Wawi


OM Dinus kembali menjalani rutinitas pagi itu. Bangun tidur sekitar pukul 06.00, lelaki setengah baya itu menuju ke dapur mengambil makanan yang telah disiapkan istrinya semalam. Makanan siap saji hasil olahan dari berbagai macam bahan tersebut sudah diisi dalam dua ember plastik bekas ukuran 20 liter.

Dengan dua tangannya yang kokoh, Om Dinus mengangkat ember berisi makanan lalu bergegas menuju kopo wawi (kandang babi) yang letaknya sekitar 300 meter dari rumahnya. Kandang babi berada di pinggir kampung, persis di dekat rumpun bambu kuning yang rindang.

Om Dinus percepat langkah kaki. Dia ingin segera sampai di kopo wawi. Seperti hari-hari sebelumnya, dia tidak mau terlambat memberi makan hewan piaraannya. Apalagi ternak yang doyan makan itu sudah hapal jam makan pagi setiap hari. Rata-rata jam enam lewat sekian menit. Kalau sampai terlambat jauh, hewan ini tidak lagi sekadar mendengus, tetapi bernyanyi nyaring dengan suara yang khas.


Tapi ada yang aneh bagi Om Dinus pagi itu. Biasanya dalam jarak sekitar 20 meter dia telah disongsong babi yang mendengus kelaparan. Kali ini kok sunyi. Ada apa gerangan? Om Dinus percepat langkah menuju kopo wawi.

Jantungnya seolah mau copot. Lima ekor babi tambun di dalam kopo (kandang) telah meregang nyawa. Tungkai kakinya lemas. Om Dinus diam seribu bahasa. Tak terasa tetes air bening mengalir dari pepupuk matanya. Ketika kabar itu sampai ke telinga istrinya, sang istri pun tak sanggup menahan tangis.

Awalnya, Om Dinus sempat berpikir yang bukan-bukan. Mungkinkah wawi (atau bahasa lain daerah di NTT dikenal dengan ela, wawe, vavi atau fe) itu mati diracun seseorang yang tidak suka dengan keluarganya? Tapi Om Dinus merasa tidak punya musuh di kampung itu. Toh orang sekampung rata-rata masih terikat hubungan famili. Kecil kemungkinan di antara mereka memendam iri lalu meracuni kawanan babi yang siap dijual. Tentu ada penyebab lain.

Om Dinus tidak perlu menunggu lama untuk dapat jawaban. Keesokan harinya, warta kematian babi kembali mengejutkan warga kampung. Enam ekor babi milik tetangga Om Dinus mendadak mati. Kabar yang sama bertubi-tubi datang dari kampung lain. Semua sama bertutur, babi tiba-tiba terlihat lemas lalu stop mendengus. Mengertilah Om Dinus betapa dia tidak sendirian menderita. Puluhan ekor babi di kampung tetangga juga mati terserang penyakit yang belakangan (lewat radio) diketahui sebagai streptococcus. Om Dinus bahkan tidak mampu dan mau mengeja istilah yang ribet itu. Baginya babi telah mati karena penyakit. Titik!

Wawi atau babi merupakan salah satu sumber pendapatan utama keluarga Om Dinus, warga salah satu kampung di wilayah Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Untuk menghidupi keluarganya, Om Dinus tidak mengandalkan hasil kebun semata. Kebun kopi dan cengkeh tidak seberapa luas. Panenan kedua komoditi tersebut tidak selalu stabil saban tahun, sama seperti harga di pasar yang gampang dipermainkan pengusaha pengumpul.

Maka sejak lama keluarga Om Dinus pelihara babi, kambing dan ayam. Selain mudah pakan dan perawatan, hewan itu bisa menghasilkan uang dalam waktu tidak terlalu lama. Babi adalah ternak yang ekonomis. Dengan pelihara wawi, Om Dinus membiayai sekolah anak-anaknya. Dengan babi, Om Dinus bisa tunjuk muka dengan bangga bila menghadiri acara tertentu di kampung halamannya.

Pasar babi jelas. Permintaan tidak pernah kurang. Di Flores dan beranda Flobamora umumnya, hampir tiada hajatan tanpa menu babi. Peran babi sangat penting mulai dari menu harian sampai urusan belis dan ritual adat. Acara masuk minta (meminang), nikah, sambut baru, syukuran wisuda, dan lain-lain selalu menyajikan menu daging babi. Harga babi pun tidak beda jauh dengan ternak besar seperti sapi.
Menurut Om Dinus, babinya pernah dibeli warga Pulau Timor dan Sumba. "Orang Sumba sering cari babi ke sini. Juga dari Kupang," katanya.

Masuk akal memang. Warung se'i babi yang menjamur di Kupang, misalnya, membutuhkan pasokan babi tiap hari. Karena itulah, kematian lima ekor babi sekaligus merupakan bencana bagi Om Dinus dan warga kampung lain di Nagekeo dan Ende. Dalam sekejap mereka kehilangan uang belasan bahkan puluhan juta rupiah. Guna mendapatkan kembali, tak semudah membalik telapak tangan.

Ada protes dari Om Dinus? "Mau protes siapa? Babi kena penyakit sudah biasa kami alami," katanya datar. Bagi orang kampung seperti Om Dinus, kematian ternak telah dianggap sebagai musibah musiman dan mereka pasrah. Tidak ada komplain meski yang namanya vaksin selalu datang terlambat. Selalu datang buru- buru ketika ternak telah menjadi bangkai.

Om Dinus pun tak peduli apakah kematian hewan itu perlu ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) sehingga butuh aksi luar biasa pula agar tidak berulang dari tahun ke tahun. Om Dinus hanya memahami, kehidupan mereka sebagai petani-peternak selalu dinaungi malang dan untung.

Kematian babi diterima sebagai kemalangan sedang berkunjung. Mau apa lagi? Om Dinus tidak mengerti kata pro rakyat yang sering dia dengar waktu pemilu lalu. Dia cuma paham bahwa kambing, ayam, babi, anjing, sapi, kerbau, kuda, merupakan aset berharga rakyat kecil seperti dia. Itulah sumber kehidupan mereka.

Luar biasa orang tua ini! Dalam percakapan dengan beta medio pekan lalu, Om Dinus bahkan masih bisa bersyukur. Dia membandingkan kemalangannya dengan sesama saudara di Wolowae dan Maukaro yang kehilangan ternak besar. Kerbau, sapi dan kuda harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan babi. "Harga kerbau tiga sampai empat kali lipat dari babi," katanya.

Di Wolowae, lebih dari 84 ekor kerbau, sapi dan kuda mati terserang penyakit ngorok alias septichemia epizooticha (SE) mulai Juni hingga Agustus 2009. Penyakit yang sama merenggut nyawa 110 ekor ternak di Maukaro, Kabupaten Ende. Dan, baru pekan lalu sebanyak 47 ekor sapi di Timor Tengah Selatan (TTS) mati mendadak. Jika nilai semua hewan itu dikonversi ke dalam angka rupiah, kerugian sebagian warga Flobamora dalam waktu tiga bulan terakhir diperkirakan lebih dari satu miliar rupiah. Sebuah bencana ekonomi yang mengerikan.

Namun, siapa peduli dan memandang ini tragedi? Pernahkah tuan dan puan mendengar kematian massal ternak diposisikan sebagai bencana? Seorang teman berkata enteng, "Di beranda ini, boro boro urus hewan, urus sesama manusia saja masih payah bung!" Ah, beta jadi ingin tahu, siapa berani bilang manusia dapat hidup tanpa hewan dan tumbuhan? Siapa berani menyangkal, dapat sekolah tinggi, meraih pangkat dan kedudukan tanpa dibiayai duit hasil jual kambing, babi, sapi dan atau kerbau? Ah, seandainya wawi bisa omong...!? (dionbata@yahoo.com)

Pos Kupang edisi Senin, 14 September 2009 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes