Sasando, Kekuatan Seni NTT

KUPANG, PK--Alat musik sasando telah menjadi salah satu kekuatan dalam pembangunan seni dan budaya di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pemerintah Propinsi NTT segera berupaya agar alat musik tradisional ini terdaftar sebagai aset budaya Indonesia yang ada di NTT pada Unesco.

Hal ini disampaikan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, pada acara Festival Musik Sasando Piala Presiden di Aula El Tari Kupang, Minggu (20/12/2009).

Festival ini dihadiri Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI, Ir. Jero Wacik, S.E bersama Ny. Trisno Wacik; Dirjen Nilai Budaya, Seni dan Film Departemen Pariwisata dan Kebudayaan RI, Drs. Tjetjep Suparman, M.Si; Pangdam IX/Udayana, Mayjen TNI Hotmangaradja Pandjaitan; Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon L Foenay, M.Si; Walikota Kupang, Drs. Daniel Adoe dan ibu; Bupati Sikka, Drs. Sosimus Mitang; Wakil Bupati Sumba Barat Daya (SBD), Jack Malo Bulu; Ketua Dekranas NTT, Ny. Lusia Adinda Lebu Raya, dan undangan lainnya.

Menurut Lebu Raya, hadirnya musik sasando di permukaan menjadi salah satu kebanggaan bagi masyarakat NTT karena keunikan dari alat musik tersebut yang dibuat dari bambu dengan ruang sonator dari daun lontar, sehingga menambah kekuatan seni budaya di bumi Flobamora.

"Sasando menjadi kekuatan dalam pembangunan daerah NTT, khususnya dalam bidang seni dan budaya. Karena itu, semua pihak perlu mendukung agar dari waktu ke waktu alat musik ini terus menjadi kembanggan NTT," kata Lebu Raya.

Dia mengatakan, sasando menjadi ikon musik di NTT dan menjadi sebuah harmonisasi musik di daerah ini. Untuk itu, perlu dilestarikan dan dikembangkan pada generasi-generasi seterusnya sehingga mereka juga memahami keberadaan musik sasando.

"Jika kenyataan yang kita alami ini tidak ditanggapi serius oleh kita semua, mustahil kekayaan budaya dan seni bernilai tinggi ini akan terkikis oleh budaya asing dan lambat laun budaya kita tenggelam, dan akhirnya punah oleh musik atau budaya kontemporer internasional," tegas Lebu Raya.

Lebu Raya juga meminta kepada dinas pendidikan agar sasando dimasukan menjadi salah satu materi di sekolah sebagai muatan lokal (mulok). Dengan cara itu, kata Lebu Raya, alat musik sasando akan terus dilestarikan dan dikembangkan sebagai musik tradisional yang turut mendorong pembangunan pariwisata NTT dan Indonesia. "Tentu sebagai masyarakat NTT kita sangat berbangga karena bertepatan dengan HUT ke - 51 NTT ini, kita mendapat penghargaan dari Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono dengan menggagas festival musik sasando," ujarnya. (yel)


Hindari Kepunahan


MENTERI Kebudayaan dan Pariwisata RI, Ir. Jero Wacik, S.E, mengatakan, Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan dirinya akan terus mendorong agar semua musik-musik tradisional tetap eksis.

Upaya itu dilakukan guna menghindari aset-aset budaya dan seni itu dari kepunahan. "Bapak Presiden dan saya sudah bertekad untuk terus mendorong agar musik-musik tradisi yang ada di seluruh Tanah Air tidak punah. Semua itu adalah aset kebanggaan yang perlu dijaga, dikembangkan dan dilestarikan," kata Jero Wacik.

Dia menyampaikan, sebagai tindak lanjut dari arahan Presiden SBY, festival musik sasando menjadi salah satu agenda penting dalam merealisasikan program 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu, khususnya bidang kebudayaan.

Festival musik sasando, lanjut Jero Wacik, merupakan salah satu upaya melindungi seni tradisional yang ada di masyarakat agat tetap terjaga. Selain upaya pengembangan sasando, baik dari segi kualitas maupun kuantitas tanpa menghilangkan nilai-nilai yang terkandung.

"Diharapkan seluruh lapisan masyarakat Indonesia mempunyai rasa memiliki, yang pada akhirnya masyarakat internasional mengetahui dan mengaku, alat musik sasando adalah musik bangsa Indonesia yang berasal dari NTT," ujarnya.

Mengenai upaya memperjuangkan agar alat musik sasando terdaftar sebagai aset budaya Indonesia di Unesco, Jero Wacik mengakui untuk meregistrasi sasando di Unesco melalui mekanisme atau cara sesuai dengan ketentuan, mulai dari tingkat nasional hingga internasional.

Dirjen Nilai Budaya, Seni dan Film Departemen Pariwisata dan Kebudayaan RI, Drs. Tjetjep Suparman, M.Si, mengatakan, perlombaan musik sasando itu diikuti peserta dari Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan (TTS) dan Timor Tengah Utara (TTU). Sedangkan peserta dari Kabupaten Rote Ndao 240 orang tidak hadir karena masalah transportasi menyusul cuaca buruk sepekan terakhir ini.

"Perlombaan sasando gong yang akan dilakukan pada waktu mendatang disesuaikan dengan kesepakatan waktu dari Pemerintah Propinsi NTT dan Pemerintah Kabupaten Rote Ndao. Waktunya kita serahkan kepada pemerintah daerah untuk mengatur.

Lomba sasando gong dengan tim juri yang sama dan piala yang sama akan diatur sehingga lomba sasando khusus sasando gong bisa dilaksanakan," kata Tjetjep.

Untuk diketahui, yang diperlombakan dalam Festival Musik Sasando hanya peserta sasando biola solo dan sasando biola group. Sedangkan sasando gong akan menyusul sehingga peserta dari Rote Ndao juga bisa ikut mengambil bagian. (yel)

Juara Lomba Musik Sasando
Kategori Sasando Biola

1. Sasando Biola Group

- Juara I dari Group Sasando Loka Binkra (Kota Kupang), nilai 81,5
- Juara II dari Group Gula Monik (Kota Kupang), nilai 77,5
- Juara III dari Group Delta Lima (Kota Kupang), nilai 77
- Juara IV dari Group Samutui (Kabupaten Kupang), nilai 74,5
- Juara V dari Group Wirasakti, nilai 73,5

2. Sasando Biola Solo
- Juara I, Jitron Pah, nilai 83,4
- Juara II, Zakarias Mbao, nilai 77
- Juara III, Charin Tiara Pingak, nilai 76,5
- Juara IV, Jach Pah, nilai 75,5
- Juara V, Bento Pah

Pos Kupang 21 Desember 2009 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes