Uskup Agung Kupang Ajak Umat Menanam Cabai

Uskup Petrus Turang dalam suatu acara di Kupang
BELUM banyak warga Kupang yang familiar dengan nama Paroki St. Simon Petrus, Tarus, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang. Bisa dimengerti mengingat Tarus merupakan paroki baru di wilayah Keuskupan Agung Kupang. Sebelumnya Tarus merupakan stasi dari paroki St. Yoseph Pekerja Penfui.

Letak gerejanya di lereng bukit yang dulu penuh batu karang. Sejak tahun 2012, pengurus bersama pastor paroki berinovasi mengubah alam batu karang yang gersang menjadi kawasan yang hijau. Bagi umat paroki, tidak boleh sejengkal tanahpun dibiarkan kosong. Di sana harus ada kehidupan.

Tidak heran kalau saat ini kawasan gereja ditumbuhi tanaman berbagai jenis dan dijadikan sebagai taman inovasi kreatif oleh Pastor Paroki, Rd. Philipus Pilich. Hari Minggu (12/2/2017) menjadi spesial buat umat di Paroki St. Simon Petrus Tarus.  Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr memimpin perayaan ekaristi berkenaan dengan pelantikan pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP) St. Simon Petrus Tarus.

Seusai perayaan  ekaristi pengurus DPP St. Simon Petrus periode 2017-2019  mendaulat Uskup Petrus Turang, menanam secara simbolis anakan cabai pada polibag di halaman depan gereja.  Didampingi Ketua DPP, Andres Ita, dan Pastor Paroki, RD Philipus Pilich, Uskup Turang menuju polibag yang sudah tertera namanya untuk menanam cabai. "Saya sudah menanam, silakan pengurus DPP, umat dan anak-anak ikut tanam," pesan Uskup Turang.

Pastor Paroki St. Simon Petrus Tarus, RD Philipus Pilich menuturkan,  umat dan pengurus paroki tentu bersyukur karena mendapat bantuan anakan cabai dari pemerintah untuk tahap awal ini sebanyak 250 anakan yang sudah diisi dalam polibag. Penanaman cabai oleh Uskup Agung Kupang memotivasi umat mengembangkan anakan cabai yang harganya melambung tinggi saat ini. Setiap umat di paroki ini dianjurkan menanam cabai di halaman rumah masing-masing.

Gerakan menanam, lanjut Philipus, sesungguhnya sudah dilakukan umat sejak tahun 2012. "Cabai baru saat ini kami dapat anakan. Tetapi sejak tahun 2012 kami sudah melakukan gerakan menanam di kawasan gereja. Ada banyak jenis anakan tanaman yang kami semaikan di sini. Kami menamakan kawasan gereja sebagai taman inovasi kreatif dengan memaksimalkan sejengkal tanah yang ada," ujarnya. "Umat bertekad bahwa di atas batu karang harus ada kehidupan. Tidak boleh ada sejengkal tanahpun terlewatkan harus ditanami anakan cabai," tambahnya.

Rohaniwan asal Kabupaten Sikka ini mejelaskan, apa yang dilakukan umat untuk motivasi masyarakat umum lainnya agar  belajar di Tarus. "Kawasan paroki ini berbatasan dengan alur sungai. Selama ini banjir selalu meluap masuk area paroki. Tetapi setelah kita melakukan gerakan penanaman anakan dan ketika sudah besar, justru memberikan manfaat bagi kita. Banjir tidak masuk lagi ke area paroki. Itu sebabnya gereja ini mengembangkan anakan sekaligus mendukung program Pemerintah Kabupaten Kupang soal 'Taman Eden'," jelas Philipus.

Tanaman cabai yang disiapkan 250 anakan ini, lanjut Philipus, selain ditanam di paroki juga dibagikan kepada umat. Anakan cabai diberikan oleh Pemerintah Provinsi NTT. Ketua DPP St. Simon Petrus, Andreas Ita menambahkan, sebanyak  1.000 anakan cabai sudah diberikan kepada umat dan warga sekitar di paroki tersebut. (fredi hayong)

Sumber: Pos Kupang 13 Februari 2017 hal 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes