Susana


SUSANA Nome telah pergi untuk selama-lamanya. Dia tak mau makan dan minum sejak rumahnya dibongkar paksa Satpol PP Kota Kupang dengan alasan pembangunan RSU Kota Kupang 11 Mei 2010. Bak disambar petir di siang bolong, rumah yang ditempati sejak 1990 rata dengan tanah tak tersisa apapun. Karena alasan "pembangunan" rakyat jadi korban. Selamat jalan Mama Susana.

Demikian pesan singkat (SMS) yang masuk ke ponselku pekan lalu. SMS dari sejumlah teman di Kota Kupang. SMS berantai ini mungkin juga masuk ke ponsel tuan dan puan. Terkejut? Ya pastilah. Tidak dinyana, penggusuran rumah di Pasir Panjang awal Mei 2010 menyisakan kisah pilu tentang Susana.

Nenek Susana (83) meninggal dunia hari Kamis 3 Juni 2010 sekitar pukul 12.00 Wita di dalam tenda yang dijadikan rumah di lokasi bekas penggusuran. Beberapa saat kemudian jenazah Susana baru dibawa ke rumah Sius Tabun di RT 10b RW 04, Kelurahan Oepura, Kota Kupang.


Rumah yang digusur di Pasir Panjang itu selama ini ditempati nenek Susana bersama putranya, Imanuel Tabun sekeluarga. Setelah digusur, Imanuel Tabun bingung hendak pindah ke mana. Mereka memilih bertahan di sana dengan membangun tenda darurat sebagai rumah. Di dalam tenda itulah Susana menderita sakit hingga menghembuskan napas terakhir.


Menurut Imanuel Tabun, ibunya jatuh sakit sejak rumah digusur. "Mama susah makan. Dikasih makan mama selalu menolak. Kondisi ini terus berlangsung sampai mama meninggal dunia," kata Imanuel, PNS golongan II yang sehari-hari bertugas di Kelurahan Pasir Panjang-Kupang. 
Frederika Nubatonis, istri Imanuel Tabun melukiskan perasaan ibu mertuanya saat melihat Satpol PP menggusur rumah awal Mei lalu. "Mama sangat ketakutan. Seluruh badannya gemetar. Kami bingung, mau angkat barang-barang atau urus mama. Situasi saat itu sangat kacau," kata Frederika.

Kematian memang pasti dan semua kita akan mengalami seperti nenek Susana. Namun, kepergian nenek Susana untuk selama-lamanya meninggalkan pesan kuat tentang apa itu pembangunan. Pembangunan, jika salah urus memang selalu menelan korban. Dan, korban pembangunan umumnya orang-orang kecil. Orang-orang tak terkenal seperti nenek Susana.

Penggusuran demi pembangunan, apapun alasannya tetap mencerminkan salah urus. Kita tahu sesuatu itu bermasalah tetapi kita biasanya menunda-nunda penyelesaian masalah. Saat air setinggi leher baru huru-hara mencari solusi. Jalan kekerasan dan otoriter pasti yang dipilih. Pendekatan kemanusiaan belum sungguh-sungguh mewarnai pawai pembangunan bangsa, termasuk di beranda Flobamora tercinta. Begitulah tuan dan puan. Bila tuan salah urus, kalau puan main-main dengan credo membangun itu, tuan membunuh!

Korban pembangunan sesungguhnya jatuh saban hari. Jatuh satu demi satu tanpa kita sadari. Mungkin saja sangat disadari tetapi kita tak mau tahu dengan korban yang berjatuhan itu. Tatkala tuan mengurus KTP mesti pakai suap, urus SIM pakai pelicin, masuk tes polisi pakai duit, urus surat izin usaha mesti menyogok, tuan adalah korban dari pembangunan salah urus.

Untuk sebuah pelayanan yang menjadi hak tuan dan puan sebagai warga negara, tuan mesti membayar lebih. Bayar dengan harga sangat mahal. Adakah yang berani menampik kenyataan ini?

Hari-hari ini kerutan di kening para orangtua pasti bertambah banyak jumlahnya. Gundah gulana mereka menatap tahun ajaran baru 2010/2011 yang sudah di depan mata. Bagaimana mendapatkan uang untuk biaya sekolah anak-anak. Apakah mungkin anak-anak terkasih bisa melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi?

Beruntunglah tuan dan puan yang secara ekonomi berkecukupan. Bayangkan nasib mereka yang tak berpunya dan kurang beruntung hidupnya. Mungkinkah anak mereka dapat mengecap pendidikan sebagaimana anak-anak lainnya.

Tahun ajaran baru selalu melahirkan prahara di kampung besar Nusa Tenggara Timur. Prahara drop out. Tragedi berhenti sekolah karena orangtua tak mampu. Ribuan anak NTT saban tahun mengalami nasib buruk itu. Pendidikan untuk semua hanya slogan. Pendidikan murah cuma isapan jempol. Sekadar tong kosong nyaring bunyinya di saat kampanye pemilu. Kita gagal menyelenggarakan pendidikan murah tapi berkualitas bagi rakyat NTT dengan mayoritas pendapatan sangat pas-pasan.

Pendidikan di beranda Flobamora justru menjunjung tinggi kasta. Kasta sudra hingga brahmana. Kasta kaya dan miskin. Si miskin papa terdepak, hanya yang kaya dan mampu bisa menikmati pendidikan lebih baik. Korban salah urus pembangunan terus berjatuhan. Hari demi hari! (dionbata@gmail.com)

Pos Kupang Senin 7 Juni 2010 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes