Gaya Jokowi di Kairagi
Dalam rangkaian blusukannnya ke Sulawesi Utara, Calon Presiden (Capres) PDI Perjuangan, Ir Joko Widodo alias Jokowi menyempatkan diri mampir ke Kantor Harian Tribun Manado di Jalan AA Maramis, Kairagi, Manado, Sabtu (10/5/2014) sekitar pukul 13.15
Dua Mahasiswi Unima Taklukkan Puncak Elbrus
Prestasidemi prestasi dibukukan anak-anak Mahasiswa Pecinta Alam (MPA) Aesthetica, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Manado (Unima)
Berwisata Penuh Sensasi ke Pulau Komodo
TAK dapat dimungkiri, Pulau Komodo di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, adalah salah satu pulau terunik di dunia
Mantan Kadishut TTS Dituntut 4 Tahun Penjara
dion bata
SOE, PK -- Karena keterlibatannya dalam penebangan liar (illegal logging) 211 pohon jati, mantan Kepala Dinas Kehutanan (Kadishut) Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Drs. Johanis Christofel Mella dituntut hukuman penjara selama empat tahun oleh jaksa penuntut umum, Hendra Sudirman, S.H.
Tuntutan jaksa itu dibacakan dalam sidang kasus tersebut di Pengadilan Negeri (PN) SoE, Kamis (10/9/2009).
Kasus penebangan liar di kawasan hutan Fatuanas, Desa Lilo, Kecamatan Amanatun Utara itu menyeret Christofel Mella dan mantan Bupati TTS, Drs. Daniel A Banunaek sebagai terdakwa.
Sidang tuntutan terhadap terdakwa Mella itu dipimpin ketua majelis hakim, Maurit Sinaga, S.H didampingi dua anggota, Amin Bureni, S.H dan Edy Sembiring, S.H.
Selain hukuman penjara selama empat tahun, JPU juga meminta hakim menghukum terdakwa membayar denda Rp 10 juta subsidair dua bulan penjara.
Menurut jaksa, terdakwa Mella terbukti melanggar pasal 78 ayat 5 jo pasal 50 ayat 3 huruf e Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Terdakwa, demikian jaksa, dengan sengaja menebang pohon atau memanen atau memungut hasil di kawasan hutan Fatuanas, berupa 211 batang pohon jati tanpa memiliki hak atau izin dari pejabat yang berwenang.
Menurut Hendra, terdakwa mengetahui penebangan kayu jati tanpa ijzn dari Menteri Kehutanan, namun dia tetap memerintahkan stafnya melakukan survai lokasi hingga kegiatan persiapan penebangan kayu jati berjalan lancar.
Pada saat dilakukan penebangan, demikian JPU, terdakwa tidak memang tidak berada di tempat. Namun terdakwalah yang memerintahkan kepada para stafnya untuk menebangan 211 kayu jati tersebut.
Selama proses persidangan, kata JPU, tidak ditemukan adanya unsur pembenar atau pemaaf yang dapat menghapus sifat melawan hukum dari perbuatan terdakwa. Karena itu terdakwa harus dihukum setimpal dengan perbuatannya.
Hal-hal yang memberatkan terdakwa, menurut JPU Hendra, terdakwa Mella selaku pejabat daerah seharusnya dapat mencegah penebangan kayu jati tersebut. Perbuatan terdakwa dapat menimbulkan kerusakan terhadap lingkungan sehingga dapat merugikan masyarakat.
Sedangkan hal-hal yang meringankan, lanjut Hendra, terdakwa belum menikmati hasil dari kegiatan penebangan kayu jati tersebut. Selain itu, terdakwa sopan selama persidangan, belum pernah dihukum dan mengakui terus terang perbuatannya serta menyesalinya.
Atas tuntutan tersebut, penasehat hukum terdakwa, Jimmy Haekase,S.H menyatakan akan mengajukan pembelaan (pledoi).
Sementara itu terdakwa lainnya dalam kasus yang sama, mantan Bupati TTS, Drs. Daniel A Banunaek, kemarin, menjalani pemeriksaan sebagai terdakwa. Saat diperiksa, Banunaek menyatakan konsep kesepakatan kerja sama Pemkab TTS dengan dengan PT Guntur Kusuma dirancang oleh Direktur PT Guntur Kusuma, Suharso Kusuma dan Mantan Kabag Umum, Drs. Maurist Taneo (almarhum). (aly)
Pos Kupang 11 September 2009 halaman 1
Bendahara Dinkop Rote Ndao Jadi Tersangka
dion bata

BA'A, PK -- Jaksa penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Ba'a menetapkan Yunus Mandala, Bendahara Dinas Koperasi (Dinkop) Kabupaten Rote Ndao tahun 2007, sebagai tersangka korupsi dana pemberdayaan masyarakat yang dikelola Dinkop Rote Ndao. Tersangka Mandala akan diperiksa jaksa pada hari Senin (14/9/2009).
Dalam kasus yang sama, jaksa sudah menahan mantan Kepala Dinkop Rote Ndao, Drs. David Dj Saudale.
Menurut Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Ba'a, Danuri Hartono, S.H, Yunus Mandala adalah tersangka yang kedua setelah jaksa menetapkan Saudale sebagai tersangka dalam kasus korupsi yang merugikan negara sekitar Rp 140 juta itu.
"Seberannya hari ini (Kamis, 10/9/2009) kami memeriksa tersangka Yunus Mandala, namun yang bersangkutan datang tanpa didampingi penasihat hukum sehingga pemeriksaan ditunda. Dia mengatakan masih mencari pengacara dari Kupang untuk dijadikan penasihat hukumnya sehingga rencana pemeriksaannya ditunda sampai Senin 14 September," kata Danuri, Kamis (10/9/2009) siang.
Apakah masih ada tersangka lainnya dalam kasus ini? Menjawab pertanyaan ini, Danuri mengatakan, untuk sementara dua orang sudah ditetapkan sebagai tersangka. Kemungkinan bertambahnya tersangka dalam kasus ini, katanya, tergantung pengembangan penyidikan.
"Tentu pengembangan penyidikan tetap dilakukan jaksa penyidik, tetapi kalau bukti-bukti lainnya tidak cukup untuk tambahan tersangka lagi pasti tentu tidak dipaksakan. Tapi pengembangan penyidikan masih dilakukan pihak kejaksaan," kata Danuri.
Dia mengatakan, pemeriksaan terhadap tersangka Yunus Mandala dilakukan untuk melengkapi BAP tersangka Mandala. Sebab saksi-saksi lain dalam kasus dugaan korupsi tersebut sudah diperiksa oleh jaksa penyidik.
Ditanya tentang permohonan penangguhan penahanan tersangka Drs. David Dj Saudale yang diajukan penasihat hukum, Debora Laba, S.H, Danuri mengatakan masih dalam pertimbangan, apakah akan dikabulkan atau ditolak.
"Menyangkut permohonan penangguhan penahanan kami masih pertimbangkan. Tetapi memang menjadi hak tersangka untuk mengajukan permohonan penangguhan penahanan," kata Danuri.
Kasus korupsi dana pemberdayaan yang dikelola Dinkop Rote Ndao ini mencuat sekitar Mei 2009. Beberapa saat setelah kasus ini mencuat, Bupati Rote Ndao, Drs. Leonard Haning menonaktifkan Drs. David Dj Saudale dari jabatannya sebagai Kadis Koperasi Kabupaten Rote Ndao.
Setelah itu, pihak Kejari Ba'a mulai melakukan kegiatan pengumpulan bahan dan keterangan (pulbaket) mengenai kasus tersebut. Jaksa meminta keterangan Dina J Bessie (Bendahara Pengeluaran Kas daerah tahun 2008), Saul Mesakh Djaha (Bendahara Pengeluaran kas tahun 2009) dan Yunus Mandala (Bendahara Dinas Koperasi tahun 2007). Kasus ini terus diusut hingga dinaikkan ke tahap penyidikan. Jaksa penyidik, Rabu (9/9/2009), menahan Drs. David Dj Saudale sebagai tersangka dan ditahan di Rutan Ba'a. (mar)
Pos Kupang 11 September 2009 halaman 1
Gemala Tidak Didukung APBD NTT
dion bata
KUPANG, PK -- Program Gerakan Masuk Laut (Gemala) Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak didukung alokasi dana dalam APBD NTT tahun 2009. Bahkan Dinas Kelautan dan Perikanan belum diberi peran maksimal sebagai penggerak utama program itu.
Menurut Kepala Bidang Perikanan Tangkap dan Pengawasan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Propinsi NTT, Rasyid Djamaludin alias Bapa Raja, Sekretariat Gemala ada di Biro Ekonomi Setda NTT. DKP NTT hanya sebagai salah satu Pokja (kelompok kerja) yakni untuk urusan pengembangan sumber daya kelautan dan perikanan.
Bapa Raja yang ditemui di kantor DKP NTT di Kelurahan Namosain, Kupang, Rabu (9/9/2009), mengatakan, sektor kelautan dan perikanan dijadikan salah satu kekuatan ekonomi masyarakat NTT. Namun, dukungan dana APBD untuk dinas teknis seperti DKP NTT sangat minim.
Setiap tahun anggaran, katanya, DKP hanya mendapat alokasi APBD untuk belanja rutin gaji pegawai dan alat tulis kantor. APBD tidak pernah mengalokasikan dana untuk merealisasikan program Gemala sebagai program stratgegis yang bisa menggenjot pendapatan masyarakat.
Menurut dia, sektor perikanan hanya dimasukkan dalam indikator ekonomi makro dimana kontribusinya dalam angka tidak ada. Perikanan dimasukkan dalam sektor perdagangan sehingga alokasi dana APBD untuk sektor perikanan, bisa saja "jatuh" ke perdagangan.
Dana pendukung Gemala, menurut Bapa Raja, bersumber dari dana bantuan Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia, APBN, dana dekonsentrasi, DAK, dana tugas pembantuan dan hibah murni negara- negara sahabat.
Dia menjelaskan, dana bantuan Bank Dunia untuk konservasi terumbu karang sebesar Rp 2 miliar setiap tahun. Konservasi terumbu karang dilaksanakan oleh Coremab di Kabupaten Sikka sejak 2005.
Untuk hibah murni sebesar Rp 80 miliar, katanya, dipakai untuk membangun dermaga perikanan di Flores Timur. Dana bantuan Bank Pembangunan Asia untuk rehabilitasi dermaga perikanan di Tenau dan dana dekon untuk membangun Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Oeba, Atapupu dan Maumere.
Sementara dana alokasi khusus (DAK) Rp 1 miliar lebih untuk masing-masing kabupaten/kota di NTT, juga untuk pembangunan sarana prasarana pendukung perikanan.
Semua dana yang mengalir untuk pembangunan bidang kelautan dan perikanan, katanya, harus berdampak pada meningkatnya pendapatan perkapita masyarakat nelayan, terbukanya lapangan kerja dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Indikatornya, antara lain lapangan kerja bertambah, produksi meningkat, pendapatan bertambah, kesejahteraan meningkat dan kontribusi PAD juga meningkat.
Pada bagian lain penjelasannya, Bapa Raja mengatakan bahwa lingkungan laut juga perlu terus dijaga kelestariannya. Pengawasan terhadap illegal fishing, pemboman liar dan lain-lain harus ditingkatkan lagi. Dibutuhkan kerja sama yang baik antara pemerintah dan aparat keamanan. Sekretariat Gemala harus berkerja keras dalam mengkoordinasikan semua itu, namun prakteknya masih belum maksimal.
Dia menambahkan, sektor andalan kelautan di NTT adalah rumput laut karena merupakan komoditi ekspor yang laris di pasaran dunia. Rumput laut diminati masyarakat dunia karena memiliki 140 manfaat, diantaranya untuk kosmetik, odol gigi, operasi plastik, peredam suara, puding, kapsul dan lain-lain. Namun perhatian pemerintah terhadap potensi ini belum maksimal.
Mestinya, kata dia, pemerintah sudah harus membuat terobosan dengan mendatangkan investor membangun pabrik pengolahan rumput laut di NTT agar yang dikirim ke luar NTT bukan bahan mentah, tapi dalam bentuk bahan jadi. Langkah terobosan seperti ini harusnya dilakukan oleh Sekretariat Gemala.
Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) RI telah mencanangkan NTT sebagai gudang bibit rumput laut di Indonesia. Kebijakan ini mestinya membawa berkah bagi NTT. Pemerintah harus melakukan terobosan, minimal menyiapkan lokasi penangkar bibit rumput laut, memberikan subsidi kepada petani rumput laut yang membudidayakan bibit.
Dia menegaskan bahwa bisnis rumput laut terbuka lebar, ada petani yang menjual bibit dan ada yang menjual rumput laut kering. Saat ini, katanya, sudah ada perhatian dari pemerintah pada budidaya rumput laut, namun belum maksimal. Ke depan, harus ditingkatkan.
Musim di NTT, tambahnya, sangat mendukung budidaya rumput laut karena dalam setahun empat kali panen. Dia menyebutkan, produksi rumput laut tahun 2008 sebanyak 130.213 ton kering. Sedangkan produksi ikan tangkap 114.294 ton. Kontribusinya ke PAD sebesar Rp 669.667.000, namun dimasukkan dalam pendapatan bagian perdagangan. (gem)
Pos Kupang 11 September 2009 halaman 1
Pati Ka Ata Mata
dion bata

Jumat pagi, 14 Agustus 2009, cuaca mendung dan diguyur hujan gerimis. Namun, ketika matahari mulai meninggi, cuaca berubah cerah dan semarak, apalagi dihiasi rerumpunan arngoni (Vaccinium varingiaefolium), tumbuhan endemik yang tumbuh subur di sekitar puncak Gunung Kelimutu.
Tanaman arngoni yang telah berbuah segar dan masak juga seakan menyambut hangat kehadiran para mosalaki pu'u (tetua adat) hari itu yang memenuhi areal helipad di zona inti kawasan Taman Nasional Kelimutu, Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.
Sambil menunggu ritual dimulai, para mosalaki pun memanfaatkan waktu dengan melihat-lihat keindahan panorama tiga kawah danau dengan air berbeda warna, tiada duanya di dunia. Kawasan Taman Nasional Kelimutu secara administratif berada dalam wilayah 5 kecamatan, yakni Kecamatan Wolowaru, Kelimutu, Ndona Timur, Ndona, dan Detusoko.
Para mosalaki juga tak bosan- bosannya menatap rumpun arngoni yang telah masak buahnya, kecil berwarna hitam. Mereka pun begitu hati-hati ketika hendak menyentuhnya karena buah arngoni juga diyakini sebagai makanan para dewa atau arwah leluhur di Danau Kelimutu.
Sekitar pukul 11.00 Wita, ritual baru dimulai. Hari itu untuk pertama kalinya di puncak Danau Kelimutu, dengan ketinggian 1.777 meter di atas permukaan laut, digelar Pati Ka Ata Mata, upacara adat memberi makan bagi arwah leluhur atau orang yang sudah meninggal.
Wisatawan domestik maupun mancanegara pun tumpah ruah di area helipad. Mereka tak ingin ketinggalan mengabadikan peristiwa bersejarah itu. Begitu pula masyarakat sekitar dan juga kalangan media.
Prosesi ritual diawali sembilan mosalaki yang mewakili sembilan suku dengan pakaian tradisional diberi sesaji untuk dibawa ke dakutatae, sebuah batu alam sebagai tugu tempat sesaji. Sesaji yang dipersembahkan berupa nasi, daging hewan kurban (babi), moke (semacam tuak lokal), rokok, sirih pinang, dan kapur.
Sembilan mosalaki pu'u itu secara bersama menuju tugu batu dan bersama-sama pula meletakkan sesaji di tugu tersebut, yang artinya dari sembilan mosalaki itu kedudukannya tidak ada yang lebih tinggi ataupun lebih rendah.
"Ritual adat ini diikuti oleh seluruh komunitas adat di kawasan Lio. Sekaligus ritual ini merupakan aset seni budaya daerah dan juga nasional yang patut dilestarikan. Ritual ini juga dapat mempersatukan suku-suku Lio," kata mosalaki Detusoko, Emanuel K Ndopo.
Wilayah Kabupaten Ende terdiri dari dua suku asli, yakni Ende dan Lio. Kawasan suku Ende dominan di bagian barat ke selatan, sedangkan suku Lio dari Kota Ende ke timur hingga utara.
Makan leluhur
Setelah pemberian makan leluhur yang dilakukan oleh para mosalaki, kemudian para pengunjung, oleh mosalaki, ditawari pula untuk turut menikmati sesaji sebagai tanda bersukaria bersama dengan para leluhur. Tahapan ritual itu lalu dilanjutkan dengan gawi, tari bersama para mosalaki tersebut dengan mengelilingi tugu batu.
"Peristiwa ini suatu kejutan bagi saya. Saya juga sangat beruntung karena saya tidak mengetahui sama sekali akan digelar ritual adat yang pertama kalinya di sini. Semula saya bermaksud berekreasi saja," kata Philippe Cazaux, wisatawan asal Perancis, yang juga berprofesi sebagai guru di negaranya.
Sejumlah mosalaki mengatakan, Pati Ka Ata Mata yang digelar dimaksudkan untuk menaikkan doa kepada arwah leluhur-selain untuk menolak bala, juga agar wilayah Ende dijauhkan dari bencana serta disuburkan alamnya yang dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya.
Pasalnya, tahun 1996 seorang turis laki-laki asal Belanda tewas di Danau Kelimutu. Tahun 2004 warga Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, bunuh diri di danau tersebut. Pada akhir 2008 juga ditemukan tewas seorang warga Desa Tenda, Kecamatan Wolojita, di danau warna hijau muda atau danau tempat arwah anak muda (Tiwu Nua Muri Koo Fai). Semua jenazah korban tetap tinggal di dalam danau karena sulitnya medan sehingga jenazah tidak dapat dievakuasi.
Dari mitos yang diyakini turun-temurun oleh masyarakat Ende Lio, kawasan puncak Danau Kelimutu merupakan tempat tinggal atau berkumpulnya para arwah orang yang sudah meninggal. Pintu gerbang (pere konde) Danau Kelimutu dijaga oleh Konde Ratu, sang penguasa.
Tiga kawah
Di puncak Gunung Kelimutu terdapat tiga kawah danau, selain Tiwu Nua Muri Koo Fai, adalah Tiwu Ata Polo yang kini berwarna hijau tua (sebelum Desember 2008 masih berwarna cokelat kehitaman), yang diyakini sebagai tempat berkumpul orang jahat. Danau ketiga, Tiwu Ata Mbupu, berwarna tua hijau kehitam-hitaman yang merupakan tempat berkumpulnya arwah orang tua.
Itu sebabnya masyarakat setempat menilai begitu sakral dan keramat areal puncak Gunung Kelimutu. Mereka juga tidak berani berbuat yang aneh- aneh atau sembrono di situ. Letak Danau Kelimutu sekitar 55 kilometer arah timur Kota Ende.
"Kegiatan ini digelar oleh Pemerintah Kabupaten Ende sebagai bentuk pelestarian budaya daerah. Dari upacara adat yang telah berlangsung turun-temurun, pemberian makan kepada leluhur hanya dilakukan di tiap rumah warga, kampung, atau suku. Kini digelar upacara adat di puncak Kelimutu yang melibatkan suku-suku Lio. Selanjutnya, ritual ini akan digelar rutin tiap tahun sekali dan tradisi ini juga menjadi agenda pariwisata Ende," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Ende Anna Anny Labina.
Fransiskus Lasa, Staf Ahli Bupati Ende Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, mengemukakan, ritual Pati Ka Ata Mata diharapkan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar kawasan untuk meningkatkan pendapatan mereka dari sektor pariwisata.
Setiap suku selesai
Kepala Balai Taman Nasional Kelimutu Gatot Soebiantoro menyatakan, diharapkan Pati Ka Ata Mata diadakan setelah semua acara adat serupa di setiap suku selesai digelar sehingga upacara adat di Danau Kelimutu itu benar-benar sebagai rangkaian ritual puncak atau akhir.
Sementara itu, ketika melakukan kunjungan kerja ke Ende pada 10-16 Agustus, Direktur Pemberdayaan Masyarakat Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Bakri mengharapkan ritual tersebut turut meningkatkan pendapatan masyarakat, terutama di sekitar Danau Kelimutu. Hal itu perlu difasilitasi secara serius oleh dinas kebudayaan dan pariwisata setempat.
"Mereka harus melakukan komunikasi yang baik dengan para pengusaha biro perjalanan dan wisata serta hotel-hotel sehingga agenda tahunan ritual adat ini bisa turut dipromosikan ke luar. Warga sekitar kawasan juga perlu dibina sehingga mereka benar-benar dapat menerima, menyambut, dan memberikan pelayanan yang memuaskan kepada wisatawan," kata Bakri.
Dia juga menyinggung keberadaan kebun hortikultura milik warga di sekitar kawasan Danau Kelimutu yang dapat dimanfaatkan sehingga wisatawan mancanegara selain melihat-lihat Danau Kelimutu juga dapat diarahkan untuk menikmati aneka buah dan sayuran milik warga.
"Kesenian setempat juga harus digalakkan, apakah itu seni tari maupun seni musik yang akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Mengapa kesenian di Jawa atau Bali hingga kini tidak mati? Sebab, kesenian di kawasan itu dapat memberikan nilai tambah kepada masyarakatnya," kata Bakri.
Upacara adat yang digelar memang masih banyak terdapat kekurangan, salah satunya ketidaktepatan waktu pelaksanaan. Jadwal semula pukul 08.00, ketika masyarakat maupun wisatawan antusias memadati lokasi pada pagi itu, ternyata ritual baru digelar pukul 11.00.
Yang disayangkan pula, ritual di puncak gunung itu relatif singkat. Semestinya rangkaian upacara adat mulai dari pemotongan hewan kurban, memasak, hingga persiapan sesaji dapat dikemas menjadi satu rangkaian wisata budaya menarik yang dapat diikuti masyarakat luas.
Selain itu, segala atribut yang berhubungan dengan pakaian adat tradisional yang dikenakan mosalaki dalam ritual itu, seperti destar, sarung, dan baju dari kain tenun ikat tradisional, semestinya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar dengan menjualnya kepada wisatawan. Pihak Taman Nasional Kelimutu atau Pemkab Ende dapat memfasilitasi dengan menyediakan tempat penjualannya. (Samuel Oktora/Kompas)
Sumber: Kompas
Kejati NTT Tahan Max David Moedak
dion bata
KUPANG, PK -- Penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTT, Senin (7/9/2009) petang, menahan tersangka Max David Moedak, Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kupang, terkait kasus dugaan korupsi pengadaan benih TA 2008 senilai Rp 1,3 miliar.
Moedak ditahan penyidik Kejati NTT setelah diperiksa penyidik, I Made Sudiatmika, S.H. Pemeriksaan dimulai pukul 09.20 Wita hingga pukul 16.30 Wita. Sebelum pemeriksaan ini, Moedak sudah tigakali tidak memenuhi panggilan penyidik kejaksaan.
Dalam pemeriksaan kemarin, tersangka Moedak didampingi dua pengacaranya, Gustaf Yacob, S.H serta Freidom Y Radja, S.H. Selama dalam pemeriksaan, Moedak dicecar dengan 41 pertanyaan.
Setelah menandatangani berita acara pemeriksaan serta Surat Perintah Penahanan Nomor 126/8.3/Fd.1/09/2009 tanggal 7 September 2009, tersangka Moedak langsung digiring aparat kejaksaan menuju mobil tahanan yang telah disiapkan. Selanjutnya, tersangka dibawa menuju Rumah Tahanan (Rutan) Penfui Kupang.
Dalam surat perintah penahanan yang ditandatangani Kajati NTT, D Munthe, S.H, tersangka menjadi tahanan jaksa hingga tanggal 26 September 2009.
Disaksikan Pos Kupang, sebelum tersangka masuk ke mobil tahanan kejaksaan, tersangka sempat memanggil dua orang penasehat hukumnya untuk berdoa.
"Mana Pak Friedom. Mari kita berdoa dulu sebelum saya jalan. Kita berdoa terhadap jalanya proses hukum ini," kata Moedak.
Setelah berdoa, tersangka Moedak langsung masuk ke dalam mobil tahanan milik Kejati NTT menuju Rutan Penfui Kupang.
Kajati NTT, D Munthe, S.H, kepada wartawan mengatakan, penahanan Moedak dilakukan penyidik kejaksaan karena tersangka terbukti terlibat dalam kasus dugaan korupsi pengadaan benih dari sumber dana DAK Kabupaten Kupang TA 2008 senilai Rp 1,3 miliar. Kasus tersebut mulai diselidiki pihak Kejati NTT sejak Juni 2009 lalu.
Setelah penyidik mendalami, ternyata tersangka Moedak tidak kooperatif. Tersangka malah mempersulit proses penyidikan dengan berbagai alasan seperti pengacara tidak berada di tempat, bikin surat sakit.
"Setelah kita mengecek ke dokternya ternyata tersangka tidak sakit. Tersangka tidak kooperatif sedikit, sehingga kita merasa penting untuk menahannya," kata Munthe didampingi Asisten Intel, I Gusti Nyoman Subawa, dan Aspidsus, Iswahyudi.
Munthe mengatakan, Dinas Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kupang mendapat alokasi DAK senilai Rp 1,3 miliar dari Departemen Kehutanan serta mendapat dana pendampingan dari Pemkab Kupang untuk proyek pengembangan hutan di Kabupaten Kupang.
Sesuai petunjuk teknis dari Menteri Kehutanan, dana proyek tersebut digunakan untuk pengadaan anakan. Namun dalam pelaksanaannya, kata Munthe, tersangka bersama Direktur CV Bumi Belantara Jaya, Eko Budi Ariyanto, SE selaku kontraktor pelaksana melakukan pengadaan bibit.
"Penelitian sementara dari tim ada kerugian negara Rp 1,3 miliar. Untuk finalisasinya kita tunggu hasil audit yang dilakukan BPKP NTT," kata Munthe.
Ditanya bahwa tersangka melalui kuasa hukumnya akan mempraperadilankan Kajati NTT, karena menganggap penyidikan kasus ini menyimpang dari prosedur hukum, Munthe mengatakan, pihaknya siap meladeni praperadilan yang akan dilakukan tersangka.
"Kita tunggu itu. Kita tidak gegabah menetapkan seseorang menjadi tersangka dan menahan tersangka. Kita menahan karena ada dasar hukumnya. Dia tidak kooperatif kok, sudah beberapa kali kita panggil tetapi selalu banyak alasan," kata Munthe.
Penasehat hukum tersangka Moedak, Gustaf Yacob, S.H dan Friedom Y Radja, S.H, mengatakan, menghormati proses hukum yang dilakukan pihak kejaksaan. Meski demikian, atas permintaan tersangka, pihaknya akan melakukan upaya hukum lanjutan yakni melakukan pra peradilan terhadap Kajati NTT.
"Pada prinsipnya tersangka tidak keberatan ditahan. Tetapi beliu juga setuju melakukan pra pradilan Kajati NTT, karena tersangka mengaku tidak terlibat dalam kasus itu," kata Gustaf dan Friedom.
Dalam kasus ini, penyidik Kejati NTT juga telah menahan Eko Budi Aryanto, SE, Direktur Bumi Belantara Jaya selaku kontraktor pelaksana dalam proyek pengadaan benih. (ben)
Pos Kupang 8 September 2009 halaman 13
Sesama Penyolong Jangan Saling Mendahului
dion bata
Oleh Remy Sylado
Kompas ikut membikin ramai klaim-klaiman Indonesia terhadap Malaysia, mencantumkan judul lagu ”Terang Bulan” sebagai ciptaan orang Indonesia.
Sebelumnya beberapa brodkas TV stel yakin mencocokkan lagu kebangsaan Malaysia ”Negaraku” dengan lagu ”Terang Bulan”. Malahan seseorang yang mengaku anak Sjaiful Bachri, pemusik Indonesia yang pernah ”lari” ke Malaysia, sebagai pencipta ”Terang Bulan”.
Salah satu, jika bukan satu-satunya media pers Indonesia pada 1957 yang memuat berita tentang ”Terang Bulan” menjadi lagu kebangsaan Malaysia adalah majalah Musika No 1 Th I September 1957. Majalah yang dipimpin Wienaktoe itu menurunkan berita berjudul ”Negaraku” sebagai berikut: ”Melodi lagu ’Terang Bulan’ jang kesohor itu achirnja dengan resmi diterima sebagai lagu kebangsaan Malaya pada hari kemerdekaan tanggal 31 Agustus 1957 j.l. dengan diberi nama dan tekst baru ’Negaraku’. Pihak RRI dan Pemerintah Indonesia untuk menjatakan penghargaannja, telah melarang diputar dan dimainkan atau diperdengarkan melodi tsb pada setiap kedjadian biasa”.
Kalau kita membaca Het Nationale Volkslied oleh Margreet Fogteloo & Bert Wikie (AW Bruna Uitgevers BV Utrecht), jelas diuraikan bahwa ”Negaraku” yang dulu di Indonesia dikenal sebagai ”Terang Bulan” adalah ciptaan orang Perancis bernama Pierre Jean de Béranger (1780- 1857).
Siapa sebenarnya orang ini? Ensiklopedia pertama yang terbit setelah Indonesia merdeka, Ensiklopedia Indonesia, 1954, oleh TS Mulia dan KAH Hidding mencatat nama Pierre Jean de Béranger sebagai pencipta sejumlah lagu rakyat (Pr chanson populaire, Ing. folk song, Bld, volkslied). Di antara ciptaannya yang terkenal di Indonesia sejak zaman penjajahan Perancis di sini, Februari-Agustus 1811, sampai digegaskannya Bandung sebagai Parijs van Java, 1925, adalah Chansons morales et autres, Chansons nouvelles, Chansons inédites.
Selama itu, pengaruh kebudayaan Perancis di Indonesia, jadi bukan di Malaysia, memang besar. Di Manado, yang sekarang disebut katrili, dan merupakan kesenian tradisional, berasal dari kata bahasa Perancis quadrille. Lalu, di Bandung, teater tradisional longser merupakan serapan kata bahasa Perancis, aba-aba seorang sutradara mengucapkan kata longer untuk bergerak lalu. Dan, jangan lupa kereta sado di Batavia berasal dari bahasa Perancis dos à dos, artinya duduk saling memunggung.
Tetapi, di antara tokoh-tokoh seni Perancis yang pernah lama mukim di Indonesia, bukan Malaysia, adalah penyair terkemuka perkusor Simbolisme abad ke-19, Arthur Rimbaud. Pada 1876 penyair ini tinggal di Salatiga sebagai serdadu batalion I infanteri. Tentang dirinya di Salatiga bisa dibaca dalam Het Koninklijk Negerrlands-Indisch Leger 1830- 1950 oleh Zwitzer & Heshusius (Staatsuitvegerij ’s-Gravenhage).
Salah seorang sahabat Rimbaud, René du Bois, bahkan menetap di lereng gunung Ungaran sampai tua, dan termasuk yang dikunjungi Mata Hari (Margareha Geertruide Zelle) sang ’polyglot harlot’ yang dieksekusi mati oleh otoritas Perancis pada Perang Dunia I sebagai mata-mata.
Maunya, dengan sekelumit gambaran ini, jangan sampai gairah klaim-klaiman Indonesia terhadap Malaysia lantas melupakan peribahasa ”semut di seberang laut tampak gajah di depan mata tak tampak”. Sebab, kita juga punya kebiasaan nyolong.
Sebagai pembuka ingatan, perhatikan dua lagu yang dianggap memiliki pathos kebangsaan, yaitu lirik ”Dari barat sampai ke timur berjajar pulau-pulau”, dan ”Kulihat Ibu Pertiwi sedang bersusah hati”. Yang pertama mengingatkan lagu Perancis ciptaan Rouget de Lisle. Memang hanya bagian depan, bagian yang sama dimanfaatkan Beatles juga.
Tetapi yang kedua, ”Kulihat Ibu Pertiwi sedang bersusah hati”, adalah 100% pencurian atas lagu gereja ”What a Friend We Have in Jesus”. Tidak tahu apa ilusi grup musik perempuan asal Surabaya, Dara Puspita, pada 1960-an menyanyikannya menjadi ”Ibu Pertiwi sedang bersusah”. Lagu himne ini aslinya diciptakan oleh Horatius Bonar pada lirik dan Charles Crozat Converse pada musik, dan dicatat hak ciptanya pada 1876 lewat Biglow & Main.
Harapannya, dalam klaim- klaiman yang sedang panas sekarang ini, jangan pula melahirkan pemeo baru ”Sesama pencuri jangan saling mendahului”. Sebab, ujungnya kalau urusan marah-marah ini dibeberkan dengan kasus-kasus plagiat yang ternyata tidak sepi di Indonesia, malunya harus ditanggung bersama.
Sekadar contoh lain untuk mengingatkan itu, pada 1971 Markas Besar Angkatan Darat, ditandatangani oleh Brigjen Soerjadi, telah membuat malu memberi piagam kepada Ismail Marzuki sebagai komponis yang disebut mencipta lagu ”Auld Lang Syne”. Periksa Lagu-Lagu Pilihan Ismail Marzuki, oleh WS Suwito, Titik Terang, Jakarta. Tentu saja ini ngawur yang menyedihkan. Lagu ”Auld Lang Syne” itu nyanyian tradisional Skot yang digubah oleh Robert Burn dan dicatat penciptaannya melalui Preston & Son, London, 1799.
Sebelum itu, Ismail Marzuki disebut juga sebagai pencipta lagu ”Als die orchideeën bleien” dan ”Panon Hideung”. Padahal, lagu yang pertama, yang kemudian berlirik bahasa Indonesia ”Bunga anggrek mulai timbul”, adalah ciptaan Belloni, pemimpin orkes Concordia Respavae Crescunt, yang dinyanyikan oleh Miss Lie pada 1922.
Yang kedua, ”Panon Hideung” adalah lagu tradisional Rusia, diaransemen di Amerika oleh Harry Horlick & Gregory Stone dan masuk hak cipta pada 1926 di bawah Carl Fischer, Inc, lalu diperkenalkan di Indonesia, melalui Bandung pada tahun yang sama oleh pemusik Rusia bernama Varvolomeyev.
Termasuk Presiden RI Soekarno, pada 1961 membuat kesalahan memberikan Piagam Widjajakusuma kepada Ismail Marzuki, yang menyebut dalam piagam itu bahwa lagu ”Hallo- hallo Bandung” adalah ciptaan Ismail Marzuki. Padahal, lagu itu aslinya ciptaan seorang prajurit Siliwangi bernama Lumban Tobing yang dinyanyikan bersama peleton Bataknya dari long march Yogya-Bandung di zaman revolusi. Tentang kematiannya bisa dilihat lukisannya di Museum Siliwangi, Jl Lembong, Bandung.
Lagu ”Hallo-hallo Bandung” ciptaan Lumban Tobing ini hanya sama judul, tapi beda melodi dan lirik dengan lagu Belanda nyanyian Willy Derby pada 1929 ketika radio NIROM (Nederlands Indische Radio Omroep Maatschappij) beroperasi di Bandung versi baru rekaman ini dinyanyikan lagi oleh Wieteke van Dort di TV Belanda dalam De Stratemakeropzeeshow, 1972, dan dicetak teksnya pada 1992 dalam De Wduwe van Indië.
Nah, ”Terang Bulan” juga tersua dalam De Wduwe van Indië dalam dua teks, yaitu bahasa Indonesia gaya KNIL dan bahasa Belanda. Kita baca teks yang pertama saja:
Terang boelan
terang boelan di kali
Boewaja timboel
katanja lah mati
Djangan pertjaja
orang lelaki
Brani soempa
dia takoet mati.
Asal saja teks lama di atas tidak jadi ejekan kepada kita, Indon, sebagai ”brani soempa, dia takoet mati”. Kalau ada tuduhan begitu, rasanya elok diingat teriakan Bung Karno dulu, ”Ganyang Malaysia!”
Remy Sylado Pengamat Musik, Novelis, Dramawan
Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/06/0300171/sesama.penyolong.jangan.saling.mendahului
Selingkuh
dion bata

SUNGGUH, beta terganggu dengan kata itu. Di akhir pekan yang baru lewat, seorang sobat karib mengirim surat elektronik usil yang menohok. "Bintangmu Gemini kan? Nah, dirimu masuk kelompok tukang selingkuh. Nanti kuberitahu istrimu agar waspada." Waw! Mana tahan dituding seperti itu.
Untunglah wajahku yang semula mengerut sontak melentur dan berujung derai tawa. Si kawan mengirim email bertopik: Peringkat Selingkuh Berdasarkan Zodiak. Dia tambahkan catatan kaki, kalau bung tidak percaya lihat sendiri di laman www.dewazodiak.com.
Suratnya menggoda, memang. Tertulis di sana, orang yang paling setia lahir dalam naungan zodiak Taurus (21 April-20 Mei). Yang paling tidak setia alias peringkat satu berpeluang selingkuh adalah Pisces (20 Februari - 20 Maret). Agar tuan dan puan tidak penasaran, baiklah beta beberkan satu persatu. Kesetiaan orang Taurus luar biasa dan paling diandalkan. Taurus acap dianggap pribadi yang membosankan dalam menjalin relasi. Tetapi sekali terikat dia ingin bertahan selamanya.
Ranking kedua dalam hal kesetiaan adalah Cancer (21 Juni - 22 Juli). Kelompok ini dilukiskan sebagai orang rumahan, suka merawat pasangan. Sensitivitas tinggi membuatnya berusaha agar tidak dilukai dan melukai. Cancer kurang cocok diajak berselingkuh.
Peringkat ketiga, Virgo (23 Agustus-22 September). Dikenal sangat hati-hati dalam memilih pasangan. Menyayangi satu orang saja sudah bikin repot, apalagi mau main mata dengan yang lain. Lumayan rewel dan kritis. Kerewelan Virgo bisa bikin orang lain tersinggung. Peringkat keempat, Capricorn (23 Desember-20 Januari). Pikirannya cenderung berkutat seputar rencananya. Capricorn terkesan membatasi diri dalam menjalin relasi. Selingkuh bagi mereka sekadar intermeso kala jenuh. Nah, supaya dia tidak selingkuh jangan dibikin jenuh.
Kelima, Aquarius (21 Januari-19 Februari). Menghindari komitmen dengan keterlibatan emosional yang dalam. Aquarius berpikir dan bertindak tegas. Juga radikal. Bila sampai selingkuh, berarti itu caranya yang "radikal" untuk mengakhiri hubungan dengan pasangan yang tak mampu mengikuti pola pikirnya.
Ranking keenam, Libra (23 September-22 Oktober). Paling sukar menentukan pilihan dan sulit mengungkapkan diri sendiri. Karena kerap berpikiran mendua mengenai segala sesuatu, bila digoda berselingkuh, orang-orang Libra cepat hanyut. Peringkat ketujuh, Gemini (21 Mei-20 Juni). Selalu ingin dimanja dan diperhatikan pasangan. Kalau tidak dimanja, dia melirik ke lain hati. Gemini adalah tipe yang gampang berubah. Wah gawat!
Posisi kedelapan, Sagitarius (23 November - 22 Desember). Sangat gampang tergoda untuk selingkuh. Karakter dasar yang ekspansif sehingga gampang tergoda untuk hal-hal yang "baru", termasuk dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis. Orang Sagitarius itu cemerlang, penuh vitalitas hidup.
Urutan kesembilan, Aries (21 Maret-20 April). Tipe petualang. Perlu dipantau agar gairah kehangatannya meluber ke mana-mana. Antusiasme dalam diri membuat gairahnya berkobar-kobar untuk bertualang dalam segala hal. Aries adalah tipe yang hangat dalam menjalin relasi. Diajak selingkuh gampang.
Posisi ke-10, Leo (23 Juli-22 Agustus). Ego yang tinggi membuat kesetiaannya sangat berpamrih. Leo adalah tipe yang menawan hati dan banyak maunya. Peringkat ke-11, Scorpio (23 Oktober-22 November). Tak akan membiarkan setiap godaan lewat begitu saja. Godaan dimengerti sebagai perhatian dan jarang diabaikan. Scorpio dikenal sebagai si pecinta ulung.
Urutan ke-12, Pisces (20 Februari-20 Maret). Paling romantis. Paling paling tidak setia alias "peselingkuh" nomor satu. Selingkuh dipandang sebagai yang indah dalam hidupnya. Artinya, kalau tuan dan puan mau selingkuh carilah orang Pisces. Hah? Sabar dulu, beta sama sekali tidak menyarankan tuan dan puan percaya! Toh namanya "ramalan" bintang, bisa kena bisa tidak. Bagi beta analisis usil semacam itu baik dipakai sebagai alat uji untuk rasa rasa diri. Jangan-jangan pas. Hahaha...
***
BUKAN kali pertama beta dituduh selingkuh. Beberapa waktu lalu seorang pembaca setia koran tempat beta mengabdi ini menghardik dengan lantang. "Mengapa kalian tidak pernah menulis kasus perselingkuhan oknum pejabat yang cukup marak di Flobamora? Ada pejabat tertangkap basah dengan istri orang. Ada istri pejabat ngamuk-ngamuk di depan umum. Takut ko? Kalau takut, berarti kalian sama saja berselingkuh dengan pejabat-pejabat itu!"
Oe kawan, persoalannya bukan takut atau pekerja media ikut berselingkuh sehingga fakta perselingkuhan dibiarkan sekadar sas-sus. Cuma bisikan dari mulut ke mulut.
Harap maklumlah. Dominan awak media di beranda ini menyadari, keterbukaan itu tidak berarti telanjangi diri orang lain. Bagaimana pun sebagian orang kita masih fanatik dengan "adat ketimuran". Orang kita tak suka soal sensitif itu dikupas panjang, lebar dan menukik seperti gaya infotain televisi Indonesia.
Meski tahu, orang NTT lebih suka selingkuh sekadar sas sis sus saja dulu. Biarkan selingkuh yang kerap diplesetkan sebagai Selingan Indah Keluarga Utuh atau Selingan Indah, Keluarga Runtuh itu menjadi urusan pribadi bersangkutan. Lagipula news value-nya apa? Jika demi koran laris, terlalu sederhanakan soal.
Tapi silakan saja kalau ada yang berani. Beta yakin bakal direpotkan dengan pasal pencemaran nama baik atau perbuatan tak menyenangkan. Lebih celaka kena pasal falungku (baca: pukul). Yang luar biasa di kampung kita adalah gampang sekali orang lapor polisi demi nama baik. Nama baik itu mahal betul di sini.
Selingkuh itu apa? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ada dua pengertian selingkuh. Pertama, tidak berterus terang, tidak jujur, suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri, curang, serong. Kedua, korup, menggelapkan uang. Nah, bukankan tuan dan puan juga beta salah kaprah selama ini?
Kita terlanjur memahami selingkuh sebatas selingan indah dengan PIL (Pria Idaman Lain) atau WIL (Wanita Idaman Lain) yang bisa berujung urusan ranjang.
Menurut kamus itu rasanya setiap orang pernah berselingkuh. Langka bahkan agak muskil orang selalu berterus terang tentang apa saja sepanjang hidupnya. Ketika nyong kecilku di rumah tidak berterus terang tentang niatnya membeli mainan baru (ekspresinya cuma ngambek), dia sesungguhnya berselingkuh denganku.
Ketika warta media hari demi hari tentang korupsi, itulah selingkuh nomor wahid. Korbannya pasti banyak orang. Dan, ketika tahun lalu hasil survei TII menemukan Kupang sebagai salah satu kota terkorup di Indonesia, artinya apa? Bukankah Kupang patut dilukiskan sebagai kampung besar orang-orang yang doyan selingkuh? Tak usah malu. Siapa suruh selingkuh? Hehehe. (dionbata@yahoo.com)
Pos Kupang edisi Senin, 7 September 2009 halaman 1
Pemerintah NTT Kerja sama dengan FKH
dion bata

KUPANG, PK -- Pemerintah Propinsi (Pemprop) NTT akan menjajak kerja sama dengan sejumlah Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) di seluruh Indonesia untuk menambah jumlah dokter hewan di NTT. Pemprop juga akan terus menggalakkan program tugas belajar menyangkut kesehatan hewan.
Hal ini disampaikan Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon Foenay, M.Si, kepada Pos Kupang usai mengunjungi Pasar Oebobo- Kupang, Sabtu (5/9/2009). Foenay dimintai tanggapannya terkait ketersediaan tenaga dokter hewan di NTT yang tidak sebanding dengan luas wilayah dan jumlah ternak.
Untuk diketahui, tenaga dokter hewan berstatus PNS di NTT saat ini sebanyak 85 orang dengan jumlah pos kesehatan hewan (poskeswan) 105 unit. Padahal idealnya satu kecamatan dilayani seorang dokter hewan. Dengan demikian, seharusnya Propinsi NTT yang terdiri dari 285 kecamatan dilayani 285 dokter hewan.
Menurut Foenay, dokter hewan yang ada di NTT perlu mendapat perhatian khusus, bukan hanya oleh pemerintah propinsi, tetapi juga oleh setiap pemerintah kabupaten/kota dengan mengedepankan kualitas tenaga dokter hewan itu. "Ini salah satu upaya yang harus ditempuh untuk mewujudkan daerah NTT sebagai ikon ternak nasional. Tentu bukan dari dokter hewan saja, tetapi juga paramedis dan sarana-prasarana penunjang operasional dokter hewan," kata Foenay.
Dia menjelaskan, untuk memenuhi apa yang direncanakan itu, pemprop segera menjalin kerja sama dengan sejumlah FKH yang ada di beberapa universitas di Indonesia, sehingga bisa mengirim tugas belajar maupun mendorong warga NTT untuk masuk ke fakultas kedokteran hewan.
Selain bekerja sama dengan sejumlah FKH, katanya, Pemprop NTT juga akan melakukan kerja sama dengan pemerintah luar negeri, yaitu Australia, untuk membantu meningkatkan kualitas dokter hewan di NTT. "Saat ini beberapa kawasan seperti BesipaE dan Bena sudah menjadi lokasi contoh untuk ternak. Ini harus terus didampingi oleh petugas dari dinas teknis. Saya sendiri sudah secara langsung membicarakan hal ini dengan Dirjen Bidang Kesehatan Hewan RI, drh. Agus Wiyono, agar memperhatikan masukan dari pemerintah dan masyarakat NTT," ujar Foenay.
Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) NTT, drh. Maria Geong, Ph.D, mengatakan, saat ini FKH hanya ada di Universitas Gajah Mada, Institut Pertanian Bogor, Universitas Airlangga, Universitas Syah Kuala (Banda Aceh), Universitas Udayana, Universitas Brawijaya (Unibraw) dan Universitas Mataram (Unram). "Di Unbraw dan Unram belum ada lulusannya karena mereka baru memulai perkuliahan," kata Geong.
Pada Jumat (4/9/2009), Wakil Gubernur Esthon Foenay meresmikan pendirian rumah sakit hewan pertama di NTT. Rumah sakit yang berlokasi di Jl. Timor Raya Kupang ini akan dikelola oleh Dinas Peternakan Propinsi NTT. Kepala Dinas Peternakan Propinsi NTT, Martinus Jawa, mengatakan, kehadiran rumah sakit ini diharapkan dapat mengatasi masalah kesehatan ternak di NTT.
"Penyakit hewan di NTT sering mewabah sehingga dibutuhkan rumah sakit untuk menjaga ternak tetap sehat," ujarnya. (yel)
Pos Kupang 6 September 2009 halaman 1
NTT Miliki Rumah Sakit Hewan
dion bata
KUPANG, PK -- Propinsi NTT kini memiliki rumah sakit hewan. Rumah sakit hewan pertama di NTT ini akan dikelola oleh Dinas Peternakan Propinsi NTT.
Kepala Dinas Peternakan Propinsi NTT, Martinus Jawa, usai peresmian rumah sakit hewan tersebut oleh Wakil Gubernur (Wagub) NTT. Ir. Esthon L Foenay, M.Si, di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Peternakan NTT di Jalan Timor Raya-Kupang, Jumat (4/9/2009), mengatakan, kehadiran rumah sakit hewan ini diharapkan dapat mengatasi masalah kesehatan ternak di NTT.
Apalagi, kata Jawa, hampir setiap tahun ternak milik masyarakat terserang berbagai penyakit, seperti penyakit ngorok pada sapi, antrax dan rabies. "Penyakit hewan di NTT sering mewabah sehingga dibutuhkan rumah sakit untuk menjaga ternak agar tetap sehat," ujarnya.
Jawa menyebutkan, saat ini jumlah tenaga dokter hewan di NTT 85 orang, puskesmas hewan (puskeswan) 60 unit. Dari jumlah puskeswan itu, hanya 35 puskeswan yang beroperasi.
Bila dibandingkan dengan jumlah ternak di NTT, kata Jawa, jumlah tenaga dokter dan puskeswan masih kurang. Khusus puskesmas hewan, lanjut Jawa, setidaknya dibutuhkan lagi sekitar 20 puskeswan. Kami akan menambah 20 puskeswan untuk melayani hewan yang sakit," katanya.
Rumah sakit hewan tersebut memiliki enam ruangan, yakni dua ruangan rawat inap, ruang bedah, laboratorium, administrasi dan ruang dokter, serta sejumlah peralatan medis khusus hewan, seperti alat bedah. "Dokter hewan yang ditugaskan di RS Hewan ini 10 orang," ujarnya.
Jawa berharap para peternak atau masyarakat yang miliki hewan piaraan dapat mengobati hewan mereka di RS ini. "Kami imbau peternak untuk membawa hewan peliharaan yang sakit ke RS ini untuk diobati," katanya.
Sementara itu, Wagub NTT. Esthon Foenay, mengharapkan RS Hewan ini dimanfaatkan sebaik mungkin. Karena itu, Esthon meminta semua pihak mendukung keberadaan RS Hewan ini. "Saya minta DPRD mendukung keberadaan RS ini," kata Esthon.
Harmonisasi Peternakan
Pada kesematan itu, Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI), drh. Wiwiek Bagja, mengatakan, Pemprop NTT perlu melakukan harmonisasi pada bidang peternakan jika ingin memperkenalkan daerah ini sebagai propinsi ternak. Harmonisasi dimaksudkan pada peningkatkan peran dokter hewan, sarjana peternakan dan paramedis.
Wiwiek menyampaikan ini saat saat acara peringatan Hari Peternakan dan Kesehatan Hewan Indonesia ke-VII Tingkat Propinsi NTT, dan Peresmian Rumah Sakit Hewan di Kantor UPT Veteriner Dinas Peternakan NTT.
Selain Wagub NTT, Esthon L Foenay, dan Kadis Peternakan NTT, Martiunus Jawa, hadir juga saat itu Direktur Bidang Kesehatan Hewan, drh. Agus Wiyono, Ketua PDHI NTT, drh Maria Geong, Ph.D, para dokter hewan, sejumlah pimpinan dinas, badan dan kantor lingkup pemprop NTT
Menurut Wiwiek, harmonisasi pada bidang ternak yang dimaksud adalah melihat fungsi ternak bagi kehidupan dan peran dokter hewan, serta dukungan semua komponen termasuk dukungan politis di daerah. "Kalau kita bicara ternak harus kita lihat tingkat kesehatan ternak atau hewan. Jika hewan sudah musnah, otomatis daging dan susu berkurang sehingga konsekuensinya daerah harus impor susu dan daging," kata Wiwiek.
Menurut dia, dua aspek penting dalam harmonisasi bidang peternakan, yakni keselamatan dan keamanan sehingga hewan bisa selamat dan tetap hidup. Selain itu, keamanan bagi manusia dan lingkungan.
Wiwiek meminta perlunya keharmionisan antara instasni terkait dengan dokter hewan dalam menyikapi berbagai persoalan kesehatan hewan di NTT. Disamping itu, tugas dokter hewan harus mampu memetakan penyakit hewan pada setiap daerah di NTT sehingga dapat mudah mengatasi bila terjadi kasus.
"Semua itu bisa dilakukan bila didukung sarana dan fasilitas seperti laboratorium dan alat lainnya, serta dana. Berdayakan dokter hewan, paramedis veteriner sehingga melalui wadah PDHI NTT dapat menjadi pemberi informasi dan opini yang independen/ proporsional tentang kesehatan hewan di NTT," katanya. (ant/yel)
Pos Kupang edisi Sabtu, 5 September 2009 halaman 1
I'ang Mage Waer
dion bata

ORANG Maumere mana yang tidak tahu kelezatan dan kenikmatan I'ang Mage Waer. I'ang Mage Waer adalah nama menu atau salah satu makanan khas Kabupaten Sikka. I'ang (ikan), mage (asam) dan waer (air) alias ikan kuah asam ini merupakan salah satu makanan khas tradisional masyarakat di Kaupaten Sikka. Hampir setiap warga di kabupaten ini menjadikan mage waer sebagai makanan favorit.
Mage waer menjadi menu spesial dan paling laris dicicipi tamu saat disajikan dalam acara resmi pemerintahan maupun pesta atau acara keluarga lainnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, I'ang Mage Waer alias Mage Waer hampir selalu tersedia di meja makan rumah-rumah warga di Kabupaten Sikka. Pada sebagian warung makan juga tersedia Mage Waer menjadi salah satu menu yang dijual bersama menu tradisional atau menu modern lainnya.
Bahkan menjadi kebiasaan orang Maumere (sebutan umum untuk warga Kabupaten Sikka), setiap tamu baik dari kabupaten, propinsi atau negara lain yang berkunjung ke wilayah Kabupaten Sikka akan disuguhi Mage Waer dan makanan lokal lainnya.
Mulut dan sikap bisa saja berbohong, namun lidah tidak bisa berbohong. Setelah mencicipi Mage Waer, lidah kita pasti 'kaget' merasakan gurihnya Mage Waer.
Pastinya kata yang segera terucap adalah 'wow...lezat dan nikmat'. Dan, si pencicip -- apalagi yang baru pernah kali merasakannya -- akan membangkitkan selera makan sehingga tidaklah heran bila mage waer bisa membuat orang selalu tambah makan.
Tak jarang si pencicip akan minta tuan rumah menuliskan resepnya atau malah besok akan kembali datang ke rumah itu untuk minta dibuatkan lagi Mage Waer.
Memang di sejumlah daerah di NTT, menu ikan kuah asam ala Maumere ini ada. Namun meski bumbu dan cara membuatnya sama, namun Mage Waer di Maumere terasa beda.
Mengapa? Jawabannya sederhana. Karena ikan sebagai salah satu bahan Mage Waer itu berasal dari perairan Sikka yang sudah terkenal sebagai penghasil ikan segar dengan kualitas bagus. Apalagi kalau Mage Waer itu menggunakan ikan 'batu' (ikan kerapuh merah). Sudah pasti yang memakannya tidak akan melupakan bagaimana kelezatan Mage Waer itu seumur hidupnya.
Tidak sulit membuat Mage Waer. Bapa Mus, Mama Yeany, Vera Gayatri dan Olga de Kolaq, keluarga dan sahabat saya di Maumere selalu menyajikan menu Wage Waer kepada saya. Selama saya bertugas di Maumere beberapa tahun, setiap tiga hari sekali, lidah saya dibuat manja dengan kelezatan Mage Waer. Mereka kemudian membagikan resep Mage Waer sebagai oleh-oleh untuk saya bawa pulang ke Kupang.
Terima kasih oleh-oleh yang sangat berharga dari daerah asal ayah saya. Bumbu dasar Mage Waer yakni mage (asam), somu (bawang merah), hunga (bawang putih), lea (jahe), guni (kunyit), koro (lombok besar), gelo (kemiri), daun kemangi, daun sereh. Juga hingi (garam), i'ang (ikan) dan bumbu instant. Ikan mentah yang digunakan itu bisa ikan apa saja (dianjurkan ikan batu atau ikan merah), baik ikan yang masih utuh atau ikan yang sudah dipotong-potong kecil.
Cara membuatnya, bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, lombok besar, semuanya dihaluskan. Tambahkan kemiri untuk membuat kuah menjadi kental. Jangan lupa daun sereh untuk membuat harum. Setetah itu, semua bahan tersebut ditumis dengan minyak secukupnya dalam wajan sesuai kebutuhan. Ingat! Nyala api jangan terlalu besar.
Sebelum tumisan bumbu itu kering, langsung tambahkan air asam (air sudah dicampur dengan asam) secukupnya. Lalu biarkan air asam dan bumbu yang ditumis itu mendidih, setelah itu masukkan ikan ke dalam kuah itu.
Biarkan selama 15 menit lalu berikan garam dan masako secukupnya. Kemudian taburi bawang goreng di atas masakan lalu angkat masakan dan taruh pada wadah yang sudah disiapkan. Setelah itu Mage Waer disajikan di meja makan dan siap disantap dengan nasi. Rasanya? Hmm....
Siapa yang mau mencoba I'ang Mage Waer? Bertandatanglah segera ke Maumere, Kabupaten Sikka. Atau kalau tidak sempat, maka cobalah membuat sendiri I'ang Mage Waer di rumah masing-masing. Selamat mencoba. (OMDSMY Novemy Leo)
Pos Kupang 5 September 2009 halaman 5

