Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Mereka tak Kekurangan Kasih Sayang

Penghuni Panti Tuna Grahita St Anna Tomohon
TATATAN mata Lusi Faot (16) tampak kosong ketika duduk di ayunan taman bermain Panti Grahita Santa Anna, Kota Tomohon, akhir pekan lalu.

Jumat (20/7/2012) sore itu, meski duduk di ayunan tak ada niat Lusi memainkannya. Dia termenung sambil sesekali tersenyum.

Lusi merupakan satu di antara 50 klien di Panti Grahita Santa Anna. Tak seperti anak normal umumnya, Lusi dan anak-anak di Santa Anna mengalami kondisi keterbelakangan mental atau retardasi mental dengan tingkat berbeda. Lusi merupakan salah seorang yang retardasi mentalnya paling memprihatinkan.

Sore itu merupakan waktu bermain. Anak lelaki bermain bola di halaman depan, anak perempuan memilih bergoyang mengikuti irama musik caka-caka. Hanya Lusi di ayunan. Tiba-tiba Lusi berdiri dan menghambur ke dalam pelukan  Suster Felicite Lakada, Kepala Panti Grahita Santa Anna Tomohon yang baru tiba. Suster Lakada pun tersenyum menyambut Lusi yang terlihat manja dalam pelukannya.

Suster Lakada mengungkapkan, beginilah anak-anak Santa Anna menghabiskan keseharian mereka. Semua aktivitas sudah dijadwalkan dengan pengawasan penuh para pengasuh. Masa depan yang didambakan anak-anak normal serasa jauh dari jangkauan Lusi dkk. Membuat mereka bahagia merupakan cita-cita Suster Lakada dan 12 pegawai Santa Anna.


Suster Lakada tak pernah lupa 23 Juli merupakan hari spesial baginya karena  di hari itu ia bisa merayakan hari anak bersama penghuni Santa Anna. "Hari anak belum menggema seperti hari Ibu dan hari lainnya. Anak-anak khususnya di Santa Anna tak bisa dipungkiri kurang mendapat perhatian orangtua," ujar Lakada.

Suster Lakada mencontohkan, Lusi misalnya, gadis itu seorang piatu, sejak kecil diasuh di Santa Anna. Ayah Lusi menikah lagi, sementara ibu tiri tak menghendaki Lusi tinggal di rumah. Santa Anna pun jadi tempat labuhan hidup Lusi.

Kata Suster Lakada, Lusi beda dengan anak lainnya, hampir tiap hari dia menangis tanpa sebab jelas "Tiap malam menangis, dia (Lusi) bicaranya tidak jelas, ditanya pun  diam saja, kadang dia menangis sampai lelah dan tertidur," tuturnya. Meski begitu, Suster Lakada ingin di Santa Anna, anak-anak tersebut tak  kekurangan kasih sayang.

Memperingati Hari Anak Nasional, Santa Anna mengadakan kegiatan bersama. Di tempat Lakada berdiri bersama Lusi pun didatangi dua klien Santa Anna lainnya.

Seorang bernama Margaretha Sumampow (16). Gadis itu pun senasib dengan Lusi.
Ia dibawa neneknya ke Santa Anna 11 tahun silam, namun beberapa tahun belakangan kabar keberadaan keluarga Margereta  tak lagi jelas "Dia (Margaretha) di sini sejak usia 5 tahun. Awalnya keluarga sesekali datang. Di usia 9 tahun sudah tidak lagi. Sekarang malah keluarganya tidak tahu di mana," ujar Lakada.

Margaretha pun terlihat akrab dengan Suster Lakada. Meski tak jelas perkataan gadis itu, Suster Lakada coba mencerna maksudnya "Oh dia bilang mama mati. Ia, ibunya memang sudah meninggal," ujar Lakada. Meski aktif, Margaretha hampir tak punya harapan untuk keluar dari keterbelakangan mental. Kata Lakada, sebenarnya gadis itu punya rambut panjang terurai, namun digunting sendiri sampai habis "Aduh ini malah sudah bertumbuh, lalu habis digunting," tuturnya.

Ia mengungkapkan, emosi anak keterbelakangan mental cenderung tidak stabil, ada kalanya masalah sepele bisa memicu sikap agresif "Tak jarang barang-barang, pintu, jendela dirusak. Kadang saling senggol saja langsung ribut," katanya.

Gambaran-gambaran sifat agresif, pendiam dan kurang bersosialisasi tak semuanya dimiliki anak- anak Santa Anna. Monica Lepong (9) misalnya, gadis cilik asal Banggai Luwuk ini sekilas terlihat normal namun Monica termasuk kriteria educable atau mampu didik. Dalam kemampuan akademik Monica setara dengan anak kelas 5 SD. Meski tak lancar, ia bisa membaca, menulis. Ia pun tampak lincah dan riang ketika menghampiri Suster Lakada.

Monica punya cita-cita ingin j seperti Suster Lakada "Kalau besar mau jadi suster," ujar Monica tersenyum sembari berlalu. Setidaknya meski jauh dari kenyataan, ada keinginan anak-anak Santa Anna menjadi sesuatu yang dicita-citakannya, bahkan kata Suster Lakada, ada yang ingin menjadi dokter, tentara, polisi, pastor bahkan pilot.  "Kalau bicara soal cita-cita mereka punya, semangat sekali mereka membicarakan soal cita- cita," demikian Lakada.

Sejak pukul 05.00

Keseharian anak-anak Santa Anna dimulai sejak bangun pukul 05.00 pagi. Mereka memulai hari dengan ibadah dan sarapan. Kemudian, mandi dan berangkat ke sekolah khusus di samping asrama. Menurut Asteria Sri Tandiala, Sekretaris Santa Anna, anak-anak tuna grahita  mengenyam pendidikan.  "Kelasnya kita pisah yang mampu didik dan mampu latih. Yang sulit itu anak mampu latih," kata Asteria.

Usai sekolah, klien Santa Anna makan  dan tidur siang. Sekitar jam 4 sore, waktunya bermain, menunggu jadwal makan malam dan tidur.

Suka duka pun dirasakan pengasuh di Santa Anna. Menurut Feronica Rotikan, pengasuh Santa Anna. Ada rasa bahagia dalam keseharian Feronica bisa mengasuh klien Santa Anna, meski kadang emosinya muncul akibat ulah mereka "Seringkali susah diatur. Banyak kali mereka berontak, makanya hampir tiap bulan pintu, jendela, barang-barang rusak," ujarnya tersenyum

Anak-anak tersebut kata Feronica pun butuh kasih sayang "Mereka itu kadang maunya dimanja, datang minta dipeluk," katanya. Tiap hari tiba waktunya bekerja, kata ibu dua anak ini, selalu muncul kerinduan ingin cepat bertemu penghuni Santa Anna "Kerja di sini merupakan pelayanan kami kepada Tuhan. Saya sayang mereka sama seperti anak sendiri," tuturnya. (riyo noor)

Nasib Anak Sulut

Balita Terlantar:     6.116 orang
Anak Terlantar:  222.608 orang
Anak Nakal     :    46.302 orang   
Anak Jalanan  :       1.696  orang
Anak Butuh Perlindungan Khusus: 98 orang
Sumber: BP3A Provinsi Sulut 2011


Sumber: Tribun Manado 23 Juli 2012

Bos atau Pemimpin?

Seorang BOS menciptakan rasa takut dalam diri anak buahnya sedangkan seorang Leader alias PEMIMPIN membangun kepercayaan. Seorang BOS mengatakan "saya". Seorang PEMIMPIN mengatakan "kita"

Seorang BOS tahu bagaimana pekerjaan harus dilakukan.Seorang PEMIMPIN tahu bagaimana suatu karier harus ditempa. Seorang BOS mengandalkan kekuasaan.Seorang PEMIMPIN mengandalkan kerjasama.

Seorang BOS menyetir dan Seorang PEMIMPIN memimpin. Seorang BOS menyalahkan. Seorang PEMIMPIN menyelesaikan masalah dan memperbaiki kesalahan. Seorang BOS menguasai 10 persen tenaga kerja bermasalah.Seorang PEMIMPIN menguasai 90 persen tenaga kerja yang kooperatif.

Seorang BOS menyebabkan dendam bertumbuh.Seorang PEMIMPIN memupuk antusiasme yang bertumbuh. Seorang BOS menyebabkan pekerjaan menjemukan. Seorang PEMIMPIN menyebabkan pekerjaan menyenangkan atau menarik.

Seorang BOS melihat masalah sebagai musibah yang akan menghancurkan perusahaan.Seorang PEMIMPIN melihat masalah sebagai kesempatan yang dapat diatasi staff yang bersatu padu, dan berubah menjadi pertumbuhan. INGAT. SEORANG BOS BERKATA, "PERGI! "SEORANG PEMIMPIN BERKATA, "AYO PERGI". BOS kebanyakan Otoriter sedangkan pemimpin Demokratis. (dari berbagai sumber)

Mari kita mengaca diri, masuk daftar BOS atau PEMIMPIN??

Ditilang Polisi

DARI kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Jono segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat.

Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat, sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan jalan di depannya agak lengang.Lampu berganti kuning. Hati Jono berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. 

Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala. Jono bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja. "Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak," pikirnya sambil terus melaju.

Prit!!!

Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Jono menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing.

Hey, itu khan Bobi, teman mainnya semasa SMA dulu.
Hati Jono agak lega.
Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya.
"Hai, Bob. Senang sekali ketemu kamu lagi!"
"Hai, Jon." Tanpa senyum.
"Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru.

Istri saya sedang menunggu di rumah."
"Oh ya?"
Tampaknya Bobi agak ragu. Nah, bagus kalau begitu.

"Bob, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong."

"Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini."

Oooo, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Jono harus ganti strategi.
"Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah.. Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala."

Aha, terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan. "Ayo dong Jon. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIM-mu."

Dengan ketus Jono menyerahkan SIM, lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup kaca jendelanya. Sementara Bobi menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa saat kemudian Bobi mengetuk kaca jendela. Jono memandangi wajah Bobi dengan penuh kecewa.Dibukanya kaca jendela itu sedikit.

Ah, lima centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Bobi kembali ke posnya. Jono mengambil surat tilang yang diselipkan Bobi di sela-sela kaca jendela. Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa ia tidak menilangku.

Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru Jono membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Bobi.

"Halo Jono, Tahukah kamu Jon, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas, ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk. 

Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu juga kali ini. Maafkan aku Jon. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah. (Salam, Bobi)".

Jono terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Bobi. Namun, Bobi sudah meninggalkan pos jaganya entah ke mana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak menentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan... ....

Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa jadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga, jalanilah dengan penuh hati-hati. Drive Safely Guys..

(Special Thanks buat M.A Maliki, mentorku yang mengirim renungan ini)

Sebuah Kisah Teladan

DIKISAHKAN seorang Raja memiliki tujuh Putri, ketujuh Putri yang cantik ini adalah kebanggaan Raja, kesayangan beliau. Semua orang tahu perihal rambut panjang mereka yang hitam berkilauan itu. Dan dikenal hingga seluruh pelosok negeri. Karena itu, Raja menghadiahkan kepada mereka masing-masing seratus jepit rambut yang indah. Karena mereka sangat memperhatikan penampilannya, terutama pada rambut mereka.

Suatu pagi, Putri sulung sang Raja bangun dari tidurnya, dan seperti biasa ia menata rambutnya dengan jepitan rambut. Namun ia mendapati jepitan rambutnya kurang satu, lalu secara diam-diam ia ke kamar Putri kedua Raja, dan mengambil satu jepitan rambut. 

Begitu halnya dengan Putri kedua ketika mendapati jepitan rambutnya kurang satu, lalu ia ke kamar Putri ketiga untuk mengambil jepit rambutnya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Putri ketiga, saat ia mendapati jepitan rambutnya kurang satu, lalu dengan diam-diam ia ke kamar Putri keempat.

Putri keempat juga melakukan hal yang sama dengan putri-putri sebelumnya mengambil jepitan rambut saudarinya, Putri kelima. Demikian juga dengan Putri kelima, ia mengambil jepitan rambut Putri keenam dan Putri keenam terpaksa juga mengambil jepitan rambut Putri ketujuh. Akibatnya, jepitan rambut Putri ketujuh hanya tersisa 99 buah. Dan dia tak bisa melakukan hal seperti kakaknya.

Keesokannya, pangeran dari negeri tetangga yang tampan dan gagah tiba-tiba berkunjung ke istana, dan katanya kepada sang Raja: "Kemarin, burung Murai (sejenis burung penyanyi) piaraan saya menggondol sebuah jepitan rambut, saya pikir ini pasti kepunyaan para putri, dan ini sepertinya suatu takdir (pertemuan) yang unik, tidak tahu putri mana yang kehilangan jepitan rambut ini?"

Para putri Raja telah mendengar hal ini, dan dalam benak mereka masing-masing hendak berkata : "Punya saya, punya saya." Hanya Putri ketujuh yang ke luar sambil berkata: "Jepitan rambut saya hilang satu." Baru saja selesai berkata, rambut panjangnya yang indah jatuh tergerai karena kurang sebuah jepitan rambut. Dan sang Pangeran tak bisa tidak menjadi terkesima melihatnya.

Akhir dari cerita, sudah pasti sang Pangeran dan Putri Raja tersebut hidup bahagia selamanya sejak itu.

Mengapa begitu ada kekurangan, lalu berusaha keras untuk melengkapinya? Seratus buah jepitan rambut, bak seperti sebuah kehidupan yang utuh sempurna. Namun dengan berkurangnya satu jepitan rambut, keutuhan ini terasa menjadi tidak lengkap. Namun, justru karena kekurangan itu, kelak akan ada perubahan (baik), kemungkinan yang tak terhingga, bukankah ini sebuah peristiwa yang patut disyukuri!

Lantas bagaimana menghadapi kekurangan dalam perjalanan hidup yang tak terhindarkan?

Menghindar belum tentu dapat mengelakkan. Menghadapi belum tentu menyedihkan, Seorang diri (kesepian) belum tentu tidak bahagia. Mendapatkan belum tentu bisa kekal abadi. Kehilangan belum tentu tidak akan memiliki lagi.

Jangan terburu-buru berkata tiada pilihan lain jangan mengira di dunia ini hanya ada benar dan salah. Jawaban sejumlah besar peristiwa bukan hanya ada satu. Jadi, selamanya ada jalan keluar bagi kita. Anda bisa mendapatkan alasan untuk sedih, tapi Anda juga bisa mendapatkan alasan untuk gembira. 

Orang yang tahu akan ketidakkhawatiran mendapatkan kelegaan.
Orang yang tahu melupakan mendapatkan kebebasan.
Orang yang tahu mencurahkan perhatian mendapatkan teman.
Pertumbuhan seseorang diiringi dengan beberapa kehilangan.
Kematangan seseorang disertai dengan sejumlah luka.

Untung saja masih ada harapan ini, Anda akhirnya masih bisa menunggu.
Untung saja antar manusia, jarak menumbuhkan estetis (keindahan).
Untung saja dalam kehidupan, keceriaan lebih banyak dari derita.
Untung saja di dunia ini, masih banyak keindahan.
Untung saja saat Anda matang (dewasa), 
Anda tidak termasuk orang yang tidak memiliki apa-apa di dunia ini! 

(Sumber: Secret China)

Fatima yang Masih Menyimpan "Rahasia"

FATIMA termasuk salah satu obyek pariwisata Portugal. Selain Fatima, ditawarkan pula 13 obyek lain seperti museum tempat berangkat ekspedisi Vasco da Gama, pantai indah Estoril, bekas istana musim panas Raja Joao I di Sintra. Dalam setahun obyek-obyek itu dikunjungi sekitar 15 juta wisatawan asing, 1,5 kali jumlah penduduk Portugal seluruhnya (10 juta) pada tahun 2001. Tiga juta di antaranya mengunjungi Fatima. Tanpa rencana, termakan sindiran seorang wartawan senior Portugal, saya mengunjungi Fatima tanggal 28 November 2001.

Ditemani Agus Sriyono dari Kedutaan Besar Indonesia di Portugal, kunjungan itu ibarat ziarah. Jarak Lisbon-Fatima 115 kilometer, ditempuh kurang dari tiga jam, lewat jalan tol. Kalau tidak ada kecelakaan, kata Agus Sriyono, bisa 1,5 jam. Tetapi, jangan heran, perilaku orang Portugal berlalu lintas sama dengan orang Indonesia. "Suka saling menyalib, rebut-rebutan jalan," katanya.

Dengan bus pariwisata yang gencar ditawarkan di hotel-hotel, paket Fatima dikelompokkan dengan kunjungan ke Aljufrel, desa tempat kelahiran Lucia, Fransisco, dan Jacinta, juga tempat di mana ketiga anak itu memperoleh pemberitahuan tentang penampakan Maria. Dengan waktu enam jam, biro perjalanan memungut biaya sekitar 60 dollar AS per orang.

Bagi Portugal, Fatima menjadi pemasok terbesar perolehan pendapatan negara dari sektor pariwisata. Pendapatan negara dengan luas wilayah 92.000 km2 itu (kira-kira seluas wilayah Provinsi Riau) itu, 80 persennya berasal dari sektor pariwisata, terutama dalam struktur ekonomi yang didasarkan pada service-based economy yang menyerap 51 persen tenaga kerja dan menyumbangkan 63 persen nilai tambah pertumbuhan.

Mengapa Fatima? Fatima masih menyimpan "rahasia" yang mereka sebut "rahasia Fatima". Tempat itu sejak tahun 1930 menjadi satu dari beberapa tempat ziarah terkenal pemeluk agama Katolik. Dalam perkiraan, pengunjung Fatima sebesar 3 juta, peziarah dalam negeri ini belum termasuk, meskipun menurut Dubes Indonesia untuk Portugal, Harry Pryohoetoemo Haryono "orang Portugal sekarang tidak sereligius dulu." Sebanyak 97 persen penduduk Portugal beragama Katolik.


***
ALKISAH dan itu bagi penganut iman Katolik sebagai kebenaran, Bunda Maria (dalam iman Katolik dipercaya sebagai ibunda Yesus Kristus dan Bunda Kaum Beriman), di sana pernah menampakkan diri selama enam kali pada tiga anak gembala: Lucia Santos, Jacinta Marto, dan Fransisco. Penampakan pertama 13 Mei 1917, berturut-turut sampai bulan Oktober 1917, dan selalu pada tanggal 13. Mereka masing-masing berumur 10 tahun, 9 tahun, dan 7 tahun.

Fransisco dan Jacinta sudah meninggal, sementara Lucia saat ini adalah biarawati (suster), tinggal di Biara Coimbra sekitar 20 km utara Fatima. Tanggal 13 Mei tahun lalu, Paus Yohanes Paulus II mengukuhkan Jacinta dan Fransisco sebagai beato (yang bahagia) dan beata, satu tahap prosesi sebelum sebagai sancto (yang kudus) atau sancta.

Sama seperti kesaksian penampakan semacam itu, apakah di Lourdes (Perancis) atau Menjugre (Polandia) selalu diawali dengan keraguan pimpinan institusi agama. Masuk akal sebab adalah tugas institusi agama untuk meragukan setiap kesaksian. Ketiga anak gembala ini diinterogasi. Tetapi, setelah memperoleh penyelidikan intensif, pada tahun 1930 para Uskup Portugal mengumumkan penampakan itu otentik. Selain penampakan Maria, yang kemudian membuat kota ini menjadi tempat perziarahan adalah tiga "rahasia/ramalan Fatima" yang disampaikan Maria kepada mereka. Ketiga "ramalan" itu adalah perang dunia, kehancuran komunisme, dan terbunuhnya seorang paus. Tahun 1967, Lucia menyerahkan tiga "rahasia Fatima" itu kepada Paus Paulus VI saat mengunjungi Fatima tahun 1967. Dua ramalan ditafsirkan sudah terjadi, sedang ramalan ketiga dikait-kaitkan dengan usaha pembunuhan Paus Yohanes Paulus II oleh seorang pemuda Turki tahun 1983.

Latar belakang itulah yang membuat Fatima terkenal. Secara otentik pula ada rekaman gambar tentang 70.000 orang yang menyaksikan "Matahari menari" pada 13 Oktober 1917, "keanehan" sebelum Maria menampakkan diri yang terakhir pada ketiga anak gembala itu.


***
FATIMA pada 28 November 2001 terasa sepi. Pada siang hari itu, selain satu rombongan besar peziarah sedang berdoa di kapel, hanya ada beberapa orang. Lapangan luas, terkesan lebih luas dibanding lapangan di peziarahan Lourdes, kosong. Beberapa gadis dan nenek-nenek terengah-engah di bawah terik matahari. Mereka hampir menyelesaikan "jalan berlutut" sepanjang 500 meter. Di lutut kiri satu di antaranya meleleh darah segar, tetapi sang nenek tetap tegar dengan rosario di tangan, dan tak mau diganggu siapa pun.

"Pada tanggal-tanggal 13 selama bulan Mei-Oktober, orang-orang seperti itu banyak sekali," kata Agus Sriyono. Ia lantas bercerita pengalaman "berjalan beringsut-ingsut sambil berlutut itu". Lutut panas beradu dengan lantai semen, tetapi setelah berjam-jam ia tahan, dengan lutut sobek-sobek berdarah, selesai juga. "Rasanya plong. Saya ingin menderita, bernadar berterima kasih atas kelulusan anak saya," kata Agus sambil menggambarkan lututnya yang berdarah-darah tergores lantai.

Tempat untuk berjalan sambil berlutut itu memang khusus. Dengan lebar satu meter mulai dari pintu gerbang sampai kapel penampakan lantai semen itu panjangnya 500 meter. Di depan kapel, di kapel itu dipercaya tempat penampakan Maria 84 tahun yang lalu, berdiri megah Basilika Perawan Rosario dengan ketinggian menara 65 meter. Basilika yang dibangun sejak tahun 1928 dan diberkati tanggal 14 Mei 1953, adalah sosok bangunan gaya Barok dengan tiang-tiang besar-kokoh dan langit-langit tinggi penuh lukisan yang diambil dari kisah-kisah dalam Kitab Suci orang-orang Kristen.

Kapel kecil di mana konon sebagai tempat enam kali penampakan Maria dibangun sederhana, berasitektur modern dan terbuka. Kapel ini dibangun tahun 1919, pernah dirusak orang tahun 1922 dan dibangun kembali dengan bentuk sama seperti semula. Di samping kapel ada tempat pembakaran lilin, bagian dari prosesi para peziarah. Di bagian lain ada tempat jalan salib yang berpuncak pada Kalpari yang terletak di samping kiri depan basilika. Kompleks pejiarahan Fatima dibatasi tembok setinggi 2,5 meter yang dibangun oleh seorang Jerman yang membawa kenangan Tembok Berlin yang dia tinggalkan. Sedikit di luar kompleks ada makam Jacinta dan Fransisco, tempat yang menjadi bagian dari proses ziarah.

Aljrustel, desa tempat kelahiran ketiga penggembala berikut rumah dan lingkungannya, terpelihara rapih. Dalam satu kompleks pula ada rumah sakit, selain melayani mereka yang sakit, tetapi terutama mengobati lutut-lutut para peziarah yang berdarah-darah tergores lantai semen. Di bagian lain di luar kompleks tembok, beberapa jalan penuh toko suvenir dan rumah makan. Keadaannya sama seperti di tempat-tempat ziarah lain terkenal di Eropa seperti di Lourdes.

Mengapa Lourdes lebih dikenal daripada Fatima? Tak ada penjelasan pasti, juga tidak perlu dijelaskan, sebab berziarah dan berdoa lebih berurusan dengan selera. Tetapi, ada dugaan, Lourdes lebih dikenal karena lebih lama, juga Pemerintah Perancis lebih agresif menjualnya. Sebagai negara termiskin di Eropa-konon bersama-sama dengan Irlandia dan Yunani-Portugal tidak sempat membangun. Setelah bertahun-tahun di bawah pemerintahan otoriter yang jatuh lewat "Revolusi Mawar Merah", rakyat Portugal hidup dalam "tali kekang diktator". Baru setelah masuk Uni Eropa tahun 1984, Portugal agresif membangun berkat dana Uni Eropa. Berkeliling di Lisbon, terkesan kota itu sedang giat dibangun. Pertumbuhan rata-rata Produk Domestik Brutonya 4,6 persen pada tahun 1986-1990.

Portugal belum sempat menjual kelebihannya. Yang terus dilakukan adalah menghidupkan kembali perasaan sebagai bangsa yang pernah memelopori eksodus keluar sejak lima abad lalu, penjelajah dan penemu benua mendahului negara lain. Mereka mengenang dengan bangga kebesaran nama-nama penemu daerah baru seperti Bartolomeo Diaz yang menemukan Pantai Timur Afrika (1488), Vasco da Gama ke India (1479). Bahkan, mereka pun mencatat kebesaran nenek moyang mereka dengan perluasan ekspedisi Portugal ke Goa (1510), Malaka (1511), Malu-ku, Indonesia (1512 dan 1514), Hormuz (1515), dan Macao (1557). Kepeloporan Portugal itu nyaris hilang, termasuk dengan Timor Timur yang bergolak sebagai dampak "Revolusi Mawar Merah", jatuh ke Indonesia (1978), dan lepas tahun 1999.

Dengan luas tanah yang relatif sempit itu, selain Lisboa dan Oporto sebagai kota terbesar kedua, lokasi-lokasi pariwisata lain gampang dijangkau. Meskipun Portugal jauh lebih miskin dibanding Perancis, takkan dijumpai pengemis. Kalau ada pengemis, paling-paling orang mabuk, dan yang penting pula dicatat di jalanan Lisboa, Fatima yang teletak di kawasan Iberia, maupun Lisbon takkan dijumpai anak-anak. Maklum tercatat pada sensus tahun lalu, pertumbuhan penduduk negara itu nol persen. Berbeda dengan di Itali, katakan Roma yang sarat obyek turisme itu, di sini tak ada pencopet-pencopet kecil yang luar biasa gesit. (St Sularto)

Sumber: Kompas Minggu, 23 Desember 2001
http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0112/23/latar/fati12.htm




Santa Perawan Maria dari Fatima

"Setiap orang, mulai dari dirinya sendiri, harus berdoa rosario dengan lebih khidmat ... dan benar-benar mempraktekkan yang kuanjurkan yaitu devosi Sabtu Pertama setiap bulan."
Pesan Bunda Maria Fatima kepada Lucia 1 Mei 1987

Fatima adalah sebuah kota kecil sebelah utara kota Lisbon di Portugal. Pada tahun 1917 Bunda Maria menampakkan diri di Fatima kepada tiga orang anak gembala. Mereka adalah Lucia dos Santos berumur 10 tahun, sepupunya bernama Fransisco Marto berumur 9 tahun dan Jacinta Marto berumur 7 tahun.

Penampakan Maria didahului tiga penampakan Malaikat setahun sebelumnya yang mempersiapkan anak-anak ini untuk penampakan Bunda Maria. Malaikat mengajarkan kepada anak-anak, dua doa penyilihan yang harus didoakan dengan hormat yang besar. Pada penampakan terakhir di musim gugur 1916, Malaikat memegang sebuah piala. Ke dalam piala ini meneteslah darah dari sebuah Hosti yang tergantung di atasnya. Malaikat memberi ketiga anak itu Hosti sebagai Komuni Pertama mereka dari piala itu. Anak-anak tidak menceritakan penampakan ini kepada orang lain. Mereka melewatkan waktu yang lama dalam doa dan keheningan.

13 Mei 1917 Pesta Bunda Maria dan Sakramen Mahakudus. Ketiga anak itu sedang menggembalakan ternaknya di Cova da Iria, sebuah padang alam yang amat luas, kira-kira satu mil dari desa mereka. Tiba-tiba mereka melihat sebuah kilatan cahaya dan setelah kilatan yang kedua, muncul seorang wanita yang amat cantik. Pakaiannya putih berkilauan. Wanita yang bersinar bagaikan matahari itu berdiri di atas sebuah pohon ok kecil dan menyapa anak-anak:

"Janganlah takut, aku tidak akan menyusahkan kalian. Aku datang dari surga. Allah mengutus aku kepada kalian. Bersediakah kalian membawa setiap korban dan derita yang akan dikirim Allah kepada kalian sebagai silih atas banyak dosa-sebab besarlah penghinaan terhadap yang Mahakuasa- bagi pertobatan orang berdosa dan bagi pemulihan atas hujatan serta segala penghinaan lain yang dilontarkan kepada Hati Maria yang Tak Bernoda?"

"Ya, kami mau," jawab Lucia mewakili ketiganya. Dalam setiap penampakan, hanya Lucia saja yang berbicara kepada Bunda Maria. Jacinta dapat melihat dan mendengarnya, tetapi Fransisco hanya dapat melihatnya saja.

Wanita itu juga meminta anak-anak untuk datang ke Cova setiap tanggal 13 selama 6 bulan berturut-turut dan berdoa rosario setiap hari.

13 Juni 1917 ketiga anak itu pergi ke Cova. Pada kesempatan itu Bunda Maria mengatakan bahwa ia akan segera membawa Jacinta dan Fransisco ke surga. Sedangkan Lucia diminta tetap tinggal untuk memulai devosi kepada
Hati Maria Yang Tak Bernoda. Ketika mengucapkan kata-kata ini, muncullah dari kedua tangan Maria sebuah cahaya. Di telapak tangan kanannya nampak sebuah hati yang dilingkari duri, Hati Maria Yang Tak Bernoda yang terhina oleh dosa manusia.

"Yesus ingin agar dunia memberikan penghormatan kepada Hatiku yang Tak Bernoda. Siapa yang mempraktekkannya, kujanjikan keselamatan. Jiwa-jiwa ini lebih disukai Tuhan, dan sebagai bunga-bunga akan kubawa ke hadapan takhta-Nya."

"Janganlah padam keberanianmu. Aku tidak akan membiarkan kalian. Hatiku yang Tak Bernoda ini akan menjadi perlindungan dalam perjalananmu menuju Tuhan."

13 Juli 1917 "Berkurbanlah untuk orang berdosa. Tetapi teristimewa bila kalian membawa suatu persembahan,
ucapkanlah seringkali doa ini: Ya Yesus, aku mempersembahkannya karena cintaku kepada-Mu dan bagi pertobatan
orang-orang berdosa serta bagi pemulihan atas segala penghinaan yang diderita Hati Maria yang Tak Bernoda."

Kemudian Bunda Maria memperlihatkan neraka yang sangat mengerikan. Begitu ngeri sampai anak-anak itu gemetar ketakutan.

"Bila kelak, pada suatu malam kalian melihat suatu terang yang tak dikenal, ketahuilah bahwa itu adalah 'Tanda' dari Tuhan untuk menghukum dunia, karena banyaklah kejahatan yang telah kalian lakukan. Akan terjadi peperangan, kelaparan dan penganiayaan terhadap Gereja dan Bapa Suci."

"Untuk menghindari hal itu, aku mohon, persembahkanlah negara Rusia kepada Hatiku yang Tak Bernoda serta komuni pemulihan pada Sabtu pertama setiap bulan."

"Bila kalian berdoa Rosario, ucapkanlah pada akhir setiap peristiwa: Ya Yesus yang baik, ampunilah segala dosa kami, lindungilah kami dari api neraka, hantarkanlah jiwa-jiwa ke dalam surga, terlebih jiwa yang sangat memerlukan pertolongan-Mu."

13 Agustus 1917 anak-anak tidak bisa datang ke Cova karena mereka semua digiring ke pengadilan oleh penguasa daerah setempat. Mereka diancam akan dimasukkan ke dalam minyak panas. Anak-anak dijebloskan ke dalam penjara selama 2 hari. Pada tanggal 19 Agustus Bunda Maria menampakkan diri pada saat anak-anak sedang menggembalakan ternak mereka di Valinhos.

"Berdoalah, berdoalah dan bawalah banyak korban bagi orang berdosa. Sebab betapa banyak yang masuk api neraka karena tidak ada yang berdoa dan berkorban bagi mereka."

13 September 1917 Bunda Maria mendesak lagi tentang betapa pentingnya doa dan kurban. Ia juga berjanji akan datang bersama St. Yusuf dan Kanak-kanak Yesus pada bulan Oktober nanti.

"Dalam bulan Oktober aku akan membuat suatu tanda heran, agar semua orang percaya."

13 Oktober 1917 Bersama anak-anak, sekitar 70.000 orang datang ke Cova untuk menyaksikan mukjizat yang dijanjikan Bunda Maria. Pagi itu hujan deras turun seperti dicurahkan dari langit. Ladang-ladang tergenang air dan semua orang basah kuyub. Menjelang siang, Lucia berteriak agar orang banyak menutup payung-payung mereka karena Bunda Maria datang.

Lucia mengulangi pertanyaannya pada penampakan terakhir ini, "Siapakah engkau dan apakah yang kaukehendaki daripadaku?" Bunda Maria menjawab bahwa dialah Ratu Rosario dan ia ingin agar di tempat tersebut didirikan sebuah kapel untuk menghormatinya. Ia berpesan lagi untuk keenam kalinya bahwa orang harus mulai berdoa Rosario setiap hari.

"Manusia harus memperbaiki kelakuannya serta memohon ampun atas dosa-dosanya."

Kemudian dengan wajah yang amat sedih Bunda Maria berbicara dengan suara yang mengiba: " Mereka tidak boleh lagi menghina Tuhan yang sudah begitu banyak kali dihinakan"

Bunda Maria kemudian pergi ke pohon ok sebagai tanda penampakan berakhir. Awan hitam yang tadinya bagaikan gorden hitam menyingkir ke samping memberi jalan matahari untuk bersinar. Kemudian matahari mulai berputar, gemerlapan berwarna-warni, berhenti sejenak dan mulai berputar-putar menuju bumi. Orang banyak jatuh berlutut dan memohon ampun. Sementara fenomena matahari terjadi, ketiga anak melihat suatu tablo Keluarga Kudus di langit. Di sebelah kanan tampak Ratu Rosario. Di sebelah kirinya St. Yosef menggandeng tangan Kanak-kanak Yesus dan membuat tanda salib tiga kali bagi umatnya. Menyusul visiun yang hanya tampak oleh Lucia seorang diri: Bunda Dukacita bersama Tuhan berdiri di sampingnya dan Bunda Maria dari Gunung Karmel dengan Kanak-kanak Yesus di pangkuannya. Matahari meluncur seolah-olah akan menimpa orang banyak, tiba-tiba ia berhenti dan naik kembali
ke tempatnya semula di langit. 70,000 orang yang berkerumun di Cova itu menyadari bahwa pakaian mereka yang tadinya basah kuyub oleh hujan lebat, tiba-tiba menjadi kering. Demikian pula tanah yang tadinya becek dan berlumpur akibat hujan tiba-tiba menjadi kering. Mukjizat matahari selama 15 menit itu disaksikan bukan hanya oleh orang-orang di Cova da Iria saja, tetapi juga oleh banyak orang di sekitar wilayah itu sampai sejauh 30 mil.

Sumber:
-Maria dari Fatima, Rm Petrus Pavlicek OFM - Wina
-AVE MARIA No. 10 September 1997;
diterbitkan oleh Marian Centre Indonesia

http://www.geocities.com/tul4lit_1di07/MariadariFatima.html

Generasi "Oplos"

Oleh Yusran Pare

BERITA mengejutkan itu datang dari ujung timur Jawa Barat, Indramayu. Empat belas orang tewas, belasan lain dirawat di rumah sakit setempat. Mereka bertumbangan setelah meminum minuman keras yang dicampur bahan-bahan lain. Sebagian terbesar dari korban itu anak-anak muda, satu lelaki paro baya, dan satu perempuan muda.

Disebut mengejutkan, karena jumlah korbannya demikian banyak. Malah terlalu banyak, kerena sehelai pun nyawa manusia sangatlah berharga. Lebih mengejutkan, karena baru dua tahun silam, insiden serupa di Indramayu merenggut nyawa tujuh anak muda.

Rupanya peristiwa itu tak cukup jadi cambuk untuk mengingatkan masyarakat dan aparat setempat betapa berbahayanya minuman keras beredar tanpa kontrol dan kendali. Apalagi di lingkungan masyarakat yang tingkat pendidikan dan pengetahuannya belum memadai secara merata di tengah kondisi sosial ekonomi yang tidak seimbang.

Indramayu sesungguhnya daerah kaya. Setidaknya kabupaten berpenduduk 1,6 juta jiwa ini merupakan lumbung padi besar yang menyangga dan memberi sumbangan penting bagi ketersediaan pangan secara nasional. Ia juga memiliki Balongan, kilang yang memproduksi 10.500-an barrel bahan bakar minyak setiap hari (data 2003), yang mestinya juga memercikkan kemakmuran bagi penduduk sekitarnya.

Namun kekayaan Indramayu ternyata belum mampu menyejahterakan warganya. Jika tidak, tak mungkin ada sekitar 1 juta penganggur di daerah itu (data 2006). Tak mungkin pula 90.000 warganya terpaksa mengais-ais rejeki di negeri orang sebagai tenaga kerja Indonesia. Sekitar 75 persen dari jumlah itu adalah para perempuan yang kebanyakan bekerja di sektor domestik. Kata lain untuk jongos.

Jika daerah itu sudah memberi peluang memadai bagi warganya untuk menyejahterakan diri, tak mungkin pula ribuan perempuan Indramayu melata-lata di keremangan dunia malam kota besar di berbagai pelosok di Tanah Air, dan itu tidak pernah terpantau jumlah maupun mobilitasnya.

Apakah kondisi seperti itu juga yang kemudian merangsang segelintir penduduknya untuk mengakrabi kebiasaan mabuk-mabukan? Belum jelas benar. Yang jelas, kemiskinan memang seringkali dianggap sebagai akar dari sejumlah masalah sosial. Satu di antara masalah itu adalah kebiasaan mabuk-mabukan.

Boleh jadi, dengan mabuk -lantas tertidur- orang "melupakan" sejenak kesulitan hidupnya. Tapi kebiasaan itu juga menyeret dampak buruk lain, yakni tingginya angka kriminalitas. Kalau orang itu minum untuk diri sendiri sampai mabuk sekali pun, dan langsung mendengkur begitu teler, tak jadi soal. Yang repot dalah para peminum tanggung yang gentayangan lalu ngoceh sana-sini dan tindakannya kurang terkontrol sehingga kadang memancing keributan.

Bagi sebagian penduduk di suatu daerah miskin di bagian timur Indonesia di mana minuman keras -olahan tradisional- sudah jadi minuman sehari-hari, banyak warga yang memang minum sampai mabuk. Biasanya, mereka membeli minuman setelah barang hasil bumi mereka laku di pasar. Selain digunakan untuk membeli keperluan hidup keluarga, mereka juga menyisihkannya untuk membeli minuman lokal, dan meminumnya sampai mabuk dan tertidur, (http://yusranpare.wordpress.com/2007/10/21/pendekar-mabuk/).

Di kota-kota besar, ada kecenderungan pada sebagian orang jalanan meminum minuman keras semata untuk stimulan. Mereka sengaja mabuk -atau setidaknya tampil seperti sedang mabuk- untuk meningkatkan efek teror terhadap sasaran yang akan dipalak atau diperasnya.

Dalam kasus Indramayu, tampaknya para peminum itu bukan semata untuk dirinya sendiri agar sekejap bisa melarikan diri dari ralitas, melainkan sudah sampai pada tahap memburu kepuasan maksimum secara bersama-sama dengan cara cepat, mudah, dan murah, karena memang sebatas itulah yang mereka mampu.

Ketidaktahuan dan keterbatasan pemahaman yang mungkin disebabkan kurangnya pendidikan -yang konon karena kemiskinan- di tengah kendornya pengawasan antarsesama warga, telah membuat orang gegabah mencampuradukkan bahan-bahan untuk dikonsumsi, sehingga jadi cairan maut yang menewaskan lebih selusin orang.

Ini harus jadi bahan renungan dan pelajaran bagi segenap pihak, sebab ini bukan peristiwa yang bisa dibiarkan berlalu begitu saja. Kejadian seperti ini tak pantas terus terulang, di Indramayu atau di manapun di wilayah tanah air. (*)

http://yusranpare.wordpress.com/2008/09/14/generasi-oplos/


Minuman Keras Beracun Sudah Tewaskan 16 di Indramayu

Cirebon, (ANTARA News) - Korban tewas akibat minuman keras (Miras) di Kabupaten Indramayu bertambah menjadi 16 orang.Selain itu, belasan korban lain dirawat di berbagai rumah sakit.

Sabtu malam (13/9/2008) kembali jatuh korban tewas yaitu Waskum, asal Desa Cibereng, Kecamatan Terisi, di RSUD Indramayu.

Sebelumnya pada Jumat (12/9), Roni (35) warga Karangasem, Ludoyong, Kecamatan Terisi, tewas di rumahnya. Pada Kamis, Slamet (40), warga Desa Tulungagung, Kecamatan Kertasmaya, juga meninggal akibat minuman tersebut.

Korban tewas akibat miras beracun itu mulai berjatuhan sejak Senin (8/9) lalu, dengan tanda-tanda yang sama yaitu pusing, perut panas, kemudian kehilangan kesadaran antara 5 sampai 12 jam setelah meneggak minuman itu.

Sejak itu, para korban mulai dilarikan keluarganya ke sejumlah rumah sakit, umumnya sudah dalam kondisi tak sadarkan diri. Terakhir Ahmad Rivai (20) warga Karangasem, Ludoyong, Kecamatan Terisi, masuk ke Rumah Sakit Bhayangkara Indramayu (RSBI) pada hari Sabtu (13/9) kemarin sekitar pukul 02.00 WIB.

Saat ini tercatat 18 orang yang masih dirawat di berbagai rumah sakit, namun diperkirakan jumlah korban masih cukup banyak karena sebagian dirawat di rumah.

Semula, pesta Miras diketahui hanya terjadi di Kecamatan Losarang, namun ternyata sebaran miras yang dijual murah antara Rp11.000 sampai Rp15.000 per botol juga menjangkau Kecamatan Gabuswetan, Terisi, Kandanghaur, dan Kertasmaya.

Kepala RSBI, Kompol dr Asep Hendradiana Sp.An, M.Kes, menjelaskan bahwa seluruh korban tewas maupun kritis, mengalami keluhan yang sama yakni penglihatan kabur, mual, muntah, pusing, dan sulit bernapas.

"Para korban mengalami gejala keracunan alkohol.Diduga bahan racikan Miras itu mengandung racun," katanya.

Beberapa korban mengungkapkan, mereka mencampur juga dengan "lotion" anti nyamuk sehingga daya racunnya semakin bertambah.

Asep masih menunggu hasil laobratorium dari urine dan muntahan para korban untuk mencari sebab utama kematian para korban.(*)

http://www.antara.co.id/arc/2008/9/14/minuman-keras-beracun-sudah-tewaskan-16-di
indramayu/

Hidup Jangan Tertidur!

UNTUK dapat menikmati hidup, hal terpenting yang perlu Anda lakukan adalah menjadi SADAR. Inti kepemimpinan adalah kesadaran. Inti spiritualitas juga adalah kesadaran. Banyak orang yang menjalani hidup ini dalam keadaan tertidur. Mereka lahir, tumbuh, menikah, mencari nafkah, membesarkan anak, dan akhirnya meninggal dalam keadaan tertidur.

Analoginya adalah seperti orang yang terkena hipnotis. Anda tahu di mana menyimpan uang. Anda pun tahu persis nomor pin Anda. Dan Andapun menyerahkan uang Anda pada orang tidak dikenal. Anda tahu, tapi tidak sadar. Karena itu, Anda bergerak bagaikan robot-robot yang dikendalikan orang lain, lingkungan, jabatan, uang, dan harta benda.

Pengertian menyadari amat berbeda dengan mengetahui. Anda tahu berolah raga penting untuk kesehatan, tapi Anda tidak juga melakukannya. Anda tahu memperjualbelikan jabatan itu salah, tapi Anda menikmatinya. Anda tahu berselingkuh dapat menghancurkan keluarga, tapi Anda tidak dapat menahan godaan. Itulah contoh tahu tapi tidak sadar!

Ada dua hal yang dapat membuat orang menjadi sadar. Pertama, peristiwa-peristiwa pahit dan musibah. Musibah sebenarnya adalah rahmat terselubung karena dapat membuat kita bangun dan sadar. Anda baru sadar pentingnya kesehatan kalau Anda sakit. Anda baru sadar pentingnya olahraga kalau kadar kolesterol Anda mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Anda baru sadar nikmatnya bekerja kalau Anda di-PHK. Seorang wanita karier baru menyadari bahwa keluarga jauh lebih penting setelah anaknya terkena narkoba. Seorang sopir taksi pernah bercerita bahwa ia baru menyadari bahayanya judi setelah hartanya habis.

Kematian mungkin merupakan satu stimulus terbesar yang mampu menyentakkan kita. Banyak tokoh terkenal meninggal begitu saja. Mereka sedang sibuk memperjualbelikan kekuasaan, saling menjegal, berjuang meraih jabatan, lalu tiba-tiba saja meninggal. Bayangkan kalau Anda sedang menonton film di bioskop. Pertunjukan sedang berlangsung seru ketika tiba-tiba listrik padam. Petugas bioskop berkata, Silakan Anda pulang, pertunjukan sudah selesai! Anda protes, bahkan ingin menunggu sampai listrik hidup kembali. Tapi, si penjaga hanya berkata tegas, Pertunjukan sudah selesai, listriknya tidak akan pernah hidup kembali.

Itulah analogi sederhana dari kematian. Kematian orang yang kita kenal, apalagi kerabat dekat kita sering menyadarkan kita pada arti hidup ini. Kematian menyadarkan kita pada betapa singkatnya hidup ini, betapa seringnya kita meributkan hal-hal sepele, dan betapa bodohnya kita menimbun kekayaan yang tidak sempat kita nikmati.

Hidup ini seringkali menipu dan meninabobokan orang. Untuk menjadi bangun kita harus sadar mengenai tiga hal, yaitu siapa diri kita, darimana kita berasal, dan ke mana kita akan pergi. Untuk itu kita perlu sering mengambil jarak dari kesibukan kita dan melakukan kontemplasi.

Ada sebuah ungkapan menarik dari seorang filsuf Perancis, Teilhard de Chardin, Kita bukanlah manusia yang mengalami pengalaman- pengalaman spiritual, kita adalah makhluk spiritual yang mengalami pengalaman-pengalam an manusiawi. Manusia bukanlah makhluk bumi melainkan makhluk langit. Kita adalah makhluk spiritual yang kebetulan sedang menempati rumah kita di bumi. Tubuh kita sebenarnya hanyalah rumah sementara bagi jiwa kita. Tubuh diperlukan karena merupakan salah satu syarat untuk bisa hidup di dunia. Tetapi, tubuh ini lama kelamaan akan rusak dan akhirnya tidak dapat digunakan lagi. Pada saat itulah jiwa kita akan meninggalkan rumah untuk mencari rumah yang lebih layak. Keadaan ini kita sebut meninggal dunia. Jangan lupa, ini bukan berarti mati karena jiwa kita tak pernah mati. Yang mati adalah rumah kita atau tubuh kita sendiri.

Coba Anda resapi paragraf diatas dalam-dalam. Badan kita akan mati, tapi jiwa kita tetap hidup. Kalau Anda menyadari hal ini, Anda tidak akan menjadi manusia yang ngoyo dan serakah. Kita memang perlu hidup, perlu makanan, tempat tinggal, dan kebutuhan dasar lainnya. Bila Anda sudah mencapai semua kebutuhan tersebut, itu sudah cukup! Buat apa sibuk mengumpulkan kekayaan -- apalagi dengan menyalahgunakan jabatan -- kalau hasilnya tidak dapat Anda nikmati selama-lamanya. Apalagi Anda sudah merusak jiwa Anda sendiri dengan berlaku curang dan korup. Padahal, jiwa inilah milik kita yang abadi.

Lantas, apakah kita perlu mengalami sendiri peristiwa-peristiwa yang pahit tersebut agar kita sadar? Jawabnya: ya! Tapi kalau Anda merasa cara tersebut terlalu mahal, ada cara kedua yang jauh lebih mudah: Belajarlah MENDENGARKAN.

Dengarlah dan belajarlah dari pengalaman orang lain. Bukalah mata dan hati Anda untuk mengerti, mendengarkan, dan mempertanyakan semua pikiran dan paradigma Anda. Sayang, banyak orang yang mendengarkan semata-mata untuk memperkuat pendapat mereka sendiri, bukannya untuk mendapatkan sesuatu yang baru yang mungkin bertentangan dengan pendapat mereka sebelumnya. Orang yang seperti ini masih tertidur dan belum sepenuhnya bangun.

Bila lidah kelu, tulisan menjadi perlu Pena lebih tajam dari pedang Tinta seorang berilmu lebih mulia dari darah seorang semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin. (Ditulis oleh Arvan Pradiansyah, penulis buku You Are A Leader!. Dari milis kiriman mentorku, MA Maliki).

Bosan Hidup

Seorang pria mendatangi Sang Master, "Guru, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati."

Sang Master tersenyum, "Oh, kamu sakit."
"Tidak Master, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan.
Itu sebabnya saya ingin mati."

Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Master meneruskan, "Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, 'Alergi Hidup'. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan."

Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus.
Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit.
Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit.

Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga, bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah.
Persahabatan pun tidak selalu langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng, yang abadi dalam
hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.

"Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku." demikian sang Master.

"Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup." pria itu menolak tawaran sang guru.

"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?"
"Ya, memang saya sudah bosan hidup."

"Baik, besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang."

Giliran dia menjadi bingung. Setiap Master yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Yang satu ini aneh. Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati. Pulang ke rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut "obat" oleh Master edan itu. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Begitu rileks, begitu santai!
Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah. Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau.
Suasananya santai banget!

Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan membisiki di kupingnya, "Sayang, aku mencintaimu.
"Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!
Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi.

Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur.
Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir,ia ingin meninggalkan kenangan manis!

Sang istripun merasa aneh sekali Selama ini, mungkin aku salah. "Maafkan aku, sayang."

Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, "Hari ini, Boss kita kok aneh ya?"
Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut.
Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!

Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda.
Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya. Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan.

Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, "Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu."
Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, "Pi, maafkan kami semua.
Selama ini, Papi selalu stres karena perilaku kami."

Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya?

Ia mendatangi sang Guru lagi.
Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi, "Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh, Apa bila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan.

Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air..
Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan."

Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya.
Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian.
Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP!!!

Hidup?
bukanlah merupakan suatu beban yang harus dipikul?
tapi merupakan suatu anugrah untuk dinikmati.

(Kiriman M.A Maliki, mentorku dari LAN

I Love U Mom...

Waktu kamu berumur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikanmu. Sebagai balasannya.. . kau menangis sepanjang malam.

Waktu kamu berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan. Sebagai balasannya.. . kamu kabur waktu dia memanggilmu.

Waktu kamu berumur 3 tahun, dia memasak semua makananmu dengan kasih sayang. Sebagai balasannya.. . kamu buang piring berisi makananmu ke lantai.

Waktu kamu berumur 4 tahun, dia memberimu pensil warna. Sebagai balasannya.. . kamu corat coret tembok rumah dan meja makan.

Waktu kamu berumur 5 tahun, dia membelikanmu baju-baju mahal dan indah.. Sebagai balasannya.. . kamu memakainya bermain di kubangan lumpur.

Waktu berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah... Sebagai
balasannya.. . kamu berteriak "NGGAK MAU..!"

Waktu berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola. Sebagai balasannya.kamu melemparkan bola ke jendela tetangga.

Waktu berumur 8 tahun, dia memberimu es krim... Sebagai dalasann ya..kamu tumpahkan dan mengotori seluruh bajumu

Waktu kamu berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus-kursusmu. Sebagai balasannya.. . kamu sering bolos dan sama sekali nggak mau belajar.

Waktu kamu berumur 10 tahun, dia mengantarmu kemana saja, dari kolam renang sampai pesta ulang tahun. Sebagai balasannya.. . kamu melompat keluar mobil tanpa memberi salam.

Waktu kamu berumur 11 tahun, dia mengantar kamu dan temen-temen kamu kebioskop. Sebagai balasannya.. . kamu minta dia duduk di barisan lain.

Waktu kamu berumur 12 tahun, dia melarangmu melihat acara tv khusus untuk orang dewasa. Sebagai balasannya.. . kamu tunggu sampai dia keluar rumah.

Waktu kamu berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut karena sudah waktunya. Sebagai balasannya.. kamu bilang dia tidak tahu mode

Waktu kamu berumur 14 tahun, dia membayar biaya untuk kemahmu selama liburan. Sebagai balasannya.. . kamu nggak pernah menelponnya.

Waktu kamu berumur 15 tahun, pulang kerja dia ingin memelukmu... Sebagai balasannya.. . kamu kunci pintu kamarmu.

Waktu kamu berumur 16 tahun, dia mengajari kamu mengemudi mobil. Sebagai balasannya.. . kamu pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa mempedulikan kepentingannya.

Waktu kamu berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telpon yang penting. Sebagai balasannya.. kamu pakai telpon nonstop semalaman.

Waktu kamu berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kamu lulus SMA.. Sebagai balasannya.. . kamu berpesta dengan teman-temanmu sampai pagi.

Waktu kamu berumur 19 tahun, dia membayar semua kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertana. Sebagai balasannya.. . kamu minta diturunkan jauh dari pintu gerbang biar nggak malu sama temen-temen.

Waktu kamu berumur 20 tahun, dia bertanya "Darimana saja seharian ini?".. Sebagai balasannya.. . kamu menjawab "Ah, cerewe t amat sih, pengen tahu urusan orang."

Waktu kamu berumur 21 tahun, dia menyarankanmu satu pekerjaan bagus untuk karier masa depanmu. Sebagai balasannya.. . kamu bilang "Aku nggak mau seperti kamu."

Waktu kamu berumur 22 tahun, dia memelukmu dan haru waktu kamu lulus perguruan tinggi... Sebagai balasanmu... kamu nanya kapan kamu bisa main ke luar negeri.

Waktu kamu berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu. Sebagai balasannya.. . kamu ceritain ke temanmu betapa jeleknya furniture itu.

Waktu kamu berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencana di masa depan. Sebagai balasannya.. . kamu mengeluh "Aduh gimana sih kok bertanya seperti itu."

Waktu kamu berumur 25 tahun, dia membantumu membiayai pernikahanmu. .. Sebagai balasannya.. . kamu pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.

Waktu kamu berumur 30 tahun, dia memberimu nasehat bagaimana merawat bayimu. Sebagai balasannya.. . kamu katakan "Sekarang jamannya sudah beda."

Waktu kamu berumur 40 tahun, dia menelponmu untuk memberitahu pesta salah satu saudara dekatmu. Sebagai balasannya kamu jawab "Aku sibuk sekali, nggak ada waktu."

Waktu kamu berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu. Sebagai balasannya.. . kamu baca tentang pengaruh negatif orang tua yang numpang tinggal di rumah anaknya.

dan hingga SUATU HARI, dia meninggal dengan tenang... dan tiba-tiba kamu teringat semua yang belum pernah kamu lakukan,... dan itu menghantam HATIMU bagaikan pukulan godam.

MAKA...
JIKA ORANGTUAMU MASIH ADA...BERIKANLAH KASIH SAYANG DAN PERHATIAN LEBIH DARI YANG PERNAH KAMU BERIKAN SELAMA INI. JIKA ORA NG TUAMU SUDAH TIADA... INGATLAH KASIH SAYANG DAN CINTANYA YANG TELAH DIBERIKANNYA DENGAN TULUS TANPA SYARAT KEPADAMU
.


Ini adalah mengenai Nilai kasih Ibu dari Seorang anak yang mendapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur. Kemudian dia menghulurkan sekeping kertas yang
bertulis sesuatu. si ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerima kertas yang dihulurkan oleh si anak dan membacanya.

Ongkos upah membantu ibu:
1) Membantu Pergi Ke Warung: Rp20.000
2) Menjaga adik Rp20.000
3) Membuang sampah Rp5.000
4) Membereskan Tempat Tidur Rp10.000
5) menyiram bunga Rp15.000
6) Menyapu Halaman Rp15.000
Jumlah : Rp 85.000

Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak yang raut mukanya berbinar-binar.

Si ibu mengambil pena dan menulis sesuatu dibelakang kertas yang sama.

1) OngKos mengandungmu selama 9bulan- GRATIS
2) OngKos berjaga malam karena menjagamu -GRATIS
3) OngKos air mata yang menetes karenamu -GRATIS
4) OngKos Khawatir kerana selalu memikirkan keadaanmu -GRATIS
5) OngKos menyediakan makan minum, pakaian dan keperluanmu -GRATIS
6) OngKos mencuci pakaian, gelas, piring dan keperluanmu - GRATIS
Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku - GRATIS

Air mata si anak berlinang setelah membaca. Si anak menatap wajah ibu, memeluknya dan berkata, "Saya Sayang Ibu".Kemudian si anak mengambil pena dan menulis sesuatu didepan surat yang ditulisnya: "Telah Dibayar".

Jika Anda menyayangi ibumu, teruskan pesan ini kepada sahabat-sahabatmu.

Indikatornya
1 orang :Kamu tidak sayang ibumu
2-4 orang :Kamu sayang ibumu
5-9 orang :Bagus! Ternyata Kamu Sayang juga Kepada Ibumu
10/lebih : Waahhhh....Kamu akan disayangi Ibumu dan juga semua orang...

KAMU SAYANG IBUMU????

Mencari Jam Tangan

Seorang tukang gergaji yang sedang bekerja kehilangan jam tangannya ketika sedang bekerja. Dia segera menghentikan pekerjaannya dan mencari jam tangannya diantara serbuk gergaji yang banyak sekali.

Diaduk-aduknya serbuk gergaji itu dengan tangan tetapi jam itu tidak ditemukannya. Teman-temannya segera membantunya, beramai-ramai mereka mengaduk-aduk serbuk gergaji itu. Tetapi jam tangan itu tetap tidak ditemukan.

Setelah satu jam lebih akhirnya mereka memutuskan menyerah dan berhenti. Mereka meninggalkan tempat penggergajian itu dan beristirahat di dekatnya.

Seorang anak kecil yang sedari tadi melihat kesibukan para tukang itu mendekat ke tempat penggergajian itu. Dia diam, mendekatkan kepalanya ke serbuk gergaji itu dan lima menit kemudian, tangannya mengais serbuk gergaji itu dan jam tangan itu sudah ada ditangannya.

Para tukang yang melihat hal itu terkejut dan bertanya : "Nak, bagaimana kau bisa menemukan jam itu? Kami sudah menghabiskan satu jam untuk mencarinya?"
Jawab anak itu : "Gampang saja, aku hanya mencari bunyi jam itu saja.

Begitu aku dengar suara tik-tak-tik- tak, aku langsung tahu dimana letak jam itu."


Kadangkala dalam menyelesaikan suatu masalah bukan
dengan saling berdebat, memberikan berbagai solusi.
Tetapi mendengar dengan hati-hati dan menganalisis
sehingga ditemukan solusi yang tepat.



(Many thanks for Maliki, my mentor of CIV IASTP 2007).

Di lereng Tangkuban Perahu

Kita satu hati. Satu tekad. Jadilah team work!

Di lereng Gunung Tangkuban Perahu
Selasa, Rabu. Tanggal empat dan lima
bulan keduabelas
Tahun 2007.

Para pemimpin Koran daerah KKG
Bertemu, melepas rindu
Berendam hangatnya Sari Ater
Menghirup sejuk Priangan
Membumi negeri Siliwangi.

Mereka punggawa Kompas Gramedia
Berkencan tentang masa depan
Sambut Mega Portal
Kuasai South East Asia!!!

Ah, ada yang the best.
Proficiat. Trip to Hong Kong, Disneyland.
Take care man …
Ada cibiran “Nanti Tuhan Tolong”.
Mengapa harga tak dibayar sama?
Mengapa sapa tak untuk semua?

Khusus vs Umum. Kalah kau!
Unik, ke mana gerangan
Hendak didudukkan?
Uniformitas. Kuterpana….
Tuhan tahu tapi
Dia takkan menyahut.


317, Sari Ater-Ciater.
6 Desember 2007.
Dion Bata

Kisah Penjual Mutiara

Dua orang pedagang permata sampai ke tempat para kafilah berhenti di padang gurun, pada waktu yang sama malam hari. Masing-masing sadar akan kehadiran yang lain. Sementara membongkar muatan untanya, salah seorang dari mereka tidak dapat menahan godaaan untuk membiarkan sebuah mutiara besar jatuh ke tanah, seolah-olah tanpa disengaja. Mutiara itu menggelinding ke arah pedagang yang lain, yang dengan sikap dibuat-buat memungutnya dan mengembalikan kepada pemiliknya dengan berkata, "Mutiara Anda ini sungguh indah. Besar dan bercahaya."

"Terima kasih atas pujian Anda," kata yang satu.
"Sebenarnya mutiara ini baru merupakan salah satu dari mutiara-mutiara yang kecil milik saya."

Seorang badui yang duduk di dekat api dan mengamati peristiwa itu bangkit berdiri dan mengundang kedua orang itu untuk makan bersamanya. Ketika mereka mulai makan ia menceritakan kisah ini:
"Kawan-kawan, dulu saya pun pernah menjadi pedagang mutiara seperti Anda. Pada suatu hari saya dihantam badai besar di gurun. Badai itu menghantam saya dan kafilah saya, hingga saya terpisah dari rombongan dan sama sekali kehilangan arah. Hari-hari berlalu dan saya meraca cemas karena sadar bahwa saya hanya berputar-putar terus tanpa tahu saya sedang berada di mana atau kemana saya harus berjalan. Lalu ketika saya hampir mati kelaparan, saya membongkar semua kantong yang ada di punggung unta saya. Dengan was-was saya memeriksanya sampai beratus-ratus kali.
Bayangkanlah betapa saya gembira ketika menemukan kantong yang sebelumnya lepas dari perhatian saya. Dengan jari-jari yang gemetar saya membukanya dengan harapan menemukan sesuatu yang dapat dimakan. Bayangkan betapa saya kecewa ketika melihat bahwa semua yang ada di dalamnya adalah mutiara!
(Sumber: Doa Sang Katak, Anthony de Mello, SJ)

Salah kira

Menurut surat kabar gelombang panas menyebabkan banyak orang pingsan. Maka seorang wanita muda tidak heran ketika melihat seorang pria setengah umur yang duduk di sampingnya di gereja melorot ke lantai. Segera ia berlutut di sampingnya, memegang kepalanya kuat-kuat dan mendorongnya turun sampai berada di antara dua lututnya. "Tahan kepalamu terus ke bawah," bisiknya mendesak. "Engkau akan merasa lebih baik kalau darah dapat mengalir ke kepalamu."

Istri pria itu memandangnya sambil tertawa tergelak-gelak dan tidak melakukan sesuatu untuk membantu suaminya atau wanita muda itu. Wanita muda itu berpikir, pastilah istri orang itu yang tidak punya hati.
Lalu wanita muda itu terkejut karena pria tua itu dapat melepaskan diri dari pegangan tangannya dan mendesis, "Kau buat apa, tolol? Saya mau mengambil topi saya yang jatuh ke bawah bangku!"
(Sumber: Doa Sang Katak, Antony de Mello, SJ).


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes