

Mengharapkan FIFA mengubah penalti sebagai cara memenangkan pertandingan agaknya sulit terwujud dalam waktu dekat. FIFA terkenal konservatif dan tidak mau mengubah tradisi yang sudah bertahan hampir satu abad.

Penalti sebagai adu untung itu membuat banyak pemain bola, termasuk pemain bintang sekalipun angkat tangan kalau merasa tidak siap secara mental. Pelatih Jerman (Barat) yang sukses di Piala Dunia 1990, Franz Beckenbauer mengakui itu. "Sangat sulit mencari pemain yang mau mengambil penalti. Maka pedoman saya simpel saja, hanya siapa yang punya kepercayaan diri dan bersedia, itulah yang saya pilih sebagai algojo," kata Sang Kaisar bola itu.

Kekuatan mental merupakan kunci sukses menendang bola dari titik putih. Maka terlepas dari "skandal" Luiz Suarez dan keyakinan Muslera tentang "Malaikat Kecil" menjaga mulut gawangnya saat Gyan menyepak jabulani di Soccer City, lima alogojo Uruguay memang lebih siap secara mental ketimbang Ghana yang baru beberapa menit sebelumnya terpukul dengan kegagalan Gyan. Keadilan bola punya cara yang unik sekaligus misterius. Kadang menyakitkan! Tapi di situlah magnet bola yang akan terus menyihir dunia hari ini, besok dan lusa.*

Pos Kupang 4 Juli 2010 halaman 1

Terusir dari Roma

Oleh Dion DB Putra

SEPAKBOLA bukan hanya soal prestasi. Bola juga membawa tragedi. Tragedi kehidupan manusia yang lama membekas di relung hati. Sejauh ada tangis, maka kegembiraan pun tak sepenuhnya mempunyai nilai sukacita. Itulah yang selalu diingat Diego Armando Maradona.

Di Kota Roma, Diego menangis sejadi-jadinya ketika 70 ribu tifosi (pendukung) Italia mengolok-olok dirinya saat memimpin Argentina menghadapi Jerman Barat di grandfinal Piala Dunia 1990. Diego bersama Argentina gagal mempertahankan gelar. Tim Tango terusir dari Roma sebagai tim yang kalah disertai hujatan, Biarlah Si Tangan Setan Pergi ke Neraka - untuk mengolok Maradona yang menciptakan gol "tangan Tuhan" ke gawang Inggris di Piala Dunia Meksiko 1986.


"Kenangan itu tak terlupakan. Saya merasa sendirian menjadi musuh dua negara sekaligus. Musuh Jerman dan Italia. Tapi saya menangis atas apa yang dilakukan Italia terhadap saya dan Argentina," kata Maradona mengenang peristiwa itu.
Setelah Squadra Azzurra tersungkur di semifinal, fans Italia marah terhadap Maradona yang dijuluki El Pibo de Oro (Si Anak Emas). Mereka menganggap Diego mengakhiri mimpi Italia saat Piala Dunia berlangsung di tanah air sendiri.

Diego Maradona memang menebarkan sensasi di World Cup 1990 Italy. Dunia menertawakan Argentina dan mulut besar Maradona saat juara bertahan itu dipermalukan Kamerun 1-0 pada laga perdana Grup B 8 Juni 1990 di Stadion Giuseppe Meazza Milan. Kamerun yang dipimpin "singa tua" Roger Milla sontak termasyur lewat aksi Milla yang memukau.

Ketika banyak orang meremehkan Argentina, Maradona membuat perbedaan. Pelan tapi pasti Argentina menang 2-0 atas Uni Soviet dan bermain 1-1 melawan Rumania. Argentina lolos ke babak 16 besar bersama Kamerun dari Grup B.
Di babak babak 16 besar tanggal 24 Juni 1990, Argentina memulangkan Brasil lebih awal. Maradona dkk menekuk tim Samba 1-0. Laju Argentina tak tertahankan lagi. Mereka menghabisi Yugoslavia 3-2 di babak perempatfinal lewat adu penalti setelah skor 0-0 selama waktu normal. Tifosi Italia tercengang karena pertemuan dengan Argentina di semifinal tak terelakkan. Tapi semua menjagokan Squadra Azzura yang meraih hasil 100 persen sejak penyisihan grup.

Sebagaimana watak aslinya, Maradona tampil percaya diri dan menyatakan tidak takut melawan tuan rumah Italia, negara tempat ia mencari makan dan menjadi bintang besar bersama klub Napoli sejak 1984. Laga semifinal di San Paolo 3 Juli 1990, Argentina menang 4-3 lewat adu penalti setelah skor 1-1 selama 120 menit. Kiper Argentina, Sergio Goycochea menjadi pahlawan. Dia menggagalkan eksekusi penalti dari Roberto Donadoni dan Serena. Dengan berlinang air mata, Italia terbang ke Bari untuk memperebutkan ranking ketiga melawan Inggris yang juga takluk 3-4 atas Jerman Barat. Banyak jalan ke Roma, tapi hanya Argentina dan Jerman Barat yang berhak masuk Kota Roma memperebutkan tahta terhormat.

Rakyat Italia jengkel betul dengan Maradona. "Argentina dan Maradona harus ditempeleng empat kali," tulis Corriere dello Sport kala itu. Forza Germania! Demikian bunyi spanduk raksasa di Stadion Olimpico serta teriakan tifosi Italia. Mereka mengelu-elukan kapten Jerman, Lothar Mathaeus. Lothar saat itu adalah pemain pilar Inter Milan (1988-1992). Tifosi Italia merasa Jerman sebagai saudara yang pantas membalaskan dendam atas Argentina. Toh ada lima pemain inti Jerman Barat di Piala Dunia 1990 yang membela klub Serie A yaitu Rudi Voeller, Matthaeus, Jurgen Klinsmann, Andreas Brehme dan Berthold.

Dasar Maradona keras kepala. Bukannya takut, dia malah menyulut emosi fans Azzurri dan Jerman lewat sindiran pedas. "Melawan Brasil kami sukses berkat keajaiban. Melawan Italia adalah pertandingan kami yang paling ringan. Jerman Barat? Ah, mereka sudah merasakan penderitaan di final 1986," kata Maradona sebelum malam final melawan Jerman Barat 8 Juli 1990 di Stadion Olimpico Roma.
Di babak final Piala Dunia 1986, Diego Maradona dkk mengalahkan Jerman Barat 3-2 di Stadion Azteca Meksiko. Tiga kali gawang Schumacher jebol berturut-turut menit ke-23 dan 56 oleh Brown dan Jorge Valdano serta gol pamungkas dari Buruchaga menit ke-86. Semua gol tercipta berkat passing jitu Maradona. Jadi wajarlah bila dia amat percaya diri menghadapi tim yang sama di Roma 1990.

Namun, kali ini sejarah tidak memihak Diego. Argentina gagal membendung mesin diesel Jerman. Teror penonton sepanjang laga di Olimpico 8 Juli 1990 ikut meredupkan bintang Argentina. Sebelas pemain Argentina seolah menghadapi 13 pemain. Pemain ke-12, fans Jerman dan pemain ke-13 para tifosi Italia yang marah. Jerman mengalahkan Argentina 1-0 lewat gol penalti Andreas Brehme.

Kiper Goycochea yang tampil gemilang saat menghadapi Yugoslavia dan Italia, gagal menepis tembakan Brehme. Di akhir pertandingan, Maradona menangis sesenggukan. Tak sanggup menegakkan kepala. "Italia menganggap saya lebih dari setan. Dan, Jerman memetik keuntungan," kata Maradona.

Dendam kesumat itulah yang ingin dituntaskan Maradona saat tim asuhannya melawan Jerman di perempatfinal Piala Dunia 2010, Sabtu (3/7/2010) malam. Sejak memastikan bertemu Jerman, Maradona telah berulangkali secara terus terang mengungkapkan dendamnya atas Jerman. "Kami tidak takut siapa pun. Saya sudah tak tahan untuk segera menghentikan mereka (Jerman)," kata Diego.

Kemarin Maradona menyindir gelandang Jerman, Bastian Schweinsteiger yang menuduh pemain Argentina suka memprovokasi dan mempengaruhi wasit. Dalam wawancara televisi, Maradona menanggapi gelandang Bayern Munchen itu dengan aksen Jerman palsu. "Ada apa Schweinsteiger? Apakah kamu gugup?" kata Maradona seperti dikutip Sky Sports. Wow!

Dengan sokongan bintang titisannya Lionel Messi yang oleh pers diplesetkan sebagai Messidona serta pemain-pemain berbakat lainnya, Maradona cukup percaya diri menghadapi laga hidup mati melawan Jerman.

Apalagi catatan rekor memihak Argentina. Menurut data kantor berita Reuters, kedua negara telah bertemu 18 kali dalam laga resmi Piala Dunia maupun ujicoba sejak di Malmo 8 Juni 1958 hingga terakhir di Munich, 3 Maret 2010. Dari 18 pertemuan itu, Argentina menang 8 kali. Jerman 6 kali unggul dan 4 kali berakhir seri. Maradona optimis karena dalam partai ujicoba di Munich bulan Maret lalu, timnya mengalahkan Jerman 1-0.

Jika Maradona banyak cakap dan tidak malu-malu mengungkapkan dendamnya terhadap Jerman, sikap sebaliknya diperlihatkan pelatih Jerman, Joachim Loew. Loew tak sekalipun terpancing sindiran Maradona atau mengeluarkan pernyataan meremehkan lawan. Loew minta kepada Philipp Lahm dkk tetap fokus karena mereka akan menghadapi salah satu tim terbaik di South Africa 2010. "Argentina tim yang hebat. Jadi, sangat penting bagi kami untuk tetap fokus dengan gaya permainan dan tujuan kami di Afrika Selatan," kata Loew.

Dari sisi kematangan pemain, Argentina sedikit lebih baik ketimbang Jerman yang berintikan rata-rata pemain muda usia. Namun, jika Jerman konsisten dengan cara bermain disiplin dan efektif, bukan mustahil Argentina akan menelan pil pahit di Cape Town malam ini. Jerman kiranya telah belajar dari kekalahan melawan Serbia. Dua kemenangan telak, masing-masing 4-0 atas Australia di penyisihan grup dan menyingkirkan musuh bebuyutan Inggris di perdelapanfinal 4-1 merupakan bukti kuat betapa Jerman 2010 pantas diunggulkan sebagai calon juara.

Cara bermain Jerman memang tak sedap dipandang mata. Tapi hanya Jerman yang mampu menunjukkan cara sederhana bagaimana meraih kemenangan. Prinsip dasar sepakbola Jerman warisan "Kaisar" Franz Beckenbauer adalah fisik yang prima (krauftfussball). Fisik prima ditunjang dengan disiplin tinggi. Inilah yang membuat Jerman dijuluki tim spesialis juara. Lihat postur dan aksi pemain Jerman. Mereka atletis, kuat, lincah, dinamis, cepat dan hebat daya tembaknya ke gawang lawan!

Melawan Jerman merupakan ujian sesungguhnya bagi Maradona dan timnya. Musuh utama Maradona dan Argentina adalah over percaya diri sebagaimana Brasil yang akhirnya tersungkur menghadapi Belanda di Port Elizabeth semalam. Rekor Belanda tak pernah menang atas tim Samba berakhir sudah! Malam ini Maradona mesti membuktikan bahwa dia tidak mau mengalami tragedi yang sama dua puluh tahun silam di Roma, terusir dengan berurai air mata dari bumi Bafana-Bafana. *

Pos Kupang 3 Juli 2010 halaman 1

Brasil Tak Ada Lagi

Oleh Dion DB Putra

TAK terasa sudah 56 pertandingan Piala Dunia 2010 yang kita nikmati melalui layar televisi. Piala Dunia 2010 menyisakan delapan pertandingan lagi yaitu empat partai perempatfinal, dua partai semifinal dan dua pertandingan grandfinal. Final memperegutkan tropi FIFA World Cup dan satu partai perebutan tempat ketiga.

Jika fase penyisihan grup melahirkan kejutan dengan tumbangnya tim raksasa Italia dan Perancis, babak 16 besar praktis sepi dari kejutan. Delapan tim yang lolos ke perempatfinal tidak jauh dari prediksi para analis bola. Slowakia yang sempat disanjung sebagai tim "pembunuh raksasa" Italia gagal melanjutkan kejutan melawan tim Oranye Belanda.

Demikian pula dengan Jepang, Chile, Meksiko, Korea Selatan, Amerika Serikat, Inggris dan Portugal. Dua nama terakhir bertemu tim raksasa, Jerman dan Spanyol. Dan, tim terbaiklah yang menang!

Kehebohan babak 16 besar justru kontroversi perlu tidaknya penggunaan teknologi dalam sepakbola, terutama tayangan ulang guna membuktikan bola masuk gawang atau belum serta posisi offside pemain. Kontroversi itu mengemuka lagi setelah gol Frank Lampard ke gawang Jerman tidak disahkan wasit asal Uruguay, Jorge Larrionda. Tayangan ulang televisi jelas menunjukkan bola sudah melewati garis gawang. Kiper Jerman, Manuel Neuer pun mengakui. Namun, Jorge Larrionda setelah diskusi dengan hakim garis Pablo Fandino tetap memutuskan bola belum melewati garis. Inggris akhirnya kalah 1-4.

Wasit asal Italia, Roberto Rosseti juga melakukan kesalahan fatal. Rosetti yang pimpin laga Meksiko melawan Argentina, justru mengesahkan gol Carlos Tevez, meski striker Argentina itu dalam posisi offside saat menerima umpan pendek Lionel Messi. Atas kesalahan wasit itu, Presiden FIFA, Sepp Blatter mohon maaf kepada asosiasi sepakbola Inggris dan Meksiko.

Namun, keputusan FIFA tak berubah. FIFA menolak penggunaan teknologi agar permainan sepakbola tetap manusiawi. Wasit tetaplah manusia yang paling menentukan di lapangan. Wasit tak luput dari kekhilafan. Justru di situlah nilai utama sepakbola sebagai permainan anak manusia.

Tidak cuma minta maaf, FIFA telah memulangkan Larrionda dan Rosetti ke negaranya. Keduanya tidak lagi bertugas di South Africa 2010. Larrionda dan Rossetti menyusul dua wasit yang dipulangkan lebih dulu akibat kesalahan di fase grup, yaitu Koman Coulibaly dan Stephane Lannoy. Coulibaly menganulir gol Amerika Serikat atas Slovenia yang membuat pertandingan berakhir 2-2. Sedangkan Lannoy mengganjar Kaka dengan kartu kuning kedua yang menyebabkan bintang Brasil itu terusir dari lapangan saat melawan Pantai Gading. Kaka dapat kartu merah akibat reaksi berlebihan Kader Keita saat kontak fisik.

***
MESKIPUN kukuh pada pendiriannya menolak penggunaan teknologi, FIFA sesungguhnya sedang gundah melihat masa depan sepakbola sebagai permainan yang indah dan menghibur lewat terciptanya gol demi gol di lapangan. Data statistik Piala Dunia 2010 telah mengejutkan badan sepakbola dunia tersebut.
Selama penyisihan grup yang memainkan 48 partai hanya tercipta 101 gol atau rata-rata 2,1 gol per pertandingan. Gol paling subur disumbang empat tim di Grup B dan G masing- masing 17 gol. Grup H paling miskin dengan hanya delapan gol.

Dibanding fase penyisihan grup, putaran 16 besar sedikit lebih produktif yaitu tercipta 22 gol dari delapan pertandingan -- minus delapan gol hasil adu tendangan penalti dalam partai Paraguay vs Jepang. Artinya selama babak 16 besar rata-rata tercipta 2,7 gol per pertandingan. Kendati masih menyisakan delapan pertandingan lagi hingga final 11 Juli 2010, FIFA tidak yakin produktivitas gol Piala Dunia 2010 akan lebih baik ketimbang Piala Dunia sebelumnya.

Kecenderungan itu sungguh mencemaskan karena permainan sepakbola makin membosankan. Data FIFA tentang produktivitas gol dalam tiga event Piala Dunia terakhir menunjukkan kondisi tersebut. Pada Piala Dunia 1998 di Perancis, rata-rata gol per pertandingan 2,67. Piala Dunia 2002, menurun lagi menjadi 2,52 gol per pertandingan. Dan, di Piala Dunia Jerman 2006, rata-rata hanya tercipta 2,30 gol per pertandingan. Trend menurun itu agaknya menguat di Piala Dunia 2010.

Maknanya apa? Kiranya jelas bagi penggemar bola bahwa cabang olahraga terpopuler sejagat itu kian pragmatis. Yang penting hasil akhir, bukan proses! Sebuah tim tidak lagi menjunjung tinggi keindahan bermain bola. Tega meninggalkan attacking football yang pasti menghibur. Mereka menganut prinsip: Percuma bermain indah tapi kalah. Sejarah bola cuma ingat pemenang! Maka tujuan tim hanya satu, raih kemenangan lewat cara-cara yang dimungkinkan oleh rule of the game.
Bermain defensif tidak melanggar ketentuan FIFA.

Benarlah kata para sesepuh sepakbola dunia seperti Pele, Franz Beckenbauer, Johan Cruyff, Tostao dan Michel Platini bahwa di South Africa 2010 permainan bertahan dan mengandalkan serangan balik jadi pilihan utama tim peserta. Kecuali Spanyol yang tampil konsisten dengan umpan-umpan pendek dalam menyerang total lawan sepanjang laga, tim lain seperti Jerman, Belanda, Brasil, Argentina, Uruguay, Ghana dan Paraguay lebih mengutamakan back yang tangguh dan disiplin menjaga wilayah sendiri dari gempuran musuh.

Di Afrika Selatan 2010, jabulani lebih lama berputar di blok tengah dan lini kedua. Saat digempur lawan, enam sampai delapan pemain membangun tembok di luar kotak 16 meter. Setelah mengamankan bola, mereka baru serangan balik mengandalkan kecepatan striker dan gelandang. Dalam bahasa teknis bola, amankan dulu pertahananmu baru serang lawan demi menghasilkan gol. Maka yang tersaji adalah duel yang monoton. Permainan ekstra hati-hati.

Brasil yang sejak abad ke-20 identik dengan permainan indah dan menyerang, di bawah asuhan Dunga tegas mengucapkan sayonara kepada sepakbola indah ala Samba. Tujuan Dunga hanya kemenangan. Persetan dengan jogo bonito. Persetan dengan tarian Selecao yang menghibur dan menghipnotis dunia warisan Edson Arantes Do Nascimento alias Pele.

Brasil 2010 adalah Brasil yang lain. Begitu kerisauan Tostao, salah seorang legenda Brasil di Piala Dunia 1970. "Brasil yang dulu dipuja karena mampu melakukan umpan-umpan mengalir dan indah, kini tak ada lagi. Sekarang era sepakbola dengan pertahanan ketat dan serangan balik," kata Tostao.

Belanda pun setali tiga uang. Tidak terlihat agresivitas tim Oranye yang membuat penonton jatuh hati kepadanya. Sejak diracik pelatih miskin senyum Van Marwijk, Belanda dituntut menjadi tim yang efektif meraih hasil bukan penghibur yang dalam sejarah Piala Dunia memang sekadar menobatkan Belanda sebagai juara di hati penonton atau juara tanpa mahkota. Ingat nasib Belanda final Piala Dunia 1974 melawan Jerman Barat dan final 1978 melawan Argentina. Oranye meliuk-liuk laksana balerina. Menghibur lewat tik-tak total football yang menawan hati tapi berakhir sebagai runner-up.

Hilangnya keindahaan sepakbola Belanda tentu ditangisi banyak orang. Apalagi pelaku utama seperti Johan Cruyff yang mewariskan tradisi tersebut. Dalam kolomnya di Harian De Telegraaf seperti dikutip Kompas, 29 Juni 2010, pemain legendaris Belanda itu menangisi sirnanya total football.
Cruyff memuji Chile, suatu sindiran halus buat Belanda. "Di akhir turnamen yang diikuti 32 tim, hanya akan ada satu juara. Jadi, di saat peluang merebut juara sangat tipis, kesempatan menghibur para suporter ada di tangan. Sayangnya, Chile yang mengambil kesempatan tersebut," ujar Cruyff.

Chile sudah gugur. Tiga gol Brasil yang memulangkan Chile pun bersumber dari serangan balik cepat trio maut tim Samba, Luis Fabiano, Robinho dan Kaka.

Cruyff tak lupa menyindir Brasil. "Hilang ke manakah tim Brasil yang selama ini kita kenal di Piala Dunia?" kata Cruyff seperti dikutip ESPN Soccernet, kemarin. "Saya melihat tim itu dan mengenang pemain-pemain seperti Gerson, Tostao, Socrates, Falcao atau Zico. Sekarang saya hanya menyaksikan Gilberto, Melo, Bastos dan Julio Batista," katanya.

Belanda dan Brasil akan 'perang' di Stadion Nelson Mandela Bay, Port Elizabeth, Jumat (2/7/2010) malam. Laga perempatfinal ini bakal menyedot perhatian dunia. Tapi merindukan tarian samba dan balet yang menghibur dunia dari Port Elizabeth mungkin terlalu berlebihan.*

Pos Kupang 1 Juli 2010 halaman 1

Merindukan Ruud Gullit

Oleh Dion DB Putra

SUKSES selalu menghadirkan romantisme sejarah. Begitulah yang sedang menghiasai relung hati publik Belanda hari-hari ini ketika ziarah sepakbola tim Oranye di Piala Dunia 2010 berjumpa lagi dengan musuh abadinya, Brasil.

Setelah dua kegagalan melawan Brasil di ajang Piala Dunia (1994 dan 1998) dan rekor tak pernah menang atas Brasil dalam sembilan pertandingan baik laga resmi maupun ujicoba, Belanda tiba-tiba merindukan figur Ruud Gullit hadir dalam tubuh tim Oranye. Mengapa Gullit? Mengapa bukan Rinus Michels atau Johan Cruyff sebagai peletak dasar tradisi total football hingga Belanda dikagumi dunia?

Lewat aksi total football, Johan Cruyff menjadi ikon klub Ajax Amsterdam dan timnas Belanda sepanjang era 1970-an. Ajax berjaya di Eropa. Dan, Belanda merupakan tim paling menakutkan di dunia pada masa itu selain Brasil dan Jerman Barat. Belanda luar biasa karena menembus babak grandfinal Piala Dunia berturut-turut tahun 1974 dan 1978.

Marinus Jacobus Hendricus Michels atau lebih tersohor dengan sapaan Rinus Michels merupakan striker legendaris Ajax tahun 1946-1958. Michels pun temasuk pilar timnas Belanda sebelum masa keemasan Johan Cruyff, Johan Neeskens dkk. Michels pula dalam kapasitasnya sebagai pelatih sukses mengantar Belanda menjuarai Piala Eropa 1988.


Lalu apa bedanya dengan Ruud Gullit, pemilik rambut gimbal dan kulit sawo matang itu? Belanda mencatat nama Gullit dengan tinta emas. Dialah bintang sekaligus kapten tim Oranye saat memenangi kejuaraan sepakbola antarnegara Eropa (Piala Eropa) 1988. Sebagai pemain hanya Gullit dkk yang sejauh ini mampu memberi tropi kejuaraan bagi Belanda dalam level kejuaraan internasional antarnegara. Bukan Cruyff atau Rinus Michels!

Memang tidak fair jika hanya menyebut Gullit seorang. Belanda merajai Eropa 1988 karena pelatih Rinus Michels sangat beruntung memiliki skuad dengan bakat luar biasa. Belanda 1988 memiliki trio terbaik sepanjang sejarah negeri itu, yakni Ruud Gullit, Frank Rijkaard dan Marco van Basten. Lewat trio inilah Michels mudah menerapkan permainan menawan sekaligus efektif meraih kemenangan.

Kalah 0-1 melawan Uni Soviet (kini Rusia) pada laga perdana grup B, Ruud Gullit dkk bangkit dari keterpurukan. Belanda mengatasi Inggris dan Irlandia lalu jumpa tuan rumah Jerman Barat di semifinal. Mereka tertinggal lebih dahulu lewat gol Lothar Matthaus. Namun, Gullit mampu memotivasi rekan- rekannya. Tendangan gledek Ronald Koeman menyamakan skor menit ke-74 dan dua menit sebelum laga berakhir, Marco van Basten mencetak gol cantik guna mengantar Belanda ke final.

Di partai final Piala Eropa 1988, Belanda bertemu lagi Uni Soviet. Soviet hancur-lebur. Gol tandukan Ruud Gullit dan satu gol dari Marco van Basten memastikan Belanda merengkuh gelar internasional pertama. Dan, itulah satu-satunya gelar internasional yang diraih Oranye sampai saat ini.

Sebagai jenderal lapangan tengah, belum ada pemain Belanda yang menyamai reputasi Ruud Gullit, anak Belanda berdarah Suriname itu. Dari aksi-aksi briliannya di lapangan kemudian muncul istilah free player atau pemain bebas dalam sepakbola. Sejatinya Gullit adalah gelandang. Tapi Rinus Michels memberi kebebasan penuh untuk berekspresi. Gullit menjadi pemain bebas yang boleh menjelajahi seluruh sisi lapangan.

Dia tidak terikat tuntutan strategi dan taktik pelatih menghadapi setiap tim yang berbeda karakter atau cara bermain. Skill individunya komplit. Dia bisa menjadi pemain bertahan, pengatur serangan sekaligus pencetak gol. Didukung Frank Edmundo Rijkaard sebagai ksatria lini belakang dan Marco van Basten sebagai ujung tombak Belanda, Gullit memainkan perannya dengan sempurna. Gullit memberi visi dan misi dijalankan dengan baik oleh Basten dan Rijkaard.

Peran pemain bebas itu pula yang dipercayakan Pelatih AC Milan, Fabio Capello saat tim raksasa Italia itu berjaya di Serie A dan Liga Champions Eropa 1987-1993. Berkat kontribusi trio Belanda, Gullit, Rijkaard dan Basten, AC Milan dijuluki the dream team. Tim impian yang tak terkalahkan dalam waktu lama.

Bersama AC Milan, Gullit dkk mempersembahkan tiga kali juara liga Serie A (1987-1988, 1991-1992 dan 1992-1993), dua kali juara Liga Champions Eropa (1988-1989 dan 1989-1990), juara super Eropa dan Piala Toyota (1990). Gullit menjadi pemain terbaik Eropa 1987 dan pemain terbaik dunia tahun 1987 dan 1989. Rekannya Marco van Basten meraih penghargaan pemain terbaik Eropa tiga kali (1988, 1989 dan 1992) dan pemain terbaik dunia tahun 1992. Setelah trio Belanda itu pensiun, prestasi AC Milan tak pernah sama lagi.

Belanda sudah dua kali bertemu Brasil di event Piala Dunia yaitu Piala Dunia 1994 dan 1998. Dalam jumpa perdana pada babak perempatfinal di Dallas 9 Juli 1994, Belanda menyerah 2-3 atas Brasil yang dikapteni Dunga. Brasil akhirnya keluar sebagai juara. Di Marseille, 7 Juli 1998, Belanda lagi-lagi terkapar lewat adu penalti dengan skor 2-4 dalam partai dramatis di babak semifinal.

"Sayang sekali kami bertemu Brasil di Piala Dunia justru pada masa emas Ruud Gullit dkk telah berakhir. Seandainya kami bertemu tahun 1988, ceritanya bisa berbeda," kata Rinuls Michels setelah Belanda bertekuk lutut di Piala Dunia 1994.

Pengandaian mendiang Rinus Michels itu pula kiranya yang sekarang bergejolak di lubuk hati Belanda. Tim asuhan Bert van Marwijk merindukan "spirit" Ruud Gullit, Rijkaard dan Basten hidup lagi di tim Oranye 2010 yang malam ini menjalani partai hidup mati melawan Brasil di perempatfinal South Africa 2010.

Belanda 2010 memang memiliki trio Wesley Sneijder, Giovanni van Bronckhorst dan Arjen Robben. Sama seperti Brasil, Belanda pun meraih hasil 100 persen dalam empat laga yang telah dilewati. Tapi soliditas dan kecerdasan Sneijder dkk sekian kelas di bawah trio Gullit 1988. Boleh jadi malam ini adalah kegagalan ketiga Belanda atas tim yang sama di Piala Dunia.
Jika terbukti demikian, maka dunia lagi-lagi hanya akan mengenang goyang Samba sebagai pemenang! Betapa pun pasukan Dunga mulai meninggalkan keindahan jogo bonito- nya.

Di Stadion Nelson Mandela Bay, Port Elizabeth malam ini, Belanda mendapat kesempatan emas untuk menghentikan rekor tak pernah menang atas anak-anak Brasilia. "Mungkin untuk pertama kali di Afrika Selatan 2010, kami menjadi tim underdog. Tapi kami memiliki rasa percaya diri tinggi. Ini pertandingan hebat. Kami datang ke sini dengan satu alasan, yaitu mendapat hadiah terbesar. Kami harus percaya dengan niat kami ini," kata Marwijk. Kita tunggu bagaimana Belanda mau menulis sejarahnya sendiri di Piala Dunia pertama Afrika. Selamat menonton.*

Pos Kupang 2 Juli 2010 halaman 1

Enoneten Menjaga Hutan

SAAT ini seluruh dunia sibuk membicarakan tentang isu lingkungan terkait ancaman pemanasan global. Dan, salah satu cara menghambat pemanasan global adalah melakukan gerakkan menanam.

Namun, tidak demikian dengan masyarakat di Desa Enoneten- Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Warga di desa ini sudah bertahun-tahun membuat kearifan lokal dengan menjaga hutan yang berada di desa mereka. Bagi mereka, hutan merupakan warisan leluhur dan harus diteruskan lagi pada anak cucu mereka.

Warga di desa yang berjarak sekitar 17 km dari SoE, ibukota Kabupaten TTS ini dengan setia menjaga setiap jengkal hutan warisan leluhur. Dalam hutan ini terdapat aneka tanaman di antaranya mahoni, kayu merah, aneka jenis tanaman perdu, johar, asam, gamelial, beringin dan aneka pohon lainnya.
Rata-rata tinggi pohon ini mencapai 20 meter. Sinar matahari bahkan tidak sampai menembusi lebatnya hutan yang dirawat warga desa itu.

Dalam kawasan hutan ini juga hidup rusa, babi hutan, kus-kus dan berbagai jenis burung serta hewan lainnya. Desa ini yang merupakan pemecahan dari Desa Mio ini memiliki luas 21 km persegi dan berpenduduk sekitar 1.585 jiwa atau 391 kk (tahun 2008).

Kawasan hutan di Desa Enoneten ini masuk dalam kawasan hutan Bayafa seluas 1.896 hektar. Hutan ini telah diregister oleh pemerintah melalui Dinas Kehutanan Kabupaten TTS (Registrasi Tanah Kehutanan/RTK) 34. Dan, hutan yang masuk wilayah Desa Enoneten seluas 262 hektar atau dikenal dengan kawasan hutan Oeayo.

Menurut tokoh masyarakat dan juga Kepala Dusun Enoneten, Melkior Tse, kawasan hutan Oeayo merupakan kawasan yang telah dijaga secara turun temurun oleh nenek moyang mereka. Keteguhan hati untuk menjaga hutan ini menjadikan hutan ini tetap perawan hingga saat ini.

Sikap hormat pada nenek moyang diwujudkan melalui sikap mereka menjaga kelestarian dan kemurnian hutan itu.
Sejak tahun 2000, bersama dinas kehutanan, warga desa ini mulai menfaatkan lahan hutan dengan menanam kemiri.
Kesadaran masyarakat Enoneten bukan saja menjaga hutan. Lahan pertanian mereka yang bisa mereka sebut dengan belukar juga dikonversi menjadi hutan kemiri, sehingga lahan hutan yang ada terus melebar.

Bagi Melkior Tse dan masyarakat Enoneten, menjaga dan melindungi hutan diyakini hanya kewajiban yang harus dilaksanakan secara turun temurun. Mereka melakukan apa yang menjadi kewajiban mereka. Mereka tetap menjaga kearifan lokal yang sudah diturunkan oleh nenek moyang mereka.

Menjaga hutan juga membuat mereka kini tidak kekurangan air. Selain itu kini mereka juga menikmati hasil hutan dari kawasan yang selalu dijaga dan dilindungi.


Ketersediaan pangan bukan menjadi masalah buat warga desa ini, namun masyarakat hanya membutuhkan fasilitas jalan yang lebih baik serta penerangan listrik. Mereka berharap, ada perhartian pemerintah dalam sarana tranportasi dan penerangan listrik buat mereka. (Alfred Dama)

Pos Kupang 3 Juli 2010 halaman 5

Uruguay


KETIKA menonton siaran langsung laga pembukaan Piala Dunia 2010 antara Afrika Selatan melawan Meksiko 11 Juni 2010 yang lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah berkata demikian. "China juga tidak masuk (Piala Dunia 2010), bukan?" Pernyataan presiden itu bukan tanpa makna.

Bagi tuan dan puan yang menggemari cabang olahraga sepakbola atau peduli terhadap olahraga umumnya, pernyataan ini merupakan gurauan paling serius tentang sepakbola Indonesia yang belum mampu membentuk tim bergengsi dari negara berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa.

Gurauan itu melahirkan pertanyaan menarik, tepatkah membanding-bandingkan jumlah penduduk dengan prestasi sepakbola sebuah negara? Mari kita bandingkan dengan Uruguay, negara pertama yang lolos ke perempatfinal Piala Dunia 2010.

Uruguay adalah negara kecil di Amerika Selatan. Luas wilayah sekitar 180.000 km persegi. Hanya sedikit lebih besar dari Pulau Jawa yang disesaki lebih dari 110 juta jiwa penduduk Indonesia.


Berapa penduduk Uruguay? Tidak sampai 4 juta jiwa, bung! Jelas lebih kurus dibandingkan penduduk Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menurut hasil Sensus Penduduk 2010 sekitar 4,7 juta jiwa. Tingkat kepadatan penduduk di Uruguay sekitar 20 orang per kilometer persegi. Jika membandingkan jumlah penduduk, betapa Uruguay yang kicianak (kecil) itu telah menjatuhkan pamor negara-negara yang gemuk penduduknya dengan prestasi sepakbola mereka.

Kalau jumlah penduduk menjadi faktor pembanding, mengapa Uruguay bisa mendapat 23 pemain berkelas dunia dari sejumlah kecil penduduk negara tersebut? Mestinya negara besar seperti Indonesia dan India dengan penduduk di atas 200 juta jiwa atau China yang punya penduduk 1 miliar lebih mampu lagi membangun tim nasional sepakbola. Toh jumlah seniman bola tentu lebih banyak pilihan ketimbang Uruguay.

Uruguay yang kecil dan sebagian besar rakyatnya masih miskin sudah dua kali juara dunia, tahun 1930 dan 1950. Sekarang di Piala Dunia 2010, tim asuhan Oscar Tabarez menembus perempatfinal pertama sejak 40 tahun silam. "Kami sebuah negara yang hanya terdiri dari tiga juta lebih penduduk, kami sudah lama mencari hal seperti ini dan kini terjadi. Kami salah satu dari delapan tim terbaik di dunia," kata Tabarez setelah timnya menang 2-1 atas Korea Selatan di Stadion Nelson Mandela Bay, Port Elizabeth, Sabtu (26/6/2010) malam.

Sama seperti Uruguay, jumlah penduduk Korea Selatan kalah banyak dibandingkan Indonesia. Namun, tim negeri Ginseng itu sudah dua kali sukses lolos dari fase grup Piala Dunia. Bahkan tahun 2002 menembus semifinal dengan menyingkirkan tim raksasa seperti Portugal dan Italia. Jadi, tepatkah bila membandingkan jumlah penduduk dengan prestasi sepakbola sebuah negara?

Jelas sekali bahwa jumlah penduduk, luas wilayah negara, tingkat kesejahteran penduduk atau embel-embel lainnya bukan faktor utama untuk dibandingkan.
Dari negeri kecil Uruguay kita bisa memetik pelajaran tentang bagaimana keseriusan sebuah negara mewujudkan kebanggaan nasional lewat dunia olahraga. Atau mengutip istilah Bung Karno, membangun karakter bangsa yang tangguh, salah satunya lewat medan olahraga.

Uruguay sangat fokus dan konsisten membangun sepakbola prestasi. Jauh sebelum event Piala Dunia tersohor seperti sekarang dan menjadi rebutan bangsa negara menjadi tuan rumah, Uruguay merupakan negara pertama yang berani menyelenggarakan Piala Dunia -- justru ketika dunia sedang dilanda depresi ekonomi sangat hebat.

Depresi ekonomi dunia tahun 1929 yang merusak harga komoditas membuat banyak negara di dunia rapuh berkeping-keping. Banyak pemimpin jatuh. Presiden Bolivia, Fernando Siles dan Presiden Argentina, Hipolito Yriogen dikudeta para jenderal. Sebaliknya di Uruguay, pemerintah dan rakyat negeri itu masa bodoh dengan zaman Malaise. Mereka tetap fokus pada persiapan menjadi tuan rumah Piala Dunia pertama sesuai keputusan kongres FIFA tahun 1927. Saat itu Italia, Belanda, Spanyol dan Swedia tertarik menjadi tuan tumah tetapi hanya Uruguay yang siap membayar semua biaya perjalanan dan penginapan tim peserta serta membangun stadion baru di tengah kondisi ekonomi yang buruk.

FIFA memutuskan Uruguay yang meraih medali emas sepakbola di dua Olimpiade sebelumnya pantas jadi tuan rumah Piala Dunia 1930. Setelah mengundang seluruh tim Eropa, hanya empat negara yang mau berlayar ke Montevideo dengan kapal SS Conte Verde yaitu Perancis, Belgia, Rumania dan Yugoslavia.

Conte Verde mampir sejenak di Rio de Janeiro untuk menjemput pemain Brasil. Saat kapal itu merapat di Montevideo 4 Juli 1930, kedatangan tim peserta disambut histeria 10.000 rakyat Uruguay. Luar biasa! Dan, cita-cita FIFA yang berdiri 1904 untuk menggelar kejuaraan internasional terwujud. Tanggal 13-30 Juli 1930 berlangsung Piala Dunia pertama diikuti 13 peserta yaitu Argentina, AS, Belgia, Bolivia, Brasil, Chile, Meksiko, Perancis, Paraguay, Peru, Rumania, Uruguay dan Yugoslavia. Uniknya saat laga pembuka antara Perancis vs Meksiko pada 13 Juli 1930, stadion utama Centenario bahkan belum rampung dibangun.

Uruguay meraih sukses ganda. Sukses sebagai tuan rumah dan juara Piala Dunia pertama. Di babak final 30 Juli 1930, Uruguay mengalahkan Argentina 4-2. Rakyat Uruguay berlinang air mata bahagia ketika kapten legendaris, Jose Nasazzi, jadi orang pertama yang mengangkat tropi Jules Rimet (kini tropi FIFA Word Cup).

Uruguay berani mengambil resiko dengan sedikit nekat dan "gila" demi meraih kebanggaan melalui olahraga. Adakah spirit itu berembus di negeri kita atau di beranda Flobamora khususnya? Kita suka memuji keberhasilan orang lain. Tidak pernah serius mau belajar dari cara orang lain mencapai kesuksesan. Fokus, serius dan konsisten membangun olahraga prestasi di negeri ini hanya omong-omong tanpa aksi sistematis dengan capaian terukur. Prestasi olahraga kita cenderung mundur bahkan melapuk dari waktu ke waktu. Dalam percaturan internasional warta utama tentang kita adalah kalah dan kalah lagi. (dionbata@gmail.com)

Pos Kupang, Senin 28 Juni 2010 halaman 1

Lelucon Umberto Bossi

Oleh Dion DB Putra

LELUCON yang tidak lucu. Begitulah yang dilakukan politisi senior Italia, Umberto Bossi. Sehari menjelang laga hidup mati antara juara bertahan Italia vs Slowakia, Kamis (24/6/2010), politisi dari Lega Nord itu secara bercanda menyarankan Italia membeli saja sejumlah pemain Slowakia agar menang.

Menurut Bossi, akan ada dua atau tiga pemain Slowakia yang bermain di Serie A Italia musim depan sebagai kompensasi jika Italia menang dan lolos ke babak 16 besar. Wah!

Guyonan Bossi yang ditulis media massa itu membuat para pejabat Federasi Sepakbola Italia (FIGC) merah kupingnya. Mereka marah besar. Meski Bossi beralasan bahwa itu sekadar lelucon, FIGC mendesak Bossi minta maaf.
Bossi mengatakan, ia hanya bercanda saat mengatakan, Italia harus membeli pemain lawan untuk menang. Bossi lupa kalau candaannya itu bisa diartikan sebagai penyuapan. Sesuatu yang sangat sensitif bagi Italia mengingat negara itu memiliki rekor terburuk dalam skandal suap-menyuap di lapangan bola.

"Saya meminta maaf kepada tim nasional. Itu hanya candaan yang dimaksud sebagai penyegaran," kata Bossi seperti dikutip kantor berita ANSA. "Saya akan lebih berhati-hati, akan ada keributan jika Anda salah paham. Saya berharap Azzurri meraih gelar juara dunia dan saya mendoakan mereka yang terbaik," katanya.

Doa Bossi rupanya tak terkabulkan. Di Stadion Ellis Park, Johannesburg, Kamis malam, Italia tersingkir secara dramatis. Fabio Canavarro dkk ditumbangkan Slowakia 2-3. Slowakia yang baru pertama ikut Piala Dunia cetak prestasi gemilang. Sementara Gli Azzurri mengikuti jejak runner-up 2006, Perancis, yang tersingkir secara memalukan diwarnai skandal pembangkangan pemain. Piala Dunia 2010 pun mencatat sejarah unik. Juara dan runner-up Piala Dunia sebelumnya sama-sama tersisih di fase grup dengan rekor tidak pernah menang.

Italia dan Perancis sungguh menampar wajah sepakbola Eropa, yang kecuali Jerman dan Belanda, tampil buruk di South Africa 2010. Persis sama dengan enam wakil Afrika yang tunggang langgang di tanah air sendiri. Untung ada Ghana yang masih bisa mengibarkan bendera benua hitam di babak 16 besar Piala Dunia pertama di Afrika. Ghana pun lolos ngos-ngosan.


Fase penyisihan grup sungguh milik tim-tim Amerika, Latin Amerika dan Amerika Tengah Utara. Dan, sepakbola Asia tidak boleh dipandang sebelah mata lagi. Asia meraih hasil 50 persen dengan lolosnya Korea Selatan dan Jepang. Hanya Australia yang kurang beruntung dan Korea Utara, tim misterius itu, belum sanggup berkibar lagi setelah absen selama 44 tahun.
***
GUYONAN Umberto Bossi di atas sesungguhnya mewakili perasaan umum publik Italia atas rapuhnya tim nasional mereka. Kegagalan tim Asuhan Marcello Lippi di Afrika Selatan tidak mengejutkan. Sejak lama warga Italia pesimis tim Azzurri bakal mempertahankan gelar yang direbut empat tahun lalu di Jerman.

Orang yang paling sakit pastilah Marcello Lippi. Empat tahun lalu Lippi disanjung setinggi langit. Pulang dari Jerman dijemput pesawat khusus serta dikawal 16 jet tempur memasuki Kota Roma dengan tropi FIFA World Cup.

Hari ini Lippi disalahkan atas kegagalan mempertahankan kehormatan Gli Azzuri. Tragis! Tahun 2004 saat sepakbola Italia remuk redam pasca kegagalan di fase grup Piala Eropa, Marcello Lippi berani mengambil tanggung jawab melatih tim Azurri. Dia menerima kepercayaan FIGC menggantikan Giovanni Trapattoni. Saat mempersiapkan tim ke Piala Dunia 2006 di Jerman, Lippi diganggu oleh gencarnya penyelidikan atas skandal pengaturan skor di Serie A yang dikenal dengan skandal calciopoli.

Skandal itu memukul wajah Italia yang selama tiga dekade lebih menjadi kiblat sepakbola dunia. Tim raksasa Juventus yang pernah diasuh Lippi terbukti suap dan turun ke Serie B. Di tengah pesimisme publik Italia kala itu, Lippi justru membuktikan bahwa dia seorang pelatih hebat. Tim yang remuk-redam berhasil diraciknya menjadi para pekerja keras tak kenal lelah. Lippi sukses mengantar Italia hingga ke grandfinal dan meraih juara dunia untuk keempat kalinya setelah tahun 1934, 1938 dan 1982. Pemerintah Italia memberikan medali Cavaliere del Lavoro atau Ksatria Pekerja Keras kepada Lippi dan seluruh skuad Azzurri.

Setelah berjaya di Jerman 2006, Marcello Lippi mengundurkan diri. Roberto Donadoni, mantan pemain AC Milan dan pelatih klub Livorno ditunjuk sebagai pengganti. Pengunduran Lippi diikuti mundurnya dua pilar Azzurri, Francesco Totti dan Alessandro Nesta. Hal itu menambah berat beban Donadoni untuk meloloskan Italia ke putaran final Euro 2008 di Swiss-Austria.

Meski memulai dengan langkah gontai, Italia berhasil lolos ke putaran final Euro 2008 setelah mengalahkan Skotlandia. Di putaran final, Italia tergabung di Grup C bersama Belanda, Perancis dan Rumania. Laga pertama, Italia takluk 0-3 dari Belanda, ditahan Rumania 1-1 dan menekuk Perancis 2-0 untuk maju ke perempatfinal melawan juara Grup D, Spanyol. Italia tersingkir lewat drama adu penalti setelah skor 0-0 bertahan hingga perpanjangan waktu. Spanyol akhirnya menjadi juara Piala Eropa 2008.

Buntut kegagalan di Euro 2008, FIGC memecat Donadoni. Italia punya banyak stok pelatih hebat seperti Carlo Ancelotti, Fabio Capello, Roberto Mancini dan lainnya. Tapi mereka menampik tawaran FIGC, lebih memilih klub ketimbang timnas. Capello, Ancelotti dan Mancini sadar betul kursi pelatih Azurri itu sangat panas. Harus memiliki mental baja menghadapi cercaan publik Italia yang sangat keras jika gagal.
FIGC akhirnya kembali merayu Lippi. Marcello Lippi tak sanggup berpaling. Dia setuju menangani Italia hingga tahun 2010. Hasilnya tidaklah buruk. Italia tampil cukup menjanjikan selama babak kualifikasi.

Di South Africa 2010 Lippi tak bersinar lagi. Seperti panas setahun terhapus oleh hujan sehari. Gli Azzurri dihujat sebagai kuda tua tak bergigi atau dalam kata-kata Gennaro Gattuso, berhak mendapatkan medali Cavaliere of Shame atau Ksatria Memalukan.

Bagaimana sikap Lippi setelah kegagalan ini? Lippi tetaplah Lippi yang tidak lari dari tanggung jawab. "Saya tidak menyesal kembali melatih timnas, saya kembali dengan antusiasme besar. Saya memikul semua tanggung jawab," kata Lippi dengan wajah merah dalam jumpa pers usai kekalahan atas Slowakia. "Saya gagal melatih tim dengan cukup baik, mereka tidak siap untuk laga sepenting ini," kata pria berusia 62 tahun itu yang posisinya sebagai pelatih Italia segera digantikan Cesare Prandelli.

Ini pengakuan jujur manajer tim. Dari seorang pemimpin. Lippi sungguh sosok pemimpin yang tabu mencari kambing hitam. Dia memikul seluruh tanggung jawab atas kegagalan timnya. Luar biasa! Dunia kiranya patut mengenang Lippi. Lippi yang rendah hati.

Tentang "tragedi Lippi" di South Africa 2010 ini, menarik nian pesan Bora Milutinovic. "Jangan pernah kembali ke tim yang sukses Anda tangani," kata Bora dengan rekor melatih timnas Piala Dunia lima negara berbeda, yaitu Meksiko, Kosta Rika, AS, Nigeria dan China. "Anda tidak mengulang sukses dengan tim yang sama dua kali," kata pemain legendaris Belanda, Johan Cruyff. Lippi mungkin ingin menumpas "mitos" bola semacam ini. Terima kasih Lippi! *

Pos Kupang, Sabtu 26 Juni 2010 halaman 1

Studi Banding ke Suku Boti...

NUNE Benu. Nama ini cukup melegenda. Membekas di sanubari warga Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) atau siapa pun yang pernah mengenal atau bersua dengannya. Pemimpin spiritual Suku Boti di pedalaman kabupaten itu telah mangkat pada 20 Maret 2005. Ia telah digantikan oleh putra mahkota bernama Nama Benu.

Meski ia telah menghadap Sang Khalik, namanya tetap abadi. Mengapa? Ketika orang mempertentangkan ajaran agama, soal tradisi, doktrin dan radikalisme agama, Nune Benu hidup tenang bersama pengikutnya yang animisme ini.

Ketika jagat ini ribut-ribut soal pemanasan global, Nune Benu bersama pengikutnya hidup di bawah rimbunan pepohonan hijau. Bebukitan pun dirawat agar tak gersang. Dan, air tentu saja tak pernah kering sepanjang musim. Sikap batin ini ia tunjukkan dan selalu memberi inspirasi kehidupan bagi kita. Dengan kata lain, kehidupan mereka tak pernah bergesekan baik dengan sesama maupun dengan alam sekitarnya.

Dekade lalu saat Nune Benu masih kuat, wawancara itu berlangsung. Tatapan matanya membersitkan kepemimpinan sejati yang diemban di tanah leluhurnya. Dengan tutur kata yang lembut, sorot mata yang membiaskan kemurnian dan ketulusan hidup, Nune Benu mewariskan keteladanan ini.

Wawancara saya bersama Ampera Seke Selan, S.H, yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD TTS itu masih membayang. Lelaki berkonde itu sambil mengunyah sirih pinang mengatakan, mengapa mesti ribut-ribut soal agama?

Bukankah soal keyakinan adalah hubungan personal antara manusia dan penciptanya? "Banyak orang mengatakan bahwa kami tak punya agama. Tapi pertanyaan saya, mereka yang beragama justru sering melecehkan, saling berkelahi, bahkan saling membunuh. Kami di Boti hidup tenang dan saling menghargai," katanya sembari menyilahkan kami menikmati pisang rebus di siang yang terik itu.
Mengapa warga Boti hidup rukun? Nune Benu pun menjelaskan prinsip-prinsip dasar kehidupan suku yang berjarak 60 kilometer timur tenggara Kota SoE, Ibu kota TTS atau sekitar 170 kilometer timur Kota Kupang ini.

Menurut kepercayaan masyarakat suku Boti, manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling tinggi derajatnya di antara makhluk ciptaan lainnya. Menurut kepercayaan tersebut di dalam hidup ini manusia memiliki dua penguasa jagad yang harus ditaati, yaitu penguasa alam dunia yang disebut Uis Pah dan penguasa alam baka yang disebut Uis Neno.

Uis Pah dihormati dan disembah karena dialah yang menjaga manusia dan melindungi manusia dan seluruh isinya, sedangkan Uis Neno disembah karena peran-Nya yang menentukan apakah manusia masuk surga atau neraka. Oleh karena itu sesuai dengan ajaran yang dianutnya manusia Boti percaya bahwa apa yang diperbuat manusia selama hidup di dunia akan ikut menentukan jalan hidupnya di akhirat nanti. Sikap hidup baik dan benar semasa di dunia akan menuntun manusia kepada kehidupan kekal abadi di surga.

Nune Benu juga menyebut dalam hidup ini ada sembilan hari yang diyakini sangat penting. Ada Neon Kaet (hari keramat),

Neon Li'ana (hari anak), Neon Ai (hari api), Neon Onen (hari berdoa), Neon Masikat (hari bersaing), Neon Suli (hari salah paham), Neon Pah (hari berhala), Neon Besi (hari besi/logam) dan Neno Snasat (hari perhentian). Dan, hari-hari yang ditetapkan ini dijalani dengan sarat makna. Penuh ritual.

Nune Benu sebenarnya menjadi contoh, panutan dan teladan ketika kini kita masih terus mempersoalkan atau mempertentangkan keyakinan yang sebenarnya sudah final. Sudah harga mati. Mempersoalkan agama sama saja kita memicu keretakan yang tak berkesudahan. Kita boleh belajar dari kondisi negeri kita saat ini.

Perpecahan berlatarbelakang agama masih saja terjadi. Belum lagi upaya separatisme, memisahkan diri dari NKRI yang begitu kuat. Sungguh terasa akhir- akhir ini.

Yang patut menjadi diskursus adalah toleransi antarumat beragama. Di titik inilah barangkali kita duduk satu meja, satu atap untuk membedahnya. Mendiskusikannya. Dengan demikian kita akan saling memahami keanekaragaman ini dan berusaha menghindari bila terjadi gesekan-gesekan.

Begitu pula ketika alam kita terus dirusaki. Tengoklah ke suku "terasing" ini. Di sana antara manusia dan alam tak pernah ternoda. Tak ada "cekcok" atau perseteruan.
Kita di "belahan bumi" lain ini masih saja mempersoalkan hal-hal yang sepantasnya tak boleh. Seandainya Nune Benu masih hidup, kita patut melakukan studi banding ke kampung yang dikelilingi bukit dan ngarai itu.

Studi banding tentang harmoni kehidupan ini. Ternyata keteladanan, kepamongan, hidup bertoleransi masih banyak kita temukan di kampung-kampung. Nun jauh di sana seperti di Boti atau perkampungan adat Tamkesi di Kecamatan Biboki Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Kita yang tinggal di kota belajarlah tentang kebajikan yang kini perlahan tapi pasti terus meninggalkan kemanusiaan kita. Kita akhirnya menjadi manusia yang mirip "robot", tak punya mata hati.(Paul Burin)

Pos Kupang 26 Juni 2010 halaman 5

Kae Saat Orang Meninggal

MENANGIS bisa diartikan sebagai luapan perasaan. Tetapi itu tidak cukup. Manusia, ketika dilahirkan yang dilakukan pertama adalah menangis. Menangis pun diartikan dalam banyak versi.

Menangis bukan sekedar pelampiasan perasaan. Menangis merupakan reaksi atas tersentuhnya hati oleh sebuah kejadian. Arti air mata yang tercurah saat menangis merupakan ungkapan perasaan atas kebahagiaan, kekecewaan juga kesedihan. Tangis adalah anugerah bagi hidup dan hati agar senantiasa menyadari kemanusiaan yang begitu indah, tetapi lemah dan tak berdaya atas kuasa Tuhan.

Menangis bukanlah kesalahan yang harus dihakimi. Menangis itu kebebasan jiwa untuk mengungkapakan perasaan yang tersimpan, yang tersisa dan terbias di dasar keinginan. Lalu, mengapa kita menangis? Adakah manfaat air mata kita?

Dari semua arti menangis, ada yang unik dalam suku Timor Dawan. Hal ini khusus terjadi saat ada orang yang meninggal dunia. Menangisi saudara atau kerabat yang meninggal, tidak sekadar untuk menumpahkan kesedihan karena kehilangan. Orang dari luar suku Timor pasti akan heran melihat begitu histerisnya para ibu menangis. Tanpa air mata sekalipun, mereka bisa menangis berjam-jam tanpa henti.

Menangis atau dalam bahasa Dawan Timor artinya, kae, saat orang meninggal menjadi bukti kalau dia juga turut berdukacita. Namun, yang dimaksudkan di sini bukan menangis karena berdukacita, tetapi bagaimana teknik suku Timor Dawan 'menggugah' orang atau pelayat untuk ikut bersedih. Biasanya, seorang wanita setengah baya duduk dekat jenasah sejak meninggal hingga dikuburkan. Semua keperluannya mulai dari makan, minum, sirih pinang dan terkadang 'laru' (minuman keras lokal dari nira lontar atau kelapa) disediakan keluarga duka di bawah kaki tempat tidur jenasah.

Dia memiliki tugas yang tidak bisa dibilang ringan. Dialah yang dianggap paling mampu untuk menggugah kesedihan orang agar mau menangis. Begitu setiap pelayat memasuki tenda duka, dia harus menangis histeris tanpa ataupun dengan air mata. Bagaimana dia menggugah orang?

Sebelumnya, dia sudah harus tahu apa hubungan pelayat dengan orang yang meninggal dunia. Dari situ sambil menangis dia akan bercerita misalnya, mengapa kamu baru datang ketika dia sudah meninggal, sebelum meninggal dia tanya kamu dan sebagainya. Tidak hanya dengan kata- kata, sambil menangis dia akan melakukan gerakan-gerakan untuk meyakinkan pelayat bahwa orang yang meninggal tersebut memang perlu ditangisi.

Tidak sampai di situ. Barisan pelayat yang datang tidak asal-asalan. Yang berada di barisan paling depan, harus yang paling dituakan. Selain dituakan, dia juga harus mampu menangis, 'meski tidak sedih sekalipun dengan kematian orang yang dilayat.' Biasanya, suara tangisannya tidak boleh kalah tinggi dari mereka yang duduk mengelilingi jenasah.

Percaya atau tidak, tapi fenomena ini ada dan sudah sejak lama. Mereka akan 'merendahkan' orang yang datang melayat namun tidak menangis. Dan, mereka juga akan 'merasa bangga' karena lama atau paling keras saat menangis.

Masih ada banyak alasan dan keunikan lain yang bisa ditemukan dari fenomena menangisi orang mati di kalangan suku Timor Dawan. Ada yang sambil menangis mulai berhitung tentang hutang, pembagian harta, bahkan ada yang memarahi orang yang meninggal karena alasan tertentu. Yang pasti, dengan atau tanpa air mata, tangis saat orang meninggal tetaplah tangis yang mengekspresikan perasaan atas keadaan dan kenyataan. (Sipri Seko)

Pos Kupang 12 Juni 2010 halaman 5
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes