Jangan Kirim Sapi, Tapi Dagingnya

KUPANG, PK -- Rektor Undana, Prof. Ir. Frans Umbu Datta, M. App, Sc. Ph.D, mengatakan, salah satu sebab meruginya peternak sapi di NTT selama ini karena yang dikirim ke luar daerah adalah sapinya, bukan dagingnya.

"Agar usaha kita di bidang peternakan tidak rugi, maka yang harus dijual dagingnya, bukan sapinya," kata Umbu Datta, saat berbicara dalam seminar sehari menjelang pelantikan Rektor Terpilih Unwira, Pater Yulius Yasinto, SVD, M.A, M. Sc, di ruang B 301 Lantai III Kampus Lama Unwira Kupang, Jumat (25/9/2009).

Seminar yang diselenggarakan atas kerja sama Unwira dengan Harian Kompas dan Harian Pos Kupang ini mengusung tema: Pendidikan Tinggi NTT Menuju Milenium Baru seraya Memberdayakan Peternakan dan Berbagai Potensi Daerah.

Selain Umbu Datta, seminar ini juga menghadirkan tiga orang pembicara, yaitu Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, membahas Problem dan Prospek Peternakan NTT; Rektor terpilih Unwira Kupang, Pater Yulius Yasinto, SVD, M. A, M. Sc, membahas Peran PT dalam Menyiapkan SDM untuk Pengentasan Kemiskinan di NTT; pakar ekonomi dari Unwira, Dr. Thomas Ola Langoday, serta seorang peternak, Daniel Taimenas. Sesi pertama seminar ini dipandu moderator, Frans Sarong dari Harian Kompas.

Umbu Datta mengatakan, dari segi sejarah usaha peternakan di NTT pernah maju. Bahkan pemilik ternak di NTT pernah menjadi penyumbang kemajuan daerah ini. Karena itu, demikian Umbu Datta, ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan mendorong tumbuhnya investasi di bidang peternakan di saat populasi ternak di daerah ini telah menurun, maka investasi itu harus ditangkap.

"Investasi di bidang peternakan itu merupakan investasi yang cukup seksi. Investasi ini harus ditangkap sebagai peluang agar impor daging sapi tidak datang dari luar negeri, tapi dari NTT. Kalau di jalan kita bisa lirik gadis-gadis seksi, mengapa investasi yang seksi ini kita tidak lirik?" kata Umbu Datta yang disambut tawa peserta.

Umbu Datta mengatakan, yang harus didorong saat ini agar tiap bupati membentuk Perusahaan Daerah (PD) Ternak. Pemerintah daerah juga harus membentuk lembaga pengembangan, pusat pelatihan dan riset. Dan, yang paling penting ialah harus ada upaya sengaja untuk menciptakan pakan ternak, jangan hanya mengandalkan keuletan para petani dan peternak. "Kalau buat PD juga harus terarah. Harus ada unit pengelola dananya," katanya.

Masalah pakan ini juga dikemukakan peternak, Daniel Taimenas. Dikatakannya, jika ingin beternak, maka yang harus disiapkan dulu adalah pakannya. "Di Kupang ini petani hanya memelihara sapi, sedangkan pemiliknya adalah pegawai dan pengusaha. Pengusaha atau pemilik ternak ini tidak pernah memikirkan dan menyiapkan pakan. Akibatnya banyak peternak yang mengambil pakan orang lain," kata Taimenas.

Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, mengatakan, salah satu kebijakan Pemprop NTT dalam bidang ekonomi adalah mendorong usaha di bidang peternakan. Usaha itu dilakukan dengan upaya mengembalikan NTT sebagai gudang ternak.

"Kemarin saya di TTS. Saya omong-omong tentang ternak dengan bupatinya. Bupatinya bilang, dulu TTS gudang ternak, tapi sekarang jangankan ternaknya, gudangnya (kandang) saja sudah tidak ada," katanya.

Beberapa problem dalam pengembangan sapi potong di NTT, jelas Lebu Raya, antara lain dari aspek produksi, produsen ternak di NTT sebagian besar peternak kecil dengan kemampuan yang sangat terbatas. Juga sistem pemeliharaan yang masih non intensif dan semi intensif, serta masih tingginya pemotongan hewan produktif.

Selain itu, pelayanan kesehatan hewan belum optimal akibat sedikitnya jumlah dokter hewan di NTT. Sementara lahan belum dimanfaatkan seluruhnya akibat air yang tidak merata. "Usaha ternak sapi hanya sebagai sampingan/bukan utama, dan beternak sapi hanya berorientasi pada usaha ketahanan pangan," kata Lebu Raya.

Agropolitan
Pakar ekonomi Unwira Kupang, Dr. Thomas Ola Langoday, mengatakan, Pemprop NTT harus mengembangkan pusat agropolitan dalam melaksanakan program- programnya. Dengan agropolitan, program menjadikan NTT sebagai propinsi ternak, jagung, koperasi, dan propinsi lainnya bisa terwujud.

Thomas Ola menyatakan pesimis dengan program Pemprop NTT yang dinilainya terlalu banyak. Banyaknya program yang dicanangkan ini berakibat kegiatan yang dilaksanakan tidak fokus. Karena tidak fokus, tidak tertutup kemungkinan semua program itu akan gagal.

Tetapi, kata Thomas Ola, pesimisme itu bisa diatasi jika Pemprop NTT mengembangkan pusat pertumbuhan agropolitan. Artinya, Pemprop NTT harus menyiapkan lokasi percontohan. Di sana akan dikembangkan berbagai tanaman dan usaha peternakan.

"Konsep saya, harus ada pusat pertumbuhan agropolitan. Di area agropolitan itu dikembangkan tanaman jagung. Di lokasi itu juga dipelihara ternak sapi. Tanaman jagung kan semuanya bisa dimakan ternak sapi, mulai dari batang, daun dan buahnya. Dan karena tanaman itu bergizi tinggi, maka ternak sapi yang memakannya akan gemuk. Dengan agropolitan ini setidaknya sudah dua program yang bisa dicapai, yakni Propinsi Jagung dan Propinsi Ternak. Jadi tinggal bagaimana koperasinya dan lainnya," katanya.

Menurut Thomas Ola, area agropolitan itu juga bisa mensuplai semua kebutuhan untuk semua komponen. Tinggal saja gubernur bisa menyiapkan lokasinya. "Dan tugas kita semua tentunya bagaimana agar SDM yang rendah ini bisa didorong untuk bisa terlibat dalam agropolitan ini," katanya.

Sedangkan Rektor Terpilih Unwira Kupang, Pater Yulius Yasinto, SVD, M. A, M. Sc, yang membahas Peran PT dalam Menyiapkan SDM untuk Pengentasan Kemiskinan di NTT melihat kemiskinan di NTT sebagai kekurangan yang relatif dan mencakup multi aspek.

"Di situ tugas perguruan tinggi, memperhitungkan berbagai aspek. PT harus bisa menyiapkan tenaga siap pakai, kreatif dan transformatif," kata Pater Yulius. (kas/ati/aa)

Pos Kupang edisi Sabtu, 26 September 2009 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes