Kae Saat Orang Meninggal

MENANGIS bisa diartikan sebagai luapan perasaan. Tetapi itu tidak cukup. Manusia, ketika dilahirkan yang dilakukan pertama adalah menangis. Menangis pun diartikan dalam banyak versi.

Menangis bukan sekedar pelampiasan perasaan. Menangis merupakan reaksi atas tersentuhnya hati oleh sebuah kejadian. Arti air mata yang tercurah saat menangis merupakan ungkapan perasaan atas kebahagiaan, kekecewaan juga kesedihan. Tangis adalah anugerah bagi hidup dan hati agar senantiasa menyadari kemanusiaan yang begitu indah, tetapi lemah dan tak berdaya atas kuasa Tuhan.

Menangis bukanlah kesalahan yang harus dihakimi. Menangis itu kebebasan jiwa untuk mengungkapakan perasaan yang tersimpan, yang tersisa dan terbias di dasar keinginan. Lalu, mengapa kita menangis? Adakah manfaat air mata kita?

Dari semua arti menangis, ada yang unik dalam suku Timor Dawan. Hal ini khusus terjadi saat ada orang yang meninggal dunia. Menangisi saudara atau kerabat yang meninggal, tidak sekadar untuk menumpahkan kesedihan karena kehilangan. Orang dari luar suku Timor pasti akan heran melihat begitu histerisnya para ibu menangis. Tanpa air mata sekalipun, mereka bisa menangis berjam-jam tanpa henti.

Menangis atau dalam bahasa Dawan Timor artinya, kae, saat orang meninggal menjadi bukti kalau dia juga turut berdukacita. Namun, yang dimaksudkan di sini bukan menangis karena berdukacita, tetapi bagaimana teknik suku Timor Dawan 'menggugah' orang atau pelayat untuk ikut bersedih. Biasanya, seorang wanita setengah baya duduk dekat jenasah sejak meninggal hingga dikuburkan. Semua keperluannya mulai dari makan, minum, sirih pinang dan terkadang 'laru' (minuman keras lokal dari nira lontar atau kelapa) disediakan keluarga duka di bawah kaki tempat tidur jenasah.

Dia memiliki tugas yang tidak bisa dibilang ringan. Dialah yang dianggap paling mampu untuk menggugah kesedihan orang agar mau menangis. Begitu setiap pelayat memasuki tenda duka, dia harus menangis histeris tanpa ataupun dengan air mata. Bagaimana dia menggugah orang?

Sebelumnya, dia sudah harus tahu apa hubungan pelayat dengan orang yang meninggal dunia. Dari situ sambil menangis dia akan bercerita misalnya, mengapa kamu baru datang ketika dia sudah meninggal, sebelum meninggal dia tanya kamu dan sebagainya. Tidak hanya dengan kata- kata, sambil menangis dia akan melakukan gerakan-gerakan untuk meyakinkan pelayat bahwa orang yang meninggal tersebut memang perlu ditangisi.

Tidak sampai di situ. Barisan pelayat yang datang tidak asal-asalan. Yang berada di barisan paling depan, harus yang paling dituakan. Selain dituakan, dia juga harus mampu menangis, 'meski tidak sedih sekalipun dengan kematian orang yang dilayat.' Biasanya, suara tangisannya tidak boleh kalah tinggi dari mereka yang duduk mengelilingi jenasah.

Percaya atau tidak, tapi fenomena ini ada dan sudah sejak lama. Mereka akan 'merendahkan' orang yang datang melayat namun tidak menangis. Dan, mereka juga akan 'merasa bangga' karena lama atau paling keras saat menangis.

Masih ada banyak alasan dan keunikan lain yang bisa ditemukan dari fenomena menangisi orang mati di kalangan suku Timor Dawan. Ada yang sambil menangis mulai berhitung tentang hutang, pembagian harta, bahkan ada yang memarahi orang yang meninggal karena alasan tertentu. Yang pasti, dengan atau tanpa air mata, tangis saat orang meninggal tetaplah tangis yang mengekspresikan perasaan atas keadaan dan kenyataan. (Sipri Seko)

Pos Kupang 12 Juni 2010 halaman 5
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes