NTT Memiliki Semuanya

KUPANG, PK---Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Drs. Frans Lebu Raya, mengatakan, sebetulnya NTT memiliki semuanya untuk menjamin kehidupan warganya. Karena itu, orang NTT tidak perlu meninggalkan kampung halamannya dan mengadu nasib di tanah rantau.

Gubernur Lebu Raya mengatakan hal itu dalam sambutannya pada upacara bendera peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke- 51 Propinsi NTT di alun-alun Rumah Jabatan Gubernur NTT, Senin (21/12/2009). Propinsi NTT genap berusia 51 tahun pada hari Minggu (20/12/2009).

Gubernur Lebu Raya mengatakan, saat ini banyak orang NTT menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. Suami meninggalkan istri dan anak, istri meninggalkan suami, anak- anak meninggalkan orangtuanya. Warga NTT berlomba menjadi TKI demi obsesi hidup baru yang lebih baik.

Menurut gubernur, obsesi ini seyogyanya menjadi kekuatan besar, yang apabila dikelola dengan baik akan menumbuhkan semangat juang untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik, tanpa harus meninggalkan kampung halaman. Kalaupun harus meninggalkan kampung halaman, mesti melalui jalur resmi dan
perencanaan yang matang untuk masa depan.

Propinsi NTT, kata gubernur, memiliki semua potensi yang dibutuhkan untuk hidup, baik di darat, di laut, pertanian, peternakan, pertambangan, maupun pariwisata. Karena itu, kata gubernur, untuk bisa hidup lebih baik warga NTT tidak perlu harus berbondong-bondong menjadi TKI di luar negeri.

Untuk mendapatkan sebuah kesuksesan berusaha, kata gubernur, yang dibutuhkan adalah semangat dan disiplin serta ketekunan untuk bekerja keras, cerdas, dan tuntas. Karakter dasar orang NTT sebagai pekerja keras, berdaya saing tangguh dan ulet, baru dieksploitasi maksimal oleh tantangan dan keterdesakan hidup di rantau. "Mengapa semangat ini tidak ditumbuhkembangkan di NTT, di rumah kita, di lingkungan sekitar, bersama keluarga, sahabat kenalan, dengan pemerintah, tokoh agama dan wirausahawan yang lebih dahulu sukses?" tantang gubernur.

Menurut gubernur, pemerintah tetap berupaya membangun sarana-prasarana serta perangkat pendukung lainnya seperti penegakan hukum secara adil dan menciptakan iklim wirausaha yang baik. Namun, sikap mental dan semangat berwirausaha belum terbentuk dalam diri sebagian warga NTT.

Untuk itu, pendidikan dan pelatihan kewirausahaan perlu ditingkatkan guna mendapatkan wirausahawan di daerah ini. "Mengapa harus pergi ke luar NTT bila NTT memiliki semua yang kita butuhkan untuk berwirausaha?" tanya gubernur.
Lebih jauh gubernur mengajak masyarakat merefleksikan beberapa hal. Pertama, refleksi humanis tentang komitmen sehati sesuara membangun NTT Baru. Kedua, refleksi humanis dalam konteks pelaksanaan delapan agenda strategis pembangunan di NTT; dan ketiga, refleksi tematik berkaitan dengan perayaan hari besar nasional.


Komitmen sehati sesuara membangun NTT Baru, kata gubernur, sudah sering terdengar. Secara kontekstual, kita pasti memahami apa yang dimaknai sebagai sehati sesuara. Namun, refleksi humanis sehati sesuara ini hendaknya memberi ruang lebih, tidak semata memikirkan dan merasakan sehati sesuara. Tetapi, bagaimana persoalan pikiran dan perasaan satu hati dan satu suara diaktualisasikan dalam satu hati, satu suara, tekad yang sama, perbuatan yang sama, membangun NTT Baru.

Manusia NTT Baru, kata gubernur, adalah potret manusia dengan karakter hati, pikiran, suara dan perbuatannya sama. Bukan sebaliknya, satu hati, beda pikiran, lain suara dan aneka perbuatan yang dilaksanakan. Pada posisi ini, refleksi HUT ke- 51 NTT seharusnya menjadi dasar pijak yang meneguhkan hati, menenteramkan rasa, mengikat komitmen sehati sesuara membangun NTT baru, NTT yang harmonis, saling memahami, mendukung, menghilangkan sikap saling curiga, hidup berdampingan dan rukun di atas wadas keberagaman masyarakat.

Cincin Emas
Perayaan HUT NTT juga ditandai dengan pemberian penghargaan berupa cincin emas kepada 11 orang yang telah memberikan pengabdian dan prestasi luar biasa dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan serta pelayanan kepada masyarakat.

Ke-11 orang penerima cincin penghargaan tahun ini adalah Prof. Dr. Yohanes C Abineno, Pdt. Pangemanan Sam Sumlang, Dr. Ir. Jamin Habid, M.M, SK Lerik, Ir. Ansgerius Takalapeta, Drs. Ibrahim A Medah, Ir. Emanuel Babu Eha, M.Si, Kombes Pol. Drs. Johni Asadoma, M.Hum, Pilot Capten Budiman Kantawijaya, Copilot Capten M Zainal Abidin, dan teknisi Tian Budi. Selain itu, pemprop juga memberikan piagam penghargaan kepada 31 orang yang telah berjasa di bidang ekonomi, seni budaya, dan olahraga. (aa)


Kapten Budiman Kantawijaya
Hadiah Yang Tak Terlupakan

USIANYA genap 52 tahun pada 4 Desember 2009 lalu. Sudah lebih setengah abad. Rambutnya pun kelihatan sudah mulai beruban. Namun, langkahnya masih tegap ketika hadir menerima penghargaan berupa cincin emas dari Pemerintah Propinsi NTT, Senin (21/12/2009).

Ketika giliran namanya dibacakan, pria itu maju dan berdiri sejajar bersama penerima penghargaan lainnya. Pakaian yang dikenakannya tampak beda dari penerima lain. Ia tampak gagah mengenakan topi dan seragam lengkap yang selalu dipakainya saat bertugas. Tampak kalem dan tenang.

Pria itu tak lain adalah Budiman Kantawijaya, kapten pilot pesawat Merpati Nusantara Airlines. Pria kelahiran Bekasi, Jawa Barat ini adalah salah seorang dari sebelas orang berjasa yang menerima penghargaan Pemprop NTT pada upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-51 Propinsi NTT, kemarin.
Pilot dengan pengalaman 19.500 jam terbang itu berjasa dan berprestasi dalam penyelamatan penumpang pesawat Merpati dalam penerbangan dari Makassar ke Kupang, Rabu 2 Desember 2009 lalu. Bersama kru yang lain, ia sukses mendaratkan pesawat Merpati F-100 di Bandara El Tari, Kupang tanpa roda belakang sebelah kiri. Sebanyak 90 penumpang yang telah putus asa luput dari maut yang telah mengintai.

Selain dirinya, Copilot Capten M Xainal Abidin dan teknisi Tian Budi, yang bersamanya saat penerbangan tersebut juga hadir menerima penghargaan yang sama. Sementara empat pramugari, yaitu Dewi Purnama Sari, Intan Kurniati, Grace Agustine, dan Eva Kartika menerima penghargaan berupa piagam atas jasa yang sama.

"Terima kasih untuk pemerintah dan masyarakat NTT di mana saja berada. Hadiah ini merupakan hadiah yang tak terlupakan bagi saya, kru saya, dan keluarga saya," kata suami dari Wulandari Haryadi ini sumringah.

Berbekal pengetahuan yang ia timba dari Sekolah Penerbangan Air-New Zealand, Christchurch tahun 1980, kondisi gawat yang dialami pada 2 Desember lalu dapat teratasi dengan baik. Selain itu, ia menuturkan, keberhasilan pendaratan itu juga berkat koordinasi yang baik dengan copilot dan kru lainnya.

"Keberhasilan itu tidak akan terjadi bila saya sendiri yang bekerja. Tapi itu berkat kerja sama yang baik dengan copilot, kru, dan tentu dukungan doa dari penumpang dan masyarakat NTT saat itu," kata pilot yang berpengalaman mengudara di atas pegunungan Himalaya tiga tahun lalu.

Bagi ayah dari Hendrawan Kantawijaya dan Irawan Kantawijaya ini, pada prinsipnya, seorang pilot harus selalu siaga menghadapi segala situasi saat mengudara. Dalam kondisi demikian, kata pilot yang telah 29 tahun mengudara ini, seorang pilot harus selalu tenang dan matang dalam mengambil keputusan, sehingga dapat mencegah terjadinya kemungkinan terburuk. (mayelus dori bastian)

Pos Kupang edisi Selasa, 22 Desember 2009 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes