Tampilkan postingan dengan label Unik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Unik. Tampilkan semua postingan

Opa Shochi Akhirnya Pulang

Saburo Sochi  (tengah)
KAKEK berusia 106 tahun asal Jepang menjadi orang tertua di dunia yang melakukan perjalanan keliling dunia menggunakan transportasi umum. Saburo Shochi, demikian nama sang kakek.

Rekornya tersebut telah tercatat oleh Guinness World Records. Seperti dikutip dari harian Mainichi, Jumat (17/8/2012), Saburo melakukan perjalanan melintasi Amerika bagian utara, Eropa, dan Afrika.

Para pendukungnya menyambut kepulangan Saburo di Bandara Fukuoka, sebelah barat daya Jepang. Saburo dengan senyum lebar mengatakan, "Aku akan hidup lebih lama lagi."

Saburo adalah seorang pensiunan profesor di sebuah universitas di Fukuoka. Ia memulai perjalanan keliling dunia di usia 99 sambil memberikan ceramah mengenai pendidikan anak-anak dan kesehatan di negara-negara yang ia singgahi.

Sang kakek baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-106 tahun.

"Selama hidup saya, saya tak pernah berkata 'Saya lelah'," ungkap Saburo saat perayaan ulang tahunnya yang ke-106 tahun pada Kamis (16/8/2012). (*)

Sumber: Kompas.Com

Kumis

Ram Singh Chuachan
"Ciuman dari seorang pria yang tidak berkumis, seperti minuman sampanye tanpa gelembung-gelembung kecil."  (Ram Singh Chuachan, pria berkumis terpanjang di dunia versi Guinness Book of World Records)

KUMIS hari-hari ini menjadi trending topics. Setidaknya di Jakarta, di ibu kota negara Indonesia yang sedang berasyik-masyuk dengan pesta demokrasi bernama pemiluka. Dua pria berbeda profil dan gaya memasuki putaran kedua. Yang satu berkumis, yang lainnya klimis. Hahaha....

Laga final pemilukada DKI Jakarta mempertemukan juara bertahan Si kumis Fauzi Bowo alias Foke melawan Joko Widodo alias Jokowi asal Solo yang necis tak berkumis dan jambang. Dan, Foke kemudian identik dengan kumis.

Tom Selleck
Ini soal eksistensial. Perkara siapa yang akan menang dalam pesta tersebut tentu tidak ada hubungannya dengan berkumis atau tidak berkumis. Coretan isengku akhir pekan ini terinspirasi dari kata-kata Ram Singh Chuachan, pria India yang untuk sementara memegang rekor baru sebagai pria berkumis terpanjang di dunia.

Memiliki kumis terpanjang di dunia merupakan kebanggaan tersendiri bagi Ram Singh Chuachan. Seperti dilansir BBC, Sabtu 19 Mei 2012, kumis pria asal India ini sepanjang 4,29 meter dan memecahkan Guinness Book of World Records.

Menurut catatan BBC, sebenarnya  Chuachan telah menarik perhatian dunia jauh sebelum namanya masuk buku rekor dunia. Kumis lebarnya pernah muncul di film ternama James Bond, Octopussy tahun 1983 silam. Ia juga menjadi tampil di beberapa film Bollywood.

Charlie Chaplin
Bagi Anda  yang ingin memanjangkan kumis seperti dirinya, Chuachan  berbagi tips gratis. Chuachan menyarankan agar memanjang kumis saat masih berusia muda. Pasalnya ketika sudah berusia lanjut, produksi hormon menurun sehingga tdiak bisa memicu pertumbuhan kumis dengan maksimal. Ia juga sering menggunakan minyak kelapa untuk merawat kumisnya.

"Saya selalu  meminyakinya secara teratur dan mencucinya setiap 10 hari sekali," ujar Chuachan.

Albert Einstein
Lalu ada tokoh kunci yang mendukung impian Chuachan yaitu istrinya. Sang istri  selalu membantunya merawat kumis tersebut, dan tidak pernah memprotes keputusannya untuk memanjangkannya.

"Saya selalu mengatakan padanya, ciuman dari seorang pria yang tidak berkumis, seperti minuman sampanye tanpa gelembung-gelembung kecil," kelakar Chuachan kepada istrinya.
Hulk Hogan

                    ***

BICARA
tren yang menyangkut penampilan fisik, wanita mungkin hanya peduli pada gaya rambut. Namun bagi pria, rambut di wajah pun sangat berpengaruh. Berikut ini tujuh gaya kumis paling ikonik sepanjang masa. Ada yang jadi trendsetter bagi pria-pria lainnya, ada juga yang begitu unik sampai jadi ciri khas.

Tom Selleck
Jangan heran jika kamu melihat foto-foto pria di era 80-an dan menemukan banyak kumis seperti ini. Tom Selleck lah penyebabnya. Kumis lebat namun di-trim dengan rapi ini jadi trendsetter di seluruh dunia seiring dengan popularitas aktor Hollywood ini, terutama saat ia membintangi tokoh detektif di serial ternama "Magnum P.I."

Charlie Chaplin
Apa yang paling khas dari Charlie Chaplin? Selain tongkatnya, orang pasti akan menyebut kumisnya, yang dibiarkan tumbuh lebat namun dicukur di bagian pinggir dan disisakan hanya di bawah hidung. Namun gaya kumis ini tak sempat jadi tren bagi pria-pria lainnya karena kumis ini identik dengan Adolf Hitler.

Salvador Dali
Hulk Hogan
Kumis gaya ini sempat diberi nama "The Wrestler Moustache" alias Kumis Pegulat karena dipopulerkan oleh atlet gulat ternama, Hulk Hogan. Jika dirunut ke masa lalu, kumis gaya inilah yang kabarnya dipakai oleh Genghis Khan (tentu saja warnanya hitam, bukan pirang). Karena itulah kumis ini identik dengan tipe pria garang, bengis, dan macho.

Albert Einstein
Mungkin karena terlalu sibuk berpikir, Albert Einstein tak terlalu peduli dengan penampilannya. Rambutnya dibiarkan tumbuh gondrong awut-awutan, begitu pun kumisnya yang dibiarkan berantakan.

Salvador Dali
Sesuai dengan kepribadiannya yang nyentrik, pelukis Salvador Dali juga punya kumis yang nyentrik. Panjang, diberi gel, dan dilekukkan ke atas.

Mr. Pringles
Produk keripik kentang ini mulai dijual di Amerika Serikat tahun 1968 dan diedarkan ke seluruh dunia tahun 1970. Logonya begitu ikonik hingga orang bisa menebak hanya dari kumisnya. Apakah Anda mengenal pria yang berkumis seperti Mr. Pringles? (dari berbagai sumber)

FN:Buat komunitas kumis di mana saja berada.

Keajaiban Dalam Tsunami Jepang

Pinus Ajaib pada 7 Maret 2012 (asahi shimbun)
SELALU ada kisah ajaib maupun mistis dalam setiap bencana besar yang terjadi. Pada peringatan setahun gempa bumi 9,0 SR dan tsunami Jepang, Minggu (11/3/2012), warga Jepang berbondong-bondong datang, melihat, dan berdoa di depan pohon ajaib, yang merupakan simbol rekonstruksi di Prefektur Iwate, Jepang.

Dikatakan ajaib, karena pohon pinus itu adalah satu-satunya pohon di pantai Rikuzentakata yang tetap selamat dari amukan gempa dan tsunami dahsyat setahun lalu.

Tak hanya masyarakat di sekitar tempat lokasi yang datang, warga yang berasal dari prefektur lainnya pun hadir di situ dan berdoa bersama, seperti dilaporkan NHK.

Pohon pinus ajaib itu sebenarnya sudah diketahui keberadaannya oleh kelompok konservasi, pada akhir 2011. Mereka menemukan pohon-pohon yang mati akibat akar yang membusuk, hal biasa saat bencana alam terjadi.

Namun, ada sebuah keajaiban terjadi. Batang pohon pinus yang diperkirakan berusia sekitar 270 tahun tersebut, tak satu pun akar pohonnya membusuk.

Pohon pinus ini merupakan satu-satunya yang dapat bertahan pascabencana, di kala sekitar 70 ribu pohon pinus di pesisir pantai yang indah itu telah disapu bersih tsunami.

Setahun lalu, gempa bumi dan tsunami melanda pantai timur laut Jepang, dan menewaskan hampir 16 ribu nyawa. Sekitar 3.300 orang hingga kini juga belum ditemukan. (*)

Sumber: Tribunnews.Com

Caroline Sempat 41 Tahun Menjadi Lelaki

Caroline Kinsey
KEBINGUNGAN dan kegelisahan sempat dialami oleh Caroline Kinsey (42) selama berpuluh-puluh tahun. Betapa tidak, terlahir dalam kondisi memiliki kelamin ganda membuat perempuan asal Inggris ini mengalami banyak hal yang membuatnya tidak nyaman.

Caroline, yang sejak lahir memiliki organ seks ganda, sempat hidup selama 40 tahun dengan menyandang status sebagai seorang lelaki. Padahal, status sebagai lelaki membuat ia tak merasa bahagia. Ini terjadi akibat kedua orangtuanya tidak pernah berterus terang soal kelainan seksual tersebut hingga Caroline mengetahuinya pada usia remaja.

Pada saat balita, Caroline sempat menjalani operasi di bagian tertentu dan kemudian tumbuh berkembang menjadi seorang remaja laki-laki bernama Carl John Baker. Tetapi, karena sering diolok-olok teman sekolah karena penampilannya yang kemayu dan mirip perempuan, orangtua Caroline akhirnya membeberkan kondisi yang sebenarnya. Di usia 19 tahun, Caroline baru diberitahu kalau ia lahir dengan kondisi kelamin ganda.

Walau sudah mengetahui kelainan pada dirinya, Caroline sempat bertahan dengan status lelakinya. Ia pun sempat menikah dengan seorang perempuan tulen. Ia bekerja di sebuah restoran dan pub sebagai pembantu di bagian dapur. Sayangnya, pernikahannya dengan seorang perempuan tak bertahan lama. Ia pun merana karena kerap mengalami depresi.

Dua tahun lalu, Caroline akhirnya membulatkan tekadnya. Ia mulai membiasakan diri berbusana perempuan, dan memutuskan untuk menyandang status sebagai perempuan secara permanen.

Dalam pengakuannya, Caroline menyatakan bahwa orangtuanya sempat tutup mulut perihal kelamin ganda karena rekomendasi dari dokter. Selain itu, ayah dan ibunya juga tak tahu banyak mengenai kelainan tersebut.

"Dari kecil, saya selalu sadar kalau saya berbeda dan saya tak pernah menyerah untuk bertanya. Dokter menyarankan ibu agar membatalkan hak kelahiran saya yang pertama, yakni kesempatan jadi seorang perempuan, dan lebih memilih hak kedua, yakni menjadi lelaki. Dokter mengatakan, lebih mudah untuk menyembunyikan organ genital perempuan ketimbang lelaki. Orangtua saya juga diingatkan untuk menyimpan rahasia tentang saya selama mungkin," paparnya.

Caroline lahir di Rumah Sakit Bull Hill Darwen Lancashire pada 1968. Ia adalah anak dari pasangan Monica dan Rudolph Baker. Sesaat setelah lahir, kebahagiaan kedua orangtua Caroline terusik ketika perawat memberikan kabar bahwa sang bayi perempuan ini memiliki kelainan, yakni memiliki organ genital lelaki.

Interseks

Dalam kacamata medis, apa yang dialami Caroline dapat disebut dengan interseks. Istilah interseks adalah sebutan lain dari 'hermafrodit'. Dalam ensiklopedia Medline Plus dijelaskan bahwa interseks adalah sekelompok kondisi atau keadaan yang menunjukkan perbedaan antara organ genital eksternal dan organ genital internal (testis dan ovarium). Kondisi ini bisa juga disebut sebagai gangguan perkembangan seks, DSDs, dan psedohermaphroditism.

Jenis kelainan interseks ini setidaknya ada beberapa macam. Tetapi, jenis kelainan yang merujuk pada kasus Caroline tampaknya adalah "sindrom 46, XX intersex'. Sindrom ini terjadi pada seseorang yang memiliki dua kromosom X, di mana salah satunya mengandung unsur material genetik kromosom Y yang signifikan.

Mereka yang mengalami sindrom ini akan tampak seperti seorang lelaki, tetapi faktanya secara genetik mereka adalah perempuan. Mereka ini memiliki kromosom perempuan serta ovarium, tapi alat kelamin eksternal yang muncul adalah laki-laki. Organ genital laki-laki pada penderita kelainan ini sering kali tidak berkembang secara normal. Penderita sindrom ini juga payudaranya tumbuh seperti wanita dan memiliki suara yang tinggi seperti perempuan.

Beberapa jenis interseks lainnya yang dikenal adalah 46 XY Intersex, True Gonadal Intersex, Complex atau Undetermined Intersex.

Berjuang jadi perempuan

Diakui Caroline, keputusan untuk menyandang status sebagai perempuan bukanlah hal yang mudah baginya. Maklum, ia sudah selama 40 tahun membiasakan diri sebagai lelaki.

"Saya tumbuh sebagai anak lelaki, di mana saya tidak seharusnya demikian karena ada rahasia yang tak saya ketahui. Saya merasa tidak nyaman dalam busana laki-laki. Oleh sebab itu, setelah 41 tahun saya memutuskan untuk menerima tantangan berbusana perempuan. Baju pertama yang saya pakai berwarna pink saat saya pergi melamar kerja. Orang mulai melirik dan mengatakan, 'Sungguh Anda idiot'. Tetapi, sejak saat itu saya mulai mengenakan baju perempuan karena saya sadar saya seorang perempuan. Saya merasa lebih bahagia sekarang. Saya lebih sehat dan tak ingin lagi melihat ke belakang dan mengingatnya," tuturnya.

Caroline juga berencana menjalani pembedahan untuk menghilangkan organ genital laki-laki yang masih menempel pada tubuhnya. Dengan begitu, ia dapat secara resmi menyandang status sebagai perempuan tulen. (dailymail.co.uk)

Sumber: Kompas.Com | Selasa, 28 Februari 2012 | 14:21 WIB

Hidupkan Lagi Bunga 30 Ribu Tahun Silam

KELOMPOK ilmuwan asal Rusia telah menumbuhkan kembali tanaman yang berasal dari 30 ribu tahun silam yang ditemukan di wilayah beku Timur Jauh Rusia.

Kegiatan itu belum pernah dilakukan peneliti sebelumnya sehingga menandakan kemajuan pengungkapan rahasia kehidupan purba di bumi, lapor RIA Novosti.

Tumbuhan bernama "Silene Stenophylla" menjadi tanaman tertua yang diregenerasi dan tumbuh subur dengan menghasilkan bunga berwarna putih serta bibit yang terus diproduksi, kata sejumlah ilmuwan dalam artikel yang disiarkan pada Selasa (21/2/2012), dalam majalah dwimingguan Proceedings of The National Academy of Sciences.

"Kami menilai pentingnya melakukan penelitian di kawasan beku dalam pencarian kelompok genetika purba -- yang berasal dari sebelum adanya kehidupan saat ini -- dan secara hipotesa telah punah sejak lama dari permukaan bumi," jelas artikel tersebut.

Percobaan itu -- dilakukan di kota Pushchino wilayah Moskow -- membuktikan bahwa wilayah beku berlaku sebagai tempat penyimpanan bentuk kehidupan purba alami, kata ilmuwan.

Bibit tersebut ditemukan di bawah permukaan bumi yang beku sedalam 38 meter di tepi sungai Kolyma di kawasan Magadan, Timur Jauh Rusia.

Bibit tumbuhan purba yang berumur antara 25 ribu hingga 40 ribu tahun yang lalu sebelumnya telah ditemukan di wilayah terutama di sarang hewan pengerat namun para ilmuwan tidak dapat menumbuhkan kembali tumbuhan tersebut.

Bibit menempel erat dengan batuan dan kebanyakan terisi es di dalam ruangan yang membeku secara alami sehingga membuat air tidak dapat menembus dimana hal itu membantu mengawetkan bibit.

Bentuk dan warna tanaman purba memiliki kesamaan dengan kerabat bunga yang sama pada saat ini meskipun ada sedikit perbedaan antara bentuk kelopak bunga dengan jenis kelamin bunga dan hingga saat ini belum diketahui penyebabnya. (Sumber: Republika)

Berharap Sasando Jadi Warisan Dunia

Sasando
ALAT musik sasando dari Nusa Tenggara Timur dan noken dari Papua telah didaftarkan ke UNESCO sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia.

"Kedua alat tersebut sudah didaftarkan ke UNESCO. Bahkan kami khawatirkan akan hilang, bukan karena diklaim negara lain. Tetapi lebih karena mereka (orang-orang) yang menggeluti musik sasando dan noken semakin habis," kata Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Budi Priyadi, di Denpasar Rabu (9/11/2011).

Dengan pengakuan dari UNESCO nantinya akan ada kewajiban bagi Indonesia untuk terus melestarikan dua warisan kebudayaan itu. Budi mengharapkan alat musik sasando yang biasanya memiliki 23 senar, dapat dimodifikasi menjadi 40 senar.


"Kita harapkan ini bisa disetujui oleh UNESCO. Sebab, bukan hanya Indonesia yang mendaftarkan warisan kebudayaannya ke UNESCO," kata Budi Priyadi.

Ia mengakui, sudah ada beberapa warisan budaya Bali yang diakui UNESCO. Hanya saja, jika dibandingkan dengan negara lain, warisan kebudayaan Indonesia yang diakui telah didaftarkan UNESCO masih terbilang minim. 

"Kekayaan Indonesia sedikit sekali yang diakui UNESCO, lebih banyak Jepang dan Korea. Padahal kebudayaan kita lebih banyak dari Jepang dan Korea," ucapnya.

Dikatakannya, pengumuman Sasando dan Noken akan diumumkan tahun 2013, karena baru didaftarkan tahun 2011. Sedangkan yang diumumkan tahun 2011 adalah Tari Saman (Aceh), yang telah didaftarkan tahun lalu.

Selain itu, kata dia, seluruh tari-tarian tradisional Bali sudah didaftarkan di UNESCO. Begitu juga Taman Mini Indonesia Indah (TMII) juga telah didaftarkan. "Kita sudah lakukan penelitian, sudah verifikasi dan sudah didaftarkan di UNESCO. Tahun 2013 juga akan diumumkan," katanya. (ANTARA)

Kembar Indonesia Bertemu Setelah Pisah 30 Tahun

Emilie Falk dan Lin Backman
Membayangkan anda memiliki saudara kembar yang hilang lalu berjumpa lagi biasanya ada dalam kisah dongeng, tetapi tidak untuk dua wanita Indonesia yang kini menetap di Swedia.

Kisah kedua perempuan kembar Indonesia yang diadopsi secara terpisah oleh pasangan Swedia hampir 29 tahun lalu, dan sekarang menemukan satu sama lain setelah hidup hanya 25 mil terpisah di selatan Swedia dimuat harian Inggris The Telegraph, Rabu (1/2/2012).

Kisah bertemunya kedua wanita kembar Indonesia itu, Emilie Falk dan Lin Backman disampaikan kantor berita AFP. Menurut hasil tes DNA yang dilakukan dua bulan setelah penyatuan pada Januari tahun lalu, dinyatakan 99,98 persen mereka bersaudara.

Disebutkan keduanya diadopsi dari sebuah panti asuhan di Semarang, Jawa Tengah oleh pasangan Swedia, namun tidak disebutkan dalam salah satu dari dokumen mereka bahwa mereka punya saudara kembar.

Tapi komentar dari sopir taksi yang dibuat untuk orang tua Backman tentang `kakaknya` mendorong mereka untuk membuat catatan dari nama bahasa Indonesia anak-anak.

Kembali di Swedia, Backmans ditemukan dan melakukan kontak dengan Falks, dan meskipun mereka bertemu beberapa kali ketika masih anak-anak.

Fakta bahwa mereka adalah non-identik, dan perbedaan banyak di surat adopsi seperti nama ayah yang berbeda, membuat mereka percaya bahwa mereka tidak mempunyai hubungan. Pada saat itu tidak ada tes DNA dan akhirnya keluarga kehilangan kontak.

Namun ketika Emilie Falk menikah dua tahun lalu dia mulai berpikir tentang keluarganya dan adopsi. "Ketika saya bertanya kepada ibuku dia menceritakan kisah ini lagi, dan saya memutuskan untuk mencari Lin," kata Falk.

Dengan nama kecil gadis yang diadopsi melalui jaringan untuk anak-anak Indonesia yang diadopsi oleh keluarga Swedia, ia akhirnya menemukan Backman melalui Facebook.

Dia mengirimkan pesan dan termasuk hari ulang tahunnya dan nama ibu kandung. Backman menulis kembali mengatakan: "Wow, itu nama ibu saya juga dan itulah hari ulang tahunku."


"Saya lahir pada tanggal 18 Maret 1983 di Semarang dan nama ibu kandung saya adalah Maryati Rajiman," kata Falk dia menulis, dan cepat menerima jawaban: "Wow, itu nama ibu saya dan itulah hari ulang tahunku!" Mereka menemukan bahwa mereka memiliki banyak kesamaan.

Dari hasil tes DNA mengukuhkan bahwa ada kemungkinan 99,98 persen keduanya bersaudara.

Seperti yang sering diceritakan dalam kisah-kisah kembar yang telah terpisah, si kembar menemukan banyak kebetulan dalam hidup mereka.

Mereka tinggal hanya 40 kilometer terpisah di bagian paling selatan Swedia, mereka berdua guru, mereka menikah pada hari yang sama hanya satu tahun terpisah dan bahkan berdansa dengan lagu pernikahan yang sama: "You and Me" oleh Lifehouse.

"Ini benar-benar aneh," kata Falk.

"Ketika Lin menelepon saya (dengan hasil tes DNA), saya ingat saya sedang duduk di mobil dan ketika dia mengatakan bahwa saya mulai tertawa, karena merasa sangat aneh," katanya, menambahkan: "Saya tiba-tiba mulai berpikir bahwa kita berbagi rahim. Itu benar-benar aneh, tapi benar-benar keren juga."


Sejak itu kedua telah terus berhubungan dekat, dan telah berbicara tentang pergi ke Indonesia untuk mencari orang tua biologis mereka.

Ada sejumlah rincian, kontradiktif beberapa, di koran adopsi, termasuk referensi untuk ayah mereka sebagai sopir taksi.

"Kami sangat ingin tahu apakah dia adalah sopir taksi," kata Falk.

Ditanya apakah ia berharap menemukan tentang kembarnya sebelumnya, Falk menegaskan "tidak ada gunanya menjadi sedih tentang sesuatu dan saya hanya senang telah menemukan dia."


Kedua perempuan sekarang tetap berhubungan dekat dan sedang mempertimbangkan perjalanan kembali ke Indonesia untuk mencari orang tua biologis mereka. (Sumber: ANTARA)

Wanita Terpendek di Dunia

Seorang gadis bernama Jyoti Amge asal Nagpur, negara bagian Maharastha, India tengah, berhasil memecahkan rekor sebagai wanita terpendek.

Gadis yang tepat berusia 18 tahun pada 16 Desember 2011 ini, resmi dinyatakan sebagai wanita dunia terkecil oleh Guinness Book of Records, dengan tinggi 62,8 cm.

Pembatasan ketinggiannya adalah karena anomali pertumbuhan yang disebut achondroplasia.

Dari foto dapat dilihat sebera besar Jyoti Amge, yang lahir 16 Desember 1993. wanita terpendek di dunia itu, memperlihatkan tanggannya yang dihiasi henna di kediamannya di Nagpur, India.

Dalam perayanan ulang tahunya, Jyoti Amge terlihat senang. Dia memakai topi pesta berwana hijau. Lihat fotonya di sini.

Jyoti Amge juga terekam saat menawarkan sepotong kue ulang tahun kepada Rob Molloy dari The Guinness World Record di Nagpur. Saat diukur dengan meteran, Jyoti masih terlihat senang.• VIVAnews

Belajar Mencintai dari Cicak

KETIKA sedang merenovasi sebuah rumah, seseorang mencoba merontokan tembok. Rumah di Jepang biasanya memiliki ruang kosong diantara tembok yang terbuat dari kayu. Ketika tembok mulai rontok, dia menemukan seekor cicak terperangkap diantara ruang kosong itu karena kakinya melekat pada sebuah surat.

Dia merasa kasihan sekaligus penasaran. Lalu ketika dia mengecek surat itu, ternyata surat tersebut telah ada disitu 10 tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibangun.

Apa yang terjadi? Bagaimana cicak itu dapat bertahan dengan kondisi terperangkap selama 10 tahun??? Dalam keadaan gelap selama 10 tahun, tanpa bergerak sedikitpun, itu adalah sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal.

Orang itu lalu berpikir, bagaimana cicak itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada surat itu!

Orang itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan cicak itu, apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan. Kemudian, tidak tahu darimana datangnya, seekor cicak lain muncul dengan makanan di mulutnya….AHHHH!

Orang itu merasa terharu melihat hal itu. Ternyata ada seekor cicak lain yang selalu memperhatikan cicak yang terperangkap itu selama 10 tahun. Sungguh ini sebuah cinta…cinta yang indah. Cinta dapat terjadi bahkan pada hewan yang kecil seperti dua ekor cicak itu. apa yang dapat dilakukan oleh cinta? tentu saja sebuah keajaiban.

Bayangkan, cicak itu tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti memperhatikan pasangannya selama 10 tahun. bayangkan bagaimana hewan yang kecil itu dapat memiliki karunia yang begitu menganggumkan.

Saya tersentuh ketika mendengar cerita ini. Lalu saya mulai berpikir tentang hubungan yang terjalin antara keluarga, teman, kekasih, saudara lelaki, saudara perempuan…..

Seiring dengan berkembangnya teknologi, akses kita untuk mendapatkan informasi berkembang sangat cepat. Tapi tak peduli sejauh apa jarak diantara kita, berusahalah semampumu untuk tetap dekat dengan orang-orang yang kita kasihi. JANGAN PERNAH MENGABAIKAN ORANG YANG ANDA KASIHI!!! -Kisah ini berasal dari Jepang.

Lihat Sumber

Ketika Penumpang Telanjang Bulat

ilusrasi
POS KUPANG.COM, MADRID - Peristiwa ini terjadi di sebuah pesawat dalam penerbangan dari Madrid menuju Frankfurt. Seorang pria, penumpang pesawat Iberia, tiba-tiba melucuti pakaian hingga tak ada yang menutupi bagian tubuhnya. Kejadian ini akhirnya memaksa pilot mengalihkan pesawat sehingga pria itu dapat diturunkan.

"Seorang penumpang berkebangsaan Jerman melucuti semua pakaiannya di dalam pesawat pada Kamis malam," kata wanita juru bicara perusahaan penerbangan Iberia, sepert dikutip AFP, yang dipantau ANTARA di Jakarta, Jumat (10/6/2011).

Juru bicara itu mengatakan, staf yang bertugas di pesawat berusaha membujuk pria tersebut. "Tapi ia malah jadi agresif dan akhirnya mengunci diri di dalam toilet. Pilot memutuskan untuk membelokkan pesawat dan mendarat di Madrid," ujarnya.

Sesaat setelah mendarat, pihak kepolisian naik ke dalam pesawat dan membawa pria itu pergi. Ia mengatakan perusahaan penerbangan tak mengetahui alasan pria yang tak disebutkan identitasnya itu, hingga melucuti pakaiannya. Di bandara, petugas polisi langsung mengamankannya. Sementara itu, pilot pesawat Iberia mengajukan keluhan dan mengatakan bahwa penumpang tersebut tak mematuhi instruksi awak kabin untuk duduk selama penerbangan, tetapi malah berteriak-teriak. Namun, keluhan sang pilot tak menyebutkan bahwa pria itu melepas seluruh pakaiannya. Berdasarkan keterangan pihak kepolisian setempat, tak ada indikasi pria itu dalam keadaan mabuk. Tak ada keterangan mengenai tingkah lakunya sebelum melakukan aksi buka baju.

Lota Ende Terasing di Negeri Sendiri

Aksara Lota di tenunan
Tak banyak yang mengetahui bahwa di kawasan Nusa Tenggara Timur, khususnya Kabupaten Ende, Pulau Flores, terdapat aksara asli yang disebut Lota. Aksara ini nyaris punah.

Tim Kompas bersama peneliti aksara Lota, Maria Matildis Banda, mengunjungi sejumlah tempat di Kecamatan Ende, Ende Selatan, Ende Utara, dan Nangapanda, yaitu permukiman etnik Ende yang beragama Islam, pengguna terbesar aksara Lota pada masa lalu.

Tima (84), warga Kampung Woloare, Kota Ende, menuturkan, ia mengenal aksara Lota sejak kelas I sekolah rakyat. Karena sudah lama tidak menggunakan, Tima mengerutkan kening dan berusaha mengingat ketika diminta membaca atau menulis aksara itu.

"Saya sudah banyak lupa," katanya setelah berhasil menulis beberapa kosakata huruf Lota.


Surat beraksara Lota dulu ditulis menggunakan ujung pisau pada wunu koli (daun lontar). Hal senada diutarakan Murukana (80), nelayan Ndao.
Aksara Lota mulai kehilangan penggunanya tahun 1990-an. Generasi muda lebih suka belajar huruf Arab untuk membaca Al Quran dan huruf Latin sebagai media komunikasi. Hal ini menyedihkan mengingat aksara Lota adalah aset budaya Ende yang turut menyumbang kebinekaan Indonesia.

Mungkin hanya Mustafa Saleh Nggae (52), warga Kampung Pu’u Mbara, Kecamatan Ende Utara, yang masih mahir membaca dan menulis aksara Lota. Ia langsung membaca dengan cara bersenandung (wo’i) ketika disodori naskah prosa berjudul Ratu Jie Ne’e Ratu Re’e, yang ditulis dengan bahasa Lio Ende.
Wo’i merupakan tradisi di etnik Ende, semacam syair dalam aksara Lota yang dibacakan pada acara sunatan, pesta pernikahan, dan pembangunan rumah. Wo’i berisi silsilah keluarga, sambutan bagi kedatangan kerabat, dan doa-doa agar hajatan berjalan baik.

"Tapi, dalam tiga tahun terakhir ini jarang orang meminta wo’i," kata Mustafa, yang belajar aksara Lota dari kakeknya, Abdul Fatah (almarhum).
Aksara Lota merupakan turunan langsung dari aksara Bugis. Sejarah mencatat, aksara Lota masuk Ende sekitar abad ke-16 semasa pemerintahan Raja Goa XIV I Mangngarangi Daeng Manrabia bergelar Sultan Alaudin (1593-1639). Ia dibawa orang Bugis yang migrasi ke Ende. Aksara Bugis beradaptasi dan berkembang sesuai dengan sistem bahasa Ende menjadi aksara Lota.
Lota berasal dari kata lontar. Mulanya aksara Ende ditulis pada daun lontar. Dalam perkembangannya ditulis di kertas.

Ada delapan aksara Lota Ende yang tidak ada dalam aksara Bugis, yaitu bha, dha, fa, gha, mba, nda, ngga, dan rha. Sebaliknya ada enam aksara Bugis yang tidak ada dalam aksara Lota Ende, yaitu ca, ngka, mpa, nra, nyca, dan nya.

Aksara Lota Ende sudah diteliti sejumlah pakar linguistik dan filologi, antara lain S Ross yang hasilnya dibukukan oleh Suchtelen tahun 1921 dalam Encyclopaedisch Bureau Endeh Flores. Peneliti lain adalah Jan Djou Gadi Ga’a tahun 1959, 1978, 1984, serta Maria Matildis Banda meneliti tahun 1993 dengan dukungan dana dari Ford Foundation. Hasilnya dibukukan tahun 2005 dengan judul Deskripsi Naskah dan Sejarah Perkembangan Aksara Ende Flores Nusa Tenggara Timur.

Menurut Maria, aksara Lota sebenarnya gampang untuk dipelajari, tetapi seperti dibiarkan mati. Perhatian pemerintah daerah juga kurang. ”Padahal, salah satu tanda tingginya peninggalan budaya suatu bangsa adalah budaya tulisnya,” kata Maria, dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana, Bali.

Prof Stephanus Djawanai, Guru Besar Bidang Linguistik dari Universitas Gadjah Mada, di Ende menyatakan, aksara Ende termasuk jenis silabik (syllabic writing, syllabibography, syllable writing), yang menggambarkan suku-suku kata, mirip dengan Hiragana Jepang. Jadi, bukan alfabet seperti huruf Latin.

”Tradisi penulisan aksara Lota bisa dikembangkan lewat jalur pendidikan. Strateginya, menjadikan aksara Lota sebagai salah satu pelajaran muatan lokal,” kata Stephanus. Saran itu patut menjadi perhatian. Jika proses regenerasi terputus, bisa jadi generasi masa depan NTT tinggal mengenang aksara Lota sebagai sejarah.(SEM/RUL)

Sumber: Kompas

RITUAL KEBHU: Memanen Ikan Menjaga Harmoni

Kebhu di Kota Komba
Oleh Frans Sarong

Ritual kebhu adalah ritual memanen ikan dan biota lain dalam kolam muara buntu yang dilakukan secara massal untuk memupuk kebersamaan. Ritual ini salah satunya dilakukan suku Lowa di lingkungan etnis Rongga di Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Pulau Flores.

Penangkapan berlangsung di sebuah limbu (kolam) bernama Tiwu Lea. Kolam itu merupakan muara Sungai Waerawa di Nangarawa, Desa Bamo, yang berlokasi sekitar 18 km arah selatan Kisol atau 27 km dari Borong, ibu kota Kabupaten Manggarai Timur.

Sebulan sebelum hari-H, tetua suku Lowa—kini dijabat Donatus Jimung (30)—mengirim utusan ke sejumlah kampung dan desa. Dia mengundang warga kampung lain untuk ikut memanen ikan atau lazim disebut kremo di Tiwu Lea.
Menangkap ikan di Tiwu Lea hanya boleh dilakukan dengan tangan kosong. Peserta dilarang menggunakan pukat (jaring) ataupun alat tangkap dari besi, seperti tombak atau trisula.


Kalaupun ada alat tangkap hanya berupa ndai, sejenis jaring dorong dengan dua tongkat kayu di dua sisi. Ikan yang berhasil mereka tangkap langsung dimasukkan ke dalam mbere, wadah penampung dari anyaman daun lontar, pandan, atau gewang (sebangsa palem).

Pantangan lain, peserta dilarang emosional, apalagi bersikap menghasut saat kremo. Yang paling diharamkan adalah meneriakkan nada-nada provokasi, seperti hia-hia-hia, yang bisa membuat orang terprovokasi dan saling berebut menangkap ikan. Warga juga dilarang menggigit hasil tangkapannya sebelum dimasukkan ke dalam mbere.

Begitu pantangan dilanggar, tetua pemilik kebhu langsung menebarkan jala pusaka bernama ramba ke dalam kolam sebelum waktunya. Kegiatan kremo pun segera dihentikan. Warga yang mencoba melanjutkan kegiatan dalam kolam akan sia-sia karena ikan dan biota lain akan langsung menghilang.
Rangkaian ritual

Kegiatan kremo diawali dengan serangkaian ritual adat, yang disebut eko ramba, tunu manu, dan nazho. Ritual eko ramba wujudnya berupa penggendongan ramba (jala pusaka) dari ulunua (hulu kampung) di Muting menuju eko nua (hilir kampung) di Nangarawa, dekat tepi kolam Tiwu Lea. Prosesi eko ramba disertai kelong (nyanyian mistis).

”Oru lau mbawu oru lau, renggo ika rele lia...,” begitu syair kelong. Mereka memohon kepada leluhur agar menghalau mbawu, ikan belanak yang mendominasi kolam muara, belut, dan berbagai biota lain supaya keluar dari lia (sarang) menuju kolam Tiwu Lea.

Penggendongan ramba hanya dilakukan oleh wanita dewasa yang masih berstatus anggota suku Lowa yang belum menikah. Boleh juga wanita yang sudah menikah, tetapi dipastikan kawin masuk (menjadi anggota suku).

Prosesi eko ramba berlangsung sejauh lebih-kurang 1,5 km, berujung di kaki nangge (pohon asam) di Nangarawa. Kaki pohon asam itu konon pernah mati, tetapi hidup kembali.

Prosesi dilanjutkan dengan ritual tunu manu, yaitu pemotongan ayam kurban. Sebagian darah ayam dioleskan ke permukaan batu sesajen dan sebagian lain dioleskan pada ramba.

Jala pusaka selanjutnya diserahkan kepada tetua yang akan memimpin kremo. Kegiatan dimulai setelah sang tetua menebarkan ramba ke kolam. Penebaran didahului lima kali ancang-ancang (nazho). Tetua juga menebarkan jawa pena (jagung titi) ke kolam.

Dari kegiatan itu, tetua langsung memberi tanda-tanda yang mengisyaratkan apakah kremo akan mendapatkan hasil tangkapan memuaskan atau mengecewakan.
”Kalau ikan-ikan langsung datang menyerbu, itu pertanda baik. Pertanda kurang memuaskan kalau tidak banyak ikan yang datang menyambut ramba atau jawa pena,” kata Nikolaus Gelang, tetua etnis Rongga asal Desa Watu Nggene, tetangga Bamo.

Ramba tidak dimanfaatkan untuk menangkap ikan. Setelah ditebar untuk mengawali kegiatan kremo, jala pusaka disimpan di rumah induk Suku Lowa di Muting dan dikeluarkan saat kebhu berikutnya.
Harmoni masyarakat

Tradisi kebhu dilakukan sekali dalam lima tahun. Ahli waris utama suku Lowa, Donatus Jimung, dan sejumlah tetua di Muting menyebutkan, kebhu terakhir berlangsung tahun 2007. Waktu pelaksanaannya biasanya pada bulan September atau Oktober selama sehari penuh.

Selain keputusan leluhur, ada juga fenomena alam yang mendukung tenggang waktu lima tahun itu. Berdasarkan kesaksian masyarakat sekitar, hanya sekali dalam lima tahun kolam muara Tiwu Lea mengalami kebuntuan atau tidak tersambung langsung ke laut. Berbagai biota yang terjebak dalam kolam buntu itu menjadi harta milik Suku Lowa, tetapi dipanen secara bersama oleh ribuan warga sekitarnya.

Penekun budaya etnis Rongga, Yohanes Nani, di Lekeng—salah satu anak kampung Kelurahan Tanah Rata—memaknai tradisi kebhu sebagai bukti kuat kalau etnis itu pada waktu lampau adalah masyarakat bahari.
”Dewasa ini memang amat jarang ada warga etnis Rongga yang menggantungkan hidup dari laut selain tradisi kebhu yang tetap dipertahankan,” kata pensiunan guru SD itu.

Ritual kebhu sesungguhnya mengusung pesan luhur agar manusia tidak serakah terhadap rezeki yang didapat. Pesan lain adalah mendorong kehidupan bersama secara harmonis tanpa dibatasi sekat suku atau perbedaan lain. *

Sumber: Kompas

Homo Floresiensis Harta Arkeologi

Oleh MAWAR KUSUMA WULAN dan BENNY D KOESTANTO

Temuan Homo floresiensis di Liang Bua menunjukkan peradaban Pulau Flores sudah sangat tua. Fosil itu diperkirakan setara dengan Pithecanthropus erectus yang ditemukan di Bengawan Solo.

Kedua fosil termasuk manusia purba yang memiliki ciri-ciri berbeda dengan manusia modern (Homo sapiens). Fosil Homo floresiensis yang dijuluki hobbit (manusia kerdil) telah mengguncang dunia arkeologi dan menjadi perdebatan sampai kini.

Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) meneliti sejak tahun 1970-an. Sempat terhenti karena kesulitan dana, penelitian dimulai lagi tahun 2001 bekerja sama dengan peneliti dari Australia. Tahun 2003, mereka menemukan kerangka manusia kerdil yang menghebohkan itu, yaitu kerangka perempuan setinggi 100 sentimeter (cm) yang diperkirakan terpendam lebih dari 10.000 tahun lalu. Hingga kini tim masih menggali Liang Bua. Lubang menganga dengan mudah ditemui di lantai gua.



Manusia Kerdil Flores
Hujan mengguyur deras ketika Tim Ekspedisi Jejak Peradaban NTT tiba di Liang Bua pada pertengahan Oktober lalu. Liang Bua (gua dingin) menjadi hunian ideal untuk berteduh dari derasnya hujan maupun teriknya matahari. Penjaga Liang Bua, Cornelis, menghampiri kami dan menawarkan jasa bertemu manusia kerdil dari Dusun Rampasasa, Kelurahan Waemulu, Kecamatan Waeriri.

Kehadiran lelaki kerdil Victor Dau (80) di Liang Bua menghidupkan gambaran tentang manusia kerdil Homo floresiensis. Dengan tinggi 135 cm, Victor yang tidak bisa berbahasa Indonesia ini mengaku sebagai keturunan dari manusia kerdil yang fosilnya ditemukan terkubur di Liang Bua.

Keberadaan manusia kerdil berukuran kurang dari 150 cm di Dusun Rampasasa memperuncing perdebatan di kalangan ilmuwan. Peneliti Puslit Arkenas meyakini bahwa Homo floresiensis merupakan spesies purba yang telah punah dan tidak memiliki kaitan dengan manusia kerdil dari dusun itu.

Sebaliknya, tim dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dipimpin almarhum Prof Dr Teuku Jacob dan Kepala Laboratorium Bioantropologi dan Paleoantropologi UGM Etty Indriati yang meneliti warga Rampasasa berpendapat, ada hubungan erat antara Homo floresiensis dan manusia kerdil Rampasasa. Menurut mereka, temuan kerangka di Liang Bua adalah manusia modern yang terkena penyakit sehingga tubuhnya kerdil. Mereka menduga, manusia Flores itu adalah salah satu subspesies Homo sapiens ras Austrolomelanesid.

Saat ini, menurut Etty, tim UGM belum melanjutkan penelitian karena kekurangan ahli antropologi forensik.

Sebelum tim Puslit Arkenas, seorang pastor yang mendirikan sekolah di Liang Bua, Pastor Verhoeven, menggali dan menemukan beragam bekal kubur serta kerangka manusia modern pada tahun 1965.

Miskin

Kendati Liang Bua telah tersohor ke seluruh dunia, warga masih dibekap kemiskinan.

Namun, warga Rampasasa sangat ramah. Tamu akan disambut dengan tetabuhan gendang, secangkir kopi, dan sebotol bir. Anak-anak dengan pandangan ingin tahu segera mengerumuni tamu yang berkunjung ke dusun yang belum tersentuh jaringan listrik maupun air bersih itu.

Empat orang kepala suku—Darius Skak, Petrus Ontas, Rovinus Dangkut, dan Victor Jurubu—menyambut kedatangan kami di rumah adat. Jagung kering tergantung di atap rumah berlantai tanah dengan kalender bergambar artis Ibu Kota menempel di dinding bambunya.

Mayoritas warga Rampasasa bekerja sebagai petani atau buruh proyek dengan upah Rp 30.000 per hari. Anak-anak harus berjalan kaki 3 kilometer (km) ke sekolah dasar dan 15 km ke sekolah menengah pertama terdekat. Sumber air mereka berasal dari sungai.

Ada 70 dari 250 warga dusun itu yang memiliki tinggi kurang dari 150 cm. Menurut Victor, warga mendengar kisah nenek moyang manusia kerdil yang tinggal di gua secara turun-temurun.

Karena desakan kebutuhan ekonomi, warga Rampasasa mulai meninggalkan kepercayaan lama. Larangan mengukur tubuh, misalnya, dilanggar demi mendapat uang. Warga juga bersedia diambil darah untuk uji DNA dengan imbalan Rp 150.000 per orang.

Ketua Tim Penelitian Liang Bua dari Puslit Arkenas, Wahyu Saptomo, tetap yakin bahwa Homo floresiensis adalah spesies berbeda dalam garis evolusi manusia. Manusia kerdil ini memiliki pergelangan kaki dan tangan dengan ciri di antara manusia kera dan manusia modern.

Ciri lain, tulang kening sangat menonjol, tidak memiliki dagu, dan volume otak hanya 430 cc. Ini berbeda dengan manusia modern yang volume otaknya 1.400 cc. Homo floresiensis diperkirakan hidup di zaman pleistosen (2 juta-12.000 SM).

Menurut ahli alat batu dari Arkenas, Jatmiko, Liang Bua memiliki empat lapisan kebudayaan prasejarah dari masa paleolitik (batu tua), mesolitik, neolitik, dan paleometalik (logam awal), berupa alat batu seperti kapak perimbas mulai dari yang buatannya masih kasar sampai halus, serta mata anak panah dari logam.

Saat ini, tim Arkenas meneliti temuan lain berupa peninggalan artefak batu berusia sekitar 1 juta tahun di Cekungan Sowa, Flores tengah.

Seluruh temuan arkeologi di Pulau Flores menunjukkan hadirnya peradaban yang sangat tua. Peradaban tua itu setara dengan dunia lama di Pulau Jawa. Saat ini, pewaris peradaban itu harus dibangkitkan dari keterpurukan akibat kemiskinan. *

Sumber: Kompas

Terkurung 3.096 Hari di Bawah Tanah

Natascha Kampusch, yang dikurung di gudang bawah tanah di Austria selama delapan tahun, akhirnya mengungkapkan pelecehan yang dialami selama di tangan penculiknya.

Dalam bukunya, dia menceritakan bagaimana dirinya dipukuli sampai 200 kali seminggu, dirantai ke penculiknya saat mereka tidur bersama di tempat tidur si penculik, dan dipaksa untuk mencukur rambutnya serta bekerja setengah telanjang sebagai budak rumah tangga. Kampusch, sekarang 22 tahun, diculik pada usia 10 oleh Wolfgang Priklopil dan terkurung di ruang bawah tanah di bawah garasi pria itu di Austria.

Bukunya yang berjudul 3.096 Hari, untuk mengacu pada jumlah waktu dia disekap, akan dipublikasikan, Rabu (8/9/2010). Untuk peluncuran buku itu, Kampusch dilaporkan akan meraup uang 1 juta poundsterling.

"Saya sekarang merasa cukup kuat untuk menceritakan secara lengkap kisah penculikan saya," katanya. Dia menulis bahwa Priklopil memaksanya untuk memanggil pria itu sebagai "Tuanku" atau "Maestro". Sementara untuk dia, Priklopil mengatakan, "Kau bukan lagi Natascha. Sekarang kau milikku."


Dia mengklaim, dirinya dipukuli begitu parah oleh Priklopil, pria itu bahkan mematahkan tulangnya. "Dia benci kalau sakit membuat saya menangis. Lalu ia menyergapku di tenggorakanku, menarik saya ke wastafel, mendorong kepala ke bawah air, dan meremas tenggorokan saya sampai saya hampir kehilangan kesadaran. Saya juga masih ingat dengan jelas suara gemeretak di tulang belakang saya ketika Priklopil memukul kepala saya berulang kali dengan kepalan tangannya."


Dalam bukunya, yang diterbitkan berseri di Daily Mail, Kampusch menulis tentang trauma kekurangan kontak dengan manusia. "Saya masih anak-anak, dan saya butuh sentuhan kasih sayang. Jadi, setelah beberapa bulan di gudang bawah tanah, saya meminta penculik saya untuk memeluk saya. Itu sangat sulit. Saya menjadi sesak napas karena panik ketika dia memelukku terlalu kencang. Setelah beberapa kali mencoba, kami berhasil melakukannya-tidak terlalu dekat, tidak terlalu kencang, tetapi cukup sehingga saya bisa membayangkan perasaan sentuhan yang penuh kasih, perhatian."

Dia juga menceritakan, sebagiamana dilaporkan Telegraph, Senin (6/9/2010), bagaimana Priklopil memaksanya untuk berbagi tempat tidur dengan pria itu.

"Ketika saya berusia 14, saya menghabiskan malam di atas tanah untuk pertama kalinya. Saya berbaring kaku ketakutan di tempat tidurnya saat ia berbaring di sampingku dan mengikat pergelangan tangan saya dengan borgol plastik. Saya tidak diizinkan untuk membuat suara."

"Saat saya merasakan napasnya di belakang leherku, saya mencoba bergerak sesedikit mungkin. Punggung saya, yang karena dipukuli jadi menghitam dan biru, sangat sakit sehingga saya tidak bisa berbaring di atasnya, dan belenggu itu melukai kulit saya. Tapi ketika ia memborgol saya padanya pada malam-malam itu, itu bukan soal seks. Orang yang telah memukul saya dan mengunci saya di ruang bawah tanah itu memiliki sesuatu yang lain dalam benak: ia hanya menginginkan sesuatu untuk dipeluk."

Buku itu juga mengungkapkan keputusasaan yang memaksa dia untuk mencoba bunuh diri beberapa kali. "Saya tahu saya tidak bisa menghabiskan seluruh hidup saya seperti ini. Hanya ada satu jalan keluar: bunuh diri. Pada usia 14 tahun, saya mencoba beberapa kali mencekik diri dengan barang dari pakaian. Pada usia 15, saya mencoba melukai pergelangan tangan saya dengan sebuah jarum jahit yang besar."

"Kali lain, saya menumpuk kertas dan gulungan kertas toilet ke kompor listrik saya. Penjara bawah tanah itu penuh dengan asap dan saya dengan lembut hanyut terbawa arus, lari dari kehidupan yang tidak lagi milik saya."

Publikasi buku itu akan memalukan Pemerintah Austria, saat seorang anggota parlemen menyatakan bahwa polisi mengabaikan informasi yang bisa mencegah perempuan itu terkurung. Kampusch melarikan diri pada usia 18 tahun pada tanggal 23 Agustus 2006. Sadar bahwa polisi akan menangkapnya, Priklopil (44 tahun) melakukan bunuh diri dengan melompat ke rel kereta. *

Pua Karapau: Ritual Pemulihan Alam di Pulau Palue

Musim kemarau panjang, hasil pertanian dan laut kurang menggembirakan, serta wabah penyakit melanda menjadi tanda serius bagi tetua adat untuk segera melakukan ”pendinginan” atau pemulihan alam. Ritual Pua Karapau merupakan salah satu jawabannya.

Pua Karapau (muat kerbau) merupakan salah satu ritual adat yang telah dilakukan turun-temurun oleh warga Dusun Cawelo dan Tudu, Desa Rokirole di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Pulau sendiri sekitar dua jam dengan morot laut dari Maumere (Kabupaten Sikka) atau satu jam dari Ropa (pesisir utara Kabupaten Ende).

Warga dua dusun itu yang berada di luar Palue pun berdatangan sebelum rangkaian Pua Karapau mulai dilakukan hingga puncaknya, yakni berupa pemotongan kerbau sebagai persembahan kepada Rawula Watu Tana (Tuhan penguasa alam semesta) dan para leluhur. Tahun ini puncak acara jatuh awal bulan 11 tahun 2009.

Termasuk Lakimosa (tetua adat) Cawelo, Cosmas Himalaya, yang tinggal di Larantuka, Kabupaten Flores Timur, jauh-jauh hari sudah tiba di Palue, pulau kecil dalam kepungan Laut Flores itu.

”Dalam tradisi di Cawelo, Pua Karapau digelar dua kali dalam lima tahun, sedangkan di wilayah adat yang lain ada yang cuma satu kali. Pua Karapau di Cawelo tahap pertama dilakukan tahun 2006 dan kali ini yang kedua,” kata Cosmas.

Pua Karapau tahun ini memang agak unik karena semestinya hanya memuat dua kerbau. Namun, berhubung seekor kerbau yang dipersiapkan sejak tahun 2006 mati pada bulan Juni 2009, maka perlu dipersiapkan gantinya tahun ini sehingga yang dipersiapkan menjadi tiga ekor.

Pasalnya, untuk Pua Karapau tahap pertama akan dipersiapkan dua kerbau, seekor di antaranya untuk dipotong dalam ritual tersebut, sedangkan seekor lainnya dipersiapkan untuk dipersembahkan pada masa Pati Karapau (potong kerbau) pada tahun ke-5.

Sementara pada Pua Karapau tahap kedua juga dimuat lagi dua kerbau, seekor dipotong saat itu, sedangkan seekor lainnya untuk Pati Karapau. Dengan demikian, saat Pati Karapau tahun 2011 akan dipotong dua kerbau yang dipersembahkan bagi Rawula.

”Persembahan kerbau pada waktu Pua Karapau dimaksudkan sebagai pemberitahuan bahwa masyarakat Cawelo telah mempersiapkan persembahan (dua kerbau) untuk Rawula dan para leluhur, yang akan diberikan pada saat Pati Karapau,” kata Cosmas.

Dari delapan desa di Pulau Palue, tradisi Pua Karapau dan Pati Karapau dilakukan turun-temurun oleh komunitas adat di empat desa, yaitu Nitunglea, Rokirole, Tuanggeo, dan Ladolaka.

Namun, tata cara ritual antara satu wilayah adat dan wilayah yang lain berbeda-beda. Sebagai contoh di Rokirole yang berpenduduk 1.500 jiwa—yang meliputi tiga dusun—memiliki dua wilayah kelakimosaan, yaitu wilayah adat Cawelo dan Tudu, serta wilayah Lakimosa Koa. Di Cawelo, Pua Karapau dalam lima tahun dilakukan dua kali, sedangkan di Koa dilaksanakan sekali saja.

Serba lima

Satu hal yang menarik dalam Pua Karapau sejumlah ritual yang dilakukan serba lima. Begitu pula Pati Karapau digelar setiap lima tahun sekali. Bagi komunitas pendukung ritual itu, angka lima menyimbolkan keberuntungan.

Sebelum Pua Karapau dilaksanakan tanggal 28 Oktober, masyarakat Cawelo harus menjalani masa pantang, yaitu tidak melakukan pekerjaan di kebun, melaut, atau pekerjaan lain, selama lima hari. Selama hampir sepekan itu sejumlah warga menyeberang ke Ropa, Desa Keliwumbu, Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende di daratan Pulau Flores, untuk membeli tiga kerbau sebagai hewan kurban.

Sebelum berangkat ke Ropa, rombongan adat masing-masing harus lima kali mengelilingi tubu ca (tugu besar) dan tubu lo’o (tugu kecil) di tengah kampung. Selanjutnya perahu yang juga bermuatan gendang dan gong harus berputar lima kali di sekitar pelabuhan sebelum bertolak ke Ropa.

Selama perjalanan juga dilantunkan lima lagu adat. Begitu pula ketika rombongan hampir tiba di Ropa, perahu harus berputar lima kali sebelum lego jangkar. Setelah kerbau dinaikkan ke dalam perahu di pantai Ropa, perahu kembali berputar lima kali sebelum bertolak pulang ke Pulau Palue.

Cosmas menjelaskan, dalam ritual Pua Karapau akan terbangun relasi yang baik, terutama dengan Rawula, lalu persahabatan dengan alam, serta hubungan yang harmonis dengan sesama. Ritual itu menuntut yang berkonflik menjadi rukun kembali karena di dalamnya ada proses perdamaian dan pemulihan.

Kerbau yang dipotong sebagai persembahan dalam ritual tersebut, ujar Lakimosa Cawelo yang lain, Bernadus Ratu, juga berperan sebagai korban penebusan sebagai ganti kesalahan yang dibuat manusia atau warga setempat.

Karena itu, tak heran, begitu kerbau yang telah dipotong tersungkur karena kehabisan darah, warga berebut menyentuhkan kakinya ke badan kerbau yang berlumuran darah. Tentu dengan harapan segala penyakit yang diderita juga tertumpah atau ditanggung ke darah kerbau tersebut.

Karena berfungsi sebagai korban penebusan kesalahan, daging kerbau tidak dikonsumsi oleh semua lakimosa dan keluarganya, serta warga Cawelo dan Tudu.

Sebaliknya warga dusun atau desa lain diperbolehkan mengambil dan mengonsumsi daging kerbau itu. Namun, pengambilan daging kerbau kurban itu harus dilakukan secara diam-diam seolah mencuri atau tanpa diketahui masyarakat Cawelo.

Warga juga berkeyakinan posisi kepala kerbau setelah jatuh dan tewas mempunyai makna sendiri. Arah kepala hewan kurban itu diyakini menunjukkan kawasan yang akan memberikan hasil panen berlimpah pada musim mendatang.

Pada ritual Senin (3/11), kepala kerbau sebenarnya menghadap ke gunung di bagian selatan, posisi yang tidak mendatangkan rezeki karena menghadap kawasan berbatu atau bukan lahan pertanian. Karena masih bernapas, kepala kerbau itu oleh sejumlah tetua cepat-cepat digeser dan diarahkan ke utara menghadap areal kebun dan perairan pantai tempat para nelayan memburu ikan.

”Lewat ritual ini diharapkan hasil dari kebun maupun laut berlimpah. Kalau demikian, masyarakat berkecukupan dan dijauhkan dari penyakit. Juga mereka yang bekerja di luar pulau akan mendapatkan perlindungan,” kata Lakimosa Cawelo, Neno Toni, seusai pemotongan kerbau.

Ketahanan pangan baik

Tradisi tua itu menunjukkan betapa masyarakat Cawelo masih berpegang kuat pada akar budaya mereka. Ritual Pua Karapau dan Pati Karapau juga menunjukkan masyarakat Cawelo adalah masyarakat yang religius. Tradisi itu juga berdampak positif pada pertanian mereka.

Masyarakat Palue tidak menanam padi untuk kebutuhan pangan. Mereka hanya menanam jagung, ubi-ubian, kacang-kacangan, dan pisang. Penunjang ekonomi mereka yang lain adalah dari tanaman perdagangan, seperti kelapa, vanili, jambu mete, dan kakao, serta hasil melaut.

Mereka tidak pernah mengalami krisis pangan alias kelaparan. Ketahanan pangan warga Palue secara umum baik, sebagaimana warga Cawelo, karena ditunjang dengan adat istiadat setempat.

Setelah masa Pua Karapau berakhir dalam lima tahun, yang ditutup dengan Pati Karapau, masyarakat adat Cawelo akan memasuki phije, yakni masa haram atau pantang selama lebih kurang lima tahun. Selama masa itu mereka dilarang melakukan aktivitas yang merusak alam, juga melukai tanah. Sebagai contoh, memetik daun, apalagi menebang pohon, merupakan larangan keras. Begitu pula penggalian, pengerukan, dan pembuatan jalan maupun fondasi rumah juga dilarang. Penguburan orang mati pun tak bisa dilakukan dalam masa phije. Orang mati pada masa itu terpaksa tidak dikubur dalam tanah, melainkan dibaringkan saja di pemakaman.

Pada masa phije, yang diperbolehkan adalah aktivitas untuk menunjang atau memberikan kehidupan seperti bertani. Jika masa pantang itu dilanggar, warga akan dikenai sanksi adat. Yang lebih fatal, sebuah pelanggaran diyakini dapat mengakibatkan korban jiwa atau kesialan. Itu sebabnya pada masa itu warga menjadi fokus pada kegiatan pertanian. Bahkan, kelestarian lingkungan juga terjaga dengan baik.

Namun, pengaruh adat itu juga berdampak kurang baik pada aspek pembangunan, salah satunya pembuatan jalan kabupaten pada bulan Oktober lalu menjadi terhambat. Hal itu terjadi untuk pembuatan jalan sepanjang 1 kilometer lebih, yang menghubungkan Dusun Cawelo dengan Koa.

Pembangunan tidak bisa berjalan karena di Dusun Koa telah dilakukan Pati Karapau pada bulan Januari sehingga saat ini telah memasuki masa phije lebih kurang hingga tahun 2014.

Camat Palue Fernandes Woda pun kemudian mengusulkan kepada Bupati Sikka Sosimus Mitang agar proyek jalan rabat beton Cawelo-Koa dialihkan dahulu ke daerah lain dalam wilayah Palue.

Dari pengalaman kasus ini memang sudah tidak zamannya lagi penetapan dan pengalokasian anggaran pembangunan desa dilakukan dari atas (top down), melainkan harus dari aspirasi arus bawah (bottom up).

Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Sikka sebelum menetapkan alokasi anggaran pembangunan desa perlu berkomunikasi terlebih dahulu dengan lembaga adat sehingga program pembangunan desa tidak terbengkalai. (Samuel Oktora/Kompas)

Sasando, Kekuatan Seni NTT

KUPANG, PK--Alat musik sasando telah menjadi salah satu kekuatan dalam pembangunan seni dan budaya di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pemerintah Propinsi NTT segera berupaya agar alat musik tradisional ini terdaftar sebagai aset budaya Indonesia yang ada di NTT pada Unesco.

Hal ini disampaikan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, pada acara Festival Musik Sasando Piala Presiden di Aula El Tari Kupang, Minggu (20/12/2009).

Festival ini dihadiri Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI, Ir. Jero Wacik, S.E bersama Ny. Trisno Wacik; Dirjen Nilai Budaya, Seni dan Film Departemen Pariwisata dan Kebudayaan RI, Drs. Tjetjep Suparman, M.Si; Pangdam IX/Udayana, Mayjen TNI Hotmangaradja Pandjaitan; Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon L Foenay, M.Si; Walikota Kupang, Drs. Daniel Adoe dan ibu; Bupati Sikka, Drs. Sosimus Mitang; Wakil Bupati Sumba Barat Daya (SBD), Jack Malo Bulu; Ketua Dekranas NTT, Ny. Lusia Adinda Lebu Raya, dan undangan lainnya.

Menurut Lebu Raya, hadirnya musik sasando di permukaan menjadi salah satu kebanggaan bagi masyarakat NTT karena keunikan dari alat musik tersebut yang dibuat dari bambu dengan ruang sonator dari daun lontar, sehingga menambah kekuatan seni budaya di bumi Flobamora.

"Sasando menjadi kekuatan dalam pembangunan daerah NTT, khususnya dalam bidang seni dan budaya. Karena itu, semua pihak perlu mendukung agar dari waktu ke waktu alat musik ini terus menjadi kembanggan NTT," kata Lebu Raya.

Dia mengatakan, sasando menjadi ikon musik di NTT dan menjadi sebuah harmonisasi musik di daerah ini. Untuk itu, perlu dilestarikan dan dikembangkan pada generasi-generasi seterusnya sehingga mereka juga memahami keberadaan musik sasando.

"Jika kenyataan yang kita alami ini tidak ditanggapi serius oleh kita semua, mustahil kekayaan budaya dan seni bernilai tinggi ini akan terkikis oleh budaya asing dan lambat laun budaya kita tenggelam, dan akhirnya punah oleh musik atau budaya kontemporer internasional," tegas Lebu Raya.

Lebu Raya juga meminta kepada dinas pendidikan agar sasando dimasukan menjadi salah satu materi di sekolah sebagai muatan lokal (mulok). Dengan cara itu, kata Lebu Raya, alat musik sasando akan terus dilestarikan dan dikembangkan sebagai musik tradisional yang turut mendorong pembangunan pariwisata NTT dan Indonesia. "Tentu sebagai masyarakat NTT kita sangat berbangga karena bertepatan dengan HUT ke - 51 NTT ini, kita mendapat penghargaan dari Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono dengan menggagas festival musik sasando," ujarnya. (yel)


Hindari Kepunahan


MENTERI Kebudayaan dan Pariwisata RI, Ir. Jero Wacik, S.E, mengatakan, Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan dirinya akan terus mendorong agar semua musik-musik tradisional tetap eksis.

Upaya itu dilakukan guna menghindari aset-aset budaya dan seni itu dari kepunahan. "Bapak Presiden dan saya sudah bertekad untuk terus mendorong agar musik-musik tradisi yang ada di seluruh Tanah Air tidak punah. Semua itu adalah aset kebanggaan yang perlu dijaga, dikembangkan dan dilestarikan," kata Jero Wacik.

Dia menyampaikan, sebagai tindak lanjut dari arahan Presiden SBY, festival musik sasando menjadi salah satu agenda penting dalam merealisasikan program 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu, khususnya bidang kebudayaan.

Festival musik sasando, lanjut Jero Wacik, merupakan salah satu upaya melindungi seni tradisional yang ada di masyarakat agat tetap terjaga. Selain upaya pengembangan sasando, baik dari segi kualitas maupun kuantitas tanpa menghilangkan nilai-nilai yang terkandung.

"Diharapkan seluruh lapisan masyarakat Indonesia mempunyai rasa memiliki, yang pada akhirnya masyarakat internasional mengetahui dan mengaku, alat musik sasando adalah musik bangsa Indonesia yang berasal dari NTT," ujarnya.

Mengenai upaya memperjuangkan agar alat musik sasando terdaftar sebagai aset budaya Indonesia di Unesco, Jero Wacik mengakui untuk meregistrasi sasando di Unesco melalui mekanisme atau cara sesuai dengan ketentuan, mulai dari tingkat nasional hingga internasional.

Dirjen Nilai Budaya, Seni dan Film Departemen Pariwisata dan Kebudayaan RI, Drs. Tjetjep Suparman, M.Si, mengatakan, perlombaan musik sasando itu diikuti peserta dari Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan (TTS) dan Timor Tengah Utara (TTU). Sedangkan peserta dari Kabupaten Rote Ndao 240 orang tidak hadir karena masalah transportasi menyusul cuaca buruk sepekan terakhir ini.

"Perlombaan sasando gong yang akan dilakukan pada waktu mendatang disesuaikan dengan kesepakatan waktu dari Pemerintah Propinsi NTT dan Pemerintah Kabupaten Rote Ndao. Waktunya kita serahkan kepada pemerintah daerah untuk mengatur.

Lomba sasando gong dengan tim juri yang sama dan piala yang sama akan diatur sehingga lomba sasando khusus sasando gong bisa dilaksanakan," kata Tjetjep.

Untuk diketahui, yang diperlombakan dalam Festival Musik Sasando hanya peserta sasando biola solo dan sasando biola group. Sedangkan sasando gong akan menyusul sehingga peserta dari Rote Ndao juga bisa ikut mengambil bagian. (yel)

Juara Lomba Musik Sasando
Kategori Sasando Biola

1. Sasando Biola Group

- Juara I dari Group Sasando Loka Binkra (Kota Kupang), nilai 81,5
- Juara II dari Group Gula Monik (Kota Kupang), nilai 77,5
- Juara III dari Group Delta Lima (Kota Kupang), nilai 77
- Juara IV dari Group Samutui (Kabupaten Kupang), nilai 74,5
- Juara V dari Group Wirasakti, nilai 73,5

2. Sasando Biola Solo
- Juara I, Jitron Pah, nilai 83,4
- Juara II, Zakarias Mbao, nilai 77
- Juara III, Charin Tiara Pingak, nilai 76,5
- Juara IV, Jach Pah, nilai 75,5
- Juara V, Bento Pah

Pos Kupang 21 Desember 2009 halaman 1

Konser Sasando Spektakuler!

PETIKAN musik sasando yang dipadu dalam satu kesatuan musik orkestra memberi nuansa yang berbeda dalam sebua pertunjukan musik. Inilah yang disuguhkan Dwiki Darmawan Orkestra bersama pemusik sasando Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam Konser Sasando di Aula El Tari-Kupang, Minggu (20/12/2009).

Bukan itu saja, perpaduan apik ini juga membuat lagu- lagu daerah NTT bisa ditampilkan dengan gaya musik modern yang universal. Sekitar 500 penonton pun larut dalam suasana konser musik yang juga disaksikan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, Pangdam IX Udaya, Mayor Jenderal TNI Hotmangaradja Pandjaitan, Gubernur NTT Drs. Frans Lebu Raya serta pejabat lingkup Departemen Kebudayaan dan Pariwisata serta pejabat lingkup Propinsi NTT. Acara yang bertajuk Ku Yakin Sampai di Sana ini digelar oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI.

Konser diawali dengan penampilan Dira Sugandi yang membawakan lagu Mai Falie. Lagu asal Rote ini dibawakan dengan iringan musik sasando dan Dwiki Darmawan Orkestra. Konser yang dipimpin oleh Dwiki Darmawan ini langsung memberikan pengakuan yang sebenarnya bahwa musik sasando yang eksotik mampu menampilkan warna musik yang elegan dalam nuansa musik klasik.



Setelah penampilan Dira, giliran Ivan. Pemuda asal Manggarai yang sukses sebagai penyanyi jazz di Jakarta ini tampil memukau saat membawakan lagu Anak Timor Main Sasando. Penampilan yang menawan pria berambut gimbal ini semakin memberi warna kekuatan musik sasando bila dipadukan musik orkestra, apalagi pemusik sekelas Dwiki Darmawan yang menata musik ini.

Dan, penampilan ketiga adalah Ita Purnama Sari. Penyanyi yang populer tahun 1990-an ini membawakan lagu Bolelebo. Lagu ini pun dibawakan dengan lembut oleh penyanyi yang terkenal dengan lagu Penari Ular ini.
Lagu ini menjadi sangat luar bisa tatakala Ita Purnama Sari membawakan lagu ini dengan iringan Dwiki Darmawan Orkestra bersama pemusik sasando NTT.

Penonton pun dibuat terpana, karena lagu yang bisa- biasa saja ini digubah menjadi lagu yang sangat sangat indah. Penonton kembali terkesimak dengan penampilan penyanyi asal Jakarta ini.

Dira Sugandi kembali tampil dengan membawakan lagu Ie, asal Ende. Lagu yang sudah biasa dibawakan grup- grup paduan suara di Kupang ini dibawakan dengan sangat beda oleh penyanyi jazz ini. Penonton kembali dibuat kagum dengan aransemen musik Dwiki Darmawan dalam konser ini, ditambah lagi dengan dentingan musik sasando yang memikat.


Penonton pun diajak menikmati lagu ini dengan ikut bertepuk tangan. Dan Ivan kembali tampil dengan membawakan lagu Benggong- asal manggarai, dipenghujung pemusik sasando dan Dwiki Darmawan Orkestra ini. Lagu berirama bernuansa cepat ini pun mengajak penonton bersuka ria.

Konser ini ditutup suguhan lagu Ku Yakin Sampai di Sana, ciptaan Susilo Bambang Yudhoyono. Paduan Suara Vokalista Kamanek yang sejak selalu menjadi backing vokal para penyanyi sebelumnya itu tampil sebagai vokalis membawakan lagu ini. Musik sansando pun menjadi menjadi perhatian dalam konser musik ini.
Suguhan konser musik ini menjadi gambaran bahwa musik sasando bila ditempatkan pada strata musik yang lebih tinggi maka nilainya pun akan tinggi.(alf)

Pos Kupang 21 Desember 2009 halaman 20

Jadikan Sasando Milik Semua Orang

FESTIVAL musik sasando Piala Presiden RI yang bertema Ku Yakin Sampai di Sana berlangsung sukses, sejak Kamis hingga Minggu (17-20/12/2009). Sebanyak 300 pemusik sasando terlibat dalam kegiatan yang baru pertama di gelar di Kupang ini. Puncak kegiatan ini adalah Konser Musik Sasando yang menampilkan perpaduan para musisi sasando dengan Dwiki Darmawan Orkestra di Aula El Tari Kupang, Minggu (20/12/2009) siang.

Festival yang digagas Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI bersama Korem 161 Wirasakti Kupang ini sedikit menjadi obat kerinduan para pecinta sasando di NTT. Festival ini seperti memanggil dan mengumpulkan kembali para pencinta sasando dari berbagai tempat di NTT untuk bersama memberi citra yang lebih kuat pada musik sasando.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI, Ir. Jero Wacik, S.E, mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan dirinya akan terus mendorong agar semua musik tradisional tetap eksis. Upaya itu dilakukan guna menghindari aset-aset budaya dan seni itu dari kepunahan.

Festival musik sasando merupakan salah satu upaya melindungi seni tradisional yang ada di masyarakat agat tetap terjaga. Selain upaya pengembangan sasando, baik dari segi kualitas maupun kuantitas tanpa menghilangkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Kini musik sasando sedang diupayakan agar terdaftar sebagai warisan dunia pada badan dunia, Unesco.

Upaya yang dilakukan oleh pemerintah pusat ini mestinya langsung dengan tindakan nyata di lapangan oleh pemerintah NTT. Apa yang dikhawatirkan oleh pemerintah pusat mengenai ancaman kepunahan alat musik sasando bisa menjadi kenyataan bila keahlian memetik sasando hanya dimiliki oleh kalangan tertentu saja.

Penguasaan kemampuan memetik sasando ini hanya di kalangan tertentu saja tergambar jelas dalam Festival Musik Sasando Piala Presiden kali ini. Tergambar jelas bahwa para juaranya dari keluarga tertentu saja. Mungkin hanya keluarga atau orang tertentu saja yang secara khusus menaruh minat pada musik jenis musik tradisional ini, tapi perlu disadari bila tidak ada pengembangan yang luas pada sasando, maka tidak mustahil suatu saat sasando akan tinggal cerita.

Mestinya sasando jangan cuma menjadi alat musik yang eksklusif milik kalangan tertentu. Sasando sudah menjadi ikon NTT. Secara nasional, bila bicara sasando maka masyarakat Indonesia langsung tahu bahwa musik ini berasal dari NTT. Orang tidak berbicara sasando identik dengan orang-perorangan atau kelompok tertentu. Demikian juga di mancanegara, bila bicara sasando, maka akan terbayang Pulau Timor dan Pulau Rote.

Apa yang akan dilakukan oleh Pemerintah NTT, yaitu menjadikan sasando sebagai salah satu bahan ajaran muatan lokal (mulok) di sekolah-sekolah merupakan bentuk terobosan.

Untuk menjadikan sasando bahan mulok, maka perlu ada semacam aturan dari Pemerintah Propinsi NTT. Bila memungkinkan perlu ada perda propinsi tentang sasando sehingga semakin melegitimasi sasando dalam peradaban orang NTT.
Sementara para pengelola sekolah atau kursus musik, mesti menambah satu item pengajaran tentang sasando. Mungkin saja peminat musik sasando ini banyak, tetapi tempat belajar musik ini yang hampir tidak ada.

Karena itu para pemusik sasando diharapkan memberi ruang kepada siapa saja untuk berniat belajar musik ini. Menjaga agar tetap eksklusif dalam bermusik hanya akan menjadikan sasando kurang berkembang, baik dalam dinamika musik maupun peminatnya.

Sementara para pemusik muda, cobalah belajar memetik sasando. Sebab, musik sasando juga bisa memberikan jaminan untuk masa depan. Mungkin sekarang belum, tetapi seiring berkembangnya zaman, dunia multimedia, tidak mustahil memetik sasando akan menjadi tontonan yang selalu ditunggu.

Semua upaya itu perlu kita lakukan bersama untuk menjadikan sasando menjadi menjadi milik semua orang. Sebab hakekat musik itu sendiri universal. Sasando bukan lagi milik Rote Rote atau Timor, bukan lagi milik orang-orang tertentu, tetapi sudah menjadi milik NTT. Masyarakat NTT juga bangga memiliki alat musik khas yang tidak ada tempat lain di dunia ini. *

Pos Kupang 22 Desember 2009 halaman 4 (salam)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes