Uruguay


KETIKA menonton siaran langsung laga pembukaan Piala Dunia 2010 antara Afrika Selatan melawan Meksiko 11 Juni 2010 yang lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah berkata demikian. "China juga tidak masuk (Piala Dunia 2010), bukan?" Pernyataan presiden itu bukan tanpa makna.

Bagi tuan dan puan yang menggemari cabang olahraga sepakbola atau peduli terhadap olahraga umumnya, pernyataan ini merupakan gurauan paling serius tentang sepakbola Indonesia yang belum mampu membentuk tim bergengsi dari negara berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa.

Gurauan itu melahirkan pertanyaan menarik, tepatkah membanding-bandingkan jumlah penduduk dengan prestasi sepakbola sebuah negara? Mari kita bandingkan dengan Uruguay, negara pertama yang lolos ke perempatfinal Piala Dunia 2010.

Uruguay adalah negara kecil di Amerika Selatan. Luas wilayah sekitar 180.000 km persegi. Hanya sedikit lebih besar dari Pulau Jawa yang disesaki lebih dari 110 juta jiwa penduduk Indonesia.


Berapa penduduk Uruguay? Tidak sampai 4 juta jiwa, bung! Jelas lebih kurus dibandingkan penduduk Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menurut hasil Sensus Penduduk 2010 sekitar 4,7 juta jiwa. Tingkat kepadatan penduduk di Uruguay sekitar 20 orang per kilometer persegi. Jika membandingkan jumlah penduduk, betapa Uruguay yang kicianak (kecil) itu telah menjatuhkan pamor negara-negara yang gemuk penduduknya dengan prestasi sepakbola mereka.

Kalau jumlah penduduk menjadi faktor pembanding, mengapa Uruguay bisa mendapat 23 pemain berkelas dunia dari sejumlah kecil penduduk negara tersebut? Mestinya negara besar seperti Indonesia dan India dengan penduduk di atas 200 juta jiwa atau China yang punya penduduk 1 miliar lebih mampu lagi membangun tim nasional sepakbola. Toh jumlah seniman bola tentu lebih banyak pilihan ketimbang Uruguay.

Uruguay yang kecil dan sebagian besar rakyatnya masih miskin sudah dua kali juara dunia, tahun 1930 dan 1950. Sekarang di Piala Dunia 2010, tim asuhan Oscar Tabarez menembus perempatfinal pertama sejak 40 tahun silam. "Kami sebuah negara yang hanya terdiri dari tiga juta lebih penduduk, kami sudah lama mencari hal seperti ini dan kini terjadi. Kami salah satu dari delapan tim terbaik di dunia," kata Tabarez setelah timnya menang 2-1 atas Korea Selatan di Stadion Nelson Mandela Bay, Port Elizabeth, Sabtu (26/6/2010) malam.

Sama seperti Uruguay, jumlah penduduk Korea Selatan kalah banyak dibandingkan Indonesia. Namun, tim negeri Ginseng itu sudah dua kali sukses lolos dari fase grup Piala Dunia. Bahkan tahun 2002 menembus semifinal dengan menyingkirkan tim raksasa seperti Portugal dan Italia. Jadi, tepatkah bila membandingkan jumlah penduduk dengan prestasi sepakbola sebuah negara?

Jelas sekali bahwa jumlah penduduk, luas wilayah negara, tingkat kesejahteran penduduk atau embel-embel lainnya bukan faktor utama untuk dibandingkan.
Dari negeri kecil Uruguay kita bisa memetik pelajaran tentang bagaimana keseriusan sebuah negara mewujudkan kebanggaan nasional lewat dunia olahraga. Atau mengutip istilah Bung Karno, membangun karakter bangsa yang tangguh, salah satunya lewat medan olahraga.

Uruguay sangat fokus dan konsisten membangun sepakbola prestasi. Jauh sebelum event Piala Dunia tersohor seperti sekarang dan menjadi rebutan bangsa negara menjadi tuan rumah, Uruguay merupakan negara pertama yang berani menyelenggarakan Piala Dunia -- justru ketika dunia sedang dilanda depresi ekonomi sangat hebat.

Depresi ekonomi dunia tahun 1929 yang merusak harga komoditas membuat banyak negara di dunia rapuh berkeping-keping. Banyak pemimpin jatuh. Presiden Bolivia, Fernando Siles dan Presiden Argentina, Hipolito Yriogen dikudeta para jenderal. Sebaliknya di Uruguay, pemerintah dan rakyat negeri itu masa bodoh dengan zaman Malaise. Mereka tetap fokus pada persiapan menjadi tuan rumah Piala Dunia pertama sesuai keputusan kongres FIFA tahun 1927. Saat itu Italia, Belanda, Spanyol dan Swedia tertarik menjadi tuan tumah tetapi hanya Uruguay yang siap membayar semua biaya perjalanan dan penginapan tim peserta serta membangun stadion baru di tengah kondisi ekonomi yang buruk.

FIFA memutuskan Uruguay yang meraih medali emas sepakbola di dua Olimpiade sebelumnya pantas jadi tuan rumah Piala Dunia 1930. Setelah mengundang seluruh tim Eropa, hanya empat negara yang mau berlayar ke Montevideo dengan kapal SS Conte Verde yaitu Perancis, Belgia, Rumania dan Yugoslavia.

Conte Verde mampir sejenak di Rio de Janeiro untuk menjemput pemain Brasil. Saat kapal itu merapat di Montevideo 4 Juli 1930, kedatangan tim peserta disambut histeria 10.000 rakyat Uruguay. Luar biasa! Dan, cita-cita FIFA yang berdiri 1904 untuk menggelar kejuaraan internasional terwujud. Tanggal 13-30 Juli 1930 berlangsung Piala Dunia pertama diikuti 13 peserta yaitu Argentina, AS, Belgia, Bolivia, Brasil, Chile, Meksiko, Perancis, Paraguay, Peru, Rumania, Uruguay dan Yugoslavia. Uniknya saat laga pembuka antara Perancis vs Meksiko pada 13 Juli 1930, stadion utama Centenario bahkan belum rampung dibangun.

Uruguay meraih sukses ganda. Sukses sebagai tuan rumah dan juara Piala Dunia pertama. Di babak final 30 Juli 1930, Uruguay mengalahkan Argentina 4-2. Rakyat Uruguay berlinang air mata bahagia ketika kapten legendaris, Jose Nasazzi, jadi orang pertama yang mengangkat tropi Jules Rimet (kini tropi FIFA Word Cup).

Uruguay berani mengambil resiko dengan sedikit nekat dan "gila" demi meraih kebanggaan melalui olahraga. Adakah spirit itu berembus di negeri kita atau di beranda Flobamora khususnya? Kita suka memuji keberhasilan orang lain. Tidak pernah serius mau belajar dari cara orang lain mencapai kesuksesan. Fokus, serius dan konsisten membangun olahraga prestasi di negeri ini hanya omong-omong tanpa aksi sistematis dengan capaian terukur. Prestasi olahraga kita cenderung mundur bahkan melapuk dari waktu ke waktu. Dalam percaturan internasional warta utama tentang kita adalah kalah dan kalah lagi. (dionbata@gmail.com)

Pos Kupang, Senin 28 Juni 2010 halaman 1
Reaksi:

1 komentar:

investasi emas mengatakan...

semoga aja spirit itu ada,..

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes