Menikmati Ketelanjangan

Oleh Dion DB Putra

KETIKA Piala Dunia 2010 mulai bergulir di Afrika Selatan hari ini pastilah ada yang berubah dalam ritme hidup keseharian kita. Kita akan menunggu 30 malam dengan penuh kerinduan. Malam yang panjang. Sebagai penggemar sepakbola Anda akan menanti dengan cemas, sabar dan gelisah bukan?

Tatkala 32 tim mulai mempertontonkan kecakapan, kecerdikan, dan selera seni mereka di lapangan hijau Afrika, kita merasakan betapa dekatnya bumi Bafana- Bafana. Jarak dengan Afrika Selatan akan terasa lebih dekat ketimbang Besikama di Belu Selatan atau Bu Selatan di Sikka. South Africa 2010 kini ada di kamar tidur atau ruang keluarga kita. Teknologi televisi sungguh menihilkan jarak. Afrika Selatan akan menjadi fokus perhatian selama sebulan. Luar biasa!




Pertanyaan yang selalu mengusik adalah, ada apa dengan bola? Mengapa dia menghipnotis dunia tak habis-habisnya? Menghibur dan atau membuat orang menangis dalam waktu bersamaan, cuma beda tempat, warna kulit serta usul-asal?
Percayalah tidak ada jawaban yang benar-benar tepat sampai hari ini. Silakan membaca segala referensi dari para analis atau pakar sepakbola terkemuka dunia, tak mungkin menemukan jawaban yang sungguh tepat.

Gara-gara bingung mendapatkan jawaban itu, seorang rekan delapan tahun silam -- saat Piala Dunia berlangsung di Korea Selatan dan Jepang -- enteng saja berkata begini, "Orang suka bola karena dia telanjang."

Waw! Sungguh ocehan sekenanya. Tapi ocehan yang menggelitik manakala kita sungguh menilai bola. Toh benda bundar dengan berat cuma 16 ons itu memang tak pakai apa-apa. Tanpa baju. Tanpa celana. Telanjang bulat. Ketelanjangan bola menyentuh sesuatu yang sangat mahal dalam hidup kita, yakni spontanitas dan kejujuran.

Anda rela begadang sampai malam larut demi menonton bola tanpa rekayasa bukan? Bola selalu mensyaratkan kejujuran. Kalah ya kalah. Kekalahan diterima dengan jiwa besar. Kalau menang karena memang tim pemenang itu bermain lebih baik. Tentu beda dengan 'kejuaraan politik' bernama pemilu kada di kampung halaman kita. Kekalahan mesti diwarnai kambing hitam, menuding atau menghujat.
***
DALAM permainan bola tidak ada tempat untuk tipu-menipu. Tidak bisa 'main mata' seenak perut. Sepandai-pandainya Anda menipu bakal ketahuan juga. Ketelanjangan bola sungguh 'menelanjangi' segala bentuk ketidakjujuran.

Maka berbahagialah kita karena kembali menikmati kejuaraan sepakbola terakbar empat tahunan bernama Piala Dunia. Mulai malam ini penggemar sepakbola sejagat kembali dihibur pesta bola sebulan penuh. Mari menikmati keindahan bola yang telanjang bulat. Ketelanjangan yang menghipnotis siapa saja. Menarik minat semua orang tanpa bedakan kasta. Dia melintasi keragaman suku, agama, ras dan golongan. Ketelanjangan yang mempersatukan.

Ketelanjangan bola tidak porno tapi merangsang. Membuat bulu kuduk berdiri, bikin adrenalin bekerja ekstra. Tegang! Bola memantik tangis dan tawa. Ketelanjangan bola adalah ketelanjangan tanpa rekayasa. Jelas beda dengan adegan hot Luna Maya, Cut Tari dan Ariel Peterpan yang kini menggegerkan 'republik mesum-munafik' Indonesia.

Sepakbola, cabang olahraga terpopuler sejagat yang bakal kita nikmati melalui Piala Dunia 2010 tidak semata tontonan. Sepakbola juga mengandung ilmu, strategi, teknik dan taktik. Lewat penampilan satu tim misalnya, kita bisa belajar tentang solidaritas, kekompakan, kerja sama tim dan aksi individu yang memiliki kecakapan, pengetahuan serta apresiasi seni. Seniman bola! Juga di sana ada penghormatan terhadap hukum, nilai-nilai etis dan moral.

Pemain bola tidak asal sepak laksana mahasiswa kita yang doyan tawuran, tidak asal sikut seperti kebanyakan elit politik kita menguber kursi, tidak berpikir kerdil kekanak-kanakan seperti segelintir orang yang disebut pemimpin. Di lapangan bola, bola disepak dengan tertib, kulit bundar ditendang dengan menaati rule of the game.

Kecurangan, keserakahan, ketidakjujuran atau kepongahan akan gampang terdeteksi dan mendapat sanksi tegas. Ruang improvisasi tim dan individu terbuka luas. Di sana ada kebebasan berekspresi dengan tidak menginjak norma. Yang culas akan menerima hadiah kartu kuning dari sang pengadil. Yang serakah dan curang, dengan sendirinya terusir dari lapangan sambil mengusung kado kartu merah. Wasit yang mempratekkan KKN tak mungkin luput dari penilaian orang banyak dan ia pasti dilindas hukum fair play.

Melalui Piala Dunia 2010 kita bisa belajar banyak hal, termasuk belajar untuk jujur dan solider. Belajar tentang ketelanjangan. Selamat datang Piala Dunia! *

Pos Kupang 11 Juni 2010 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes