Warga Oelpuah Enggan Jadi Penonton

PLTS di Desa Oelpuah, Kupang Tengah
POS KUPANG.COM - Tidak boleh mendatangkan tenaga kerja dari luar daerah, kecuali keahliannya tidak dimiliki warga Desa Oelpuah. Demikian syarat yang harus dipenuhi oleh PT LEN Industri (Persero) saat membangun PLTS terbesar di Indoensia itu.  Dengan kata lain warga Oelpuah enggan menjadi penonton di kampungnya sendiri.

Sejak awal warga setempat tidak menghambat niat perusahaan yang  berinvestasi di desa itu. Mereka malah bersyukur karena PLTS akan memenuhi kebutuhan akan pasokan daya listrik.

"Sebenanarnya banyak orang di sini yang mau usaha mebeler tapi kendalanya listrik. Jadi kalau listrik di sini sudah stabil pasti ada banyak usaha yang dilakukan," kata warga Oelpuah, Pati Djamanero (32), saat di temui di lokasi PLTS Oelpuah, Selasa (5/1/2016).

Sejauh ini, lanjut Pati, warga setempat sudah merasakan manfaatnya terutama penyerapan tenaga kerja selama pembangunan PLTS. "Sejak awal dibangun kami sudah dilibatkan. Jadi, kalau dulu kita ojek sekarang sudah punya pekerjaan.   Pemerintah desa tidak mau perusahaan hanya mendatangkan tenaga kerja dari luar," jelasnya.

Kepala Desa Oelpuah, Deki Julius Tapen menyebutkan,  lebih dari Rp 1 miliar uang milik PT LEN yang berputar di desa itu. Ratusan  warga setempat telah direkrut sebagai tenaga kerja sejak awal  pembangunan PLTS. "Kecuali tenaga ahli yang tidak ada di desa ini,  baru datangkan dari luar," ujarnya. Syarat yang dia ajukan itu, kata Tapen,  selain demi meningkatkan ekonomi warga setempat juga menumbuhkan rasa memiliki terhadap PLTS.

Ketua RT 04, Dusun II, Desa Oelpuah,  Yonas Yulius Nombala (53)  mengatakan, sebagai warga Oelpuah dia merasa bangga dan mendapat kehormatan luar biasa dikunjungi Presiden Jokowi. "Kami tidak pernah berpikir akan ada PLTS terbesar di Indonesia yang dibangun di Oelpuah. Ini kebanggaan bagi kami karena prasastinya ditandatangani Presiden Jokowi," kata Yulius, Minggu (3/1/2016).

Sejak diresmikan Presiden Jokowi 27 Desember 2015, PLTS terbesar di Indonesia tersebut sontak berubah menjadi tempat wisata. Hampir setiap hari, puluhan orang berkunjung ke lokasi tersebut

"Biasanya sore-sore  banyak pengunjung. Ada yang datang sekadar untuk menikmati suasana dan foto-foto, tapi ada juga yang tanya-tanya dan kami beri penjelasan tentang PLTS," demikian Penanggungjawab Operator PLTS Desa Oelpuah, Manto Manggo, Minggu (3/1/2016).

Dari total lima mega watt  yang dihasilkan PLTS Oelpuah, tambahnya, saat ini baru sekitar dua mega watt  yang disuplai ke PLN. Hal ini disebabkan masih dalam masa percobaan dan sedang musim hujan. "Mungkin kalau sudah musim panas baru optimal, saat ini baru dua mega watt yang disuplai ke PLN," demikian Manto. (jet)

Hanya Suplai Siang Hari

SECARA operasional, teknologi PLTS Oelpuah menggunakan sistem kerja on grid. Artinya, sinar matahari yang diserap langsung diubah menjadi daya listrik lalu disalurkan ke jaringan listrik PLN dengan sistem inter-koneksi. Karena itu PLTS Oelpuah hanya suplai daya listrik kepada PT. PLN pada siang hari.

Demikian General Manager PLN Wilayah NTT, Richard Safkaur ketika ditemui di ruang kerjanya, Selasa (5/1/2016). Menurut Safkaur, karena menggunakan sistem kerja on grid maka produksi daya listrik PLTS Oelpuah sangat tergantung pada pencahayaan sinar matahari.

Karena tergantung pada pencahayaan sinar matahari, menurut Safkaur, besarnya daya listrik yang dihasilkan dan disuplai ke PLN tidak maksimal ketika terjadi mendung atau saat musim hujan tiba. Tingkat produksi daya listrik PLTS Oelpuah yang disuplai ke PLN bisa turun naik.

"Sejak mulai beroperasi tanggal 8 Desember 2015, suplai daya listrik dari PLTS Oelpuah sempat naik sampai 4 mega watt (MW) tetapi pernah turun sampai 300 kilo watt (KW) saja. Karena saat ini kita lagi musim hujan. Kalau  musim kemarau suplai daya listrik ke PLN bisa mencapai maksimal. Sesuai desain output daya listrik maksimal dari PLTS Oelpuah memang mencapai 5 MW tetapi dalam kenyataannya bisa saja di bawah 5 MW," kata Safkaur.

"Dari sisi keterjangkauan pelayanan, daya listrik yang dihasilkan PLTS Oelpuah sudah interkoneksi dengan sistem jaringan listrik PLN. Jangkauannya tergantung sampai di mana jaringan listrik PLN yang terkoneksi tersebut memberi pelayanan pada pelanggan. Karena arus listrik sudah terkoneksi dengan daya listrik yang disuplai pembangkit listrik PLN yang lain seperti PLTD dan PLTU," jelas Safkaur.

Safkaur menjelaskan, sesungguhnya berapapun suplai daya listrik dari PLTS Oelpuah tidak berpengaruh pada pelayanan listrik bagi warga di sekitar lokasi PLTS tersebut. Meskipun pada malam hari PLTS Oelpuah tidak mensuplai daya listrik ke PLN tetapi listrik di Oelpuah tetap menyala.

"Cuma kalau pakai suplai daya listrik dari PLTS Oelpuah, kita mesti hati-hati. Karena bisa saja tiba-tiba listriknya padam kalau pencahayaan matahari di PLTS Oelpuah berkurang atau ada mendung dan hujan," tuturnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, kata Safkaur, PLN memiliki alat pengendalian sistem di Kuanino, Kota Kupang. Pada alat tersebut dicatat atau direkam besarnya suplai daya listrik dari masing-masing pembangkit listrik PLN termasuk dari PLTS Oelpuah. Agar besarnya ketersediaan daya listrik yang dialirkan ke rumah pelanggan tidak naik turun, PLN mengatur besarnya suplai daya ke jaringan.

"Menyangkut permintaan warga Oelpuah agar mendapat perhatian karena pembangunan PLTS di wilayah mereka, hal itu wajar saja. Tapi kalau menyangkut CSR, karena PLTS Oelpuah dikelola PT LEN Industri maka tentu akan menjadi perhatian PT. LEN. Untuk masyarakat Oelpuah juga sudah ada jaringan listrik PLN di sana," kata Safkaur.

Safkaur menambahkan, program pemerintah membangun PLTS 35 ribu mega watt di seluruh Indonesia. Proses tender proyek PLTS oleh Kementrian ESDM melalui Dirjen Ketenagalistrikan.  Khusus di NTT, kata Safkaur, ada sembilan lokasi PLTS  (sollar cell) dengan kekuatan suplai daya listrik rata-rata 1,5 MW.

Dari sembilan lokasi tersebut, empat lokasi sudah proses tender dan dua di antaranya sudah tanda tangan power purchase agreement (PPA) atau perjanjian jual beli daya listrik termasuk di PLTS Oelpuah.  Empat lokasi PLTS tersebut  yakni Oelpuah, Sumba, Maumere dan Atambua.  (mar)

Adi Lagur: Energi Matahari di NTT Tertingi di Indonesia

POS KUPANG.COM - Terkait kehadiran PLTS di Desa Oelpuah, berikut ini pandangan Adi Lagur, konsultan energi terbarukan. NTT memiliki potensi energi matahari itu luar biasa, termasuk yang tertinggi di Indonesia. Intensitas cahaya matahari yang bisa menghasilkan energi kurang lebih enam jam. Matahari itu bersinar delapan jam, tapi kan pada pagi hari satu sampai dua jam belum full. Jadi kalau dirata-ratakan, lima sampai enam jam itu  intensitas cahaya  matahari cukup baik.

PLTS Oelpuah dibangun oleh investor yang bersifat IPP (Independent Power Producer). Jadi,  swasta yang bangun pembangkitnya terus PLN membeli energinya lalu menjual kepada masyarakat. Itu memang ada regulasinya. Kapasitas lima mega watt itu rata-rata karena sangat bergantung pada  matahari. Pada jam tujuh pagi, PLTS hanya mampu memproduksi sekian mega.

Mengingat investasi itu harus dijual kepada PLN,  pemanfaatannya bukan hanya di lokasi sekitar PLTS. Kalau pembangkit di Kupang atau Timor Barat itu sudah interkoneksi dari Kupang sampai SoE, Timor Tengah Selatan (TTS). Artinya, manfaatnya bukan hanya dirasakan orang di Kupang tetapi bisa didistribusikan arusnya ke sana. Suplai dayanya  bisa mengisi gap pada siang, namun untuk malam, saya tidak tahu apakah mereka di sana (Oelpuah) pakai baterai atau tidak. Mungkin tidak. Jadi pada malam hari suplai daya listrik tetap dari pembangkit yang lain.

Pembangkit lisrik energi matahari tidak bisa independen. Kalau independen dia harus ditampung  ke aki sehingga bisa diatur suplainya siang dan malam.  Kalau terintegrasi ke jaringhan PLN maka harus ada pembangkit lain yang selalu beroperasi.  Jadi dia (PLTS) hanya menambah  daya yang dibutuhkan. Contoh di Kota Kupang, tetap mengoperasikan PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel).

Keuntungan PLTS, salah satunya itu ramah lingkungan. Penyedia jasa dalam hal ini PT PLN (Persero) dapat membangun semua pembangkit bersumber dari energi terbarukan. Kita di NTT punya potensi angin, matahari, air, biogas bahkan arus laut.
Untuk kebutuhan penerangan saya gunakan energi terbarukan. Kalau listrik PLN padam,  saya adalah orang yang tidak akan ribut karena saya punya power independen.

Saya pasang panel surya di atas rumah dan saya punya lampu-lampu LED dan DC yang saya charge dari panel surya. Saya punya konverter untuk mengubah arus, jadi siang charge ke aki malam ubah ke AC. Jadi kebutuhan lampu, laptop serta sound sistem sudah bisa terpenuhi kecuali kulkas dengan AC karena sekarang baru 300 watt panel surya dengan aki yang masih kecil.


Kalau soal perawatan itu sederhana dan yang jelas itu teknologi yang paling utama di sana adalah lempengan atau yang disebut modul. Jadi secara teori lempengan itu harus selalu bersih  baru bisa memproduksi dan konversikan energi matahari ke listrik apabila full intensitas cahaya. Kalau mendukung dan hujan otomatis berkurang. Apa yang terjadi kalau misalnya matahari terik tapi debu menutupi permukaannya?

Sebenarnya sama seperti hujan atau mendung sehingga tidak bisa memproduksi energi. Kalau ada debu ya dilap kacanya pakai kain  halus. Intinya permukaan panel harus selalu bersih. (jet)


Sumber: Pos Kupang 7 Januari 2016 halaman 1

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes