Memelihara Kesetiakawanan Sosial

SALAH satu ciri masyarakat Indonesia adalah mudah tergugah hatinya manakala melihat sesama menderita. Hal itu sangat jelas kita saksikan bilamana terjadi musibah dengan korban jiwa sangat besar misalnya bencana gempa bumi, tsunami, tanah longsor, banjir bandang dan lainnya.

Sebagai daerah langganan bencana alam, masyarakat dan pemerintah daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah berulangkali merasakan semangat kesetikawanan sosial itu. Ketika gempa bumi disertai tsunami melanda Pulau Flores 12 Desember 1992 yang menelan korban jiwa lebih dari 2.000 orang, bantuan kemanusiaan datang dari berbagai penjuru tanah air dan mancanegara.

Masyarakat Indonesia memperlihatkan solidaritas mereka dengan cara menyumbangkan sesuatu yang mereka miliki. Hal yang sama terjadi di Aceh tahun 2004 saat tsunami menyapu wilayah Serambi Indonesia tersebut.

Menyimak jumlah korban jiwa ratusan ribu orang dan harta benda yang hilang, banyak pihak melukiskan tsunami Aceh 26 Desember 2004 sebagai bencana alam terdasyhat di bumi dalam 500 tahun terakhir. Namun, dalam waktu yang tidak terlalu lama masyarakat Aceh pulih kembali untuk melanjutkan kehidupan.

Solidaritas memang salah satu aset sosial bangsa ini. Aset yang sangat berharga dan kita syukuri karena masih bertahan dalam keseharian masyarakat dengan format yang unik dan beragam. Warga masyarakat dengan caranya masing-masing suka menolong atau membantu sesama yang membutuhkan.

Sejarah Indonesia telah membuktikan betapa kesetiakawanan sosial itu mampu menjadikan bangsa ini tetap tangguh dalam situasi yang sangat buruk sekalipun.
Kiranya dalam spirit itulah anggota Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) melakukan aksi sosial saat berkunjung ke Kupang selama dua hari, tanggal 17-18 Mei 2010.

Salah satu aksi sosial SIKIB yang anggotanya adalah istri para menteri adalah menggelar pengobatan gratis. Sebanyak 213 penderita katarak dioperasi dalam aksi sosial di Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. WZ Johannes Kupang. Selain melayani pasien katarak, pengobatan gratis SIKIB juga melayani delapan penderita hernia, sepuluh penderita tumor lipoma dan sepuluh pasien penderita bibir sumbing berhasil dioperasi. Bahkan SIKIB juga melayani sunat untuk 27 orang anak.

Kita patut memberi apresiasi terhadap kepedulian SIKIB. Para istri pejabat tinggi negara tersebut mau datang ke Kupang membagi kasih kepada masyarakat Nusa Tenggara Timur yang membutuhkan bantuan.

Poin lain yang kita petik dari dari kehadiran SIKIB adalah keteladanan. Para istri pemimpin negeri ini memberi teladan kebaikan. Teladan untuk senantiasa memelihara ikatan solidaritas sosial. Sudah seharusnya demikian. Para pemimpin, para tokoh masyarakat kita perlu memberikan teladan kepada masyarakat. Dengan cara itu niscaya kesetiakawanan sosial akan tumbuh subur di tengah masyarakat.

Kita tentu saja perlu mengingatkan para pemimpin negeri tentang tugas lain yang tak kalah penting yakni pemberdayaan masyarakat. Aksi sosial seperti pengobatan gratis memang membantu masyarakat tetapi tidak mungkin berlangsung terus- menerus karena bisa meninabobokan masyarakat.

Pendekatan sinterklas dalam jangka panjang justru memperlemah daya juang masyarakat. Mereka akan senantiasa menunggu uluran tangan orang lain manakala ditimpa kesulitan. Kemandirian sirna. Itu yang tidak kita kehendaki. Tugas dan tanggung jawab pemerintah yang utama adalah membentuk masyarakat mandiri melalui terobosan program pemberdayaan. Sayangnya program semacam itu belum kita lihat sedang dikerjakan dengan sungguh-sungguh. *

Pos Kupang 19 Mei 2010 halaman 4
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes