Demokratisasi a la Valens Goa Doy

Valens G Doy
Oleh: Steve H Prabowo

Pengantar:

Victorawan "Itong" Sophiaan tiba-tiba menelepon saya. "Gua bosen tiap tahun Oom dikenang gitu-gitu aja. Oom kaya ginilah, Oom kaya gitulah. Kaga ada yang betul-betul gambarin Oom secara utuh, kecuali dia pekerja keras, dedikasi tinggi pada profesi, dan sebagainya dan sebagainya. Padahal, dia punya pemikiran, ide, visi, tentang Indonesia," kata Itong.

Betul juga. Valens Doy, yang dipanggil "Oom" itu lalu sekadar figur nostalgik. Sama seperti lagu-lagu oldies yang ditayangkan dalam Tembang Kenangan. Haul Valens Doy, setiap 3 Mei, cuma jadi ajang orang-orang tua berkumpul dan berbagi kenangan. Lalu bercerita tentang Si Oom pada adik-adiknya yang -kata Itong -tak bakal dapat apa-apa dari cerita nostalgia itu.

Ide Itong untuk bikin buku tentang Oom Valens Goa Doy patut dipikirkan. Buku tentang visi Si Oom tentang Indonesia yang -lagi-lagi mengutip ucapan Itong -sedang sekarat. Nah, dalam rangka itu saya coba berbagi pengalaman, yang mudah-mudahan bisa menggambarkan sebagian sangat kecil dari begitu luas visi Si Oom tentang tugas media bagi hidup berkebangsaan.


***

"Mana komentar dari DPR?" tanya Valens Goa Doy lewat telepon, di suatu waktu tahun 1990.

"Belum ada, Oom," jawab saya.

"Ah, kalian ini. Semua versi pemerintah," keluhnya.

Komentar dari DPR, sejelek apapun kualitas omongan mereka, bagi Valens Doy penting. DPR, bagaimana pun adalah representasi rakyat (meski semu). Di tahun-tahun awal 1990-an, ketika Pak Harto sedang kuat-kuatnya, menurut pandangan dia, suara DPR sangat penting sebagai ejawantah dari demokrasi.

Oleh karena itu, ia minta selalu ada tanggapan anggota Dewan untuk setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Meski pada kenyataannya, saat itu banyak yang membebek pernyataan pemerintah.

Tentu, jangan dibandingkan dengan saat ini. DPR kini sudah jauh lebih kuat. Bahkan sangat kuat, dan cenderung arogan. Saat itu, DPR begitu inferior berhadapan dengan Pak Harto di puncak kekuasaannya.

Demokrasi memang jadi concern Valens Doy. Terutama saat itu, ketika posisi Pusat begitu kuat. Itu juga mungkin alasan dia menjadikan Harian Surya sebagai corong bagi Indonesia Timur. Surabaya, yang nota bene berada di Pulau Jawa, cocok untuk basis suara daerah Indonesia Timur. Kota terbesar kedua di Indonesia, dan tidak terlalu jauh dari Jakarta, sehingga diharapkan suara wilayah timur Indonesia bisa lebih lantang daripada kalau diteriakkan dari daerah.

Alasan itu pula yang membuat koran-koran yang digagas Valens Doy waktu itu selalu memberikan rubrik khusus bagi man on the street untuk bicara. Rubrik itu ada di Halaman Opini Surya, dengan nama Mimbar Demokrasi. Juga ada di Sriwijaya Pos, lupa nama rubriknya. Di Pos Kupang, awal-awal saya ada di sana juga sempat ada space khusus untuk man on the street itu.

Meski kecil, rubrik yang mewawancari rakyat jelata -bisa tukang becak, pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga -lengkap dengan foto wajah mereka, sangat diperhatikan. Saya yang ketika di Surabaya menjadi anak buah Bang Manuel Kaisiepo -mantan Menteri Negara Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia -di Desk Opini Surya, bertanggung jawab atas Mimbar Demokrasi ini. Tidak ada alasan, wajah 5 orang rakyat itu harus terpampang setiap hari.

Seringkali, teman-teman reporter yang dimintai bantuan (bergiliran tiap-tiap desk setiap hari) lalai membawa naskah dan foto untuk Mimbar Demokrasi. Saya bisa paham, memaklumi bahwa "berita" itu sepele, remeh temeh. Kalau sudah begitu, biasanya sudah di atas pukul 17.00 sementara deadline pukul 17.00 juga, saya kalang kabut. Mewawancarai sendiri siapa pun di sekitar kantor.

Si Oom sempat mengeluhkan, atau tepatnya memarahi saya, karena kualitas Mimbar Demokrasi makin buruk. Cenderung seadanya. Asal ada. "Kalau bukan kita, siapa lagi yang mau menulis pendapat mereka?" katanya. Saya, seperti biasa hanya bisa menjawab: "Ya, Oom ..." sambil menunduk. Tak berani melihat matanya.

Rubrik Mimbar Demokrasi memang sepele, bukan berita hot. Tapi buat dia, tak ada rubrik yang sepele. Semua harus digarap serius. Itu pendapat saya waktu itu. Tapi belakangan, lama setelah ia meninggal, saya baru paham: Suara rakyat yang riil itu adalah ucapan yang keluar dari mulut mereka sendiri. Bukan oleh wakil mereka di Dewan. Itu alasan mengapa ia minta Mimbar Demokrasi digarap betul-betul.

Apa yang dilakukan Valens Doy waktu itu, mungkin bisa disamakan dengan apa yang disebut sebagai media "interaktif". Jauh sebelum ada telepon seluler dan internet seperti sekarang, Si Oom sudah berpikir bagaimana interaksi aktif pembaca melalui koran. Sekarang sudah banyak koran yang memberikan space untuk interaksi ini, antara lain melalui SMS. Si Oom sudah melakukannya, dengan cara sederhana: Mewawancarai dan memajang foto mereka.

Salah kalau saya waktu itu berpikir, rubrik ini sekadar supaya orang-orang biasa ini bangga fotonya masuk koran, kemudian membeli koran. Pemikiran praktis dari sudut pandang pemasaran sederhana. Valens Doy berpikir lebih sekadar pemasaran -yang memang mungkin tak efektif, karena rakyat biasa itu belum tentu menjadikan koran sebagai kebutuhan. Ada visi yang lebih tinggi: Rakyat biasa harus punya suara.


***



Baru-baru ini, teringat hari meninggalnya Valens Doy sudah dekat, saya coba baca lagi tulisan Mas Uki M Kurdi tentang dia. Mas Uki, mantan Desk Sunting Olahraga dengan redakturnya Bang Yesayas Oktavianus, bercerita tentang bagaimana Si Oom minta dicarikan seorang mantan pemain bola lokal yang punya nama dan integritas untuk menulis kolom sepak bola. Akhirnya, lewat diskusi dengan reporter olahraga (diskusi redaktur, penyunting, dan reporter seperti itu kini sudah jarang ditemui di surat kabar), ketemulah nama Rusdy Bahalwan.

Hal serupa juga terjadi di Desk Opini yang diasuh Bang Man (panggilan Manuel Kaisiepo). Ia selalu berpesan, dan pesan itu selalu diulang-ulang Bang Man, untuk memberi ruang bagi cendekia lokal. "Kita harus memunculkan orang daerah," katanya seringkali.

Ketika sebagai reporter politik pun, Si Oom menghendaki ada wawancara dengan cendekia Unair. Terutama yang muda-muda. Saya lihat hal itu juga dilakukan di Desk Ekonomi Bisnis. Orang daerah tidak boleh ketinggalan.

Saya pikir itu adalah salah satu upaya demokratisasi a la Valens Doy. Media menjadi saluran suara daerah, dan kalau bisa menjadi alat memunculkan tokoh-tokoh dari daerah.

***
Suatu malam, di Gedung Teja Buana, markas Majalah Prospektif, kami -saya, Yusran Hakim, Sri Unggul Azul, dan beberapa teman lain -berbicara dengan Si Oom di meja Yusran. Dia berucap soal pemihakan terhadap pengusaha. Untuk diketahui, Majalah Prospektif adalah majalah ekonomi.

"Pemerintah punya power untuk memaksakan kebijakan. Pengusaha tidak. Lewat media seperti kitalah mereka (pengusaha) bisa menyuarakan pendapat," katanya kurang lebih.

Serius sekali dia bicara begitu. Mungkin agak naif, karena pengusaha sebenarnya punya lobi sangat kuat terhadap pemerintah. Mereka bisa mempengaruhi, bahkan membeli, kebijakan pemerintah. Tapi saya coba berpikir positif. Ucapan itu lebih bersemangatkan keberpihakan terhadap yang tak punya power.

Pengusaha, khususnya dari etnis Tionghoa, saat itu memang bisa dipandang sebagai kelompok minoritas. Meski para konglomerat itu punya lobi kuat, terutama kroni-kroni Pak Harto, secara umum mereka lemah. Sering menjadi sapi perah penguasa. Mungkin istilah "sapi perah" tidak begitu tepat, karena bagaimana pun hubungan antara keduanya merupakan hubungan simbiosis mutualisme, saling menguntungkan. Tapi di lain pihak, mereka juga sering dimanfaatkan penguasa, termasuk dijadikan kambing hitam atau pun pengalih isu. Dan, harus diakui mereka juga korban stigmatisasi negatif yang dipertahankan penguasa.



***



Rasanya, jika diingat-ingat, masih banyak cerita tentang Si Oom dari sisi lain itu. Termasuk bagaimana dia berkeinginan kuat membantu Bung Salvador mendirikan koran di Dili, Timor Leste. Saya yang ikut membidani Suara Timor Timur, banyak mendapat pelajaran dari Si Oom tentang hak-hak warga Timor yang tertindas saat itu.

Juga mengapa ia begitu bernafsu mendirikan Pos Kupang, belakangan Flores Pos di Ende. Terlalu panjang jika saya bercerita kali ini. Apalagi sekarang waktunya deadline koran saya. Dan, mungkin yang lebih tepat bercerita adalah Oom Damyan Godho, Pater Henri Daros SVD, dan juga mungkin Bung Salvador.

Saat ini saya hanya ingin mengenang dia, guru dan pembimbing saya: Si Oom bagi anak-anaknya.

 Palangka Raya, 2 Mei 2012


Sumber: Akun FB Steve H Prabowo
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes